• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

D. Pembahasan

1. Pengaruh Pemberian Pelatihan Asertivitas terhadap

Berdasarkan hasil uji statistik, maka hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh pemberian pelatihan asertivitas terhadap kecenderungan kenakalan remaja pada siswa kelas X SMK Bhinneka Karya Surakarta dapat diterima. Hal ini dapat dilihat pada hasil analisis dengan menggunakan teknik analisis uji independent sample T test yang menunjukkan bahwa nilai t hitung yaitu 3,680 dan P value 0,002. Pada uji independent sample T test, t hitung lebih besar daripada t tabel yang bernilai 2,101 dan P value kurang dari 0,05; yang artinya terdapat perbedaan skor kecenderungan kenakalan sesudah pemberian pelatihan asertivitas antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.

commit to user

Hasil uji paired sample T test kelompok eksperimen pada tabel 18 menunjukkan hasil t hitung bernilai 3,920 dan P value 0,004. Nilai t hitung lebih besar daripada t tabel yang bernilai 2,262, sedangkan P value kurang dari 0,05, yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara skor kecenderungan kenakalan sebelum pemberian pelatihan asertivitas dan setelah pemberian pelatihan asertivitas. Jadi dapat disimpulkan bahwa pelatihan asertivitas dapat menurunkan kecenderungan kenakalan pada siswa kelas X SMK Bhinneka Karya Surakarta.

Hasil uji paired sample T test kelompok kontrol pada tabel 19 menunjukkan hasil t hitung bernilai 0,366 dan P value 2,262. Nilai t hitung lebih kecil daripada t tabel yang bernilai 2,262, sedangkan P value lebih dari 0,05; artinya tidak terdapat perbedaan skor kecenderungan kenakalan antara pretest dan posttest pada kelompok kontrol. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada kelompok kontrol tidak terjadi perbedaan skor antara pretest dan posttest karena tidak adanya perlakuan berupa pelatihan asertivitas pada kelompok tersebut.

Berdasarkan data yang telah dipaparkan pada Tabel 15, terlihat terdapat penurunan skor kecenderungan kenakalan pada seluruh subyek kelompok eksperimen setelah pemberian pelatihan asertivitas. Sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat penurunan yang signifikan dan cenderung terjadi kenaikan.

Perbedaan rata-rata skor kecenderungan sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada gambar grafik sebagai berikut :

commit to user

Gambar 14. Grafik Perbedaan Rata-rata Skor Pretest dan Posttest Pada Kelompok Eksperimen ( ) dan Kelompok Kontrol ( )

Selisih skor rata-rata posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah 13,5. Artinya, pada kelompok eksperimen yang diberi pelatihan asertivitas, terjadi penurunan skor kecenderungan kenakalan yang cukup tinggi antara sebelum dan setelah perlakuan yang diberikan. Sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan terjadi kenaikan kecenderungan kenakalan pada beberapa subyek. Hal ini terlihat dari rata-rata posttest yang lebih besar dari rata-rata pretest.

Seluruh subyek dalam kelompok eksperimen menunjukkan perubahan yang positif berupa penurunan kecenderungan kenakalan. Beberapa perubahan yang mencolok adalah pemahaman subyek untuk dapat menolak pengaruh negatif dari lingkungan. Hampir sebagian subyek mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya kepada orang lain. Penurunan tersebut disebabkan karena subyek dapat belajar berperilaku asertif kepada orang lain secara kognitif maupun berlatih behavioral, sehingga dapat meningkatkan aspek-aspek asertivitas yang mempengaruhi tingkat kecenderungan kenakalan terhadap pengaruh negatif dari lingkungan yang buruk.

commit to user

Pada kelompok kontrol cenderung terjadi kenaikan disebabkan karena tidak adanya perlakuan yang diberikan pada kelompok tersebut. Siswa tidak memperoleh keterampilan asertivitas untuk membangun kesadaran mereka mengenai perilakunya sehingga tidak mampu melakukan introspeksi diri mengenai perilaku yang mendominasinya saat ini. Selain itu, siswa tidak memiliki kemampuan membuat permintaan atau menolak permintaan tanpa membuat orang lain marah, tidak mampu bersikap tegas menolak pengaruh negatif yang dapat merugikan dirinya akibat tekanan yang dihadapi berupa ajakan, rayuan untuk melakukan perbuatan yang kurang baik.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bukti bahwa pelatihan asertivitas mampu meningkatkan cara menghadapi masalah. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Uyun (2005), menunjukkan bahwa pelatihan asertivitas dapat meningkatkan kemampuan mengendalikan emosi karena individu belajar mengekspresikan perasaan terutama perasaan negatif seperti penolakan tanpa bermaksud melukai orang lain. Subyek dilatih untuk dapat menanggapi permintaan negatif dengan konstruktif dan tidak emosional.

2. Analisis Deskriptif

Hasil analisis dan kategorisasi variabel kecenderungan kenakalan remaja pada siswa kelas X SMK Bhinneka Karya Surakarta diuraikan dengan kategorisasi tinggi sebanyak 0 %, kategorisasi sedang sebanyak 39,06 %, dan kategorisasi rendah sebanyak 60,94 % dengan rerata hipotetik 117,5. Hasil ini menunjukkan

commit to user

bahwa siswa kelas X SMK Bhinneka Karya Surakarta memiliki tingkat kecenderungan kenakalan remaja sedang dan rendah.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, hal tersebut dapat disebabkan karena faktor jenis kelamin yaitu laki-laki yang lebih banyak melakukan tindakan penyimpangan daripada perempuan (Kartono, 2003). Selain itu, berdasarkan wawancara yang dilakukan diperoleh informasi bahwa siswa di SMK Bhinneka Karya sebagian besar berasal dari keluarga yang kurang harmonis dan berasal dari sosial ekonomi rendah. Siswa tidak memperoleh perasaan aman dan kebutuhan psikologis yang kurang di lingkungan keluarga, sehingga siswa lebih sering membentuk kelompok dengan teman sebaya dan dapat saling mempengaruhi satu sama lain termasuk pengaruh-pengaruh negatif.

Siswa yang tidak diterima di sekolah kejuruan negeri ataupun swasta lain biasanya diterima di SMK Bhinneka Karya sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata intelegensi mereka rendah. Hampir seluruh siswa tidak mempunyai motivasi untuk berprestasi dan memiliki harapan rendah terhadap pendidikan. Hasil ini sesuai dengan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecenderungan kenakalan remaja menurut Santrock (2003) di antaranya yaitu jenis kelamin, harapan rendah terhadap pendidikan, kurang dukungan keluarga, sosial ekonomi, teman sebaya, dan kualitas tempat tinggal.

Pelatihan asertivitas dapat menurunkan keinginan individu untuk menyakiti diri sendiri dan orang lain karena dalam pelatihan asertivitas siswa belajar membangun kesadaran diri untuk melihat seberapa tingkat asertivitasnya. Siswa

commit to user

memahami dan mengenali perilakunya selama ini sehingga siswa mampu membedakan dan memilih perilaku yang tepat untuk dirinya.

Pelatihan asertivitas dapat menurunkan kemauan melakukan tindakan yang tidak terkendali karena siswa memahami bahwa mereka memiliki hak yang sama untuk mengungkapkan perasaan dan dilatih untuk berani mengungkapkan perasaan secara positif sehingga dapat mengendalikan emosi dengan baik. Selain itu, pelatihan asertivitas dapat melatih siswa untuk membangun kesadaran diri bahwa mereka memiliki hak yang sama dengan orang lain untuk mengekspresikan perasaan positif sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan keyakinan untuk mengatasi konflik.

Pelatihan asertivitas juga dapat menurunkan keinginan melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain karena siswa mampu memiliki inisiatif untuk mengambil tindakan dan keputusan tanpa harus menunggu keputusan dari orang lain. Siswa akan mengembangkan inisiatif untuk berani mengungkap permintaan, bahkan penolakan ketika orang lain memaksakan kehendaknya.

Subyek dengan penurunan skor kecenderungan kenakalan menunjukkan bahwa ia telah belajar berperilaku asertif dari sebelumnya. Hal ini terlihat dari hal-hal sederhana yang ditunjukkan subyek dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagian besar subyek mampu membedakan perilaku yang baik dan yang buruk sehingga mereka mampu bersikap tegas untuk menolak pengaruh negatif dari lingkungan. Subyek mampu mengekspresikan perasaan dan melatih kejujuran untuk mengungkapkan keinginan mereka. Subyek merasakan manfaat dari

commit to user

asertivitas yaitu mampu menentukan pilihannya sendiri tanpa harus mengikuti kehendak dari orang lain.

Berdasarkan temuan di lapangan, seluruh subyek yang diberikan pelatihan adalah suku jawa, orang tua bekerja sebagai wiraswasta, dan masih tinggal bersama kedua orang tua yang lengkap. Salah satu faktor yang mempengaruhi kecenderungan kenakalan remaja adalah keluarga yang kurang harmonis akibat perpisahan antara kedua orang tuanya. Namun, pada subyek yang diberikan pelatihan seluruh subyek masih memiliki orang tua yang lengkap sehingga subyek memiliki motivasi lebih untuk dapat mengubah perilakunya menjadi lebih baik agar mampu membahagiakan kedua orang tuanya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi asertivitas adalah kebudayaan. Seluruh subyek dalam kelompok eksperimen adalah suku jawa yang mempunyai nilai-nilai dan kebiasaan yang berfungsi sebagai pedoman hidup masyarakat jawa.

Subyek mampu menerapkan asertivitas dalam kehidupan sehari-hari walaupun terdapat kendala yaitu merasa kesulitan dalam mengungkap kejujuran dan tertekan ketika menolak permintaan orang lain. Hal ini disebabkan karena etnis jawa memiliki stereotip lemah lembut, kurang suka berterus terang, dan tata karma/sopan santun untuk tidak menyinggung perasaan orang lain.

Berdasarkan data identitas yang diolah dengan crosstabulation yaitu usia dan urutan kelahiran diperoleh data temuan berupa:

commit to user

Tabel 24. Crosstabulation Usia berdasarkan Kategorisasi USIA Tingkat Kecenderungan Kenakalan TOTAL

SUBYEK

%

Rendah % Sedang %

15 2 20 3 30 5 50

16 3 30 1 10 4 40

17 1 10 0 0 1 10

TOTAL 6 60 4 40 10 100

Data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa subyek yang mengalami penurunan kecenderungan kenakalan remaja (kategorisasi rendah) setelah diberikan pelatihan asertivitas adalah 30 % berusia 16 tahun. Pada usia 16 tahun, remaja mulai mampu menetapkan nilai-nilai tertentu dan merenungkan pemikiran filosofis dan etis (Kartono, 1992). Sehingga, dengan pelatihan yang diberikan kepada remaja tersebut, remaja mampu menanamkan nilai-nilai baru yang bermanfaat untuk dirinya yaitu meningkatkan asertivitas untuk menurunkan kecenderungan perilaku kenakalan.

Hasil tersebut diperkuat dengan perhitungan mean posttest kategorisasi, yaitu:

Tabel 25. Crosstabulation Usia berdasarkan Mean Posttest Kategorisasi

USIA Mean Posttest Kategorisasi

Rendah % Sedang %

15 91 35,69 97 50,78

16 86 33,73 94 49,22

17 78 30,58 0 0

TOTAL 255 100 191 100

Data yang diperoleh dari tabel di atas, mean paling rendah adalah 78 pada subyek berusia 17 tahun. Akan tetapi dikarenakan subyek yang berusia 17 tahun hanya 1 orang, maka hasil tersebut tidak dapat digunakan karena pada usia tersebut jumlah subyek paling sedikit. Mean yang diperoleh pada usia 16 tahun

commit to user

adalah 86 dan lebih sedikit daripada mean pada usia 15 tahun. Semakin rendah mean yang diperoleh maka semakin banyak penurunan yang terjadi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pelatihan asertivitas tepat digunakan pada remaja berusia 16 tahun karena terjadi penurunan skor yang paling banyak.

Data olahan crostabulation urutan kelahiran dapat diperoleh hasil:

Tabel 26. Crosstabulation Urutan Kelahiran berdasarkan Kategorisasi Urutan

Data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa subyek yang mengalami penurunan kecenderungan kenakalan remaja (kategorisasi rendah) setelah diberikan pelatihan asertivitas berdasarkan urutan kelahiran antara anak pertama dan anak terakhir memiliki prosentase yang sama sehingga tampak bahwa penurunan tidak terjadi berdasarkan urutan kelahiran. Akan tetapi apabila di dukung dengan perhitungan mean posttest kategorisasi diperoleh hasil:

Tabel 27. Crosstabulation Urutan Kelahiran berdasarkan Mean Posttest Kategorisasi subyek yang memiliki urutan kelahiran terakhir. Mean yang diperoleh subyek dengan urutan kelahiran terakhir lebih rendah di bandingkan mean yang diperoleh

commit to user

subyek dengan urutan kelahiran pertama. Semakin rendah mean yang diperoleh berarti penurunan skor yang terjadi semakin banyak. Hal ini dapat disimpulkan bahwa subyek yang memiliki penuruan skor paling banyak adalah subyek dengan urutan kelahiran terakhir.

Hasil penelitian pengaruh pemberian pelatihan asertivitas terhadap kecenderungan kenakalan remaja pada siswa Kelas X Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bhinneka Karya Surakarta ini sesuai dengan pendapat Alberti dan Emmons (2002) yang menawarkan tingkah laku asertif sebagai bentuk keterampilan sosial yang tepat untuk berbagai situasi sosial. Untuk menjalin hubungan interpersonal yang baik, seseorang membutuhkan keterampilan asertivitas. Definisi tersebut menjelaskan bahwa pelatihan asertivitas memberikan keterampilan-keterampilan yang jika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dapat menumbuhkan hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain karena individu mampu mengungkapkan perasaannya, meminta apa yang diinginkan namun tetap menghargai dan menghormati orang lain.

Pelatihan asertivitas dapat menumbuhkan kesadaran siswa untuk mengembangkan kemampuan asertivitas yaitu komunikasi dan bahasa tubuh yang memiliki peran penting. Hal ini mencakup adanya kontak mata dan sikap tubuh yang terbuka pada saat berkomunikasi dengan orang lain. Ekspresi wajah harus sesuai dengan pesan yang disampaikan, nada suara mantap, dan memilih waktu yang tepat. Keterampilan tersebut diperlukan agar siswa mampu menciptakan komunikasi yang baik dengan orang lain dan mampu menolak permintaan dengan bahasa tubuh yang sesuai.

commit to user

Penurunan yang terjadi dalam penelitian ini dikarenakan pelatihan asertivitas mengajarkan keterampilan-keterampilan yang mampu mengembangkan asertivitas untuk menolak pengaruh negatif dari lingkungan yang berpengaruh terhadap kecenderungan kenakalan remaja. Keterampilan yang diajarkan yaitu membangun kesadaran diri mengenai perilaku yang mendominasi dirinya (self awareness), mempromosikan kesetaraan dalam hubungan manusia (membina relationships), dan mengekspresikan perasaan dan pikiran dengan nyaman untuk menolak dan menerima permintaan (making and refusing requests). Hal tersebut memungkinkan terjadinya penurunan skor kenakalan remaja pada kelompok eksperimen.

Data pada lapangan, menunjukkan bahwa subyek pada kelompok eksperimen sebagian besar telah memahami perilaku asertif dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan hasil evaluasi hasil yang diberikan saat posttest.

Beberapa subyek mengatakan bahwa mereka menjadi lebih percaya diri, mampu membedakan perilaku yang baik dan buruk dan dapat mempunyai sikap untuk menentukan pilihannya.

Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan asertivitas merupakan suatu cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan kecenderungan kenakalan remaja pada siswa kelas X SMK Bhinneka Karya Surakarta. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Wardani (2011), menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara perilaku asertif dengan kenakalan remaja yaitu semakin tinggi perilaku asertif yang dimiliki oleh seorang remaja maka akan semakin rendah tingkat kenakalannya.

commit to user

3. Kelebihan dan Kelemahan Penelitian

Berdasarkan hasil uraian di atas dapat dipaparkan beberapa kelebihan dan kelemahan dalam penelitian ini. Kelebihan dalam penelitian ini, diantaranya adalah penelitian ini telah berhasil membuktikan hipotesis yang diajukan peneliti, penelitian ini mampu memberikan ilmu baru bagi subyek penelitian untuk menerapkan keterampilan sosial yang bermanfaat yaitu asertivitas dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, penelitian ini adalah penelitian semi eksperimen yaitu dengan memberikan suatu perlakuan berupa pelatihan dan merupakan penelitian semi eksperimen perdana yang dilakukan di SMK Bhinneka Karya Surakarta.

Faktor yang mendukung keberhasilan pelatihan adalah modul yang telah disusun peneliti secara sistematik hal ini mempermudah fasilitator dalam menyampaikan serta mempermudah subyek dalam memahami materi. Modul pelatihan asertivitas disusun dengan materi yang sederhana namun merupakan aspek penting dalam pembentukan suatu perilaku atau keterampilan asertivitas yaitu diawali dengan membangun kesadaran diri, membina hubungan dengan orang lain, dan kemampuan untuk menolak permintaan.

Modul pelatihan asertivitas yang disusun dengan menggunakan metode (psikodrama) roleplay, permainan, dan tayangan video ini membuat subyek lebih tertarik untuk mengikuti pelatihan serta membantu subyek dalam mengaplikasikan materi dan keterampilan yang diberikan selama pelatihan. Pemberian materi perilaku asertif akan dapat diterima subjek, jika disertai contoh konkret mengenai perilaku asertif yang diterapkan dalam prakteknya. Uji-coba modul juga

commit to user

membantu peneliti dalam melakukan perbaikan dan pemilihan materi dengan metode pelatihan yang lebih efektif dan aplikatif.

Dalam pemberian perlakuan, trainer dapat memberikan penjelasan yang memuaskan kepada siswa. Hal ini membuat siswa dapat memahami pembelajaran yang mereka terima melalui permainan asertivitas. Trainer merupakan orang yang dapat menjelaskan materi pelatihan dengan baik, memiliki pengetahuan tentang asertivitas, dapat memberi motivasi kepada siswa untuk mengembangkan diskusi tanpa mengarahkan siswa pada suatu jawaban tertentu, dan dapat mengelola jalannya pelatihan agar tidak ada yang terlalu pasif ataupun terlalu mendominasi diskusi. Suasana keakraban yang dibangun trainer selama permainan membuat siswa nyaman dan leluasa mengeluarkan pendapat mereka serta menikmati pelatihan. Beberapa subyek mengatakan bahwa mereka merasa senang dengan trainernya karena cara mengajar yang menarik dan tidak membosankan.

Partisipasi dari subyek juga mendukung keberhasilan dalam pemberian perlakuan. Subyek dalam penelitian ini cukup antusias dalam pelatihan asertivitas dan cukup aktif terlibat dalam diskusi. Subyek juga memperhatikan apa yang dijelaskan oleh trainer. Dukungan pihak sekolah sebagai salah satu instansi terkait juga merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan dalam penelitian ini. Beberapa dukungan yang diberikan sekolah antara lain penyediaan waktu serta ruangan untuk pelaksanaan uji coba maupun pemberian perlakuan.

Meskipun penelitian ini memiliki beberapa kelebihan, namun peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih memiliki kelemahan dan banyak keterbatasan yang harus diperbaiki dalam penelitian di masa yang akan datang,

commit to user

diantaranya penelitian ini terlaksana dalam waktu yang sangat terbatas sehingga kurang mampu memberikan materi secara maksimal. Kendala-kendala yang dialami dalam penelitian ini adalah kendala tempat dan waktu.

Sekolah tidak memiliki aula atau ruangan luas yang bisa dipergunakan untuk pelatihan. Oleh sebab itu, pelatihan dilakukan di ruang kelas yang dipergunakan oleh siswa yang masuk siang. Hal ini mempengaruhi waktu pelaksanaan pelatihan karena keterbatasan waktu akibat kelas yang akan dipergunakan setelah pelatihan.

Selain itu, sarana dan prasarana kurang mendukung karena ruang kelas yang kurang kondusif yaitu panas, cahaya yang terang, tanpa fasilitas LCD dan audio visual sehingga harus disediakan oleh fasilitator.

Keterbatasan lain dari penelitian ini adalah tidak adanya buku harian atau agenda untuk memantau pengaplikasian keterampilan asertivitas siswa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, peneliti tidak mampu mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan kenakalan seperti keadaan lingkungan disekitar tempat tinggal subyek, keadaan lingkungan keluarga, serta berbagai faktor psikologi seperti intelegensi dan kepribadian subyek, peneliti juga tidak mampu mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya pelaksanaan pemberian perlakuan seperti kewajiban subyek mengikuti kegiatan yang dilaksanakan sekolah, faktor fisik (dalam kondisi sehat atau tidak), dan psikologis seperti kecemasan, suasana hati, motivasi saat pelatihan dan lain sebagainya.

commit to user

164 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan data hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut :

Terdapat pengaruh pemberian pelatihan asertivitas terhadap kecenderungan kenakalan remaja pada siswa kelas X Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bhinneka Karya Surakarta {t hitung lebih besar daripada t tabel (3,680 > 2,101) dan P value kurang dari 0,05 (0,002 < 0,05)}.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, peneliti mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:

1. Bagi Siswa Kelas X SMK Bhinneka Karya Surakarta

Siswa yang mendapatkan perlakuan diharapkan dapat melatih diri untuk bersikap asertif terhadap teman sebaya ataupun orang-orang di sekitar dalam kehidupan sehari-hari dan membagikan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan asertivitas kepada siswa lain untuk dapat bersikap tegas menolak pengaruh buruk yang dapat merugikan diri sendiri.

2. Bagi Pihak Sekolah

Pihak sekolah dapat memberikan pembekalan keterampilan asertivitas berupa pelatihan atau penyuluhan kepada siswa yang memiliki keterampilan asertivitas rendah karena keterampilan asertivitas memiliki pengaruh positif yaitu siswa mampu membuat permintaan, mampu

commit to user

menolak permintaan yang merugikan diri sendiri, dan mengekspresikan perasaan positif.

3. Bagi Masyarakat

Masyarakat dapat membantu subyek dalam melatih asertivitas dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan, yaitu menghargai penolakan subyek akibat pengaruh buruk dari lingkungan sebagai hak-hak pribadi dari seorang remaja.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

a. Melakukan pemantauan langsung pada kelompok eksperimen untuk mengetahui seberapa mampu subyek mengaplikasikan keterampilan yang diberikan dan mengetahui perubahan perilaku pada subyek.

b. Memberikan buku harian atau agenda pada subyek eksperimen untuk membantu pengumpulan data perilaku yang mencerminkan asertivitas yang telah dilakukan subyek setelah pelatihan.

c. Memberikan masukan kepada peneliti selanjutnya untuk dapat mengembangkan variabel lain selain asertivitas dalam menurunkan kecenderungan kenakalan remaja.