BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Manajemen Logistik Obat Rumah Sakit
2.4.3 Pengadaan
Pengadaan merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk merealisasikan perencanaan kebutuhan. Pengadaan yang efektif harus menjamin ketersediaan,
Universitas Sumatera Utara
23
jumlah dan waktu yang tepat dengan harga yang terjangkau dan sesuai standar mutu. Pengadaan merupakan kegiatan yang berkesinambungan dimulai dari pemilihan, penentuan jumlah yang dibutuhkan, penyesuaian antara kebutuhan dan dana, pemilihan metode pengadaan, pemilihan pemasok, penentuan spesifikasi kontrak, pemantauan proses pengadaan dan pembayaran (Kemenkes RI, 2016).
Pengadaan dapat dilakukan melalui beberapa hal, antara lain:
a. pembelian
Untuk rumah sakit pemerintah pembelian sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai harus sesuai dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa yang berlaku (Kemenkes RI, 2016).
Hal-hal yang diperhatikan dalam pembelian adalah kriteria sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai; persyaratan pemasok;
penentuan waktu pengadaan dan kedatangan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai; dan pemantauan pengadaan sesuai jenis, jumlah dan waktu.
b. produksi sediaan farmasi
Produksi sediaan farmasi merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk, dan pengemasan kembali sediaan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Instalasi farmasi dapat memproduksi sediaan tertentu apabila sediaan farmasi tidak tersedia di pasaran; sediaan farmasi lebih murah jika diproduksi sendiri; sediaan farmasi formula khusus; sediaan farmasi kemasan yang lebih kecil/repacking; sediaan farmasi untuk penelitian; dan sediaan farmasi yang tidak stabil dalam penyimpanan/harus dibuat baru (Kemenkes RI, 2016).
c. sumbangan/dropping/hibah
Universitas Sumatera Utara
24
Instalasi farmasi harus melakukan pencatatan dan pelaporan terhadap penerimaan dan penggunaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai sumbangan/dropping/hibah (Kemenkes RI, 2016).
Tujuan pengadaan adalah memperoleh obat yang dibutuhkan dengan harga layak, mutu baik, pengiriman obat terjamin tepat waktu, proses berjalan lancar dan tidak memerlukan waktu dan tenaga yang berlebihan (Quick et al., 1997).
Pengadaan memegang peranan penting karena dengan pengadaan rumah sakit akan mendapatkan obat dengan harga, mutu, dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Rumah sakit tidak dapat memenuhi kebutuhan pasien jika persediaan obat tidak ada, hal ini dapat berakibat fatal bagi pasien dan akan mengurangi keuntungan yang seharusnya dapat diterima di rumah sakit (Indriawati, 2001).
Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang pedoman pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah untuk menentukan sistem pengadaan perlu mempertimbangkan jenis, sifat, dan nilai barang/jasa yang ada. Prinsip pengadaan barang/jasa yaitu:
i. efisien: berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan.
ii. efektif: berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan.
iii. terbuka dan bersaing: pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan
Universitas Sumatera Utara
25
yang sehat diantara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan.
iv. transparan: berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa, termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya.
v. adil/tidak diskriminatif: memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun.
vi. akuntabel: harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.
Metode pemilihan penyedia barang/jasa terbagi menjadi:
a. pelelangan umum
Pelelangan umum adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. Semua pemilihan penyedia barang/jasa pada prinsipnya dilakukan dengan pelelangan umum.
Universitas Sumatera Utara
26 b. pelelangan terbatas
Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas yaitu pekerjaan yang kompleks, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metode pelelangan terbatas dan diumumkan secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi dengan mencantumkan penyedia barang/jasa yang telah diyakini mampu, guna memberi kesempatan kepada penyedia barang/jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi.
c. pemilihan langsung
Pemilihan yang dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran, sekurang-kurangnya 3 penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bila memungkinkan melalui internet, pemilihan langsung dapat dilakukan untuk pengadaan yang bernilai sampai dengan Rp 100.000.000.
d. penunjukan langsung
Pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap 1 penyedia barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Penunjukan langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan berskala kecil dengan nilai maksimum Rp 50.000.000.
Langkah proses pengadaan dimulai dengan mereview daftar obat-obatan yang diadakan, menentukan jumlah item yang akan dibeli, menyesuaikan dengan situasi keuangan, memilih metode pengadaan, memilih rekanan, membuat syarat kontrak kerja, memonitor pengiriman barang dan memeriksa, melakukan
Universitas Sumatera Utara
27
pembayaran serta menyimpan yang kemudian didistribusikan. Agar proses pengadaan berjalan lancar dan dengan manjemen yang baik memerlukan struktur komponen berupa personel yang terlatih dan menguasai permasalahan pengadaan, adanya prosedur yang jelas dan terdokumentasi didasarkan pada pedoman baku, sistem informasi yang baik, didukung oleh dana dan fasilitas yang memadai (Indriawati, 2001).
Tiga elemen penting pada proses pengadaan yaitu :
a. metode pengadaan yang dipilih, bila tidak teliti dapat menjadikan biaya tinggi.
b. penyusunan dan persyaratan kontrak kerja, sangat penting untuk menjaga agar pelaksanaan pengadaan terjamin mutu, waktu dan kelancaran bagi semua pihak.
c. order pemesanan, agar barang sesuai macam, waktu dan tempat (Utomo, 2006).
Berdasarkan studi pustaka, penelitian mengenai pengelolaan obat tahap perencanaan dan pengadaan telah banyak dilakukan. Penelitian Wirdah, dkk., (2013) menunjukkan hasil bahwa frekuensi pengadaan tiap item obat per tahun masih rendah (1 kali dalam setahun). Penelitian yang dilakukan oleh Mahdiyani, dkk., (2018) menunjukkan hasil bahwa perencanaan dan pengadaan di instalasi farmasi RSUD Muntilan belum sepenuhnya sesuai dengan indikator standar.
Penelitian terkait lainnya oleh Ihsan, dkk., (2014) juga menunjukkan bahwa evaluasi pengelolaan obat di instalasi farmasi rumah sakit umum daerah Kabupaten Muna Tahun 2014 pada tahap pengadaan belum memenuhi standar yang ada. Frekuensi pengadaan obat tertinggi selama tahun 2014 di IFRSUD Kabupaten Muna adalah 4 (empat) kali dan terendah adalah 1 (satu) kali.
Universitas Sumatera Utara
28 2.4.4 Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan obat-obatan yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat.
Tujuan penyimpanan obat-obatan adalah untuk : a. memelihara mutu obat.
b. menghindari penggunaan yang tidak bertanggungjawab.
c. menjaga kelangsungan persediaan.
d. memudahkan pencarian dan pengawasan (Depkes RI, 2007).
Penyimpanan merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasi menurut persyaratan yang ditetapkan :
a. dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya.
b. dibedakan menurut suhunya, kestabilannya.
c. mudah tidaknya meledak/terbakar.
d. tahan/tidaknya terhadap cahaya.
Tujuannya adalah untuk mempertahankan kualitas obat, mengoptimalkan manajemen persediaan, memberikan informasi kebutuhan obat yang akan datang, melindungi permintaan yang naik turun, melindungi pelayanan dari pengiriman yang terlambat, menambah keuntungan bila pembelian banyak, menghemat biaya pemesanan, dan mengurangi kerusakan dan kehilangan.
Ada beberapa macam sistem penataan obat, antara lain yang pertama sistem First In First Out (FIFO) yaitu obat yang datang kemudian diletakkan dibelakang obat yang terdahulu, yang kedua Last in First Out (LIFO) yaitu obat yang datang kemudian diletakkan didepan obat yang datang dahulu, yang ketiga
Universitas Sumatera Utara
29
First Expired First Out (FEFO) yaitu obat yang mempunyai tanggal kadaluarsa lebih dahulu diletakkan didepan obat yang mempunyai tanggal kadaluarsa kemudian. Ada beberapa cara penempatan obat yang dapat dilakukan yaitu menurut jenisnya, menurut abjad, menurut pabrik yang memproduksi dan menurut khasiat farmakoterapinya (Indriawati, 2001).
2.4.5 Distribusi
Distribusi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka menyalurkan/menyerahkan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah dan ketepatan waktu. Rumah sakit harus menentukan sistem distribusi yang dapat menjamin terlaksananya pengawasan dan pengendalian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai di unit pelayanan (Kemenkes RI, 2016).
Sistem distribusi di unit pelayanan dapat dilakukan dengan cara berikut:
a. sistem persediaan lengkap di ruangan (floor stock).
Pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai untuk persediaan di ruang rawat disiapkan dan dikelola oleh instalasi farmasi. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang disimpan di ruang rawat harus dalam jenis dan jumlah yang sangat dibutuhkan.
Dalam kondisi sementara dimana tidak ada petugas farmasi yang mengelola (diatas jam kerja) maka pendistribusiannya didelegasikan kepada penanggung jawab ruangan. Setiap hari dilakukan serah terima kembali pengelolaan obat floor stock kepada petugas farmasi dari penanggung jawab ruangan. Apoteker harus
Universitas Sumatera Utara
30
menyediakan informasi, peringatan dan kemungkinan interaksi obat pada setiap jenis obat yang disediakan di floor stock.
b. sistem resep perorangan
Pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai berdasarkan resep perorangan/pasien rawat jalan dan rawat inap melalui instalasi farmasi.
c. sistem unit dosis
Pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai berdasarkan resep perorangan yang disiapkan dalam unit dosis tunggal atau ganda, untuk penggunaan satu kali dosis/pasien. Sistem unit dosis ini digunakan untuk pasien rawat inap.
d. sistem kombinasi
Sistem pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai bagi pasien rawat inap dengan menggunakan kombinasi a + b atau b + c atau a + c.
Sistem distribusi Unit Dose Dispensing (UDD) sangat dianjurkan untuk pasien rawat inap mengingat dengan sistem ini tingkat kesalahan pemberian obat dapat diminimalkan sampai kurang dari 5% dibandingkan dengan sistem floor stock atau resep individu yang mencapai 18%.
Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk dijangkau oleh pasien dengan mempertimbangkan beberapa hal, antara lain:
a. efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada.
b. metode sentralisasi atau desentralisasi (Kemenkes RI, 2016).
Universitas Sumatera Utara
31
Berdasarkan studi pustaka, pengelolaan obat pada tahap distribusi belum sepenuhnya memenuhi standar, diantaranya penelitian oleh Sasongko, dkk., (2014) tentang evaluasi distribusi dan penggunaan obat pasien rawat jalan di rumah sakit ortopedi menunjukkan hasil bahwa belum semua pengelolaan obat pada tahap distribusi dan penggunaan dikelola secara efisien, seperti kecocokan jumlah obat dengan kartu stok, masih terdapatnya stok mati dan lain sebagainya.
Penelitian oleh Kasmawati, dkk., (2018) menunjukkan hasil bahwa ketersediaan obat di RSUD Kota Kendari pada era JKN-BPJS tahun 2015 belum efisien dengan hasil persentase nilai obat kadaluwarsa sebesar 0,47% dan persentase stok mati sebesar 2,27%. Penelitian oleh Oktaviani (2018) juga menunjukkan hasil bahwa pengelolaan obat pada tahap distribusi belum sepenuhnya memenuhi standar, yaitu ketepatan data jumlah obat pada kartu stok (73%), persentase obat yang rusak/kadaluarsa (2,8%), dan persentase stok mati (4%).
2.4.6 Penggunaan (Use)
Penggunaan obat adalah proses yang meliputi peresepan oleh dokter, pelayanan obat oleh farmasi serta penggunaan obat oleh pasien. Seorang dokter diharapkan membuat peresepan yang rasional, dengan indikasi yang tepat, dosis yang tepat, memperhatikan efek samping dan kontra indikasinya serta mempertimbangkan harga dan kewajarannya. Obat yang ditulis dokter pada resep selanjutnya menjadi tugas farmasi untuk menyiapkan dan menyerahkan kepada pasien (Quick et al., 1997).
Salah satu faktor penentu keberhasilan pelayanan kefarmasian, dan secara umum pelayanan kesehatan, adalah penggunaan obat yang rasional (Quick et al., 1997). Penggunaan obat dikatakan rasional apabila memenuhi kriteria obat yang
Universitas Sumatera Utara
32
benar, indikasi yang tepat, obat yang manjur, aman, cocok untuk pasien dan biaya terjangkau, ketepatan dosis, cara pemakaian dan lama yang sesuai, sesuai dengan kondisi pasien, tepat pelayanan, serta ditaati oleh pasien. Manfaat penggunaan obat yang rasional adalah meningkatkan mutu pelayanan, mencegah pemborosan sumber dana, dan meningkatkan akses terhadap obat esensial.
Sebaliknya penggunaan obat dikatakan tidak rasional yaitu jika (Seto, 2004):
a. pemakaian obat dimana sebenarnya indikasi pemakaiannya secara medik tidak ada atau samar-samar.
b. pemilihan obat yang keliru untuk indikasi penyakit tertentu.
c. cara pemakaian obat, dosis, frekuensi dan lama pemberian tidak sesuai.
d. pemakaian obat dengan potensi toksisitas atau efek samping lebih besar padahal obat lain yang sama kemanfaatan (efficacy) dengan potensi efek samping lebih kecil juga ada.
e. pemakaian obat-obat mahal padahal alternatif yang lebih murah dengan kemanfaatan dan keamanan yang sama tersedia.
f. tidak memberikan pengobatan yang sudah diketahui dan diterima kemanfaatan dan keamanannya (established efficacy and safety).
g. memberikan pengobatan dengan obat-obat yang kemanfaatannya dan keamanannya masih diragukan.
h. pemakaian obat yang semata-mata didasarkan pada pengalaman individual tanpa mengacu pada sumber informasi ilmiah yang layak, atau hanya didasari pada sumber informasi yang diragukan kebenarannya.
Universitas Sumatera Utara
33
Parameter lain dipublikasikan oleh WHO (1993) yang menyebutkan bahwa penelitian tentang penggunaan obat pada fasilitas kesehatan, penilaian baik/rasional didasarkan pada 3 macam indikator, yang salah satu indikator tersebut mempersyaratkan tentang persentase penggunaan antibiotika, penulisan obat generik, dan kesesuaian dengan formularium rumah sakit/Nasional.
Dampak peresepan yang tidak rasional dapat menimbulkan dampak yang negatif yaitu diantaranya dampak terhadap mutu pengobatan dan pelayanan baik secara langsung maupun tidak langsung, dampak terhadap biaya pelayanan pengobatan yang akan sangat dirasakan oleh pasien, dampak terhadap kemungkinan efek samping obat, dan dampak psikososial (Quick et al., 1997).
Berdasarkan studi pustaka, penelitian oleh Dianingati, dkk., (2018) mengenai analisis kesesuaian resep untuk pasien JKN dengan indikator peresepan WHO 1993 pada instalasi farmasi rawat jalan di RSUD Ungaran, menunjukkan hasil dari semua perhitungan terhadap indikator peresepan WHO 1993 belum ada yang sesuai dengan nilai estimasi terbaik dari WHO. Hal ini menandakan bahwa masih perlu adanya pengawasan, evaluasi serta koordinasi antar profesional kesehatan dan pemerintah untuk memperbaikinya sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang benar, aman dan efektif. Penelitian terkait lainnya oleh Yuliastuti, dkk., (2012) juga menunjukkan hasil bahwa penggunaan obat pada pasien rawat jalan di RSUD Sleman Yogyakarta belum sepenuhnya memenuhi indikator standar WHO. Penelitian Fakhriadi, dkk., (2011) menunjukkan bahwa untuk pengelolaan obat pada tahap penggunaan (use) belum sepenuhnya memenuhi standar yaitu belum efisien pada jumlah item per lembar resep rawat inap di tahun 2007 dan 2008, peresepan obat generik rawat inap dan jalan,
Universitas Sumatera Utara
34
peresepan antibiotika di rawat jalan, peresepan injeksi di rawat inap dan jalan, peresepan sesuai standar obat rumah sakit di rawat inap dan jalan serta persentase obat yang diserahkan di rawat inap.
2.5 Rumah Sakit Umum Daerah Langsa
2.5.1 Definisi Rumah Sakit Umum Daerah Langsa
Rumah sakit umum daerah Langsa merupakan rumah sakit rujukan atas mata rantai sistem kesehatan di wilayah pemerintah Kota Langsa dan sekitar.
Berdasarkan surat keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
51/Men.Kes/SK/II/1979 tanggal 22 Februari 1979 diberikan status menjadi rumah sakit dalam klasifikasi tipe C, kemudian pada tahun 1997 ditingkatkan klasifikasinya menjadi rumah sakit tipe B non pendidikan berdasarkan surat keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 479/Men.Kes/SKV/1997 tanggal 20 Mei 1997. Berdasarkan keputusan Presiden No. 40 tahun 2001 berubah status menjadi RSUD Langsa dan telah juga ditetapkan dengan qanun pemerintah Kota Langsa No. 5 Tahun 2005 dan qanun pemerintah Kota Langsa No. 10 Tahun 2009 tentang rincian pokok dan fungsi pemangku jabatan struktural dilingkungan RSUD Langsa.
2.5.2 Falsafah, Visi, danMisi
Falsafah rumah sakit adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan perorangan yang berdasarkan keramah-tamahan. Visi RSUD Langsa adalah rumah sakit daerah Kota Langsa menjadi rumah sakit unggulan di wilayah Timur Aceh.
Misi RSUD Langsa adalah:
Universitas Sumatera Utara
35
a. meningkatkan kualitas pelayanan individu yang prima secara berkesinambungan.
b. melakukan pengelolaan rumah sakit dengan menggunakan prinsip bisnis sehat.
c. memberikan pelayanan unggulan, pengembangan dan penelitian traumatologi, kebidanan, anak dan penyakit dalam.
d. sebagai pendukung utama dalam meningkatkan derajat kesehatan di wilayah Timur Aceh pada umumnya dan Kota Langsa pada khususnya.
e. membentuk jaringan pelayanan kesehatan dengan seluruh fasilitas pelayanan primer di Kota Langsa melalui pelayanan dengan sistem rujukan yang terkoordinasi.
2.5.3 Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah Langsa Tujuan didirikannya RSUD Langsa adalah:
a. tersedianya dan meningkatnya jenis dan mutu pelayanan (medik, penunjang medik dan penunjang non medik) yang sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologikedokteran dan kebutuhan masyarakat.
b. tersedianya pelayanan yang optimal untuk masyarakat miskin.
c. berkembangnya sistem manajemen rumah sakit yang efektif dan efisien serta dapat menjamin pelaksanaan penerapan bisnis yang sehat dengan tetap menjalankan fungsi sosialnya.
d. tersedianya sumber daya manusia, sarana/prasarana dan dana yang memadai baik kuantitas dan kualitasnya.
e. terwujudnya pelayanan unggulan.
f. terbentuknya jaringan pelayanan kesehatan dan pendidikan dengan pusat-pusat pelayanan primer di wilayah Kota Langsa.
Universitas Sumatera Utara
36 2.5.4 Susunan Organisasi
Badan Pelayanan Kesehatan (BPK) RSUD Langsa terdiri dari : a. direktur.
b. sekretariat.
c. bidang pelayanan medis.
d. bidang keperawatan.
e. bidang penunjang medis.
f. kelompok jabatan fungsional.
g. instalasi.
h. satuan pengawas intern.
i. dewan penyantun.
2.6 Instalasi Farmasi RSUD Langsa
Instalasi Farmasi merupakan instalasi di RSUD Langsa yang bertanggung jawab terhadap penyelengaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian meliputi pengelolaan perbekalan farmasi mulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada pasien sampai dengan pengendalian semua perbekalan farmasi yang beredar dan digunakan di dalam rumah sakit baik untuk pasien rawat inap, rawat jalan maupun untuk semua unit termasuk poliklinik rumah sakit.
Instalasi farmasi RSUD Langsa terbagi menjadi tiga yaitu depo farmasi rawat inap, depo farmasi rawat jalan dan depo farmasi instalasi gawat darurat yang melayani selama 24 jam.
2.6.1 Tugas Pokok dan Fungsi Instalasi Farmasi
Tugas pokok instalasi farmasi RSUD Langsa meliputi:
Universitas Sumatera Utara
37
a. melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal.
b. menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi professional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi.
c. melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE).
d. memberi pelayanan bermutu melalui analisan dan evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan farmasi.
e. melakukan pengawasan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku.
f. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi.
g. mengadakan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi.
h. memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan formularium rumah sakit.
Fungsi instalasi farmasi RSUD Langsa meliputi:
a. pengelolaan perbekalan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai.
b. pelayananan kefarmasian dalam penggunaan obat dan alat kesehatan
2.6.2 Struktur Organisasi Instalasi Farmasi RSUD Langsa
Struktur organisasi instalasi farmasi RSUD Langsa disajikan pada Gambar 2.2.
Universitas Sumatera Utara
38
Gambar 2.2 Struktur organisasi instalasi farmasi RSUD Langsa
2.6.3 Sumber Daya Manusia Instalasi Farmasi RSUD Langsa
Instalasi farmasi RSUD Langsa memiliki jumlah tenaga kefarmasian yaitu 13 orang apoteker, 30 orang tenaga teknis kefarmasian, dan 13 orang tenaga teknis. Ketenagaan di RSUD Langsa terdiri dari
a. 1 orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi.
b. 1 orang apoteker sebagai koordinator gudang.
c. 1 orang apoteker sebagai koordinator depo rawat jalan.
d. 1 orang apoteker sebagai koordinator depo rawat inap.
e. 1 orang apoteker sebagai koordinator depo instalasi gawat darurat.
f. 8 orang apoteker sebagai apoteker masing-masing depo.
g. 3 orang tenaga teknis kefarmasian di gudang.
h. 8 orang tenaga teknis kefarmasian di depo rawat jalan.
i. 16 orang tenaga teknis kefarmasian di depo rawat inap.
j. 3 orang tenaga teknis kefarmasian di depo instalasi gawat darurat.
Universitas Sumatera Utara
39 2.7 Kerangka Teori Penelitian
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatanyang salah satu layanannya adalah pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian di rumah sakit meliputi dua kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dan kegiatan pelayanan farmasi klinik. Sistem pengelolaan obat harus dipandang sebagai bagian dari keseluruhan sistem pelayanan di rumah sakit dan diorganisasikan dengan suatu cara yang dapat memberikan pelayanan berdasarkan aspek keamanan, efektif dan ekonomis dalam penggunaan obat, sehingga dapat dicapai efektifitas dan efisiensi pengelolaan obat. Pengelolaan obat di rumah sakit ini dibentuk di suatu instalasi farmasi rumah sakit.
Pengelolaan tersebut meliputi seleksi, perencanaan dan pengadaan, penyimpanan, distribusi serta penggunaan, dimana saling terkait antara satu dengan yang lain. Ketidakterkaitan antara masing-masing tahap dan kegiatan akan berakibat sistem suplai dan penggunaan obat tidak efisien, mempengaruhi kinerja
Pengelolaan tersebut meliputi seleksi, perencanaan dan pengadaan, penyimpanan, distribusi serta penggunaan, dimana saling terkait antara satu dengan yang lain. Ketidakterkaitan antara masing-masing tahap dan kegiatan akan berakibat sistem suplai dan penggunaan obat tidak efisien, mempengaruhi kinerja