• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Pelayanan Sosial Dasar

ISU STRATEGIS PENGELOLAAN PERBATASAN

Koordinat 52 Titik Pilar Batas Perbatasan Darat Antara RI dengan PNG

C. Peningkatan Pelayanan Sosial Dasar

1) Minimnya sarana dan prasarana pelayanan kesehatan, termasuk air bersih dan sanitasi lingkungan di kawasan perbatasan.

Terbatasnya sarana dan prasarana pelayanan kesehatan (kesehatan termasuk air bersih dan sanitasi lingkungan) di wilayah pulau perbatasan menyebabkan pulau kecil ini memiliki aksesibilitas yang rendah dan terisolasi dan tertinggal dari wilayah sekitarnya. Tingginya biaya transportasi dan frekuensi kedatangan yang sangat jarang menyebabkan beberapa wilayah di pulau terpencil cenderung terisolir dan tertinggal.

Secara umum tingkat pendidikan masyarakat beserta kondisi prasarana pendidikan di Kawasan Perbatasan Laut sangat rendah. Sebagai contoh, di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, sebagian besar penduduk berpendidikan SD, yaitu sebesar 31,94 persen. Bahkan sebanyak 19,65 persen masyarakat sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Hal ini disebabkan minat terhadap pendidikan masih relatif rendah, dan sarana dan prasarana pendidikan yang ada saat ini masih terbatas.

Kesenjangan pembangunan pulau-pulau perbatasan yang terpencil akibat minimnya fasilitas sosial dan fasilitas umum lainnya telah mengakibatkan tingginya angka kemiskinan dan jumlah keluarga prasejahtera. Selain itu rendahnya tingkat kesehatan, pendidikan, dan keterampilan masyarakat yang berimplikasi pada rendahnya kualitas SDM. Pembangunan di wilayah terpencil relatif membutuhkan biaya yang besar sehingga kurang mendapat perhatian dari Pemerintah dalam pengembangan prasarananya karena dinilai tidak ekonomis, lokasinya jauh dari pusat pertumbuhan (terpencil) serta penduduknya sedikit.

2) Minimnya Sarana dan Prasarana Pendidikan Dasar

Penyebaran penduduk di kawasan perbatasan umumnya tidak merata bahkan di pulau-pulau terluar ada yang tidak berpenghuni dan terpencil.

Penduduk cenderung terkonsentrasi di ibukota kabupaten atau di pusat pertumbuhan, sementara itu di penduduk di wilayah lain masih sangat sedikit. Kondisi ini berdampak terhadap penyediaan sarana prasarana pendidikan dasar di kawasan perbatasan yang minim penduduk yang mengakibatkan kualitas sumberdaya manusia di wilayah perbatasan laut ini sangat minim.

3) Adanya Komunitas Adat Terpencil

Dibeberapa kawasan perbatasan karena lokasinya yang jauh dari pusat pertumbuhan masih banyak komunitas adat terpencil yang memerlukan

perhatian khusus dari pemerintah. Keterbatasan akses baik akses terhadap sarana prasarana maupun terhadap pelayanan sosial dasar. Dibutuhkan komintmen bersama dalam membangun komunitas adat terpencil ini.

D. Penguatan Kelembagaan

Isu startegis kelembagaan di kawasan perbatasan laut adalah

1. Lemahnya koordinasi, integrasi, sinergi dan sinkronisasi ( KISS ) antar sektor dan antar daerah dalam pengelolaan batas wilayah negara

Kondisi di kawasan perbatasan yang relatif kurang maju dibandingkan dengan kawasan lainnya tidak terlepas dari faktor kelembagaan dalam pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan (baik kawasan perbatasan darat maupun laut). Seperti dikemukakan sebelumnya bahwa masalah-masalah kelembagaan sebagai berikut:

1. Rencana pembangunan wilayah pada buku III RPJMN masih bersifat makro (unit analisis pulau besar) dan belum memberikan orientasi yang kuat bagi pembangunan kawasan sehingga diperlukan rencana yang lebih rinci untuk memenuhi kebutuhan pengelolaan kawasan perbatasan.

2. “Pendekatan sektoral” masih lebih dominan dibandingkan “pendekatan regional” dalam perencanaan pembangunan nasional, karena faktor

“lokasi” masih dipandang sebatas tempat pelaksanaan kegiatan departemen/instansi tanpa memperhatikan kepentingan pendayagunaan ruang di daerah, akibatnya kegiatan yang direncanakan sektor tidak saling bersinergi dalam mengisi dan mendayagunakan ruang di daerah (memunculkan ego sektoral).

3. Bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional baru memberikan arahan pemanfaatan ruang kawasan yang bersifat makro. Sementara itu Rencana rinci RTRWN berupa RTR Kawasan Strategis Nasional Perbatasan hingga saat ini belum tersedia (masih berupa Draft Raperpres RTR Kawasan Perbatasan), sehingga pembangunan kawasan perbatasan belum memiliki acuan yang kuat dalam implementasinya.

4. Sejak dicanangkannya penanganan kawasan perbatasan sebagai salah satu arahan kebijakan RPJMN 2005-2009, seluruh K/L memiliki perhatian yang besar terhadap pembangunan kawasan perbatasan. Hal tersebut terlihat dari besarnya anggaran sektoral yang dialokasikan bagi pembangunan kawasan perbatasan baik dalam penguatan pertahanan keamanan maupun pengembangan sosial ekonomi. Namun demikian

menjadi suatu kenyataan bahwa masing-masing sektor belum bersinergi satu sama lain khususnya kegiatan yang dampaknya secara signifikan bagi daerah yang menjadi sasaran kegiatan. Disamping itu beberapa sektor belum menjalankan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) secara kosisten dalam pembangunan kawasan perbatasan sehingga cenderung tumpang tindih dengan sektor lainnya.

5. Belum memadainya kapasitas pemerintah daerah dalam pengelolaan kawasan perbatasan mengingat penanganannya bersifat lintas administrasi wilayah pemerintahan dan lintas sektoral, sehingga masih memerlukan koordinasi dari institusi yang secara hirarkis lebih tinggi, belum tersosialisasikannya peraturan dan perundang-undangan mengenai pengelolaan kawasan perbatasan, terbatasnya anggaran pembangunan pemerintah daerah; masih adanya tarik menarik kewenangan pusat-daerah, misalnya dalam pengelolaan kawasan konservasi seperti hutan lindung dan taman nasional sebagai international inheritance yang selama ini menjadi kewenangan pemerintah pusat (Kementerian Kehutanan).

6. Pengelolaan kawasan perbatasan belum dilakukan secara terpadu dengan mengintegrasikan seluruh sektor terkait. Permasalahan beberapa kawasan perbatasan masih ditangani secara ad hoc, sementara (temporary) dan parsial serta lebih didominasi oleh pendekatan keamanan (security) melalui beberapa kepanitiaan (committee), sehingga belum memberikan hasil yang optimal. Komite-komite kerjasama penanganan masalah perbatasan yang ada saat ini antara lain General Border Committee (GBC) RI – Malaysia, Joint Border Committee (JBC) RI – Papua New Guinea; dan Joint Border Committee RI-Timor Leste. Namun sejak 17 September 2010 telah terbentuk lembaga yang khusus menangani perbatasan, yaitu Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Untuk itu sangat diperlukan penguatan kelembagaan BNPP agar dapat berperan sebagaimana yang diamanatkan.

7. Selama ini belum ada payung hukum yang jelas mengatur tentang kewenangan pengelolaan kawasan perbatasan, walaupun ada UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah namun tidak secara eksplisit menjelaskan kewenangan daerah dalam mengelola kawasan perbatasan. Sedangkan kewenangan pemerintah pusat pada pintu-pintu perbatasan (border gate) yang meliputi aspek kepabeanan, keimigrasian, karantina, serta keamanan dan pertahanan (CIQS).

8. Kepastian hukum bagi suatu instansi dalam operasionalisasi pembangunan di wilayah perbatasan sangat diperlukan agar peran dan

fungsi instansi tersebut dapat lebih efektif. Contohnya, Perum Perhutani yang ditugasi Pemerintah untuk mengelola HPH eks PT. Yamaker di perbatasan Kalimantan-Malaysia baru didasari oleh SK Menhut No.

3766/Kpts-II/1999 tanggal 27 Mei 1999, namun tugas yang dipikul Perhutani meliputi menata kembali wilayah perbatasan dalam rangka pelestarian sumber daya alam, perlindungan dan pengamanan wilayah perbatasan dan pengelolaan hutan dengan sistem tebang pilih. Tugas ini bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah sehingga diperlukan dasar hukum yang lebih tinggi.

9. Pengelolaan kawasan lindung lintas negara belum terintegrasi dalam program kerja sama bilateral antara kedua negara, misalnya keberadaan Taman Nasional Kayan Mentarang yang terletak di Kabupaten Malinau dan Nunukan, di sebelah Utara Kalimantan Timur, sepanjang perbatasan dengan Sabah Malaysia, seluas 1,35 juta hektare. Taman ini merupakan habitat lebih dari 70 spesies mamalia, 315 spesies unggas dan ratusan spesies lainnya

10. Kemampuan diplomasi yang lemah dari delegasi Indonesia sering dimanfaatkan oleh negara lain, misalnya Malaysia. Dimungkinkan adanya taktik coba-coba dari Malaysia untuk mencari kelengahan Indonesia. Taktik ini pernah dicoba dalam mengklaim pulau Ligitan dan Sipadan dan akhirnya sangat berhasil. Berdasarkan realita, setiap ada sengketa dengan Indonesia, Malaysia pasti akan menawarkan solusi ke Mahkamah Internasional karena Malaysia mengetahui diplomasi Indonesia lemah. Untuk itu, selain perlu memiliki lembaga yang kredibel mengenai batas wilayahnya dengan negara lain, diperlukan penguatan kapasitas SDM baik secara fisik maupun mental untuk menjaga keutuhan NKRI.

2. Rendahnya pembiayaan pembangunan bagi kawasan perbatasan Rendanya pembiayaan pembangunan bagi kawasan perbatasan ditandai dengan minimnya pertumbuhan ekonomi kawasan di Perbatasan.

Peningkatan keberpihakan pemerintah dalam pembiayaan pembangunan, terutama untuk pembangunan sarana dan prasarana ekonomi di wilayah-wilayah perbatasan dan pulau-pulau kecil melalui, antara lain, penerapan berbagai skema pembiayaan pembangunan seperti: pemberian prioritas dana alokasi khusus (DAK), public service obligation (PSO) dan keperintisan untuk transportasi, penerapan universal service obligation (USO) untuk telekomunikasi, serta program listrik masuk desa sangat diperlukan disini.

3. Belum memadainya kapasitas pemerintah daerah dalam pengelolaan kawasan perbatasan

Pemerintah daerah ada yang telah memiliki badan pengelola perbatasan dan ada yang belum, untuk daerah yang belum biasanya pengelolaan perbatasan berada di Bappeda, kondisi ini kedepan perlu dibuat suatu pedoman pengelolaan kawasan perbatasan yang sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan perkembangan kawasan perbatasan. Penguatan kapasitas kelembagaan ditingkat daerah sangat diperlukan dalam upaya pembangunan kawasan perbatasan untuk menjadikan kawasan perbatasan sebagai beranda depan negara.

BAB IV