“ CITY BRANDING “
A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Lebih dari satu dekade lalu, para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 mendatang.Ini dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini diharapkan nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat. Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya. Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menjelaskan bahwa MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing. "Pembatasan, terutama dalam sektor tenaga kerja profesional, didorong untuk dihapuskan," katanya." Sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya."
Pengembangan pariwisata di kota Semarang tentunya tidak lepas dari partisipasi masyarakat. Masyarakat langsung maupun tidak langsung membantu dalam usaha menjaga ketertipan serta keamanan di dalam lingkungan obiyek wisata maupun di luar obyek wisata. Masyarakat juga ikut barpartisipasi dalam berjualan sofenir, menjaga keamanan lingkungan obiyek wisata dengan cara menjadi petugas parkir kendaraan supaya kendaran-kendaran pengujung yang datang bisa terkendali dengan baik dan rapi, masyarakat ikut andil bekerja di Loket penjualan karcis masuk obiyek wisata, adanya peran serta masyarakat dalam kebersihan di lingkugan wisata, masarakat ikut menjaga keamanan lingkungan wisata baik di malam hari maupun di siang hari dengan cara menjadi penjaga malam maupun menjadi satpam di obyek wisata.
Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah mempunyai potensi yang sangat banyak yaitu sebagai kota metropolis yang memiliki adat dan kebudayaan yang cukup kental. Namun ibukota Jawa Tengah, Semarang seringkali berada di bawah bayang-bayang kota lain disekitarnya seperti Yokyakarta dan Surakarta yang merupakan kota budaya, dan karenanya wisatawan sering menganggap lebih baik berkunjung ke kedua tempat tersebut, dengan penawaran wisata yang lebih beragam dan lebih menarik. Kemudian bila mengingat bahwa Semarang pernah telah membuat branding khas daerah yaitu Semarang “ Kota ATLAS “, Semarang kota “ LUMPIA “, Semarang “ PESONA ASIA “ dan sekarang sedang digalakkan Semarang “SETARA”. Namun entah mengapa branding yang selama ini dicanangkan juga belum menunjukkan cirri khas secara umum, padahal
dengan branding diharapkan secara ideal akan membangkitkan rasa penasaran untuk mengenal lebih lanjut dari wilayah terkait. Oleh karena itulah untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan suatu inovasi kebijakan pengembangan pariwisata yang mampu memajukan pariwisata ini supaya nantinya lebih baik dalam perkembangannya ke depan.
2.Tujuan Penelitian
a. Mengidentifikasi masalah yang ada dalam pengembangan pariwisata di
kota Semarang.
b. Mengetahui bagaimana kebijakan pengembangan pariwisata yang dilakukan melalui STRATEGY CITY BRANDING di kota Semarang. c. Merekomendasikan inovasi yang perlu dilakukan dalam kebijakan
pengembangan pariwisata yang dilakukan melalui STRATEGY CITY BRANDING di kota Semarang.
3.Metode Penelitian
Penelitian ini bertipe deskriptif kualitatif karena bersifat pengungkapan fenomena-fenomena secara deskriptif tanpa mempertimbangkan kuantitas kemunculan fenomena, tetapi kedalaman informasi pada setiap fenomenanya. Fokus dan lokus penelitian: penelitian ini fokusnya adalah pada inovasi kebijakan pengembangan pariwisata di Kota Semarang, Sumber data; data primer diperoleh dari key informan , yakni Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang, sedangkan data sekunder diperoleh dari kepustakaan, media elektronik, dan sumber lain yang dapat dijadikan sumber informasi. Teknik koleksi data; pengumpulan data dilakukan dengan Wawancara . Teknik penentuan informan adalah Snowball. Analisis dan interprestasi data; data disajikan dengan teknik naratif dan dianalisis dengan teknik taksonomi. Kualitas penelitian (goodness criteria); penelitian ini diharapkan dapat memperoleh keunggulan dalam hal tema belum banyak dibahas ,menggunakan teknik yang memberikan fleksibitas dalam pelaksanaannya sehingga informasi dapat lebih kaya, Kelemahan / keterbatasan penelitian : karena belum banyaknya referensi dalam tema ini.
4.Kajian Pustaka
Kebijakan Publik, James Anderson, dalam Bambang Sunggono (1994: 22) mengatakan bahwa: “Public Policies those policies developed by governmental
bodies and officials. “ (kebijakan- kebijakan yang dikembangkan oleh
badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah). Tujuan Kebijakan Publik adalah : Memelihara ketertiban umum (negara sebagai stabilisator), memajukan perkembangan masyarakat dalam berbagai hal (negara sebagai stimulator), memperpadukan berbagai aktivitas (negara sebagi koordinator), Menunjuk dan membagi benda material dan non material (negara sebagai distributor).Dari pemikiran di atas, jelas bahwa tujuan sentral kebijakan publik adalah kepentingan publik (Bambang Sunggono,1994: 12).Sedangkan Sifat Kebijakan Publik didalam
P r o s i d i n g S e m N a s 2 0 1 5 | 89
bentuknya yang positif, kebijakan publik didasarkan pada undang-undang dan bersifat otoritatif. Sifat kebijakan bisa diperinci lima kategori yakni: tuntutan-tuntutan kebijakan (policy demands), keputusan- keputusan kebijakan (policy decisions), pernyataan-pernyataan kebijakan (policy statements), hasil-hasil kebijakan (outputs), dan dampak-dampak kebijakan (outcomes).
Inovasi menurut Jones (2004)( dalam Wilfridus,2010:1.22), mendefinisikan inovasi adalah proses dimana organisasi menggunakan keahlian dan sumberdayanya unruk mengembangkan produk barang dan jasa yang baru atau untuk mengembangkan sistem produksi dan operasi yang baru sehingga organisasi mampu memberikan kepuasan yang lebih tinggi kepada konsumen. Sedangkan menurut Paul M.Romer (2006) (dalam Wilfridus,2010:1.22 ) mendefinisikan inovasi sebagai proses menciptakan dan menyalurkan nilai nilai baru kepada pelanggan. Beberapa bentuk inivasi adalah terobosan teknologi (penciptaan transistor), penemuan baru, (scooter rroda satu ), model bisnis baru, proses produksi yang baru, dan desai baru.
Pariwisata merupakan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan secara perorangan maupun kelompok dengan tujuan untuk mencari keseimbangan dan kebahagian dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu (Kodhyat dalam James J. Spillane, 1987). Menurut James J. Spillane (1987), pariwisata adalah perjalanan yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, maupun untuk tujuan lainnya. Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan, yang dimaksud dengan wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Adapun pariwisata dideskripsikan sebagai kegiatan wisata dan didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.
Menurut Paturusi (2001) pengembangan pariwisata adalah suatu strategi yang dipergunakan untuk memajukan, memperbaiki dan meningkatkan kondisi kepariwisataan suatu objek dan daya tarik wisata sehingga dapat dikunjungi wisatawan serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat disekitar objek dan daya tarik wisata maupun bagi pemerintah. Disamping itu pengembangan pariwisata bertujuan untuk memberikan keuntungan bagi wisatawan maupun komunitas tuan rumah. Dengan adanya pembangunan pariwisata diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui keuntungan secara ekonomi yang dibawa ke kawasan tersebut. Dengan kata lain pengembangan pariwisata melalui penyediaan fasilitas infrastruktur, wisatawan dan penduduk setempat akan saling diuntungkan. Pengembangan tersebut hendaknya sangat memperhatikan berbagai aspek, seperti aspek budaya, sejarah dan ekonomi daerah tujuan wisata.
Berdasarkan pengertian di atas maka inovasi kebijakan pengembangan
pariwisata adalah suatu kebijakan yang mendukung kegiatan menata dan
memajukan suatu obyek wisata untuk dikembangkan lebih layak dan lebih baik melalui suatu cara atau desain baru (inovasi) atau strategi “ City Branding “ serta diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui keuntungan secara ekonomi yang dibawa ke kawasan tersebut.
B.PEMBAHASAN
Sebagai ibukota Propinsi Jawa Tengah, Kota Semarang yang berpenduduk 1,6 juta jiwa lebih, dengan luas wilayah 373,70 km2, dan secara administratif Kota Semarang terbagi menjadi 16 kecamatan dan 177 kelurahan, dengan batas wilayah administratif Kota Semarang sebelah barat adalah Kabupaten Kendal, sebelah timur dengan Kabupaten Demak, sebelah selatan dengan Kabupaten Semarang dan sebelah utara dibatasi oleh laut Jawa dengan panjang garis pantai mencapai 13,6 kilometer, sehingga Kota Semarang dapat dikategorikan sebagai Kota Metropolitan.
Kota Semarang memiliki posisi geostrategis karena Kota Semarang berada pada jalur lalu lintas ekonomi pulau Jawa, dan merupakan koridor pembangunan Jawa Tengah yang terdiri dari empat simpul pintu gerbang yaitu koridor pantai Utara, koridor selatan ke arah kota-kota dinamis seperti Kabupaten Magelang, Kota Surakarta yang terkenal dengan koridor Merapi-Merbabu, koridor Timur ke arah Surabaya melewati Kabupaten Demak; dan Barat menuju Kabupaten Kendal yang selanjutnya menuju Kota Jakarta. Seiring dengan perkembangan kota, kota Semarang berkembang menjadi kota yang memfokuskan pada perdagangan dan jasa. Berdasarkan lokasinya, kawasan perdagangan dan jasa di kota Semarang terletak menyebar dan pada umunya berada disepanjang jalan-jalan utama. Kawasan perdagangan modern, terutama terdapat di Kawasan Simpanglima yang merupakan urat nadi perekonomian Kota Semarang.
Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Semarang (Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2008 Nomor 2015 Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 22). Sedangkan kebijakan yang mengatur adalah Perda Kota Semarang No.3 Tahun 2010 tentang kepariwisataan.
Sebuah branding seharusnya bukan hanya sekedar menunjukkan identitas kota secara umum, tetapi diharapkan mampu membangkitkan rasa penasaran pengunjung untuk lebih mengenal wilayah terkait. Namun bila melihat langkah
City Branding yang telah dilakukan, secara umum tampaknya lebih berat ke
tujuan pengembangan pariwisata, khususnya menarik wisatawan. Padahal seharusnya bias mendatangkan investasi dan meningkatkan perdagangan di kota
P r o s i d i n g S e m N a s 2 0 1 5 | 91
tersebut. Sebagian besar daerah dan kota/kabupaten di Indonesia, termasuk Kota Semarang selama ini baru sebatas berpromosi, belum mengangkat sisi yang unik dan bersifat emosional. Dimana masih membuat Booklet, brosur, dan belum menonjolkan keunggulan untuk daerah masing-masing. Identitas pengenal hanya logo identitas kotanya dan belum mencantumkan identitas yang komersial dan emosional yang dimaksudkan untuk menarik investasi. Upaya City Branding sejauh ini kurang menekankan pada potensi dan keunggulan daerah secara jelas,banyak yang tidak menonjolkan keunggulan utama daerahnya dan malah ingin menjual barang produk, inilah yang menjadikan banyak slogan yang dianggap sebagai landasan City Branding menjadi tidak fokus pada suatu kelebihan, sementara mungkin ini yang dapat menjadi pondasi awal membangun potensi dan keunggulan daerah tersebut.
City Branding
Suatu brand merupakan identitas sekaligus pembeda dari produk lainnya dan tentu saja berlaku untuk sebuah kota, oleh karenanya penting kiranya merumuskan suatu City Branding agar suatu kota benar-benar dapat dibedakan dengan daerah lain, sebagai salah satu strategi meraih keunggulan bersaing baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional, apalagi menyongsong MEA ( Masyarakat Ekonomi ASEAN ). Setiap kota harus melibatkan semua komponen stakeholders-nya sehingga akan menjadikan rumusan brand yang lebih relevan karena potensi yang diunggulkan akan dikaji dari berbagai sapek secara luas, paling tidak dihargai leh masyarakatnya sendiri sehingga mereka akan turut bertanggungjawab dalam mewujudkannya.
Secara umum City Branding diarahkan pada tiga potensi daerah yaitu : investasi dengan kelompok sasaran para investor, pariwisata atau tourism dengan kelompok sasaran turis domestik dan manca negaradan perdagangan dengan kelompok sasaran para trader. Ketiganya sering disebut dengan sebutan invest,
tourisnm dan trade.
Pertama, investasi sangat diperlukan di era otonomi daerah seperti saat ini. Setiap kota harus mampu menunjukkan daerahnya sebagai tempat investasi yang strategis, aman, murah, infrastruktur yang lengkap dan tidak birokratif. Menyederhanakan birokrasi dalam perijinan seperti pelayanan satu atap atau yang lebih dikenal dengan one stop service merupakan upaya daerah untuk menarik calon investor. Jika dengan City Branding berhasil menarik investor tentu akan menimbulkan dampak positif bagi perekonomian daerah tersebut seperti tersedianya lapangan kerja, adanya bagian pajak dan retribusi daerah serta turunan dari dampak positif tersebut.
Kedua, adalah pariwisata. Potensi wisata untuk setiap daerah tentulah tidak sama tetapi yang menjadikan daerah menjadi obyek wisata dikarenakan daerah tersebut memiliki keunikan atau karakteristik yang khusus seperti tradisi dan budaya, kondisi alam, sistem sosial, sistem pertanian, makanan khas dan
sebagainya. Jadi daerah harus bisa mengembangkan nilai dasar potensi wisata agar memiliki atraksi wisata sehingga wisatawan memiliki ketertarikan untuk mengunjunginya.
Ketiga, adalah perdagangan. Terjadinya perdagangan antar daerah atau bahkan antar negara karena suatu daerah atau negara memiliki keunggulan komparatif dalam menghasilkan produk/jasa baik menyangkut biaya, teknologi atau sumber daya. Dengan meningkatnya arus perdagangan berarti akan meningkatkan perputaran ekonomi suatu daerah. Di beberapa daerah telah dibentuk pusat-pusat perdagangan dan penjualan yang mencitrakan sebagai daerah produsen yang memiliki keunggulan komparatif. Dengan pencitraan sebagai pusat penjualan dan perdagangan diharapkan dapat membentuk image yang kuat untuk mendorong terjadinya proses transaksi.
Kota Semarang yang terkenal sebagai kota Lumpia, merupakan ibu kota propinsi Jawa Tengah yang mana juga termasuk dari salah satu kota besar di Indonesia. Belakangan ini kota yang mempunyai slogan dari kota ATLAS (Aman Tertib Lancar Asri Sehat) telah mengalami perubahan walaupun belum signifikan sampai sekarang memiliki slogan Semarang SETARA (Semarang Sejajar, Setingkat, Sepadan dengan daerah lain di Indonesia dan Semarang Sejahtera). Potensi Kota Semarang disegala bidang begitu banyak, namun belum semua dapat dioptimalkan oleh pemerintah dan masyarakat kota Semarang itu sendiri. Aset kota Semarang yang juga merupakan potensi kota Semarang itu sendiri diantaranya adalah aset budaya yang berupa kebudayaan-kebudayaan asli kota Semarang misalnya seperti kesenian Gambang Semarang, kesenian Warak Ngendog, tradisi Dugderan menjelang bulan ramadhan, dan lain sebagainya. Wilayah dari Kota Semarang sebenarnya juga memiliki wilayah strategis sebagai penghubung antara daerah Pantura di Jawa Tengah dengan wilayah agraris di dalamnya. Selain itu Semarang merupakan area pengembangan wilayah Joglo Semar yang yang menggabungkan kota Jogjakarta, Solo dan Semarang. Pariwisata kota Semarang pun dibagi dalam beberapa golongan mulai dari objek wisata religi yang berupa tempat-tempat peribadatan umat beragama, objek wisata budaya, objek wisata sejarah, objek wisata hiburan dan alam. Selain budaya dan pariwisata, pendidikan kota Semarang juga merupakan aset yang sangat berpotensi. Dunia pendidikan kota Semarang saat ini sudah dapat dibilang maju, terlihat dari semakin banyaknya sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta yang mempunyai taraf internasional. Tidak jarang pula siswa-siswi kota ini menjuarai kompetisi setingkat olimpiade, dan dalam hal pendidikan tinggi pun tidak kalah bersaing dengan Jakarta ataupun Jogja, bahkan kota Semarang merupakan kota tujuan pertama di Jawa Tengah dalam hal pemilihan Perguruan Tinggi.
Meskipun demikian, kota Semarang masih sangat membutuhkan banyak hal untuk memperkenalkan dirinya sesuai ciri khas yang dimiliki. Kesadaran akan pentingnya City Branding sebenarnya sudah muncul di hampir setiap event yang dilakukan, namun sepertinya aktivitas yang dilakukan masih sangat terbatas dan terpotong-potong dalam beberapa lingkup aktivitas sehingga kurang
P r o s i d i n g S e m N a s 2 0 1 5 | 93
mencerminkan kekhasan dan karakter yang ingin ditonjolkan dari kota Semarang itu sendiri. Dengan kata lain, kegiatan branding belum dilakukan secara proaktif dan terintegrasi. Sebagian besar aktivitas yang dilakukan masih sebatas pada promosi-promosi parsial dengan sekadar mengikuti kegiatan yang telah dijadwalkan secara regular.
Kurang sesuainya Branding kota Semarang saat ini dimungkinkan karena kurang fokusnya pengelolaan City Branding, karena terlalu banyak tujuan yang ingin dicapai dalam waktu yang sama. Penetapan sebuah City Branding semestinya dapat menjadi sesuatu yang lebih efektif dan efisien apabila dilakukan secara fokus untuk menonjolkan identitas kekhasan yang menjadi ciri dari Kota Semarang. Dengan City Branding yang lebih fokus diharapkan ini bisa membedakan dari kota-kota lainnya. City Branding haruslah externally different dan internally inspiring, secara eksternal harus berbeda dengan kota lainnya dan secara internal dapat menginspirasi masyarakat untuk berbuat banyak bagi keberhasilan daerah tersebut.
Salah satu citra yang menarik dari Kota Semarang dan membedakan dengan kota lain yaitu bahwa Semarang adalah kota dengan akulturasi budaya yang ditunjang aspek industri dan perdagangan yang kuat. Sebagai kota multikultur di dalamnya, Semarang kental dengan berbagai aktivitas budaya dan sosial yang sulit ditemukan di wilayah lain. Penduduk kota ini umumnya adalah suku Jawa dengan mayoritas agama adalah Islam. Meskipun demikian, kota ini sangat dikenal sebagai kota dengan komunitas Tionghoa yang besar pula. Perpaduan antara budaya Jawa, Tionghoa dan Islam sangat terlihat di berbagai aspek kehidupan yang membaur sejak ratusan tahun silam.
Dari sisi peninggalan sejarah dan budaya, Semarang memiliki kota tua
Little Netherland yang mencakup kawasan Polder Tawang, Gereja Blenduk,
Stasiun Semarang Tawang, Jembatan Berok, Pasar Johar dan Lawang Sewu. Selain itu juga masih ada tempat-tempat seperti monumen Tugu Muda dan juga kuil-kuil komunitas Tionghoa yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Beberapa diantaranya sudah dikemas sebagai tempat tujuan pariwisata, seperti misalnya yang dilakukan oleh Komunitas Tionghoa di Semarang, melalui perkumpulan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata) yang mengadakan Waroeng Semawis, yakni arena wisata kuliner yang menjual berbagai makanan dan oleh-oleh khas Semarang, di daerah Pecinan Semarang (daerah Gang Pinggir) setiap akhir minggu (Jumat-Minggu) dan hari libur nasional. Kopi Semawis juga rutin menggelar Pasar Imlek Semawis selama beberapa hari setiap menjelang perayaan Tahun Baru Imlek di Pecinan Semarang.
Sementara dari sisi pendidikan tinggi, kota Semarang juga menjadi tempat tujuan dikarenakan semakin banyaknya alternatif sekolah tinggi yang ada. Meskipun demikian, program yang ditawarkan selama ini masih dikemas dalam program yang belum sinergi antara satu sama lain, sehingga kurang optimal dalam menginformasikan kekhasan dari sebuah kota. Yang perlu dilakukan sebaiknya
menciptakan suatu informasi mengenai budaya dan pendidikan yang menjadi cerminan identitas kota. Tentunya masih tetap memperhatikan aspek fungsionalnya lewat kenyamanan, keamanan, kebersihan.
Dengan demikian jika proses membangun brand sebuah kota dianggap merupakan suatu opsi untuk meningkatkan perekonomian kota, tentu saja diperlukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak. Sehingga nantinya proses pembangunan yang dilakukan akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya sesuai dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Pokok membangun City Branding sebuah wilayah adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan secara lebih menyeluruh. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan hanya dimungkinkan apabila pembangunan didesentralisasikan sampai sedekat mungkin pada masyarakat. Artinya, perencanaan pembangunan harus dimulai dari bawah, meskipun juga harus memperhatikan batasan-batasan dan sasaran-sasaran makro, baik makro nasional, makro sektoral, maupun makro regional. Pengambilan keputusan dalam proses pembangunan yang menyangkut masyarakat tentu saja harus berpangkal pada simpul yang paling dekat dengan masyarakat.
Berdasarkan observasi lapangan dan wawancara dalam membangun city branding, diperoleh hasil sebagai berikut :
1. Permasalahan yang ditemukan di lapangan dapat diketahui sebagai berikut : a. Kebijakan pariwisata secara umum tampaknya lebih berat ke
tujuan pengembangan pariwisata, khususnya untuk menarik wisatawan, seharusnya bisa mendatangkan investasi dan meningkatkan perdagangan.
b. Kota Semarang selama ini baru sebatas berpromosi, belum mengangkat sisi yang unik dan bersifat emosional. Dimana masih hanya membuat Booklet, brosur, dan belum menonjolkan keunggulan untuk daerah.
c. Identitas pengenal hanya logo identitas kotanya dan belum mencantumkan identitas yang komersial dan emosional yang dimaksudkan untuk menarik investasi.
d. Upaya City Branding sejauh ini kurang menekankan pada potensi dan keunggulan daerah secara jelas, banyak yang tidak menonjolkan keunggulan utama daerahnya dan malah ingin menjual barang produk,
e. Banyak slogan yang dianggap sebagai landasan City Branding menjadi tidak fokus pada suatu kelebihan potensi daerah.
f. Potensi Kota Semarang begitu banyak, namun belum semua dapat dioptimalkan oleh pemerintah dan masyarakat.
P r o s i d i n g S e m N a s 2 0 1 5 | 95
g. Kesadaran akan pentingnya City Branding sebenarnya sudah muncul di hampir setiap event yang dilakukan, namun sepertinya aktivitas yang dilakukan masih sangat terbatas dan terpotong-potong dalam beberapa lingkup aktivitas sehingga kurang mencerminkan kekhasan dan karakter yang ingin ditonjolkan dari kota Semarang itu sendiri.
h. Kegiatan branding belum dilakukan secara proaktif dan terintegrasi.
i. Sebagian besar aktivitas yang dilakukan masih sebatas pada promosi-promosi parsial dengan sekadar mengikuti kegiatan yang telah dijadwalkan secara regular.
j. Kurang fokusnya pengelolaan City Branding, karena terlalu banyak tujuan yang ingin dicapai dalam waktu yang sama.
2. Peran dari perguruan tinggi dalam membangun city branding belum ada sehingga kurang sesuainya branding kota Semarang saat ini dimungkinkan karena kurangnya penelitian mengenai city branding yang tepat untuk kota Semarang dari tinjauan akademisi. Masing-masing perguruan tinggi yang ada belum cukup berkolaborasi bersama dalam upaya membangun city branding kota Semarang. Hal ini menjadi hal yang ironis karena dengan begitu banyaknya perguruan tinggi yang ada justru seharusnya dapat