• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan

Dalam dokumen DAFTAR ISI. iii. Prakata Daftar Isi (Halaman 157-160)

Konsep penghasilan dasar yang menjadi penentuan kewajiban pajak penghasilan dalam praktiknya adalah penghasilan neto. Seberapa baikkah penghasilan neto digunakan sebagai suatu ukuran kapasitas pajak? Dalam konsep basis pajak, ada dua kandidat utama sebagai basis pajak untuk pajak pribadi, yaitu penghasilan dan konsumsi. Bila kita memilih penghasilan sebagai basis pajak, maka penghasilan, sebagai indeks kapasitas kemampuan membayar pajak, harus didefinisikan sebagai kenaikan total atas kekayaan seseorang. Semua tambahan kemampuan ekonomis (accretion) harus dimasukkan, baik yang teratur ataupun yang fluktuatif, yang diharapkan ataupun yang tidak diharapkan, baik yang terealisasi ataupun yang tidak terealisasi. Kita tidak perlu mempertimbangkan bagaimana penghasilan tersebut digunakan, apakah akan diinvestasikan atau akan dikonsumsi.

Selain itu, penghasilan dari semua sumber yang didefinisikan harus diperlakukan secara seragam dan digabungkan sebagai penghasilan global yang akan dikenakan tarip pajak. Tanpa pengglobalan ini, penerapan tarip yang progresif tidak dapat menghasilkan efek yang diharapkan yaitu mengadaptasi pajak pada kemampuan membayar wajib pajak. Pandangan pajak penghasilan ini banyak diterima oleh berbagai kalangan dewasa ini. Sekarang, konsep tambahan kemampuan ekonomis ini akan dianalisis secara mendalam apa implikasinya dalam praktik dan bagaimana konsep ini diterapkan secara memuaskan dalam perhitungan penghasilan neto.

Penghasilan bruto versus penghasilan neto

Penghasilan dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion concept) harus diukur dalam satuan penghasilan neto, yaitu penghasilan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. Peraturan perpajakan mendefinisikan penghasilan yang akan dikenakan pajak sebagai penghasilan neto karena biaya-biaya yang terjadi dalam memperoleh penghasilan pada umumnya, walaupun tidak selalu, dikurangkan dari penghasilan. Peraturan perundang-undangan juga membolehkan wajib pajak mengurangkan biaya-biaya yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti biaya jabatan dan iuran pensiun. Akan tetapi, perlakuan biaya bunga yang boleh dikurangkan dipertanyakan konsistensinya, terutama berkaitan dengan perlakuan biaya-biaya permodalan lainnya. Walaupun ada pengecualian-pengecualian tertentu, pada umumnya penghasilan yang dapat dikenakan pajak telah dinyatakan dalam satuan penghasilan neto.

Prinsip lain dalam mendefinisikan penghasilan neto adalah bahwa kerugian harus dapat diperlakukan sebagai pengurangan sepenuhnya. Karena tambahan kemampuan ekonomis dirancang untuk mengukur konsumsi plus kenaikan dalam kekayaan bersih, kerugian operasi harus dikurangkan dalam menentukan penghasilan neto dari kegiatan usaha. Kerugian mengurangi

kekayaan bersih sebagaimana keuntungan meningkatkannya. Oleh karenanya, Pemerintah harus konsisten memperlakukan keduanya. Walaupun peraturan perundang-undangan tidak memberikan fasilitas pengembalian pajak, para wajib pajak dapat memperlakukannya untuk mengurangi kewajiban pajak beberapa tahun yang akan datang.

Capital Income versus Labor Income

Berdasarkan konsep tambahan kemampuan ekonomis, sumber penghasilan bukanlah suatu permasalahan. Akan tetapi, beberapa ahli perpajakan secara tradisional membedakan antara penghasilan dari pekerjaan (upah dan gaji) dan penghasilan dari modal, yang menekankan bahwa penghasilan dari pekerjaan harus dikenakan beban pajak yang lebih ringan. Pada beberapa negara maju, ada kredit pajak bagi wajib pajak yang memperoleh penghasilan dari pekerjaan tetapi wajib pajak yang hanya memperoleh penghasilan atas modal tidak memperoleh kredit pajak ini. Hal ini dinilai sebagai ketidakkonsistenan penerapan konsep penghasilan ini.

Penghasilan Riil versus Penghasilan Nominal

Penghasilan adalah alat ukur kemampuan membayar, oleh karenanya harus didefinisikan dalam satuan riil. Kenaikan dalam penghasilan uang yang sepadan dengan kenaikan harga-harga bukan merupakan kenaikan dalam penghasilan riil. Dengan demikian, dalam situasi ini, kewajiban pajak dalam satuan riil sama dengan nol. Pandangan ini menjadi penting ketika tingkat inflasi sangat tinggi. Penghasilan yang Terakumulasi versus Penghasilan yang Terealisasi

Sesuai dengan definisi penghasilan sebagai ukuran peningkatan penghasilan, maka tidak menjadi perbedaan apakah penghasilan tersebut telah diterima secara kas (seperti gaji, upah, dan hasil penjualan aset) ataupun terakumulasi dalam bentuk kenaikan nilai aset yang tidak dijual. Direalisasikan ataupun tidak adalah pilihan portofolio bagi investor dan tidak boleh mempengaruhi penghasilan yang diukur untuk keperluan perpajakan. Hal inilah yang menjadi bagian dari topik kontroversial untuk memajaki capital gains.

Imputed Income

Beberapa orang memiliki aset yang memberikan penghasilan kas; yang lainnya memiliki barang-barang konsumsi jangka panjang yang memberikan imputed

income, contohnya adalah rumah yang ditinggali pemiliknya. Pemilik

mendapatkan imputed rent yang sama dengan penghasilan yang ia dapatkan apabila ia menyewakan rumahnya. Karena kenaikan kemampuan (accretion) didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan bersih dan konsumsi, nilai dari konsumsi yang imputed tersebut harus dimasukkan ke dalam basis pajak. Penghasilan neto, yang condong pada konsep penghasilan kas, tidak memperhitungkan imputed income. Pengabaian ini menyebabkan ketidakadilan perlakuan pajak bagi pemilik rumah dan penyewa.

Pembayaran yang diterima dalam bentuk natura, seperti makanan yang diperoleh dari tanaman dari lahan pribadi, layanan kendaraan kantor atau

keuntungan-keuntungan dari tunjangan-tunjangan natura, juga tidak diperhitungkan dalam penghasilan neto, walaupun seharusnya diperhitungkan dalam konsep penhasilan. Hal ini menjadi penting karena pembayaran dalam bentuk natura, dalam bentuk berbagai tunjangan-tunjangan natura seperti kendaraan kantor, menjadi pengganti penghasilan kas untuk menghindari pajak penghasilan. Dan juga, penerapan imputed income menjadi tidak mungkin apabila dilakukan terlalu jauh. Contohnya, secara konseptual, jasa rumah tangga yang dilakukan sendiri (seperti memasak, mencuci dan memelihara anak) merupakan penghasilan imputed bagi rumah tangga. Akan tetapi, memasukkan penghasilan ini ke dalam penghasilan neto memunculkan permasalahan serius dalam hal pengukuran dan hal-hal lain yang harus diperhitungkan ketika memberlakukan pajak penghasilan atas dasar rumah tangga.

Permasalahan yang lebih membingungkan lagi adalah waktu santai (tidak bekerja). Jika seseorang memutuskan untuk santai (tidak bekerja), ini adalah bukti (seperti yang dinyatakan oleh logika ekonomi) bahwa ia menilai tidak bekerja tersebut sama dengan penghasilan ekuivalen yang hilang karena tidak bekerja. Logika tambahan kemampuan ekonomis (accretion) menyatakan bahwa penghasilan yang diterima dalam bentuk natura, dalam bentuk santai, harus dimasukkan ke dalam basis pajak. Akan tetapi, implementasi dari aturan ini tidak akan mungkin bisa dilakukan.

Penghasilan versus Transfer

Dari sudut pandang ekonom, pendapatan nasional adalah jumlah dari pendapatan faktor selama satu periode, yang juga menyatakan nilai dari output yang diproduksi oleh faktor-faktor tersebut. Transfer yang diterima dari pemerintah atau sumber-sumber swasta (seperti donasi dan hibah) bukan merupakan komponen penghasilan dalam istilah pendapatan nasional. Akan tetapi, perlakuan pajak seharusnya tidak mengikuti aturan dalam perhitungan pendapatan nasional. Pemilihan basis pajak merupakan permasalahan keadilan pajak. Oleh karenanya, penghasilan kena pajak seseorang tidak harus sama dengan bagiannya dalam pendapatan nasional dan juga total penghasilan kena pajak dala suatu negara harus sama dengan total pendapatan nasional.

Warisan dan Hibah

Transfer pribadi, seperti warisan dan hibah, juga tidak dikenakan pajak penghasilan. Transfer seperti ini tidak dikurangkan dari penghasilan oleh pemberi dan juga tidak dilaporkan sebagai penghasilan oleh penerima. Dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion), perolehan warisan atau hibah merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi penerima, seperti juga tambahan kemampuan ekonomis dari sumber-sumber lain, dengan demikian harus dimasukkan ke dalam basis pajak penghasilan bagi penerimanya.

Jika hal ini dilakukan, apakah transfer seperti ini harus dikurangkan dari basis penghasilan pajak pemberi? Tidak selalu, karena konsep penghasilan berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis, bukannya penggunaan. Juga, tidak ada keharusan bahwa basis pajak agregat sama dengan penghasilan total yang didefinisikan dalam pendapatan nasional.

Penghasilan Teratur versus Penghasilan Tidak Teratur

Seringkali dimunculkan argumen bahwa penghasilan yang tidak teratur dan tidak diharapkan harus dimasukkan dalam penghasilan yang dikenakan pajak. Akan tetapi, posisi ini seringkali tanpa alasan yang kuat. Bagaimanapun juga, penghasilan yang tidak teratur dan penghasilan yang teratur sama pengaruhnya bagi kemampuan wajib pajak. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk membedakannya. Walaupun demikian, tarip pajak yang progresif cenderung diskriminatif terhadap penghasilan yang fluktuatif. Permasalahan ini dapat dikurangi dengan menerapkan aturan meratakan penghasilan.

Dalam dokumen DAFTAR ISI. iii. Prakata Daftar Isi (Halaman 157-160)