Banyak alasan mengapa pelaksanaan kebijakan stabilisasi merupakan tugas yang pelik. Meskipun demikian, analisis makro sampai saat ini cenderung mengarah pada suatu konsensus tentang bagaimana kebijakan harus dilaksanakan dalam keadaan yang serba sulit tersebut. Perdebatan mengenai efektivitas kebijakan fiskal dibanding kebijakan moneter telah menumbuhkan pengakuan bahwa kedua alat tersebut bisa efektif dan harus dipadukan dalam proporsi yang tepat.
Teorema tentang Ketidakefektitan Kebijakan
Jika harga-harga dan upah secara menyeluruh bersifat fleksibel, perekonomian akan bergerak ke arah ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh. Pengangguran memang akan ada, tetapi pada tingkat yang wajar, yaitu bagi mereka yang sedang mencari kerja dan sedang pindah kerja. Di sini tidak diperlukan kebijakan tertentu untuk mempertahankan kesempatan kerja penuh. Jika pemerintah mengumumkan tekadnya untuk menaikkan pengeluaran publik pada tingkat tertentu, semua pelaku ekonomi akan mengharapkan harga untuk naik pada tingkat yang sama. Harga dan upah akan bergerak bersama-sama sehingga nilai riil dari semua faktor pendapatan tidak berubah - sama halnya dengan ilustrasi terdahulu mengenai tingkat inflasi yang mengarah ke keadaan ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh.
Dalam perekonomian semacam itu, semua perubahan yang diharapkan langsung disesuaikan terhadap ekuilibrium dan sistem itu tidak mungkin berubah dari keadaan tersebut kecuali jika terjadi perubahan mendadak yang tidak diharapkan atau bersifat acak. Anggaplah misalnya; jumlah upah dinaikkan berkat desakan tertentu dari serikat pekerja sedangkan produsen belum mengantisipasi kenaikan biaya ini atau karena itu belum menaikkan harga. Nilai riil dari biaya pekerja meningkat dan pada akhirnya terjadilah pengangguran. Dapatkah ini ditanggulangi dengan kebijakan yang ekspansioner? Jawabnya tergantung pada apa yang terjadi dengan pengharapan.
Anggaplah semua pelaku ekonomi memperlihatkan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan ekspansioner, misalnya dengan menaikkan jumlah pengeluaran publik untuk mendorong kenaikan harga. Sebagai reaksi, mereka berasumsi semua harga dan upah akan naik. Hasilnya, nilai riil dari biaya pekerja tidak akan berubah. Variabel-variabel riil lainnya dari sistem tersebut, termasuk tingkat kesempatan kerja, tidak akan terpengaruh oleh kebijakan tersebut. Hal ini tidak efektif. Kebijakan akan dapat mempengaruhi sistem dalam nilai riil hanya jika tindakan tersebut tidak dapat duga dan karena itu itu tidak diantisipasi oleh pelaku perekonomian. Tetapi kebijakan yang dianggap layak cenderung merupakan hal yang dapat di pekirakan sebelumnya, sedangkan kebijakan yang bersifat acak belum tentu merupakan suatu tindakan yang tepat.
Pemikiran ini didasarkan pada asumsi (1) bahwa perubahan kebijakan diantisipasikan dan (2) bahwa antisipasi tersebut mendorong dilakukannya penyesuaian sesegera mungkin tanpa adanya kesenjangan dalam sistem
perekonomian. Jika antisipasi itu tidak sempurna atau jika kesenjangan terjadi, tindakan ekspansioner bisa mendorong kenaikan pemintaan melebihi kenaikan biaya sehingga memperbesar kesempatan kerja. Karena itu teorema yang menyatakan ketidakmungkinan di atas akan tergantung pada validitas empiris dari asumsi (1) dan (2). Karena ketidaksempumaan kita untuk memperkirakan masa mendatang dan dengan adanya keterpakuan dan ketidakluwesan, maka teorema ini tidak bisa dianggap sebagai suatu penilaian yang realistis atas keampuhan dari kebijakan. Dalam dunia nyata, kebijakan stabilisasi, meskipun sukar, namun bisa efektif. Tentu saja antisipasi mengenai pembahasan kebijakan serta kredibilitas dari pengumuman mengenai kebijakan yang diambil akan mempercepat tercapainya hasil yang diharapkan kebijakan tersebut dan memperbesar keefektifannya.
Keseimbangan Menurut Paham Ricardo
Dalil kedua mengenai pengharapan yang rasional dilandaskan pada pilihan antara pembiayaan dengan pajak atau pembiayaan dengan pinjaman. Pada pembahasan sebelumnya kita telah melihat bahwa kedua kebijakan itu berbeda. Kenaikan pengeluaran publik lebih ekspansioner jika dibiayai dengan pinjaman daripada dengan pajak. Efek crowding out terhadap investasi (dengan mengasumsikan jumlah uang yang beredar konstan) mengurangi efek ekspansioner dari pembiayaan dengan anggaran defisit, tetapi tetap lebih besar jika dibanding dengan pembiayaan melalui pajak.
Pendekatan dengan pengharapan yang rasional mempertanyakan apakah memang demikian kenyataannya? Individu yang rasional, jika dihadapkan pada penambahan anggaran yang dibiayai secara defisit, menyadari bahwa pada masa mendatang pajak pasti dinaikkan guna membayar beban bunga dan tambahan hutang. Dia akan menghitung nilai sekarang dari kenaikan pajak masa mendatang tersebut. Nilai sekarang itu sama dengan jumlah yang harus dibayar sekarang jika kenaikan anggaran dibiayai dengan pajak. Pada kedua kasus tersebut terjadi pengurangan nilai bersih dalam jumlah yamg sama. Karena itu, pembiayan dengan pajak atau pinjaman mempunyai efek ekonomi yang seimbang - yaitu bahwa konsumen yang rasional, jika berada dalam posisi yang sama pada kedua kasus tersebut, akan bereaksi dengan cara yang sama tanpa memperdulikan apa pun metode pembiayaan yang dipilih. Karena itu, tidak perlu rasanya mempersoalkan metode mana yang dipilih. Dampak penurunan bukanlah merupakan masalah, begitu juga halnya dengan, bauran kebijakan yang semestinya.
Tetapi, keseimbangan menurut Paham Ricardo ini (Ricardian Equivalence),
yang mengabadikan nama seorang ekonom klasik yang terkenal yaitu Bapak David Ricardo, juga dilandasi oleh asumsi yang tidak realistik. Hampir tak bisa dibayangkan bahwa para konsumen akan mengantisipasikan konsekuensi masa mendatang dari pembiayaan dari pinjaman yang dilaksanakan saat ini. Pemberi pinjaman dan pembayar pajak bukanlah orang ymg sama, undang-undang pajak masa mendatang dan distribusi beban mereka tidaklah pasti, dan tambahan pembayaran bunga mungkin juga akan dibiayai dengan pinjaman lain. Lebih jauh lagi, nilai dari hutang di masa mendatang mungkin juga menurun karena inflasi.
Semua faktor ini menunjukkan bahwa mustahil kiranya setiap orang akan memberikan reaksi yang sama bagi pembiayaan dengan pajak dan pembiayaan dengan pinjaman sehingga tidak ada pengenaan efek kebijakan terhadap tingkat permintaan agregat atau terhadap pembagian output di antara konsumsi dan investasi. Sebagai contoh nyata, defisit besar-besaran pada tahun 1980-an di AS justru disertai oleh tingkat tabungan perorangan yang rendah, bukan tingkat tabungan yang tinggi seperti yang dihipotesiskan oleh pengharapan yang rasional.