• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Inklusif

Dalam dokumen S PLB 0908951 Chapter1 (Halaman 30-34)

Sejalan dengan keterampilan layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, terdapat kecenderungan baru yaitu model Pendidikan Inklusif. Model ini menekankan pada keterpaduan penuh, menghilangkan

labelisasi anak dengan prinsip “Education for All”. Layanan pendidikan

inklusif diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan guru/pembimbing yang sama. Pada kelas inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) orang guru, satu guru reguler dan satu lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk memberikan bantuan kepada siswa tunagrahita jika anak tersebut mempunyai kesulitan di dalam kelas. Semua anak diperlakukan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama. Tapi saat ini pelayanan pendidikan inklusif masih dalam tahap rintisan.

Inklusi adalah suatu sistem ideologi yang dilandasi wawasan kebersamaan. Artinya setiap warga sekolah meliputi masyarakat, kepala sekolah, guru, pengurus yayasan, petugas administrasi sekolah, para siswa dan orang tua menyadari tanggung jawab bersama dalam mendidik semua siswa untuk mengoptimalkan potensi agar mereka dapat berkembang secara optimal.

Pendidikan inklisuf ini tidak hanya menempatkan siswa berkelainan secara fisik dalam kelas atau sekolah umum dan bukan pula sekedar memasukan anak berkebutuhan khusus sebanyak mungkin dalam lingkungan belajar siswa normal. Lebih dari itu inklusi juga berkaitan

Ray Yulia Ardha, 2016

KETERAMPILAN SOSIAL ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SEKOLAH DASAR INKLUSI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dengan cara orang dewasa dan teman sekelasnya yang normal menyambut semua siswa di dalam kelas dan mengenali keanekaragaman siswa tidak mengharuskan penggunaan pendekatan tunggal untuk seluruh siswa.

Anak tunagrahita ringan sebagai individu yang memiliki kebutuhan berbeda dengan anak lainnya perlu mendapatkan layanan pendidikan tersendiri, tetapi tidak harus terpisah dengan anak lainnya. Manakala kebutuhan anak tunagrahita ringan sudah teridentifikasi, masih diperlukan model pembersamaan seperti apa yang paling cocok buat mereka, sehingga secara akademik maupun sosial anak dapat menyerap manfaat semampu ia dapat.

Anak berkebutuhan khusus berhak berada di lingkungan pergaulan yang lebih riil. Hal ini karena berkaitan dengan dunia kerja yang akan mereka jalani, mereka tidak hanya berkumpul dengan orang-orang berkebutuhan khusus. Hal lain adalah mereka terbukti lebih mampu mengembangkan potensi, jika mereka bergaul dengan anak-anak pada umumnya. Saat ini orang tua yang memiliki anak dengan berkebutuhan khusus memperoleh angin segar dengan sistem sekolah baru. Sekolah inklusi, menjadi sebuah sekolah harapan untuk menumbuh kembangkan anak secara optimal, baik bagi anak dengan maupun tanpa berkebutuhan khusus.

Menurut Gunarhadi (2005:201), “pendidikan inklusif merupakan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan khusus anak

secara individual dalam pembersamaan klasikal”. Dalam pendidikan ini

anak tidak dilihat dari segi kemampuannya, kecacatannya, dan tidak pula dari segi penyebab kecacatannya.

Staub dan Peck (1995) mengatakan bahwa “pendidikan inklusi adalahpenempatan anak berkebutuhan khusus tingkat ringan, sedang, dan

berat secara penuh di sekolah reguler”. Hal ini menunjukkan bahwa kelas

reguler merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkebutuhan khusus, apapun kelainannya dan bagaimanapun gradasinya.

Sementara itu, Sapon-Shevin (O’Neil, 1995)menyatakan bahwa

Ray Yulia Ardha, 2016

KETERAMPILAN SOSIAL ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SEKOLAH DASAR INKLUSI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya”. Oleh karena itu, ditekankan adanya restrukturisasi sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, artinya kaya dalam sumber belajar dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.Melalui pendidikan inklusif, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.

Pendidikan inklusif pada hakekatnya adalah bagaimana memahami segala kesulitan pendidikan yang dihadapi oleh anak. Anak yang berkelainan misalnya, mereka mendapat kesulitan untuk mengikuti beberapa kurikulum yang ada. Pendekatan pendidikan inklusif dalam hal ini tidak seharusnya melihat hambatan ini dari sisi anak yang memiliki kelainan, melainkan harus melihat hambatan ini dari sistem pendidikannya sendiri, kurikulum yang belum sesuai untuk mereka, sarana yang tersedia belum memadai, guru yang belum siap melayani mereka dsb.

Davis (1992) dalam Smith (2006) yang diterjemahkan Denis dan Enrica menyebutkan keuntungan pendidikan inklusif bagi siswa-siswa penyandang hambatan (disabilities), juga bagi anak-anak yang tidak menyandang hambatan (nondisabled), yaitu :

a) Siswa penyandang hambatan / kelainan akan lebih memenuhi tujuan-tujuan program pendidikan yang diindividualisasikan (Individualized Education Program / IEP) jika mereka masuk di tempat pendidikan yang inklusif; b) siswa-siswa berkelainan lebih termotivasi belajar di tempat pendidikan yang inklusif; c) kelas-kelas inklusif memberikan aksees yang lebih baik untuk mencontoh teman sebaya (peer model) untuk mempermudah proses pengajaran sikap-sikap sosial yang layak; d) di tempat-tempat inklusif siswa-siswa yang mengalami hambatan menghadapi praduga-praduga dan perbedaan sebenarnya dalam masyarakat; e) dengan lulus dari sekolah-sekolah inklusif akan lebih berhasil sebagai manusia dewasa; f) persahabatan lebih

Ray Yulia Ardha, 2016

KETERAMPILAN SOSIAL ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SEKOLAH DASAR INKLUSI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

berkembang antar teman sekelas, baik dengan ataupun tanpa hambatan/ kelainan (disabilities). Mereka belajar menghargai dan menerima hasil kerja setiap individu, termasuk perbedaan-perbedaan perilaku; g) Siswa- siswa tanpa hambatan / kelainan belajar menghargai dan menerima perbedaan individu; h) siswa-siswa tanpa hambatan / kelainan belajar menghargai akan kemampuan dan keunggulan teman sekelas yang berkelainan.

Ray Yulia Ardha, 2016

KETERAMPILAN SOSIAL ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SEKOLAH DASAR INKLUSI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB III

Dalam dokumen S PLB 0908951 Chapter1 (Halaman 30-34)

Dokumen terkait