PEDOMAN AKUNTANSI PENDAPATAN
B. PENDAPATAN DANA PERIMBANGAN
Pendapatan Dana Perimbangan merupakan pendapatan bagi pemerintah daerah yang sumber dananya berasal dari penerimaan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah. Pendapatan Dana Perimbangan sesuai Peraturan Perundangan yang mengatur perimbangan keuangan pusat dan daerah terdiri dari:
1. Pendapatan Bagian Daerah dari PBB dan BPHTB
2. Pendapatan Bagian Daerah dari Pajak Penghasilan (PPh) 3. Pendapatan Bagian Daerah dari Sumber Daya Alam (SDA) 4. Pendapatan Dana Alokasi Umum
5. Pendapatan Dana Alokasi Khusus
1. Pendapatan Bagian Daerah dari PBB dan BPHTB a. Pengertian
Perkiraan buku besar Pendapatan Bagian Daerah dari PBB dan BPHTB ini untuk menampung pendapatan bagian daerah yang berasal dari bagi hasil PBB yang besarnya sebagaimana ditetapkan dalam PP
104/2000 pasal 2, 3 dan pasal 4 dan BPHTB yang besarnya sebagaimana diatur pada PP 105/2000 .
b. Proses pencatatan dan dokumen terkait
Pencatatan pada perkiraan-perkiraan Pendapatan Bagian Daerah Dari PBB dan BPHTB dimulai sejak anggaran pendapatan dan belanja daerah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), alokasi anggaran, realisasi dan sampai dengan penutupan tahun anggaran. Dokumen sumber untuk mencatat transaksi Pendapatan Bagian Daerah dari PBB meliputi :
Otorisasi Kredit Anggaran sebagai dasar pecatatan alokasi pendapatan yang telah disetujui oleh DPRD
Surat Tanda Setoran (STS) pada saat realisasi anggaran baik untuk penerimaan pajak maupun non pajak
Memo Penyesuaian sebagai dasar pencatatan koreksi dan jurnal penutup.
Pejabat-pejabat yang terkait dengan transaksi pendapatan terdiri dari Unit Pelaksana Anggaran, Unit Keuangan, Unit Anggaran dan Unit Pembukuan. Prosedur pencatatan lebih rinci dapat dilihat pada bagan arus (flow chart) Buku IV.
c. Saldo Normal
Saldo normal perkiraan buku besar Pendapatan Daerah Dari PBB dan BPHTB adalah saldo kredit. Artinya perkiraan ini akan bertambah dengan adanya transaksi yang mengkreditnya, sebaliknya akan berkurang dengan adanya transaksi yang mendebet perkiraan pendapatan.
d. Jurnal Standar
Jurnal standar untuk mencatat transaksi Pendapatan Daerah Dari PBB dan BPHTB sejak anggaran disetujui oleh DPRD sampai kepada jurnal penutup adalah sebagai berikut :
1) Pada saat anggaran Pendapatan Bagian Daerah dari PBB dan
BPHTB disetujui /disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
9011 Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari PBB
& BPHTB xxx
-6300 Surplus/Defisit Tahun pelaporan - Xxx
Buku Pembantu Pendapatan Bagian Daerah PBB dan BPHTB (didebet sebesar anggaran). Pendapatan Bagian Daerah dari PBB
Pendapatan Bagian Daerah dari BPHTB xxx- xxx
-2) Alokasi Pendapatan Bagian Daerah dari PBB dan BPHTB
Dengan diterbitkannya Otorisasi Kredit Anggaran (OKA) maka anggaran Pendapatan Bagian Daerah dari PBB dan BPHTB dialokasikan kepada dinas terkait dengan jurnal sebagai berikut :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
9111 Estimasi Pendapatan Bagian daerah dari PBB
dan BPHTB yg dialokasikan (Dinas X) xxx -9211 Alokasi Estimasi Pendapatan Bagian Daerah
dari PBB dan BPHTB - Xxx
Jumlah xxx Xxx
3) Pada saat realisasi
Realisasi Pendapatan Bagian Daerah dari PBB dan BPHTB diakui dan dicatat sebagai penerimaan daerah pada saat kas diterima dan dibukukan oleh Bendahara Umum Daerah (Kas di Kas Daerah) :
No. Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
0100 Kas di Kas daerah xxx
-8110 Pendapatan Bagian Daerah dari PBB &
BPHTB - xxx
Jumlah xxx xxx
Buku Pembantu Pendapatan Bagian Daerah dari PBB (dikredit sebesar realisasinya). Pendapatan Bagian Daerah dari PBB
Pendapatan Bagian Daerah dari BPHTB -- xxxxxx
4) Pengembalian Pendapatan Bagian Daerah dari PBB & BPHTB Pengembalian Pendapatan Bagian Daerah dari PBB dan BPHTB yang terjadi baik dalam tahun anggaran berjalan maupun pada periode tahun anggaran berikutnya dijurnal sebagai berikut :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
8110 0100
Pendapatan Bagian Daerah dari PBB & BPHTB
Kas di Kas Daerah
xxx xxx Jumlah xxx xxx 5) Jurnal Penutup
Jurnal penutup perkiraan Pendapatan Bagian Daerah dari PBB dan BPHTB pada akhir tahun anggaran dilakukan sebagai berikut :
a) Bila realisasi pendapatan melampaui estimasi/anggaran :
Nomor
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
8110 Pendapatan Bagian daerah dari PBB & BPHTB xxx -9111
6300 9211 9011
Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari PBB & BPHTB yang dialokasikan (Dinas X)
Surplus/Defisit Tahun pelaporan
Alokasi Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari PBB & BPHTB
Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari PBB & BPHTB -xxx -xxx xxx -xxx Jumlah xxx xxx
b) Bila realisasi pendapatan lebih rendah dari estimasi/anggaran :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
8110 Pendapatan Bagian Daerah dari PBB &
BPHTB xxx
-6300 Surplus/Defisit Tahun pelaporan xxx -9111
9211 9011
Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari PBB & BPHTB yg dialokasikan (Dinas X) Alokasi Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari PBB & BPHTB
Estimasi Pendapatan Bagian daerah dari PBB & BPHTB -xxx -xxx -xxx Jumlah xxx xxx
2. Pendapatan Bagian Daerah dari PPh a. Pengertian
Perkiraan Pendapatan Bagian Daerah dari PPh ini untuk menampung pendapatan yang berasal dari Bagi Hasil PPh Orang Pribadi Dalam Negeri (PPh Pasal 25 dan 29) serta PPh Pasal 21 yang menjadi bagian daerah tempat pemungutan dan atau pemotongan PPh Perseorangan tersebut. Besarnya bagian daerah atas penerimaan pendapatan ini diatur dalam UU/17 2000 Pasal 31 C dan PP 115/2000 Pasal 2.
b. Proses Pencatatan dan Dokumen Terkait
Proses pencatatan Pendapatan Bagian Daerah dari PPh melibatkan unit-unit sebagai berikut: Bank (Kas Daerah), Keuangan, Perbendaharaan, Verifikasi, dan Pembukuan.
Dokumen dasar yang terkait dengan proses pencatatan Pendapatan Bagian Daerah dari PPh, meliputi :
• Bukti penerimaan uang tunai, seperti cek dan bilyet giro yang sudah disahkan oleh pejabat pengelola keuangan yang berwenang
• Memo Penyesuaian (penjurnalan debet/kredit transaksi) yang disiapkan dan telah diverifikasi oleh Bagian / Sub Bagian verifikasi, Biro / Bagian Keuangan Daerah.
• Bukti pendukung lain yang sah. c. Saldo Normal
Saldo normal Perkiraan Pendapatan Bagian Daerah dari PPh adalah saldo kredit, artinya perkiraan ini akan bertambah dengan adanya transaksi yang mengkreditnya dan sebaliknya perkiraan ini akan berkurang dengan adanya transaksi yang mendebetnya.
d. Jurnal Standar
Pencatatan pada perkiraan buku besar Pendapatan Bagian Daerah dari PPh dimulai sejak penetapan anggaran Pendapatan Bagian Daerah dari PPh disetujui dan disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sampai dengan realisasi dan jurnal penutup pada akhir tahun anggaran.
Pencatatan Pendapatan Bagian Daerah dari PPh dilakukan sebagai berikut :
1) Pada saat angggaran Pendapatan Bagian Daerah dari PPh disetujui/disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
9012 Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari PPh xxx -6300 Surplus/Defisit `Tahun pelaporan - xxx
Jumlah X xx xxx
2) Alokasi Pendapatan Bagian Daerah dari PPh
Dengan diterbitkannya Otorisasi Kredit Anggaran (OKA) maka anggaran pendapatan dialokasikan pada dinas terkait (Biro/Bagian Keuangan), dengan jurnal sebagai berikut :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
9112 Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari PPh
yang dialokasikan (Dinas X) xxx
-9212 Alokasi Est. Pendapatan Bagian Daerah dari PPh - xxx
Jumlah xxx xxx
3) Pada saat realisasi Pendapatan Bagian Daerah dari PPh
Realisasi Pendapatan Bagian Daerah dari PPh diakui pada saat penerimaan pendapatan dibukukan pada Kas Daerah (Kas di Kas Daerah) dengan jurnal sebagai berikut :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
O100 Kas di Kas Daerah. xxx
-8120 Pendapatan Bagian Daerah dari PPh - xxx
Jumlah xxx xxx
4) Pengembalian Pendapatan Bagian Daerah dari PPh
Pengembalian Pendapatan Bagian Daerah dari PPh misalnya karena adanya kesalahan perhitungan yang terjadi baik pada tahun anggaran berjalan maupun pada periode tahun anggaran berikutnya dijurnal sebagai berikut :
No. Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
8120 Pendapatan Bagian Daerah dari PPh xxx
5) Jurnal Penutup
Jurnal penutup perkiraan ini pada akhir tahun anggaran dibuat sebagai berikut :
a) Bila realisasi pendapatan melampaui estimasi/anggaran :
Nomor
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
8120 Pendapatan Bagian Daerah dari PPh xxx -9112
6300
Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari PPh yg Dialokasikan (dinas X)
Surplus/Defisit tahun pelaporan
-xxx xxx 9212 Alokasi Estimasi Pendapatan Bagian Daerah
dari PPh xxx
-9112 Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari PPh - xxx
Jumlah xxx
-b) Bila realisasi pendapatan lebih rendah dari anggaran :
Nomor
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
8120 Pendapatan Bagian Daerah dari PPh xxx -6300 Surplus/Defisit tahun pelaporan xxx -9112 Est. Pendpt. Bagian Daerah dari PPh yg
Dialokasikan (Dinas X) - xxx
9212 Alok. Est. Pendapatan Bag. Daerah dari
PPh xxx
-9012 Estimasi Pendapatan Bag. Daerah dari PPh - xxx
Jumlah xxx xxx
e. Pengukuran
Pendapatan Bagian Daerah dari PPh dinilai berdasarkan nilai realisasi yaitu nilai pada saat Bagian Daerah dari PPh diterima oleh kas daerah yang dituangkan dalam dokumen-dokumen terkait yang dikeluarkan dan disahkan oleh pejabat yang berwenang. Jumlah yang dicatat adalah sebesar nilai yang diterima.
f. Pengungkapan
Pendapatan Bagian Daerah dari PPh diungkapkan sebagai bagian dari Lain-Lain Pendapatan Daerah di dalam laporan perhitungan APBD dan disajikan sebesar nilai anggaran dan realisasinya. Hal-hal yang perlu diungkapkan dalam nota perhitungan anggaran:
- Rincian pendapatan berdasarkan jenis pungutan pajak bagi hasil - Besar nominal dan prosentase pendapatan bagi hasil
- Anggaran dan realisasi pendapatan - Sebab-sebab tidak tercapainya target - Hal lain yang dianggap perlu.
3. Pendapatan Bagian Daerah dari Sumber Daya Alam (SDA) a. Pengertian
Perkiraan buku besar Pendapatan Bagian Daerah dari Sumber Daya Alam (SDA) ini untuk menampung pendapatan bagian daerah yang berasal dari bagi hasil penerimaan negara yang berasal dari sumber daya alam sektor kehutanan, sektor pertambangan umum, dan sektor perikanan , yang dibagi dengan imbangan 20 % untuk pemerintah pusat dan 80 % untuk daerah (PP 104/2000 pasal 8).
Penetapan lebih lanjut mengenai besarnya pendapatan bagian daerah bagi daerah penghasil untuk masing-masing sektor SDA tersebut diatur dalam PP 104/2000 pasal 9 sampai dengan pasal 12.
b. Proses pencatatan dan dokumen terkait
Pencatatan pada perkiraan-perkiraan buku besar pendapatan ini dimulai sejak Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), alokasi anggaran, realisasi sampai dengan penutupan pada akhir tahun anggaran. Dokumen sumber untuk mencatat transaksi pendapatan meliputi :
Otorisasi Kredit Anggaran sebagai dasar pecatatan alokasi pendapatan yang telah disetujui oleh DPRD
Surat Tanda Setoran (STS) pada saat realisasi anggaran baik untuk penerimaan pajak maupun non pajak
Memo Penyesuaian (MP) sebagai dasar pencatatan koreksi dan jurnal penutup.
Pejabat-pejabat yang terkait dengan transaksi pendapatan terdiri dari Unit Pelaksana Anggaran, Unit Keuangan, Unit Anggaran dan Unit Pembukuan.
Prosedur pencatatan lebih rinci dapat dilihat pada bagan arus (flow chart) Buku IV.
c. Saldo Normal
Saldo normal perkiraan buku besar Pendapatan Bagian Daerah dari Sumber Daya Alam adalah saldo kredit. Artinya perkiraan ini akan bertambah dengan adanya transaksi yang mengkreditnya, sebaliknya akan berkurang dengan adanya transaksi yang mendebetnya.
d. Jurnal Standar
Jurnal standar untuk mencatat transaksi Pendapatan Bagian Daerah Dari SDA sejak anggaran disetujui oleh DPRD sampai kepada jurnal penutup adalah sebagai berikut :
1) Pada saat anggaran Pendapatan Bagian Daerah dari Sumber
Daya Alam (SDA) disetujui/disahkan oleh Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
9013 Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari SDA xxx -6300 Surplus/Defisit tahun pelaporan - xxx
Jumlah xxx xxx
Buku Pembantu Pendapatan Bagian Daerah dari SDA (didebet sebesar anggaran):
Pendapatan Bagian Daerah dari sektor Kehutanan
Pendapatan Bagian Daerah dari sektor Pertambangan Umum
Pendapatan Bagian Daerah dari sektor Pertambangan Migas
Pendapatan Bagian Daerah dari sektor Perikanan
Pendapatan Bagian Daerah dari sektor lainnya
xxx xxx xxx xxx xxx
2) Alokasi Pendapatan Bagian Daerah dari SDA
Dengan diterbitkannya Otorisasi Kredit Anggaran (OKA) maka anggaran pendapatan dialokasikan kepada dinas terkait dengan jurnal sebagai berikut :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
9113 Estimasi Pendapatan Bagian daerah dari SDA yang dialokasikan (Dinas X)
xxx -9213 Alokasi Estimasi Pend. Bagian Daerah dari
SDA - xxx
Jumlah xxx xxx
3) Pada saat realisasi
Realisasi Pendapatan Bagian Daerah dari SDA diakui dan dicatat sebagai penerimaan daerah pada saat kas diterima oleh Bendahara Umum Daerah (Kas di Kas Daerah) :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
0100 Kas di Kas daerah xxx
-8130 Pendapatan Bagian Daerah dari SDA - xxx
Jumlah xxx xxx
Buku Pembantu Pendapatan Bagian Daerah dari SDA (dikredit sebesar realisasinya): Pendapatan Bagian Daerah dari SDA sektor Kehutanan
Pendapatan Bagian Daerah dariSDA sektor Pertambangan Umum
Pendapatan Bagian Daerah dariSDA sektor Pertambangan Migas
Pendapatan Bagian Daerah dari SDA sektor Perikanan
Pendapatan Bagian Daerah dari SDA sektor lainnya -xxx xxx xxx xxx xxx
4) Pengembalian Pendapatan Bagian Daerah dari SDA
Pengembalian Pendapatan Bagian Daerah dari SDA misalnya kesalahan perhitungan yang terjadi baik pada tahun anggaran berjalan maupun pada periode tahun anggaran berikutnya dijurnal sebagai berikut :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
8130 Pendapatan Bagian Daerah dari SDA xxx
-0100 Kas di Kas Daerah - xxx
5) Jurnal Penutup
Jurnal penutup Pendapatan Bagian Daerah dari SDA pada akhir tahun anggaran dilakukan sebagai berikut :
a) Bila realisasi pendapatan melampaui estimasi/anggaran :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
8130 Pendapatan Bagian daerah dari SDA Xxx -9113
6300 9213 9013
Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari SDA yang dialokasikan (Dinas X)
Surplus/Defisit tahun pelaporan
Alokasi Est. Pend Bagian Daerah dari SDA Estimasi Pendapatan bagian daerah dari SDA -xxx -xxx xxx -xxx Jumlah Xxx Xxx
b) Bila realisasi pendapatan lebih rendah dari estimasi/anggaran :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
8130 Pendapatan Bagian Daerah dari SDA xxx -6300 Surplus/Defisit tahun pelaporan - xxx 9113
9213 9013
Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari SDA yg dialokasikan (Dinas X)
Alokasi Est Pend Bagian Daerah dari SDA Estimasi Pendapatan Bagian Daerah dari SDA -xxx -xxx -xxx Jumlah Xxx Xxx e. Pengukuran
Pendapatan Bagian Daerah dari SDA dinilai sebesar jumlah kas yang dapat direalisasikan dalam tahun anggaran berjalan.
f. Pengungkapan
Pendapatan bagian daerah dari SDA disajikan dalam laporan perhitungan APBD sebesar jumlah anggaran dan realisasinya. Hal-hal yang perlu diungkapkan dalam nota perhitungan APBD ,antara lain:
- Sebab-sebab tidak tercapainya target pendapatan bagian daerah dari SDA.
- Jumlah potensi SDA yang belum tergali.
- Informasi penting lainnya yang dianggap perlu.
4. Pendapatan Dana Alokasi Umum a. Pengertian
Perkiraan buku besar Pendapatan Dana Alokasi Umum ini untuk menampung pendapatan Dana Alokasi Umum bagi pemerintah daerah yang berasal dari dana APBN yang dialokasikan oleh pemerintah pusat. Dana ini dimaksudkan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah. Dana Alokasi Umum ini terdiri dari:
Dana Alokasi Umum untuk Daerah Propinsi
Dana Alokasi Umum untuk Daerah Kabupaten/Kota
Penetapan besarnya dana alokasi umum ini adalah sebagaimana telah diatur dalam PP 104/2000 pasal 16 dan 17. Penggunaan dana ini ditetapkan sendiri oleh masing-masing daerah.
b. Proses Pencatatan dan Dokumen Terkait
Pencatatan pada perkiraan-perkiraan buku besar Pendapatan Dana Alokasi Umum dimulai sejak Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), alokasi anggaran, realisasi sampai dengan penutupan tahun anggaran. Dokumen sumber untuk mencatat transaksi pendapatan dana alokasi umum, meliputi:
Otorisasi Kredit Anggaran (OKA) sebagai dasar pecatatan alokasi pendapatan yang telah disetujui oleh DPRD
SPP permintaan dana perimbangan kepada KPKN setempat oleh unit keuangan.
• SPM yang diterbitkan oleh KPKN setempat
• Surat Keputusan Menteri Teknis terkait mengenai penetapan Kabupaten/Kota penghasil sumber daya alam.
• Surat Keputusan Menteri Keuangan mengenai jumlah dana bagian daerah untuk masing-masing daerah penghasil SDA • SKO Menteri Keuangan dan SPM Ditjen Anggaran
• Rekening Koran Bank mengenai transfer dana dari pusat
Dokumen tambahan Untuk Dana Alokasi Umum :
• Surat Keputusan Presiden mengenai hasil perhitungan Dana Alokasi Umum untuk masing-masing daerah
• Rincian Dana Alokasi Umum kepada masing-masing daerah yang disampaikan oleh Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah • SKO Menteri Keuangan dan SPM Ditjen Anggaran mengenai
besarnya dana DAU yang disetujui oleh Menteri Keuangan.
Pejabat-pejabat yang terkait dengan transaksi pendapatan dana perimbangan terdiri dari Unit Pelaksana Anggaran, Unit Keuangan, Unit Anggaran dan Unit Pembukuan. Prosedur pencatatan lebih rinci dapat dilihat pada bagan arus (flow chart) Buku IV.
c. Saldo Normal
Saldo normal perkiraan-perkiraan buku besar Pendapatan Dana Alokasi Umum adalah saldo kredit. Artinya perkiraan ini akan bertambah dengan adanya transaksi yang mengkreditnya, sebaliknya akan berkurang dengan adanya transaksi yang mendebetnya.
d. Jurnal Standar
1) Pada saat anggaran Pendapatan Dana Alokasi Umum disetujui/disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah:
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
9014 Estimasi Pendapatan Dana Alokasi Umum xxx -6300 Surplus/Defisit tahun pelaporan - Xxx
Jumlah xxx Xxx
2) Alokasi Pendapatan Dana Alokasi Umum
Dengan diterbitkannya Otorisasi Kredit Anggaran (OKA) maka anggaran pendapatan dialokasikan kepada dinas terkait dengan jurnal sebagai berikut :
No. Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
9114 Estimasi Pendapatan DAU yg dialokasikan
(Dinas X) xxx
-9214 Alokasi Estimasi Pendapatan DAU - Xxx
3) Pada saat realisasi :
Realisasi Dana Alokasi Umum yang diterima oleh daerah, diakui dan dicatat sebagai penerimaan daerah pada saat kas diterima dan dibukukan oleh Bendahara Umum Daerah (Kas di Kas Daerah) dengan jurnal sebagai berikut :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
0100 Kas di Kas daerah xxx
-8210 Pendapatan Dana Alokasi Umum - Xxx
Jumlah xxx Xxx
4) Pengembalian Pendapatan Dana Alokasi Umum
Pengembalian Pendapatan Dana Alokasi Umum misalnya disebabkan kesalahan perhitungan, yang terjadi baik pada tahun anggaran berjalan maupun pada periode tahun anggaran berikutnya dijurnal sebagai berikut :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
8210 Pendapatan Dana Alokasi Umum xxx
-0100 Kas di Kas Daerah - Xxx
Jumlah xxx Xxx
5) Jurnal Penutup:
Jurnal penutup terhadap perkiraan Dana Alokasi Umum pada akhir tahun anggaran dilakukan sebagai berikut :
a) Bila realisasi pendapatan melampaui estimasi/anggaran :
No. Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
8150 Pendapatan Dana Alokasi Umum xxx
-9114 6300 9214 9014
Estimasi Pend. DAU yang dialokasikan (Dinas X)
Surplus/Defisit tahun pelaporan Alokasi estimasi pendapatan DAU Estimasi Pendapatan DAU
-xxx -Xxx Xxx -xxx Jumlah xxx Xxx
b) Bila realisasi pendapatan lebih rendah dari estimasi/anggaran :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
8210 Pendapatan Dana Alokasi Umum xxx
-6300 Surplus/Defisit tahun pelaporan xxx -9114
9214 9014
Estimasi Pendapatan DAU yg dialokasikan (Dinas X)
Alokasi estimasi pendapatan DAU Estimasi Pendapatan DAU
-xxx -Xxx -xxx Jumlah xxx Xxx
c) Jurnal Penutup Pengembalian Pengembalian Pendapatan Dana Alokasi Umum :
No.
Perkiraan Nama Perkiraan Debet Kredit
6300 Surplus/Defisit Tahun Pelaporan xxx -Pengembalian Pend. Dana Alokasi Umum - xxx
Jumlah xxx xxx
e. Pengukuran
Pendapatan Dana Alokasi Umum dinilai sebesar jumlah kas yang dapat direalisasikan dalam tahun anggaran berjalan
f. Pengungkapan
Pendapatan Dana Alokasi Umum disajikan dalam laporan perhitungan APBD sebesar jumlah anggaran dan realisasinya. Hal-hal yang perlu diungkapkan dalam nota perhitungan APBD :
- Sebab-sebab tidak tercapainya target pendapatan DAU - Jumlah DAU yang belum dicairkan.
- Informasi penting lainnya yang dianggap perlu
5. Pendapatan Dana Alokasi Khusus (DAK) a. Pengertian
Perkiraan buku besar Pendapatan Dana Alokasi Khusus (DAK) ini untuk menampung penerimaan Dana Alokasi Khusus bagi pemerintah daerah yang berasal dari dana APBN yang dialokasikan oleh pemerintah pusat. Alokasi dana ini diberikan kepada daerah tertentu untuk membiayai kebutuhan khusus, dengan memperhatikan tersedianya dana dalam APBN (PP 104/2000 pasal 19).
Pertimbangan pemberian Dana Alokasi Khusus (DAK) oleh pemerintah pusat didasarkan atas hal-hal sebagai berikut (PP 104/2000 pasal 19): i. Kebutuhan khusus adalah kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan
secara umum dengan menggunakan alokasi umum, dan atau kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional.
ii. Kriteria teknis sektor/kegiatan yang dapat dibiayai dari DAK ditetapkan oleh Menteri Teknis/Instansi terkait.
iii. Kegiatan yang tidak dapat dibiayai dari DAK meliputi: a. Biaya administrasi
b. Biaya penyiapan proyek fisik c. Biaya penelitian
d. Biaya pelatihan
e. Biaya perjalanan pegawai daerah dan f. Lain-lain biaya umum sejenis
iv. Penerimaan negara yang berasal dari Dana Reboisasi sebesar 40 % disediakan kepada daerah penghasil sebagai Dana Alokasi Khusus, dan ini digunakan untuk membiayai kegiatan reboisasi dan penghijauan oleh daerah penghasil, dan untuk pembiayaan kegiatan ini tidak diperlukan dana pendamping dari APBD.
v. Dana Alokasi Khusus dialokasikan kepada daerah tertentu berdasarkan usulan daerah, dan pembiayaan kebutuhan khusus ini memerlukan dana pendamping dari penerimaan umum APBD sekurang-kurangnya sebesar 10% (PP 104/2000 pasal 21).
b. Proses pencatatan dan dokumen terkait
Pencatatan pada perkiraan-perkiraan buku besar Pendapatan Dana Alokasi Khusus dimulai sejak Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), alokasi anggaran, realisasi dan sampai dengan penutupan tahun anggaran. Dokumen sumber untuk mencatat transaksi pendapatan dana perimbangan meliputi:
Otorisasi Kredit Anggaran sebagai dasar pecatatan alokasi pendapatan yang telah disetujui oleh DPRD.
SPP permintaan dana perimbangan kepada KPKN setempat oleh unit keuangan.
• Surat Keputusan Menteri Teknis terkait mengenai penetapan Kabupaten/Kota penghasil sumber daya alam.
• Surat Keputusan Menteri Keuangan mengenai jumlah dana bagian daerah untuk masing-masing daerah penghasil SDA