TENAGA KERJA IDONESIA (TKI) DI PULAU SEBATIK
E. PERAN ORGANISASI NON PEMERINTAH DAN PEMERINTAH KECAMATAN
1. Peran Yayasan Ar Rasyid
Yayasan ar-Rasyid adalah salah satu lembaga yang menyelenggarakan berbagai gerakan sosial, pendidikan dan kesehatan di Kab. Nunukan. Pimpinan Yayasan yang juga menjadi pengelola pendidikan al-Ikhlas Kab. Nunukan telah cukup dikenal kegiatan dan kredibilitasnya oleh camat Sebatik Tengah dan sebagian stafnya. Ketika ada salah satu warga yang juga pengusaha sukses di Sebatik Tengah berniat dan berminat untuk menginvestasikan lahannya bagi pengembangan pendidikan, Camat Sebatik Tengah mencoba menawarkan rencana tersebut ke yayasan ar-Rasyid Nunukan yang kemudian disambut dengan tangan terbuka oleh pengurus yayasan. Dimotori oleh ibu Hj. Bidan Suraidah, SKM, M.Ns, dimulailah gerakan-gerakan da’wah, pemberdayaan masyarakat, dan pelayanan kesehatan yang menumpang di salah satu bagian dari rumah warga.
Atas permintaan warga setempat, termasuk para TKI yang bekerja di Sebatik Malaysia, maka atas dukungan dari Pemerintah Kecamatan dan
Pemerintah Desa, tidak lama kemudian dilaksanakanlah kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diselenggarakan di salah satu ruangan yang dipinjamkan oleh warga setempat. Selain anak-anak setempat, sebagian dari anak didik PAUD di lembaga ini adalah anak TKI yang orang tuanya bekerja di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terkemuka di wilayah Sebatik Malaysia, Teck Guan Company. Mereka mengantar dan menjemput anak-anak mereka dengan melintasi perbatasan dua negara setiap harinya.
Tidak hanya PAUD, kegiatan yang diselenggarakan olehYayasan Ar-Rasyid juga kemudian berkembang hingga ke kegiatan pelayanan kesehatan yang mayoritas pasiennya juga adala TKI yang bekerja di Sebatik Malaysia, Program Pemberantasan Buta Aksara (KF Dasar dan Mandiri), Pembentukan Desa Vokasi, Pendidikan Kesetaraan (Paket) dan terakhir adalah Pendidikan Madrasarah baik Diniyah maupun Ibtidaiya Baru-baru ini, PAUD Al-Ikhlas yang dikelola oleh yayasan ini juga menjadi pilot poject Integrasi Program PAUD, Bina Keluarga Balita (BKB) dan Posyandu.
Selain mendapat dukungan dari pemerintah, dalam menyelenggarakan kegiatannya, yayasan ar-Rashid juga mendapat dukungan dan bantuan dari Yasayan Dompet Dhuafa.
2. Peran Kecamatan
Guna mensukseskan gerakan pemberantasan buta huruf dan fasilitasi pendidikan bagi anak TKI, Kecamatan Sebatik Tengah mengambil peran dengan menyelenggarakan fungsi-fungsi pembinaan, pengkoordinasian dan sekali-kali ikut terlibat langsung dalam pelaksanaan melalui organisasi PKK Kecamatan maupun menugaskan relawan pengajar yang sebagian terdiri dari staf kecamatan untuk mengajar di program kesetaraan. Kecamatan juga menyelenggarakan monitoring dan evaluasi terhadap jalannya kegiatan.
1) Perencanaan
Keterlibatan pemerintah kecamatan dalam perencanaan adalah dalam bentuk perumusan strategi pendekatan kepada masyarakat dan para TKI. Kegiatan tersebut tidak akan berhasil tanpa dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat yang merupakan target sasaran kegiatan. Kecamatan membantu yayasan untuk merancang model pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga. Sedangkan implementasi dari strategi dan perencanaan ini sendiri, umumnya dilaksanakan oleh yayasan beserta mitra strategis lainnya.
P r o s i d i n g S e m N a s 2 0 1 5 | 73
2) Pengorganisasian
Selain masyarakat, gerakan pendidikan dan pemberdayaan untuk masyarakat perbatasan dan TKI juga melibatkan beberapa organisasi dan lembaga antaranya pemerintah desa, SKPD-SKPD terkait (kabupaten/propinsi/pusat), TNI dan POLRI serta beberapa lembaga sosial seperti Yayasan Dompet Dhuafa. Kecamatan berfungsi melakukan koordinasi dalam rangka membantu mensinergikan jalan dan lancarnya kegiatan, termasuk mempromosikan kegiatan tersebut guna mendorong keterlibatan stake holder yang lebih luas.
3) Pelaksanaan
Keterlibatan kecamatan antara lain direpresentasikan oleh PKK Kecamatan maupun relawan mengajar oleh beberapa staf kecamatan, bantuan honor bagi tenaga pengajar dan gotong royong pembangunan sekolah dan sarananya. TP. PKK misalnya terlibat langsung dalam penyelenggaraan beberapa kelompok keaksaraan fungsional, promosi hasil produk olahan dari kelompok desa vokasi. Sedangkan keterlibatan staf kecamatan juga ditunjukkan dalam bentuk menjadi relawan mengajar di pendidikan kesetaraan. Keterlibatan lain oleh pihak kecamatan adalah dalam bentuk pemberian honor bagi Tenaga Pengajar Program Kesetaraan yang diselenggarakan oleh yayasan di Sebatik Malaysia. Honor tenaga pengajar dimaksud diambil dari dana zakat yang dihimpun di lingkungan kantor Kecamatan Sebatik Tengah. Keterlibatan langsung pemerintah kecamatan juga ditunjukkan dalam keterlibatan dalam kegiatan pemberian bantuan peralatan, gotong royong pematangan lahan dan pembangunan sekolah tapal batas yang saat ini menjadi pusat kegiatan yayasan ar-Rasyid.
4) Monitoring
Kegiatan monitoring cukup intens dilakukan oleh Pemerintah Kecamatan termasuk mendampingi tamu-tamu yang berkunjung melakukan visitasi dalam kegiatan-kegiatan yana dilaksanakan oleh yayasan.
5) Evaluasi
Camat Sebatik Tengah juga aktif melakukan evaluasi penyelenggaraan kegiatan. Selain menjalankan fungsi kecamatan, evaluasi ini juga dilakukan oleh camat dalam rangka kedudukannya sebagai Pembina/Penasehat di Sekolah Tapal Batas
F. HAMBATAN
Gerakan pendidikan tapal batas masih banyak menemui hambatan, antara lain : masih kurangnya dukungan masyarakat, baik pemerintah pusat, penduduk lokal maupun corporate. Meski demikian sudah mulai ada perhatian seperti dari dompet Dhuafa dan Pertamina.
Dikemukakan oleh camat Sebatik Selatan : “ yang perlu mendapat perhatian adalah ruang belajar untuk siswa Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Diniyah, pak. Akan lebih elok kalau dibangunkan sekolah berasrama pak, agar anak-anak TKI tersebut tidak perlu pulang pergi melintasi negara setiap hari”.
Hambatan yang masih dihadapi dalam pengembangan pendidikan di tapal batas pulau Sebatik ini antara lain, adalah :
a. Sumberdaya manusia pendidik masih minim, baik kuantitas maupun kualitas. Saat ini tenaga pendidik menggunakan anak-anak lulusan SLTA atau sederajat
b. Lokal Sekolah tidak memadai, yakni menumang di kolong rumah warga. Dipinjami selama 7 tahun (sejak tahuj 2012). Sarana dan mediapembelajaran sangat minim,
c. Keterbatasan biaya operasional. Biaya operasional dan biaya hidup siswa (ada 11 anak TKI yang menetap di lokasi) hanya mengandalkan donatur dan mitra (dompet dhuafa).
G. PENUTUP
Gerakan Sosial merupakan perilaku kolektif yang ditandai kepentingan bersama dan tujuan jangka panjang, yaitu untuk mengubah atau mempertahankan masyarakat atau institusi yang ada di dalamnya. Ciri lain Gerakan Sosial ialah penggunaan cara yang berbeda diluar institusi yang ada. Pendidikan sebagai kebutuhan dasar masayarakat di tapal batas wilayah RI dan Malaysia khususnya di Kecamatan Sebatik Selatan., seperti halnya gerakan sosial lainnya telah menggunakan cara yang berbeda dengan penyelenggaraan pendidikan tidak hanya bagi penduduk setempat tetapi bagi semua warga negara Indonesia meski bukan penduduk
P r o s i d i n g S e m N a s 2 0 1 5 | 75
setempat. Diekola oleh masyarakat dengan sinergi dengan berbagai pilar kemasayarkatan dan pemerintah.
Di Sekolah Tapal Batas, Kecamatan Sebatik Selatan digelar beberapa jenis layanan pendidikan yakni : PAUD, Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD/ formal), Madrasah Diniyah (SD Non formal), Paket A, B dan C serta Keaksaraan Fungsional (KF) / Keaksaraan Umum Mandiri (KUM). Siswa PAUD, MI dan MD berasal dari anak-anak TKI yang bekerja di perkebunan sawit di pulau Sebatik yang menjadi kawasan negara Malaysia. Di Sebatik Malaysia saat ini juga ada satu kelas Paket A. Dengan demikian Sekolah Tapal batas adalah identitas pendidikan yang mewadahi berbagai macam program layanan pendidikan. Sebagai gerakan sosial, pendidikan tapal batas ini harus selalu dibangkitkan semangat dan penyelenggaraannya dengan terus mengatasi permasalahan yang dihadapi.***
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi) jakarta : Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi , 2007. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Rafael Raga Maran, Pengantar Sosiologi Politik, Jakarta : Rineka Cipta, 2001. Daryanto, H.M, 2006. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Jaluluddin & Idi, Abdullah, 2007. Filsafat Pendidikan, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.
Sunarto, Kamanto, Pengantar Sosiologi, Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004.
Suharto, Suharto. 2009. Kemiskinan & Perlindungan Sosial di Indonesia. bandung : Alfabeta. Tilaar, H.A.R, 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional suatu Tinjauan Kritis Jakarta : Rineka
Cipta.
Tilaar, H.A.R, 2002. Manifesto Pendidikan Nasional Tinjauan dari Postmodernisme dan Studi Kultur. Jakarta: Kompas.
T.Keban, Yeremias. 2008. Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik, Yogyakarta : Gava Media.
Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan.Jakarta: bumi Aksara.