Lembaga Keuangan
3.1 Pendahuluan
Bab tentang teori keunggulan komparatif mengungkapkan bahwa masalah kelangkaan dapat diatasi, jika individu bersedia mengkhususkan diri sesuai dengan keunggulan komparatifnya dan kemudian mencari cara untuk mengalokasikan barang dan jasa yang saling menguntungkan. Lebih lanjut, proses ini tidak dapat diharapkan supaya terlaksana tanpa "kerangka" kelembagaan yang memadai di mana spesialisasi dan pertukaran dapat berlangsung. Pasar adalah salah satu institusi tersebut; itu adalah lembaga terpenting yang memupuk spesialisasi dan pertukaran dan merupakan fondasi di mana masyarakat kapitalis modern dibangun. Secara informal, pasar adalah kerangka kerja yang memungkinkan pembeli atau calon pembeli dan penjual saling bertukar barang, jasa, dan informasi.
Agar tansaksi berjalan, pasar bergantung pada hak kepemilikan pribadi (private property rights ) dan hukum kontrak (contract law). Hak milik menentukan lingkup kontrol individu atas objek dan mereka memungkinkan individu untuk menentukan dengan cara apa objek ini akan digunakan dan dengan demikian menciptakan perbedaan antara 'milikku' dan 'milikmu.' Tanpa perbedaan seperti itu, tidak mungkin untuk membangun pasar dan perdagangan, karena tidak jelas siapa yang berhak menguasai dan menggunakan benda-benda tersebut. Hak milik dapat bersifat absolut, memberikan kebebasan kepada pemilik suatu objek untuk menggunakannya dengan cara apa pun yang diinginkannya, tetapi di sebagian besar masyarakat, ada kesepakatan sosial tentang pembatasan penggunaan
properti seseorang. Pembatasan dapat terjadi, jika beberapa penggunaan mengganggu kesejahteraan orang lain atau bertentangan dengan nilai moral.
Contoh objek yang hak pemiliknya dibatasi oleh banyak negara umumnya berkenaan dengan hak kepemilikan tanah, yang disebut real estate atau properti tidak bergerak.
Pengembangan lahan, jenis penggunaan dan arsitektur bangunan harus tunduk pada batasan dan peraturan, dan beberapa negara membatasi kepemilikan tanah individu lebih jauh dengan mencegah mereka menggunakan real estat dengan cara yang paling disukai oleh pemiliknya (misalnya dengan menafsirkan hak untuk meninggalkan bangunan seseorang). Di Indonesia aturan yang mengatur tentang hal ini adalah UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, yang mengatur mengenai tentang hak-hak atas tanah, air, dan udara. Hal tersebut juga meliputi aturan dasar dan ketentuan penguasaan, pemilikan, penggunaan atau pemanfaatan sumber daya agraria nasional di Indonesia, pendaftaran tanah, ketentuan-ketentuan pidana dan ketentuan peralihan.
Lebih lanjut, UU No 5 Tahun 1960 adalah penegasan bahwa penguasaan dan pemanfaatan atas tanah, air, dan udara harus dilakukan berdasarkan asas keadilan dan kemakmuran bagi pembangunan masyarakat yang adil dan makmur. Dan juga dengan UU ini dimakusdkan agar pemanfaatan lahan memberikan manfaat bagi kepentingan bersama dan tidak dikuasai oleh satu pihak saja.
Digresi Ke 7 : Penegakan Hukum terhadap Hak Kepemilikan
Sangat penting untuk membedakan antara kesepakatan bersama dan penegakan hak milik. Banyak yang mengartikan property sebagai benda (a thing). Namun penelusuran ilmiah oleh para ahli hukum, ekonomi, politik, dll, menunjukan bahwa property merupakan hak atas sesuatu bukan sesuatu itu sendiri. Hak mengandung pengertian klaim atas sesuatu yang dapat ditegakan (enforceable) atau dihormati oleh pihak lain. Klaim atas sesuatu tanpa adanya perlindungan hukum atasnya atau tanpa bisa ditegakan tidak akan bermakna dan memberikan manfaat apa-apa. Oleh karena itu, unsur terpenting dari property adalah penegakan (enforcement).
Orang terbiasa berpikir penegakan hak milik sebagai aktivitas terpusat yang didelegasikan ke "negara." Tokoh utama dari pandangan ini adalah Max Weber (1988), yang mengamati bahwa negara modern telah memonopoli penggunaan kekuatan yang sah. Menurut sudut pandang ini, negara memberikan penegakan publik dan, dengan beberapa pengecualian seperti swadaya, membatasi penegakan hak milik pribadi. Hal ini tidak selalu yang jadi masalahnya. Penegakan hak secara
pribadi sangat penting secara historis, misalnya di Eropa akhir abad pertengahan.
Perkembangan kode etik yang disebut "Lex Mercatoria," pada abad ke-11 dan ke-12, dipandang sebagai salah satu faktor kunci keberhasilan ekonomi Eropa, yang mengarah ke Renaisans. Ini membantu mengatasi kemungkinan terbatas dari penegakan hukum yang terpusat di Eropa yang terfragmentasi secara politik. Menurut Berman (1983), "aturan sistem hukum ini diproduksi secara pribadi, diadili secara pribadi, dan diberlakukan secara pribadi." Sistem itu menjadi benar-benar efektif karena Eropa abad pertengahan diganggu oleh simpang siur dan hubungan yang rumit antar negara, yang penguasanya lebih mirip dengan elit yang mementingkan diri sendiri. Dalam beberapa hal, situasi di Eropa abad pertengahan terlihat serupa dengan situasi ekonomi global saat ini, di mana perusahaan multinasional dihadapkan pada konsep 'negara-bangsa' (nation-state) yang tidak memiliki lembaga terpusat, yang menegakkan hukum kontrak.
Fakta bahwa pasar bergantung pada hak milik menyiratkan bahwa setiap transaksi di pasar memiliki sisi "fisik" dan "hukum". Sisi fisik dari suatu transaksi adalah pertukaran barang, jasa, atau informasi (selanjutnya fokus tentang barang dan jasa, secara implisit berasumsi bahwa informasi dapat diartikan sebagai jenis layanan tertentu) sedangkan, dari perspektif hukum, transaksi adalah pertukaran hak. Agar dapat bertukar hak, perlu ditentukan kondisi yang mengikat transaksi semacam itu. Pertukaran hak ditentukan dalam kontrak dan aturan yang berlaku untuk pembentukan kontrak tersebut ditentukan dalam hukum kontrak masyarakat.
Digresi Ke 8 : Self Ownership
Unsur penyusun milik pribadi yang sering dilewati adalah hak kepemilikan diri (self ownership), yang merupakan kebajikan dan pencapaian penting masyarakat borjuis modern. Self-ownership menjamin kebermaknaan individu dengan memandang individu sebagai entitas yang dapat menentukan kehidupan yang dijalani. Self-ownership melindungi individu dari eksploitasi individu lain, tiap individu dapat menjalani kehidupan bermakna maka tiap individu memiliki kedudukan yang setara dan melakukan eksploitasi pada individu akan mengabaikan hal ini. Kepemilikan diri meniadakan kerja paksa atau perbudakan dan merupakan prasyarat yang diperlukan untuk hak kepemilikan atas benda-benda di dunia luar. Hal ini juga penting untuk pembentukan transaksi layanan seperti, misalnya, waktu dan keahlian yang ditawarkan seseorang di pasar tenaga kerja. Biasanya, kontrak kerja menentukan tugas pemberi
Diskusi yang sangat singkat tentang prasyarat kelembagaan dalam ekonomi pasar - dimana kepemilikan pribadi sebagai hak kontrol residual dan hukum kontrak - mengungkapkan bahwa ada hubungan yang erat antara aspek hukum dan ekonomi dari studi pasar.
Hukum perdata masyarakat secara implisit mendefinisikan sejauh mana pasar dapat berkembang dan apa yang dapat mereka capai, sementara analisis ekonomi dari fungsi pasar dapat memberikan informasi pada ahli hukum tentang kemungkinan konsekuensi dari aturan hukum. Pentingnya interaksi antara perspektif hukum dan ekonomi tercermin dalam kenyataan bahwa telah muncul seluruh bidang analisis yang disebut "Hukum dan Ekonomi", yang dikhususkan untuk analisis hubungan antara aturan hukum, perilaku individu, dan dampak sosial.
Asumsikan bahwa suatu masyarakat telah membentuk sistem hak milik pribadi, yang memberikan hak sisa kendali atas objek kepada individu dan undang-undang kontrak, yang menentukan kondisi di mana kepemilikan hak dapat dialihkan. Individu sekarang dapat mulai menukar hak-hak ini, mengingat aturan yang ditentukan dalam hukum kontrak.
Pendekatan berbasis hak terhadap pasar sangat mudah, tetapi pada saat yang sama, mungkin sedikit terlalu abstrak untuk mendefinisikan barang atau jasa karena setiap (bundel) hak yang mungkin tertarik untuk dibeli atau dijual oleh seseorang. Hak-hak tersebut dapat berupa apa saja mulai dari hak untuk makan apel hingga hak untuk memperoleh saham di suatu perusahaan dua belas bulan dari sekarang, jika harga saham di atas ambang tertentu.
Pada dasarnya, ada dua cara untuk membangun perdagangan. Dalam ekonomi barter, barang dan jasa ditukar dengan barang dan jasa lain, seperti dua apel dengan sepotong roti. Namun, sebagian besar masyarakat modern bergantung pada alat tukar abstrak:
yakni uang. Pada titik ini, tidak perlu secara eksplisit membedakan antara ekonomi yang barter dan ekonomi yang menggunakan uang sebagai alat tukar, tetapi penyimpangan berikut membahas "sifat" uang:
kerja dan juga pekerja. Kepemilikan diri membuat kontrak ini menjadi mungkin dan, pada saat yang sama, membatasi kebebasan kontrak, karena, misalnya, melarang seseorang menjual dirinya secara sukarela ke dalam perbudakan.
Digresi Ke 9 : Uang
Kehidupan dulu tidaklah sekompleks sekarang ini. Dulu manusia memenuhi kebutuhan sendiri-sendiri dengan sangat sederhana, salah satunya adalah sistem barter yang sudah digunakan selama berabad-abad. Hingga akhirnya satu pencapaian besar
umat manusia yakni penemuan alat tukar (medium of change) untuk memfasilitasi pertukaran barang atau perdagangan. Alat tukar ini disebut uang. Uang secara tradisional dianggap memiliki tiga fungsi: bertindak sebagai media pertukaran, satuan hitung dan sebagai alat untuk menyimpan nilai.
Mengingat kebanyakan orang dibesarkan dalam masyarakat di mana uang hampir meresap seperti udara yang kita hirup, mudah untuk mengawasi ketiga aspek uang yang sangat aneh ini. Pertama, dibandingkan dengan ekonomi barter di mana transaksi hanya dapat terjadi jika penawaran dan permintaan dua individu selaras dengan sempurna yang disebut "kehendak ganda yang selaras" (double coincidence of wants), penggunaan uang secara dramatis memfasilitasi pertukaran ini, karena tidak lagi bergantung pada kehendak ini. Pengertian “double coincidence of wants”
adalah: tiap pihak yang ingin melakukan pertukaran memiliki barang yang diingini pihak lain, dan mencari barang yang dimiliki pihak lain. Sebagai contoh, Bertha ingin menukar baju yang dibuat dan dimilikinya dengan beras dan Anto memiliki kelebihan padi yang ditanamnya dan ingin mencari baju yang seperti yang dibuat Bertha. Keadaan seperti itu memungkinkan berlakunya tukar-menukar atau barter.
Tetapi keadaan seperti itu tidak selalu berlaku. Bertha tidak dapat memperoleh beras apabila Anto menginginkan celana atau sepatu. Sebaliknya, Anto juga tidak dapat menukar berasnya dengan Bertha, karena Bertha hanya mempunyai baju untuk ditukarkan.
Kedua, uang sebagai satuan hitung (unit of account), ialah fungsi untuk menunjukkan nilai suatu barang atau jasa sehingga mempermudah proses pertukaran atau jual beli. Mengingat bahwa uang tidak memiliki nilai intrinsik untuk dapat diubah menjadi barang dan jasa yang berguna secara langsung di masa depan dan hanya menjadi simbol atau janji untuk membayar hutang. Dengan demikian, penemuannya bergantung pada pemikiran abstrak dan kepercayaan (kemungkinan besar berevolusi dari sertifikat hutang) dan sejarah perkembangan uang menunjukkan peningkatan kemampuan orang untuk berpikir secara abstrak tentang penggunaan dan sifat uang.
Awalnya dari koin emas dan perak (digunakan oleh bangsa Lydia sekitar 500-600 SM) kemudaian uang kertas (dari abad ke-7 M di Cina dan abad ke-13 M di Eropa), dan kemudian dari Uang Kertas yang didukung oleh Emas (Sistem Bretton Woods) pada uang yang tidak didukung, dan akhirnya menjadi alat pertukaran yang benar-banar abstrak di era digital, menunjukkan cara berpikir yang semakin abstrak.
Ketiga, berlawanan dengan barang dan jasa yang berguna secara langsung, nilai uang dihasilkan dari konvensi sosial. Uang memiliki nilai hanya sejauh orang mau
menerimanya sebagai alat tukar. Ini menjelaskan mengapa nilai uang, dan mata uang, secara inheren rapuh, karena nilai uang kertas dan koin (dan, lebih buruk lagi, bentuk uang yang murni abstrak) turun hingga hampir nol (yang merupakan bentuk ekstrim dari inflasi) sebagai segera setelah orang kehilangan kepercayaan pada nilai masa depan dan mulai menolaknya sebagai alat tukar, terlepas dari kenyataan bahwa setiap orang akan menjadi lebih baik, jika uang diterima.
Asumsikan bahwa terdapat nilai tukar antara barang dan jasa, atau harga moneter.
Dalam kasus uang, seseorang yang bersedia memberikan (sebagian) sisa hak kontrolnya dengan imbalan harga tertentu disebut penjual hak-hak ini (dan barang dan jasa terkait), sedangkan orang yang bersedia memperoleh (beberapa) hak penguasaan sisa dari orang lain, dengan imbalan harga tertentu, disebut pembeli. Contoh ekonomi barter, di mana satu barang harus ditukar dengan barang lain, memperjelas bahwa seseorang harus menjadi pembeli dan penjual pada saat yang sama, karena dia harus menyerahkan apel untuk kentang atau sebaliknya. Timbal balik dari penawaran dan permintaan ini dibawa ke ekonomi moneter, jika seseorang mengingatkan diri sendiri bahwa uang adalah janji abstrak untuk memperoleh barang dan jasa di masa depan dan, oleh karena itu, merupakan sekumpulan hak. Jadi, membeli apel untuk mendapatkan uang berarti bahwa satu orang memperoleh hak kontrol atas apel (pembeli) dan yang lain menyerahkan hak kontrol atas konsumsi (penjual) di masa mendatang. Oleh karena itu, perlu diingat bahwa setiap transaksi di pasar harus dilengkapi dengan transaksi di pasar lain.