BAB III. PELAYANAN ORANG SAKIT KUSTA DI NAOB
A. Pengertian
Kata spiritualitas berasal dari kata latin spiritus yang berarti roh, jiwa atau semangat. Dalam bahasa Perancis istilah spiritualitas ini disebut l’esprit atau la spiritualite, kata benda. Orang-orang berbahasa Inggris menyebut spiritualitas dengan kata spirituality, yang artinya sama dengan bahasa Latin dan bahasa Perancis. Kata spirituality, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata spiritualitas (Hardjana, 2005: 64).
Dalam buku Religiositas, Agama dan Spiritualitas (Hardjana, 2005: 64), mengatakan: spiritualitas adalah hidup berdasarkan atau menurut roh. Ada tentunya macam-macam roh, entah roh yang baik dan roh yang jahat. Namun dalam studi ini, istilah roh selalu dikaitkan dengan roh yang baik, secara khusus yang berhubungan dengan yang transenden yakni Roh Allah dalam paham Kristen. Spiritualitas adalah hidup yang didasarkan pada pengaruh dan bimbingan Roh Allah. Dengan spiritualitas, manusia bermaksud membuat diri dan hidupnya terarah dan dibentuk sesuai dengan semangat dan cita-cita Allah.
Dalam buku Spiritualitas Transformatif: Suatu Pergumulan Ekumenis (Banawiratma, 1990: 57-58), menegaskan akar kata spiritualitas sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya. Spiritualitas menurutnya, berasal dari bahasa latin yaitu: “spiritus” yang berarti roh atau daya kekuatan yang menghidupkan atau menggerakkan seseorang. Unsur baru yang muncul adalah spiritualitas diartikan sebagai kekuatan atau roh yang memberi daya tahan kepada seseorang atau
sekelompok orang untuk mempertahankan, memperkembangkan dan mewujudkan kehidupannya. Spiritualitas berarti: cara orang menyadari dan menghayati hidup rohaninya. Dalam konteks ini spiritualitas tidak lain adalah kekuatan yang mendorong dan mengarahkan suara batin seseorang atau sekelompok orang dan hal ini akan berpengaruh serta menentukan keberadaan hidupnya.
Berdasarkan pandangan Hardjana (2005: 64) dan Banawiratma (1990: 57-58), yang memandang spiritualitas sebagai hal yang amat penting dalam hidup manusia, kita sebetulnya diarahkan kepada pemahaman bahwa semua daya kekuatan yang ada dalam diri manusia sesungguhnya berasal dari Allah, yang menghidupkan. Daya Ilahi itu menggerakkan seseorang untuk mempertahankan, memperkembangkan, dan mewujudkan kehidupannya. Spiritualitas adalah dasar hidup yang mendapat pengaruh dan bimbingan dari Roh Allah sendiri. Spiritualitas mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk hidup menurut kehendak Roh Allah yang membantu mereka untuk meningkatkan mutu dan kualitas hidupnya dalam cara, sikap hidup dan prinsip hidup.
B. Riwayat Hidup Mgr. Gabriel Manek, SVD
Mgr. Gabriel Manek, SVD adalah putera bungsu dari empat bersaudara. Ayah dan ibunya bernama Lay Piang Siu dan Liu Keu Moy. Ia dilahirkan di sebuah dusun kecil bernama Ailomea-Lahurus pada 18 Agustus 1913. Hanya dalam tempo satu hari tepatnya pada 19 Agustus 1913, ia dibaptis dengan nama: Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek (Lay Tjhong Sie). Imam yang membaptisnya waktu itu adalah P. Arnoldus Verstraelen, SVD dan bapak saksi permandian bernama Yohanes Leki. Dalam usia yang masih sangat kecil ibunya meninggal
karena sakit kanker, ketika itu ayahnya berada di Tiongkok. Gabriel Manek kecil bersama ketiga saudaranya tinggal sendirian. Gabriel Manek kecil ini kemudian diambil sebagai anak angkat oleh mama kecilnya Maria Belak, istri dari Raja Don Kaitanus da Costa, raja kerajaan Taifeto, Belu Utara (Beding, 2000: 7).
Orang tua angkat ini mendidik Manek dengan baik hingga dewasa. Lingkungan hidupnya berada di antara kalangan keluarga raja di zaman itu. Ayah angkatnya adalah putera raja Oekusi yang waktu itu merupakan bekas jajahan Portugal. Wilayah jajahan ini dipengaruhi juga dari sisi agama penjajah waktu itu yakni agama Katolik. Karena itu Raja Don Kaitanus menjadi juga pewaris tradisi Katolik. Ia seorang raja yang mencintai kerja keras dan disiplin. Dua hal ini yang menjadi ciri pendidikan bagi keluarga dan masyarakatnya. Dalam praktik imannya ia sungguh percaya kepada Yesus Kristus. Ia juga berdevosi kepada Bunda Maria sebagai Bunda Gereja. Semua hal yang dipandangnya baik, ia ajarkan kepada keluarganya termasuk kepada anak angkatnya Manek kecil.
1. Masa Kecil Gabriel Manek
Manek dikenal sebagai anak penurut. Hal ini tentu sesuai dengan arti kata ‘manek’ dalam bahasa lokal. Kata ‘manek’ artinya terlalu penurut dan begitulah saudara-saudara Manek mengenalnya dalam kalangan keluarga raja. Dia hidup bersama tiga saudara; dua perempuan dan satu laki-laki. Manek termasuk anak paling muda. Dia sangat dekat dengan ibunya dan rajin membantu sang ibu dalam berbagai pekerjaan rumah tangga. Ia memperbaiki pancuran air, memetik buah kelapa dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Meskipun sebagai putera raja, Manek tidak memperlihatkan atau menempatkan dirinya sebagai anak
manja yang suka dilayani oleh para pelayan. Ia selalu memperlihatkan sikap hidup polos dan sederhana. Masa kecil Manek tidak dilewati di wilayah istana saja, tetapi ia sering bertemu dan bermain bersama anak-anak kampung yang sederhana hidupnya di sekitar istana raja (Beding, 2000: 12).
Terkait pendidikan formal, Manek disekolahkan di SR (Sekolah Rakyat) bersama kakaknya Dona Wilhelmina da Costa di desa Halelulik tahun 1920. Semasa sekolah mereka tinggal di asrama yang dikelola oleh Misi Katolik. Gabriel Manek dikenal sebagai murid cerdas, karena itu suatu waktu yakni tahun 1920 ia lompat kelas dari kelas satu ke kelas tiga. Enam tahun kemudian Gabriel Manek melanjutkan pendidikannya ke Schakelschool, tahun 1926. Schakelschool adalah sekolah yang disediakan pemerintahan Kolonial Belanda sebagai lanjutan dari SR. Sekolah ini hanya untuk anak-anak dari kalangan atas yang akan melanjutkan pendidikannya ke sekolah milik Belanda (Beding, 2000: 12).
2. Pendidikan di Seminari
Seminari yang ada pada masa itu hanya satu. Itupun letaknya jauh yakni di Flores tepatnya di Wilayah Selatan Kabupaten Sikka-Maumere saat ini, di sebuah kampung yang kemudian menjadi nama Kabupaten yakni Sikka. Seminari itu baru dibuka dan Gabriel Manek termasuk salah satu di antara murid-murid angkatan awal seminari pada tahun 1927-1929. Di seminari ini Gabriel Manek mulai belajar bahasa Latin dan bahasa Belanda, juga tentunya memperdalam pelajaran Agama Katolik yang dianutnya.
Situasi pendidikan waktu itu, meski wilayahnya masih dalam Koloni Belanda tetapi bahasa pengantar dalam pelajaran masih menggunakan bahasa Melayu.
Pimpinan seminari waktu itu adalah P. Cornelissen, SVD. Bahasa melayu adalah bahasa yang umum dipakai untuk semua sekolah sedangkan bahasa Belanda dipakai di kalangan pegawai tinggi sekaligus menjadi bahasa dalam perundang-undangan, surat kabar, majalah dan buku-buku ilmu pengetahuan. Bahasa Belanda sangat perlu karena saat itu dijadikan sebagai bahasa pengantar untuk mempelajari bahasa klasik seperti bahasa Latin. Para seminaris diwajibkan mempelajari bahasa Belanda agar selanjutnya bisa belajar bahasa Latin. Gabriel Manek tekun mempelajari bahasa Belanda sehingga pada akhirnya ia menguasai dan sangat fasih berbahasa Belanda (Beding, 2000: 16).
Tahun yang ketiga yakni tahun 1929, Manek melanjutkan pendidikan ke Seminari Mataloko. Waktu itu terjadi satu perubahan dalam sistem pendidikan yakni semua sekolah membuka tahun ajaran tidak lagi pada bulan Januari melainkan pada bulan Agustus. Hal ini membawa konsekuensi bahwa tahun pelajaran waktu itu yakni tahun 1928-1929, harus diperpanjang setengah tahun untuk semua kelas. Satu hal yang menjadi kekhususan saat itu yakni aturan ini tidak berlaku untuk seminaris Gabriel Manek. Ia diberi kesempatan setengah tahun untuk mengenyam pendidikan di kelas III dan pada tahun ajaran baru ia lompat kelas IV karena dianggap sangat cerdas melampaui kecerdasan kakak-kakak tingkatnya. Akhirnya ia bergabung dengan angkatan pertama di kelas IV. Seiring berjalannya waktu, banyak angkatan pertama yang meninggalkan seminari karena macam-macam alasan hingga menyisakan dua seminaris yang bertahan yakni Gabriel Manek dan Karolus Kale Bale (Beding, 2000:18).
Pada tahun ajaran baru, bulan Agustus tahun 1929, jumlah siswa seminari bertambah menjadi 30 orang. Gabriel Manek mempunyai banyak teman karena terkenal sebagai seminaris yang ceria. Ia suka membuat cerita humor dengan
menggunakan bahasa asal teman-temannya. Bakatnya untuk mempelajari banyak bahasa sangat menonjol. Sebagai siswa yang berbakat dan pandai dalam berbahasa Belanda, ketika upacara pembukaan seminari di Todabelu, Manek diberi kepercayaan untuk memberikan kata sambutan dalam bahasa Belanda. Gabriel Manek mendapatkan pujian yang luar biasa dari Assistant-Resident Belanda. Selain menguasai banyak bahasa, Manek diakui sebagai seminaris yang baik, disiplin, rajin dan tekun dalam berdoa. Ia juga menguasai beberapa alat musik seperti harmonika, seruling dan biola (Beding, 2000: 19).
Setelah mengenyam pendidikan selama 6 tahun, di Seminari Mataloko, tiba saatnya Gabriel Manek mengutarakan niatnya untuk menjadi calon imam SVD. Sebab itu dia dianjurkan untuk membuat permohonan untuk masuk di Novisiat SVD di Todabelu. Pada 16 Oktober 1934 Gabriel Manek resmi diterima sebagai Novis SVD. Novisiat adalah masa untuk pembaharuan diri supaya mulai berusaha bertumbuh menjadi seorang religius atau rohaniwan. Niatnya menjadi imam Tuhan sangat kuat, hal itu terlihat dari semangat dan keseriusannya menjalani masa pembinaan di Novisiat. Menurut ketentuan Serikat Sabda Allah, sesudah berakhir masa dua tahun Novisiat, setiap frater mengajukan permohonan untuk mengikrarkan kaul-kaul pertama. Maka atas permohonannya, Frater Gabriel Manek diterima untuk mengikrarkan kaul pertama pada 17 Januari 1936. Untuk pertama kali, terdengar di wilayah ini bahwa calon imam mengikrarkan Tri Kaulnya yakni kaul kemurnian, kemiskinan dan ketaatan sesuai dengan peraturan konstitusi Serikat Sabda Allah. Kaul-kaul ini akan selalu diperbaharui setiap tahun hingga 6 kali sebelum mengikrarkan kaul kekal (Beding, 2000: 23).
Pada 15 Agustus 1940 Frater Gabriel Manek akhirnya dinilai layak dan berhasil sehingga dapat mengikrarkan kaul kekal. Dengan demikian dia resmi
menjadi anggota penuh Serikat Sabda Allah. Frater Manek kemudian diterima untuk ditabiskan menjadi imam Tuhan bersama Frater Karolus Kale Bale pada 28 Januari 1941 oleh Mgr. Leven, SVD di Nita-Maumere. Peristiwa ini merupakan peristiwa yang amat besar dan mengagumkan di wilayah ini karena imam-imam pertama dari kalangan pribumi ditahbiskan. Hal ini juga menjadi kesempatan syukur di wilayah-wilayah tempat mereka berasal sebab setelah ditahbiskan mereka diijinkan untuk kembali ke tempat asal masing-masing dan mengadakan perayaan syukur bersama keluarga dan umat (Beding, 2000: 24).
Pada 25 April 1951, Mgr. Gabriel Manek, SVD ditahbiskan menjadi Uskup Tituler Alinda dan Vikaris Apostolik Larantuka melalui tangan Mgr. Hendrikus Leven, SVD. Dalam perjalanan waktu Mgr.Gabriel Manek, SVD melihat dan membaca kebutuhan yang paling mendesak akan pendalaman iman umat, serta peningkatan hidup sebagai umat beriman, namun ketiadaan tenaga pelayan. Mgr. Gabriel Manek, SVD kemudian mendirikan Kongregasi Puteri Reinha Rosari pada 15 Agustus 1958 sebagai tanda syukur kepada Tuhan atas anugerah iman dan keselamatan bagi umat atau Gereja di Nusantara. Pelindung utama tarekat ini adalah Maria Ratu Rosari. Nama ini merupakan warisan penghormatan kepada Bunda Maria sejak berabad-abad lamanya dalam umat. Maria dalam sejarah hidup iman umat telah menjadi pelindung dan penyerta umat setempat (Beding, 2000: 65).
C. Karya Misi Mgr. Gabriel Manek, SVD
1. Misionaris Pribumi Pertama dari Serikat Sabda Allah (SVD)
Pada 28 Januari 1941 setelah urapan imamat, P. Gabriel Manek diutus untuk menjadi pastor pembantu di Nita-Maumere. Dia bekerja di wilayah ini dari
tahun perutusannya hingga tahun 1942. Kesempatan ini digunakannya untuk memberikan perhatian kepada usaha pengkaderan tenaga pewarta iman Katolik (katekis). Ia sendiri mengisi hari-hari tugasnya dengan mengunjungi umatnya. Ia menunjukkan perhatiannya yang istimewa kepada orang-orang kecil, miskin, sakit dan menderita (Beding, 2000: 29).
Dari wilayah pastoral yang kecil, pada tahun 1942-1946, P. Gabriel Manek, SVD ditetapkan oleh Mgr. Leven, SVD untuk melayani umat di seluruh Flores Timur, Alor dan Pantar. Dalam karya pelayanan di sebuah wilayah yang luas ini, P. Gabriel Manek berusaha memaksimalkan pelayanannya dengan pertama-tama mengunjungi stasi-stasi pedalaman. Dia dengan sangat tekun dan setia mengunjungi umat. Dia lebih banyak berjalan kaki ketimbang menunggang kuda yang menjadi kendaraan elite waktu itu. Sering juga ia berlayar dengan perahu atau dalam bahasa lokal “paledang” untuk menyeberangi pulau-pulau. Beliau berani menyeberangi sebuah tempat yang terkenal seram dan menakutkan, yakni Tanjung Naga. Dalam situasi-situasi sulit seperti ini dia semata-mata mengandalkan kekuatan Tuhan dan doa Bunda Maria serta percaya pada keberanian pendayung. Sepanjang karirnya dia terkenal mampu melakukan tugas pelayanannya dengan penuh cinta di seluruh pelosok Flores, Alor dan Pantar. P. Gabriel Manek, SVD tidak takut bahaya karena Ia percaya bahwa Tuhanlah yang mengutusnya ke tempat-tempat terpencil dan Dialah yang akan melindunginya (Beding, 2000: 33).
Daerah Tanjung Naga merupakan tempat tinggal para penderita kusta. Mereka dibuang dari tengah keluarga dan masyarakat. Mereka dikucilkan dan harus berjuang untuk mencari nafkah dan menghidupi dirinya sendiri. P. Gabriel
Manek adalah orang pertama yang berani mengunjungi dan mendekati mereka. Beliau mendekati dan menyapa mereka dengan caranya yang khas tanpa merasa jijik atau takut terkena kusta. Ia memberikan peneguhan dan menghibur mereka. Humor-humornya yang khas membuat penderita kusta ini tertawa gembira. Kehadirannya dikenang, dikagumi dan selalu didambakan karena memberi kesan tersendiri bagi para penderita kusta. Dalam kunjungannya ke paroki-paroki yang searah dengan Tanjung Naga, P. Gabriel Manek selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi para penderita lepra. Perjumpaan dengan penderita kusta inilah yang mengispirasi beliau untuk mendirikan tempat yang layak bagi mereka. Cita-citanya ini baru terwujud ketika ia menjadi uskup, beliau mendirikan rumah sakit lepra di Lewoleba-Lembata (Beding, 2000: 33).
Pada 17 Agustus 1945 merupakan momen khusus berkaitan dengan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, sekaligus membuka sebuah babak baru perjalanan misi di wilayah Flores dan Timor. Meski perang sudah berakhir namun puing-puing kepedihan masih terlihat jelas. Perang meninggalkan luka yang mendalam bagi Gereja di Pulau Flores dan Timor khususnya. Pintu-pintu penjara bagi misionaris baru terbuka. Para misionaris yang sebelumnya ditahan dilepaskan sehingga mereka dapat kembali memekarkan pelayanan ke pulau-pulau Nusa Tenggara. Oleh karenanya pada tahun 1946, P. Gabriel Manek dipindahtugaskan ke tempat asalnya di Timor. Dalam situasi Gereja yang masih terporak-poranda, P. Gabriel Manek memulai lagi tugasnya yang baru dengan menata kembali kehancuran yang ada. Dalam perjalanan tugasnya yang cukup berat, beliau diminta untuk terlibat dalam urusan politik. Maka atas izin uskup setempat beliau bersedia dipilih menjadi anggota parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) yang
berpusat di Makasar. Dengan tugas baru ini, P. Gabriel Manek tidak jarang harus meninggalkan umatnya untuk mengikuti sidang-sidang parlemen dan berbicara atas nama rakyat yang memilihnya. Hal pertama yang diperjuangkannya adalah nasib daerah-daerah terpencil di NTT yang kurang terjangkau perhatian dan pelayanan Negara. Seperti biasa setiap anggota parlemen selalu menjadi sorotan kritik, akan tetapi P. Gabriel Manek tetap menunjukkan sikap tegar dan memperlihatkan komitmennya untuk tidak menjadi penjilat siapapun tetapi selalu berbicara untuk kepentingan rakyat yang mengutusnya (Beding, 2000: 35).
Terkait soal pengembangan pastoral di wilayah misi ini, P. Gabriel Manek adalah sosok yang peka terhadap kebutuhan tenaga-tenaga baru dan pendidikan calon imam. Tahun 1950 P. Gabriel Manek memperoleh kepercayaan besar dari Mgr. Yakobus Pesser, SVD Vikaris Apostolis Atambua untuk membuka Seminari Menengah di Lalian. P. Gabriel Manek diangkat menjadi direktur seminari sedangkan P.H. Janssen sebagai Prefek. Dengan demikian tempat pendidikan calon imam dapat lebih dekat bagi calon-calon baru dari Timor. Sayang sekali P. Gabriel Manek menerima tugas sebagai direktur seminari tidak berlangsung lama, karena selang beberapa bulan kemudian Beliau terpilih sebagai Vikaris Apostolis Larantuka-Flores Timur (Beding, 2000: 36).
2. Uskup Pribumi Kedua Indonesia
Pada tahun 1950, Mgr. Hendrikus Leven, SVD pergi ke Roma dalam rangka cuti dan berobat ke Eropa. Dalam kesempatan audiensi dengan Sri Paus Pius XII, beliau menyampaikan permohonan untuk meletakkan jabatan sebagai uskup. Alasan yang diberikan terkait dengan gangguan kesehatan dan usia yang
sudah tidak mendukung untuk tugas penggembalaan umat yang waktu itu berjumlah 265.000 jiwa di seluruh wilayah Kepulauan Sunda Kecil. Mgr. Hendrikus Leven, pada saat itu sudah berusia 67 tahun dan sering sakit-sakitan. Permohonan Beliau diterima baik oleh Sri Paus Pius XII sekaligus memberinya mandat sebagai Administrator Apostolik untuk mentahbiskan tiga uskup baru sebagai pengganti-penggantinya. Itulah satu tanda penghargaan istimewa bagi Mgr. Hendrikus Leven dalam karyanya sebagai seorang uskup misionaris di Indonesia. Tiga uskup baru yang terpilih oleh kuasa Tahta Suci Sri Paus Pius XII adalah Mgr. Antonius Thijssen, SVD untuk wilayah Keuskupan Agung Ende, Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD untuk wilayah Keuskupan Ruteng dan Mgr. Gabriel Manek, SVD untuk wilayah Keuskupan Larantuka di bagian Flores Timur. Hal ini merupakan sebuah berita gembira bagi seluruh umat di seluruh wilayah Kepulauan Sunda Kecil (Beding, 2000: 37).
Seluruh umat Flores Timur dengan penuh rasa syukur mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut peristiwa ini. Pada 25 April 1951, Mgr. Gabriel Manek, SVD ditahbiskan menjadi Uskup Tituler Alinda dan Vikaris Apostolik Larantuka melalui tangan Mgr. Hendrikus Leven, SVD. Para uskup pendamping waktu itu adalah Vikaris Apostolis Semarang: Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, Vikaris Apostolis Makasar: Mgr. Nicolaus Schneiders, CICM, dan Vikaris Apostolis Atambua: Mgr. Yakobus Pesser, SVD. Dalam catatan sejarah perkembangan Gereja Indonesia diceriterakan bahwa Mgr. Gabriel Manek, SVD adalah uskup kedua Indonesia sesudah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (Beding, 2000: 38).
Menghadapi tahbisan uskup, Mgr. Gabriel Manek, SVD memilih motto tahbisan: ”Maria Protegente” yang artinya ‘di bawah perlindungan Bunda Maria’. Motto yang sangat sederhana ini mengandung makna yang sangat dalam. Mgr. Gabriel Manek, SVD mempunyai devosi khusus terhadap Bunda Maria sebagai ibu Gerejanya (Konst., no. 109). Ia menyadari peran Bunda Maria dalam karya agung Kristus untuk menyelamatkan umat manusia. Sebab itu ia sangat yakin bahwa karya misinya tidak pernah terlepas dari doa Bunda Maria. Melalui Bunda Maria ada jalan untuk pergi kepada Yesus, bersatu dengan Yesus dan diutus oleh-Nya untuk menjadi saksi iman dan keselamatan (Beding, 2000: 40).
Mgr. Gabriel Manek, SVD memiliki impian dan cita-cita di awal tugas penggembalaannya yakni bahwa keselamatan dalam Kristus harus disampaikan kepada jiwa-jiwa sebanyak-banyaknya dan harus segera diwartakan agar diimani oleh sebanyak mungkin umat manusia. Untuk mendukung cita-cita ini, Mgr. Gabriel Manek mengutamakan panggilan-panggilan kepada imamat, biara, dan awam militan bagi Kristus. Namun Ia menyadari bahwa hal ini tidak mungkin tercapai tanpa rahmat Tuhan, maka ia mengajak umatnya untuk terus-menerus berdoa bagi karya misi Gereja. Dia sendiri membuat doa untuk kebutuhan ini sebagaimana dikutip oleh Sr. Gabriella, yakni:
Ya Allah, Engkau menghendaki agar semua manusia mencapai keselamatan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Kami mohon: utuslah pekerja-pekerja ke panenan-Mu. Berilah supaya mereka dengan imannya yang teguh mewartakan sabda-Mu. Semoga Injil-Mu dengan cepat tersebar dan jaya di mana-mana dan segala bangsa mengakui Engkau sebagai satu-satunya Allah yang benar, serta Putra-Mu yang Kau utus Yesus Kristus Tuhan kami, yang bersama Dikau hidup dalam kesatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala abad. Amin (Gabriella, 2008b: 2).
Hidup Mgr. Gabriel Manek, SVD menunjukkan imannya yang kuat pada Yesus. Iman dan penyerahan dirinya kepada Yesus Tuhan, terungkap dalam
sebuah doa singkat yang digubahnya sebagaimana dikutip oleh Sr. Gabriella: “Yesus Kristus Anak Allah yang hidup, Terang dunia, aku sembah sujud kepada-Mu, untuk Engkau aku hidup, untuk Engkau aku mati” (Gabriella, 2008b: 3). Doa penyerahan tanpa syarat ini, diwujudkan secara sungguh-sungguh dalam karya pelayanannya sampai akhir hidupnya. Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, bukti tentang penyerahan dirinya yang total ini terlihat dari ekspresi cinta dan belas kasih yang tulus diberikannya kepada mereka yang kecil, miskin dan terbuang (Gabriella, 2008b: 3).
Sebagai gembala ia mengunjungi umat hingga ke dusun-dusun terpencil yang hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Kerja kerasnya mendatangkan hasil yang memadai, setidaknya terlihat dari pesatnya pekembangan jumlah umat. Keberhasilan ini membuat dia memikirkan dengan serius ketersediaan tenaga pastoral untuk karya pelayanan kepada gembalaan yang semakin pesat jumlahnya (Beding, 2000: 40).
3. Bishop of The Poor
Seperti kebanyakan orang yang diilhami oleh Injil Tuhan, Mgr. Gabriel Manek memperlihatkan dalam hidupnya, keseriusannya menjadi kabar gembira bagi orang-orang kecil. Setelah dia pindah ke Amerika tahun 1970, sebagai uskup emeritus, ciri khas hidup dekat dengan orang-orang kecil ini tidak dia tinggalkan. Sebab itu orang suku asli Indian yang merasakan perhatiannya memberinya gelar “Bishop of The Poor” (Gabriella, 2008b: 4). Orang-orang dari suku asli Amerika di wilayah New Mexico mengakui bahwa Mgr. Gabriel Manek adalah uskup dan sahabat orang kecil, miskin, menderita dan terbuang.
Orang Indian adalah orang-orang yang diasingkan di tanahnya sendiri oleh orang-orang Eropa yang datang dengan tujuan mencari keuntungan di Negeri itu. New Mexico sendiri termasuk Negara bagian yang sangat miskin. Mereka masih