BAB V ANALISIS KEBIJAKAN PENGENDALIAN IMIGRASI
5.4.2 Pengaruh keanggotaan Hungaria dalam Uni Eropa
Integrasi kawan dapat mempengaruhi kebijakan pengendalian imigrasi Negara-Negara anggotanya dengan sekaligus menurunkan tingkat dari kendali yang dimiliki Negara anggota atas kebijakan-kebijakan imigrasi dan perbatasannya. Integrasi kawasan juga membantu penselarasan antara kebijakan migrasi dari Negara-negara anggota, dan untuk pembentukan “common external
immigration policy” terhadap imigran yang berasal dari luar kawasan yang
condong lebih ketat.
Aksesi dan keterlibatan suatu negara dengan organisasi kawasan seperti Uni Eropa akan mempengaruhi nilai negara tersebut, dan membuatnya lebih mungkin dan bisa menerima pengungsi.310 Uni Eropa memiliki kebijakan bersama atas suaka yaitu The Common European Asylum Systems (CEAS) yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1999 yang didalamnya termasuk ketentuan the Dublin
Regulation, dan Asylum Procedure Directive. Aksesi Hungaria ke Uni Eropa di
tahun 2004 telah memainkan peran untuk mempengaruhi bagaimana Hungaria menerima pengungsi.
Hungaria sebagai bagian dari Uni Eropa diharuskan mengadopsi CEAS yang bertujuan untuk membuat kerangka tentang bagaimana keputusan pemberian suaka dan perlindungan internasional diberikan, dan dalam kondisi yang seperti
309 Viktor Orbán., Op.Cit., hlm.3 310 Mia Kelliher., Loc.Cit.
apa dan siapa yang memiliki otoritas untuk memberikannya. Dengan diadopsinya nilai-nilai dan kebijakan suaka Uni Eropa maka terjadi keselarasan antara kebijakan negara-negara anggota Uni Eropa yang condong liberal dalam pemberian akses suaka. Di sini Hungaria memang merubah kebijakan suakanya menjadi ketat, namun Hungaria secara tertulis tidak menyuguhkan elemen-elemen baru dalam kebijakannya. Seperti istilah safe third country dan border procedure yang memang sudah ada di kebijakan suaka Uni Eropa dalam Asylum Procedure
Directives dari CEAS yang diadopsi oleh Hungaria.
Pada tahun 1985 Uni Eropa memperkenalkan Schengen Agreement dan dikembangkan dari waktu ke waktu untuk menghilangkan border control dan memberikan akses terhadap pergerakan bebas orang dan barang antara negara yang tergabung dalam perjanjian Schengen.311 Hilangnya internal border diikuti dengan penguatan external border controls. Schengen Agreement kemudian diuji oleh adanya lonjakan pencari suaka, perjanjian ini mendapat kritik-kritik dari partai sayap kanan. Kritik tersebut diekspresikan dengan mengeneralisasi hostility terhadap imigran, karena satu negara anggota tidak dapat mengusir warga negara anggota lainnya untuk meninggalkan wilayahnya, namun bisa mencegah kedatangan pencari suaka dari negara non-Schengen seperti Suriah.
Akan tetapi dalam Schengen Agreement negara dapat mengembalikan kontrol perbatasan yang bergantung pada kondisi ketika itu, kontrol perbatasan dapat diperpanjang hingga enam bulan, atau bahkan dua tahun di bawah the
Schengen Borders Code.312 Sejak terjadinya krisis pengungsi di tahun 2015, banyak negara yang mulai kembali memberlakukan internal border control.
311 Anna Winslow., Op.Cit., hlm.13. 312 Regulation (EC) No.562/2006)
Hungaria mengklaim bahwa perlindungan perbatasan eksternal Uni Eropa tetap menjadi prioritas utama untuk dapat memperkuat keamanan Uni Eropa dan demi menjaga dan menyelematkan Schengen Agreement. Hungaria merasa bahwa seharusnya negara lebih fokus ke pengetatan perbatasan eksternal Schengen bukan melonggarkan kontrol perbatasan eksternal dan menerapkan kembali kontrol perbatasan internal yang membuat munculnya keraguan terhadap solidaritas Uni Eropa.
Dublin regulation dibentuk di tahun 1990 dan peraturan ini mengharuskan
para pengungsi untuk berada di negara anggota dimana mereka pertama menginjakkan kaki sampai klaim suakanya di proses.313 Kritik terhadap regulasi ini adalah kemungkinan munculnya ketidaksetaraan. Tercermin pada krisis pengungsi Eropa dimana negara kecil dan kurang mampu seperti Yunani dan Italia harus mengambil sebagian besar pengungsi bukan karena mereka ingin tetapi karena kedekatan mereka dengan negara-negara sumber konflik yang akhirnya membuat negara-negara ini kewalahan. Hungaria juga tidak kalah kewalahan karena lokasinya yang berada di jalur utama migrasi yaitu Western
Balkan Route. Maka dari itu, Uni Eropa melihat bahwa mandatory quota system
akan menciptakan kesetaraan dengan adanya distribusi pengungsi. Namun kenyataan quota masih menjadi perdebatan antar negara anggota terutama negara-negara Eropa Timur.
Karena negara-negara Eropa Tengah dan Timur (CEES) terlambat dalam aksesinya ke Uni Eropa, mereka tidak dapat secara komprehensif menerapkan seluruh kebijakan Uni Eropa dan tidak cukup persiapan dalam hal penanangan
migrasi seperti Negara Eropa Barat.314 Hungaria melakukan Aksesi disaat nilai-nilai Uni Eropa sudah terbentuk yang kemudian mempengaruhi Hungaria dalam berbagai aspek yang tidak semuanya positif. Ada upaya untuk membuat Hungaria mengikuti nilai dan standar Eropa salah satunya Hungaria harus menyelesaikan kondisi yang berkaitan dengan minority rights sebelum aksesinya yang mempengaruhi kesediaan Hungaria akan kehadiran migran sekaligus terkait kebijakannya.315 Hungaria juga harus melalui proses penyelerasan kebijakan suakanya untuk dapat dipertimbangkan untuk masuk Uni Eropa. Kondisi yang diperlukan untuk bergabung dengan Uni Eropa dan akses ke western market seharusnya memberi keuntungan bagi Hungaria, namun nyatanya menimbulkan konsekuensi bagi ekonomi dan stabilitas politiknya. Karena inilah, sekarang muncul pemikiran-pemikiran nasionalis dan sentimen-sentimen anti-liberal di Hungaria.
Pengaruh keanggotaan Hungaria di Uni Eropa salah satunya mencakup solidaritas negara-negara Uni Eropa, dalam kasus ini penulis mengambil contoh
mandatory quota yang ditawarkan Uni Eropa kepada negara anggotanya untuk
secara bersama menangani krisis pengungsi. Mandatory Quota system merupakan skema distribusi pengungsi yang diajukan oleh European Commission dibawah
the European Agenda on Migration. Tujuannya adalah untuk memastikan
partisipasi yang adil dari seluruh negara anggota Uni Eropa dalam usaha bersama menangani krisis pengungsi Eropa. Mandatory quota system bersifat sementara dan keputusan European Council (dewan Eropa) 2015/1601 hanya berlaku selama 2 tahun mulai tahun 2015 sampai tahun 2017. Sejumlah 1.294 orang akan
314 Anna Winslow., Op.Cit., hlm.7. 315 Ibid., hlm.8.
direlokasi ke Hungaria selama periode dua tahun dan sebagai gantinya 54.000 pencari suaka yang berada di Hungaria akan direlokasi. Pengadaan mandatory
quota system menunjukkan bahwa Uni Eropa telah memutuskan untuk merespon
krisis pengungsi di tingkat Uni Eropa bukan di tingkat negara anggota.
Pada tanggal 2 Oktober 2016, European Commission menyatakan bahwa 6.013 orang telah direlokasi dari Hungaria dan Italia ke negara anggota lainnya, tetapi Hungaria dan Polandia belum menerima satupun pencari suaka. Sejak awal, pemerintah Hungaria telah menolak proposal mandatory quota. Pada November 2015, Parlemen Hungaria memberi kewenangan terhadap pemerintah untuk meminta peninjauan kembali atas legalitas dari keputusan dewan Eropa ke
European Court of Justice. Pada tanggal 4 Desember 2015, Justice Minister
Hungaria, Lázlö Tröcsányi, mengumummkan bahwa pemerintah telah melancarkan langkah hukum menentang keputusan European Council.316 Salah satu alasan pemerintah Hungaria adalah kurangnya legitimasi sosial dimana mayoritas masyarakat Eropa tidak setuju dengan kebijaakn Uni Eropa.
Pada tanggal 24 Februari tahun 2016, pemerintah mengumumkan akan diadakan national referendum atas rencana relokasi atau quota Uni Eropa yang mengharuskan Hungaria untuk menerima 1.294 pencari suaka.317 Seperti halnya
national consultation, quota referendum juga diiringi oleh kampanye pemerintah
uang mendorong masyarakat untuk memilih “No” pada pertanyaan referendum. Meski voter turnout untuk referendum pada 2 Oktober rendah yang membuat
316 "Hungarian Prime Minister Says Migrants Are 'Poison' And 'Not Needed'". The Guardian, 2016. tersedia dalam: http://www.theguardian.com/world/2016/jul/26/hungarian-prime-minister-viktor-orban-praises-donald-trump, diakses pada 8 Maret 2018.
317 "World Report 2017: Rights trends in European Union". Human Rights Watch, 2017. tersedia dalam: https://www.hrw.org/world-report/2017/country-chapters/european-union, diakses pada 8 Maret 2018.
hasil referendum tersebut tidak valid namun sebagian besar masyarakat, 98 persen partisipan, mendukung posisi pemerintah. Meskipun referendum ini tidak mengikat baik secara domestik maupun internasional namun cukup memberikan gambaran terhadap sikap yang diambil masyarakat Hungaria (pro nasionalis bukan EU). 318 Hungaria menggunakan hasil referendum yang mendukung keputusan pemerintah untuk mencoba membatalkan perjanjian inin di EU Court
of Justice.
Berikut contoh pertanyaan dan hasil dari referendum yang dilakukan pemerintah Hungaria; “Do you want the European Union to be able to order the
mandatory settlement of non-Hungarian citizens in Hungary without Parliament’s consent?”
Gambar 5.4.2 Hasil Referendum EU Mandatory Quota Pada 2 Oktober Tahun 2016
Sumber: ipfs.io319
Penolakan tersebut menurut Orbán adalah karena Hungaria sendiri sudah membantu menyelesaikan isu mass migration dengan berupaya menyelesaikan
root cause krisis dengan memberikan bantuan dan bekerja sama dengan negara
318 Adam Lebor., Loc.Cit.
319 "Hungarian Migrant Quota Referendum". Ipfs.Io, 2016. tersedia dalam:
https://ipfs.io/ipfs/QmXoypizjW3WknFiJnKLwHCnL72vedxjQkDDP1mXWo6uco/wiki/Hungaria n_migrant_quota_referendum%2C_2016.html, diakses pada 8 Maret 2018.
asal dan juga negara transit yang dekat dengan negara asal. Disini Orbán melihat bahwa Brussels menaruh keyakinan mereka hanya pada satu instrumen untuk menyelesaikan masalah krisis pengungsi yaitu the mandatory quota system dan tidak melihat realitas dari krisis. Hungaria telah menantang quota ini dalam debat politis yang telah dibawa ke European Court of Justice, dan Hungaria telah meminta dan mendapat dukungan dari masyarakat Hungaria dalam bentuk referendum. 320 Menurut Hungaria quota system muncul akibat kegagalan beberapa negara anggota melindungi perbatasan eksternal Uni Eropa yang seharusnya sudah menjadi kewajibannya dan pada akhirnya menyebabkan kehadiran banyaknya imigran.321
Pemerintah Hungaria menghimbau agar urusan-urusan dimana negara anggota siap melakukan kerjasama harus dipisahkan dari urusan-urusan lainnya. Masalah yang dihadapi negara-negara CEES tidak lagi dapat diselesaikan dengan hanya memperbaharui konstitusinya atau mengadopsi ketentuan-ketentuan Uni Eropa lainnya.322 Negara CEES memiliki budaya berbeda dan situasi yang berbeda dibandingkan dengan negara-negara yang lebih dulu bergabung. CEES mendukung Uni Eropa tetapi memang dalam beberapa isu penting, “They Do Not
Share Brussels’ Vision”.323
Negara CEES yang kuat menyuarakan ketidaksetujuannya adalah
Visegrád Four (V4) yang beranggotakan Czech Republic, Hungaria, Polandia, dan
320 Viktor Orbán., Loc.Cit
321 "The Visegrád Four bear an ample share of solidarity". Government, 2017. tersedia dalam: http://www.kormany.hu/en/government-spokesperson/news/the-visegrad-four-bear-an-ample-share-of-solidarity, diakses pada 8 Maret 2018.
322 “EU's future must be built on agreement of Member States”. Government, 2017. tersedia dalam:
http://www.kormany.hu/en/government-spokesperson/news/eu-s-future-must-be-built-on-agreement-of-member-states, diakses pada pada 7 Maret 2018, 323 Ibid.
Slovakia. V4 telah menegaskan posisi bersama mereka, pada summit yang dilaksanakan di Praha pada 4 September, yakni menolak mandatory quota Uni Eropa atas dasar national sovereignty.324 Pada summit diadopsi beberapa poin landasan posisi V4 terhadap mass migration yakni perbatasan ekternal harus dilindungi, mereka yang berhasil masuk wilayah Uni Eropa harus dikembalikan, dan mereka yang ingin masuk harus terlebih dahulu di seleksi untuk status perlindungannya di wilayah luar Uni Eropa.325 Hungaria memang mempelopori aksi V4 karena merupakan negara pertama yang menutup perbatasan dan paling besar menerima pegajuan suaka, namun anti-immigrant rethoric dengan ketakutan yang sama yaitu multiculturalism sudah ada diantara negara anggota. Dukungan dari keikutsertaan Hungaria dalam V4 juga turut mempengaruhi bagaimana Hungaria merespon Uni Eropa.
Penolakan mandatory quota system seringkali dianggap sebagai bentuk anti-solidaritas atau menentang Uni Eropa, akan tetapi pemerintah Hungaria berfikir lain. Juru bicara pemerintah, Zoltán Kovács, mengatakan bahwa Hungaria sepenuhnya patuh dengan ketentuan Uni Eropa namun disisi lain Hungaria tetap menolak mandatory quota system. Kovács menambahkan bahwa sangat salah jika merasa Hungaria berusaha menentang Uni Eropa, karena segala kritik yang dilontarkan Hungaria adalah demi kebaikan dan kepentingan Uni Eropa dimana kekuatan Uni Eropa ada pada negara-negara anggotanya.326
324 "Visegrad Leaders Oppose Migration Quotas". country.eiu.com, 2015. tersedia dalam: http://country.eiu.com/article.aspx?articleid=1823495766&Country=Poland&topic=Politics_1, diakses pada 3 Juni 2018.
325 “Everything Stands or Falls on the Closure of Borders”, Government, 2016. tersedia dalam: http://www.kormany.hu/en/the-prime-minister/news/everything-stands-or-falls-on-the-closure-of-borders, diakse pada 3 Juni 2018.
326 “The measure of solidarity is compliance with EU rules". Government, 2017. tersedia dalam: http://www.kormany.hu/en/government-spokesperson/news/the-measure-of-solidarity-is-compliance-with-eu-rules, diakses pada 8 Maret 2018.