• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problematization, meliputi pendefinisan masalah serta identifikasi aktor lain yang terlibat selain aktor kunci (Callon, 1986).24

PERAN AKTOR DALAM MEMPERLUAS AKSES INTERNET UNTUK MENDUKUNG E-SERVICES

1) Problematization, meliputi pendefinisan masalah serta identifikasi aktor lain yang terlibat selain aktor kunci (Callon, 1986).24

Beberapa sarjana telah menunjukkan bahwa proyek-proyek ICT publik biasanya melibatkan berbagai pihak dengan motivasi beragam dan berbagai kepentingan (Flak & Rose 2005 dalam Hsieh:2015).25 Pengaruh TIK menangkap persepsi dan tanggapan dari stakeholder penting (pemerintah, legislator, warga, penyedia layanan, dll), serta menggabungkan seperangkat faktor kontekstual. Maka dari itu, langkah pertama dalam menentukan stakeholder analysis adalah upaya untuk mengidentifikasi aktor yang terlibat dalam kebijakan. Identifikasi dipandu melalui berbagai sumber bacaan, wawancara, dilengkapi dengan dokumen publik (misalnya laporan surat kabar, dan artikel majalah).26 The Worlds Only Integrated Safety Culture

Improvement System Incorporating Transformational Leadership Theory

mengatakan bahwa langkah pertama untuk menentukan stakeholder adalah

23

Hsieh, J.J Po-An, Mark Keil, Jonny Holmstrom, Lynette Kvasny. 2015. The Bumpy Road to Universal Access: an Actor-Network Analysis of a U.S. Municipal Boradband Internet Initiative. The Information Society, 28: 264–283, 2012 Copyright c ? Taylor & Francis Group, LLC ISSN: 0197-2243 print / 1087-6537 online DOI: 10.1080/01972243.2012.689271

24

Callon, M. 1986. Some elements of a sociology of translation: Domestication of the scallops and fishermen of St. Brieuc Bay. In Power, action and belief: A new sociology of knowledge, ed. J. Law,196–233. London, UK: Routledge & Kegan Paul.

25

Ibid 21

26

identifikasi melalui brainstorming. Pendapat demikian juga dikatakan oleh Bryson (1995),27 bahwa dasar teknik stakeholder analisis adalah identifikasi yang langkah awalnya dilakukan dengan brainstorming. Stakeholder adalah kelompok atau individual yang mempunyai pengaruh atau dipengaruhi oleh capaian/prestasi tujuan organisasi (Freeman;1984)28

Melalui brainstorming sekaligus interview dengan beberapa pelaku kebijakan di daerah, sampling masyarakat dan studi literatur ditentukan bahwa stakeholder atau actor yang terlibat yaitu :

1. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah;

2. Legislator, yang dalam hal ini adalah DPRD Provinsi Jawa Tengah; 3. Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi selaku Internet Service

Provider,

4. Penyelenggara Jasa Layanan Telekomunikasi, seperti Warung Internet/ Cafe Internet, Pusat Pelayanan Internet Kecamatan (PPIK), Hotspot Publik yang banyak dibuka oleh pihak swasta, seperti di hotel, tempat hiburan, rumah makan dan sebagainya;

5. Pengguna Layanan/Publik/Masyarakat

Setelah mengetahui aktor/stakeholder, maka selanjutnya perlu dilakukan prioritasi stakeholder. Dalam The Worlds Only Integrated Safety

Culture Improvement System Incorporating Transformational Leadership Theory, langkah ke-2 yaitu memasukkan masing-masing stakeholder dalam

Grid Power. Hal ini serupa dengan yang dikemukan Eden and Ackerman (1998), ataupun Campbell dan Mitchell (2002) (dalam Bryson, 2004)29 Power dapat terdiri dari indikator : 1) otoritas hukum yang relevan dalam pengambilan keputusan kebijakan dan implementasi; termasuk aturan dan penegakan hukum; 2) kepemilikan informasi terkini untuk menegakkan minat konsumen; 3) memiliki keahlian dalam perlindungan konsumen berdasarkan hukum tidak hanya konsumen tetapi juga kebijakan konsumen, perencanaan dan manajemen; 4) kepemilikan anggaran dan sumber daya untuk mendukung operasi kelompok konsumen sipil; 5) kemampuan merangsang mobilisasi massa untuk perubahan kebijakan (Ondee;2008).30 Melihat kelima indikator ini, maka Pemerintah Provinsi Jawa Tengah adalah key actor atau

defenitive stakeholder yang paling dominan dalam rangka membuka akses

internet yang lebih luas untuk masyarakat. Pemprov. memiliki kelimanya, dan mempunyai interest / ketertarikan yang tinggi terhadap upaya membuka akses

27

Bryson, J. 1995. Strategic Planning for Public and Nonprofit Organizational Revised Edition. San Fransisco CA; Jossey Bass.

28

Freeman, R.E.1984. Starategic Management A Stakeholder Approach. Boston ; Priman.

29

Bryson, Prof.John M. 2004. What to Do When Stakeholders Matter A Guide to Stakeholder Identification and Analysis Technique. A paper presented at National Public Management Research Conference 9-11 Oktober 2003. Georgetown University Public Policy Institude. Washington DC, publish in Public Management Review, 2004

30

Ondee, P & S. Pannarunothai. 2008. Stakeholder Analysis: Who Are The Key Actors in Establishing and Developing Thai Independent Consumer Organization?. International Journal of Human and Social Sciences 3:4.2008ppg 265-275

P r o s i d i n g S e m N a s 2 0 1 5 | 157

internet yang lebih luas untuk masyarakat. Sebab tanpa diakses masyarakat, maka program e-government tidak dapat berjalan optimal.

Langkah berikutnya adalah mendefinisikan masalah. Penentuan masalah dapat dilandasi dengan upaya pembagian masalah menurut Dunn (2000).31 Tujuan yang ingin diharapkan pemerintah dalam rangka menerapkan e-services yang berbasis internet untuk meminimalisir digital

devide, menerapkan pelayanan publik yang lebih baik (Bwalya,Kelvin Joseph

& Tanya Du Plessis and Chris Rensleigh. 2014) dan meningkatkan perekonomian (Hsieh – Keil ; 2015). Selanjutnya dari visi ini dibreakdown dalam berbagai tahap permasalahan.

Problem Formulation Step (Dunn) Indicators Problem Situation Keterbatasan akses internet

Meta Problem Biaya akses mahal

Substansive Problem Infrastruktur kurang, seperti BTS, Sarana Kabel (Fyber Optic), dsb.

Formal Problem Dukungan pembangunan infrastruktur Fig. 1 Problem Step Indicator

Akses internet sangat ditentukan oleh ketersediaan jaringan oleh provider atau penyelenggara jaringan internet. Sedangkan keterbatasan akses masyarakat didasarkan pada tingkat biaya akses yang berlaku. Sebagaimana dilansir oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), bahwa pengguna internet mengemukakan dua alasan utama dalam memilih provider, yaitu mengenai masalah biaya dan akses jaringan.32 Intinya adalah masalah biaya menjadi pertimbangan utama dalam mengakses internet. Biaya ini didasarkan pada kemampuan provider untuk membangun infrastruktur.

Sampai dengan saat ini, pemerintah belum menerapkan regulasi mengenai tarif internet, walaupun tarif telephone dan SMS sudah diatur. Tarif ditentukan sendiri oleh masing – masing provider, sehingga banyak sekali iklan dan perang tarif yang kita saksikan di televisi saat ini. Selain itu, bagi pengguna internet melalui warung atau cafe internet, maka penyelenggara jasa layanan juga ikut menentukan tarif pengunaan jasa layanan internet. Dalam hal tarif, peran pemerintah daerah hanya bisa memfasilitasi usulan antara pengguna di daerahnya dengan pemerintah pusat. Pemerintah pusat saat ini juga telah berunding bersama dengan operator/provider dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) untuk menentukan tarif internet.

31

Dunn, William N. 2008. Terjemahan. Pengantar Analisis Kebijakan Publik Edisi Kedua. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

32

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Profil Pengguna Internet Indonesia. 2014. Diterbitkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia , Maret 2015

Sebagaimana dilansir CNN indonesia, bahwa penyesuaian tarif internet baru dikaji intensif pada tahun 2016.33

Dalam artikel yang sama dijelaskan pula bahwa akses yang mahal ini dikarenakan faktor seperti komponen biaya perangkat, pemeliharaan dan tingkat kesulitan lain, sebagaimana dikemukakan Vice President Corporate Communication Telkomsel, Adita Irawati. Faktanya, tarif internet dibagi dalam zonasi yang berbeda berdasarkan infrastruktur di setiap wilayah. Infrastruktur ini sebenarnya bisa dibantu dari pemerintah daerah. Dalam mengatasi infrastruktur yang kurang, provider menjadi pelaku utama yang bisa mengembangkan jaringan teknisnya di suatu daerah, disusul dengan jasa layanan internet, seperti warnet walaupun dalam skala kecil. Warnet/Cafenet atau yang sekarang juga populer adalah tempat Game Online, secara sederhana menyediakan perangkat untuk akses internet.

Untuk mengatasi kekurangan infrastruktur internet ini, pemerintah daerah dengan DPRD dapat mengalokasikan anggaran untuk mendukung pembangunan jaringan internet di berbagai daerahnya. Dari pengamatan dan interview, ketika program videoconference di Jawa Tengah berlangsung, ataupun penyelenggaraan e-musrenbang, maka Pemprov. Jateng bekerjasama dengan PT. Telkom dalam penyediaan akses internet. Internet ini menghubungkan daerah komunikator dengan pusat acara. Dalam hal ini, alokasi angaran sangat penting, sehingga kegiatan semacam videoconference ini bisa berlangsung, dan alangkah baiknya apabila jaringan yang baru saja dipergunakan tersebut bisa seterusnya dipergunakan untuk masyarakat. Istilahnya pemda harus membuka lahan baru terlebih dahulu, agar internet segera sampai ke masyarakat. serta mendorong adanya program – program yang bisa memperluas akses internet, seperti Internet Desa34, usulan kepada Menkominfo tentang penambahan Pusat Layanan Internet Kecamatan, Mobile Internet Keliling, dan sebagainya.

Sedangkan dalam rangka mendukung pembangun infrastruktur internet, Peran pemerintah daerah dan DPRD juga sangat vital, terutama dalam hal pengaturan perijinan tentang pendirian transmiter atau BTS, mendorong tumbuhnya jasa layanan internet seperti warnet dan cafenet dan mendorong kerjasama pemerintah dan provider. Di sini DPRD sangat berperan selain menggunakan hak budgetingnya, juga membuat regulasi daerah mengenai jasa layanan internet, regulasi tentang ijin pendirian tower data internet, dan sebagainya. Masyarakat juga punya andil dalam persetujuan pendirian transmiter dan warnet, agar upaya – upaya penolakan warga tidak selalu terjadi. Untuk provider dan penyelenggara jasa layanan internet, tidak usah diragukan lagi, mereka akan sangat mendukung pembangunan infrastruktur, baik dalam sisi teknis, biaya, adminitrasi, hingga dampak –

33

Artikel di http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150723141403-185-67777/internet-telkomsel-dianggap-kemahalan-brti-mau-atur-tarif/ yang berjudul Internet telkomsel dianggap kemahalan, BRTI mau atur Tarif yang ditulis oleh Aditya Panji, CNN Indonesia pada 23 Juli 2015 pukul 16:22 WIB

34

Program Internet Desa yang digagas kerjasama dengan operator / provider seperti Desa Digital dengan Telkom atau Desa Broadband dengan XL;

P r o s i d i n g S e m N a s 2 0 1 5 | 159

dampak yang ditimbulkan baik aspek sosial maupun ekonomi. Jasa layanan internet, bukan hanya harus menyiapkan PC kepada customer, tetapi juga antena receiver dan distributing system. Tak jarang, customer warnet ini bukan hanya pengunjung, tetapi juga rumah – rumah disekitarnya.

Berinovasi dari konsep problem frame stakeholder map (Nutt & Backoff, 1992) maka upaya untuk memecahkan permasalahan tersebut menunjukkan tingkat level power masing – masing aktor dalam menghadapi masalah. Ke empat stakeholder pendukung pemerintah daerah dalam membuka akses internet yang lebih lebar di Jawa Tengah, dapat digambarkan pada level seperti figur 3.

Fig. 2. Power Level

Untuk memeriksa keabsashan level power tersebut, maka dapat digunakan pola negasi dari permasalahan. Sebagai contoh untuk membuat solusi tentang keterbatasan akses internet, apakah provider bisa melakukan tanpa dukungan stakeholder yang lain. Dalam gambar ditampilkan bahwa pada level permasalahan tertinggi, maka hanya provider yang mampu mengatasi. Jawabannya tentu bisa, karena untuk mengatasi keterbatasan akses internet tanpa dukungan aktor lain, maka provider bisa mengganti perangkatnya dengan kapasitas pemancaran yang lebih tinggi, menerapkan promosi tarif sehingga menarik bagi pengguna, dan lain sebagainya. Sedangkan ketiga aktor yang lain tidak dapat melakukannya tanpa adanya dukungan dari provider, sebab providerlah yang berkuasa penuh terhadap peningkatan kemampuan peralatan infrastruktur internet dan penentuan tarif internet, karena belum ada regulasi yang mengaturnya. Contoh selanjutnya mungkin pada tahap masalah kurangnya infrastruktur telekomunikasi, dimana DPRD/Legislatif memiliki power yang lebih tinggi dari masyarakat. Di sini diartikan bahwa tanpa masyarakat DPRD pun bisa membuat kebijakan – kebijakan yang mampu menambah infrastruktur telekomunikasi bertambah, bukan hanya berupa regulasi perijinan tetapi juga persetujuan kerjasama antara pemerintah dan provider atau jasa pelayanan internet, serta hak budgeting. Di sini baik jasa penyelenggara jaringan atau provider dan jasa

Penyeleng-gara Jaringan Telekomun

ikasi Penyeleng-gara Jasa Layanan Komunika si DPRD Prov. Jateng Masyarakat Situation Problem Meta Problem Substansive Problem Formal Problem Keterbatasan Akses Internet

Biaya Akses Mahal

Kurangnya Infrastruktur Telekomunikasi

Dukungan Pembangunan Infrastruktur

POWER LEVEL

pelayanan internet juga berperan, sehingga pada level ini keduanya juga hadir, sedangkan masyarakat tidak mempunya power dalam tahap ini. Demikian seterusnya.

2) Interessesment, adalah langkah yang berorientasi pada upaya meyakinkan