BAB 4 TATA KELOLA KAWASAN EKONOMI KHUSUS:
4.5 Penutup
Secara umum, temuan penelitian mengindikasikan, bahwa terdapat kesenjangan yang cukup besar antara desain konsep dan realitas empiris implementasi tata kelola KEK. Atau dengan kata lain, operasionalisasi konsep tata kelola KEK belum berjalan sesuai dengan desain yang telah ditetapkan oleh pihak pemerintah sebagaimana tertuang dalam sejumlah regulasi yang ada. Sehubungan dengan hal ini, hasil studi mengidentifikasi sedikitnya ada 6 (enam) persoalan mendasar yang dihadapi dalam implementasi tata kelola KEK Mandalika dan Tanjung Kelayang.
Enam persoalan yang dimaksud adalah: a) Belum terbangunnya persamaan persepsi dikalangan pemangku kepentingan (stakeholders) dalam mengartikulasi, maupun implementasi konsep tata kelola KEK; b) Belum semua Kementerian terkait menyerahkan kewenangan kepada Administrator KEK; c) Inklusifitas Sosial dalam lembaga penyelenggara KEK cenderung diabaikan. Misalnya saja, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama belum terakomodasi didalam keanggotaan Dewan Kawasan. Atau dengan kata lain, Struktur dan personel Lembaga penyelenggara KEK sangat bersifat State Centre; d) Aplikasi kearifan lokal dalam desaian pariwisata pada zona KEK,
93 | P u s a t P e n e l i t i a n E k o n o m i L I P I
belum jelas, dan dipertanyakan oleh Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama; e) mekanisme
backward dan forward linkages antara zona inti KEK dengan wilayah penyengga, belum diatur
secara jelas. Kondisi ini kemudian telah menimbulkan kesan bahwa penyelenggaraan sangat eksklusif; f) Belum terbangunnya sinergitas antara pelaksanaan tata kelola (governance) dalam zona KEK dengan tata kelola pemerintahan daerah di luar zone KEK, utamanya dengan pemerintah kabupaten. Kondisi ini kemudian telah berimplikasi pada munculnya sikap “Kompromis-Kritis” dikalangan pemerintah kabupaten. Pada satu sisi, “berkompromi” dengan agenda dan kebijakan KEK yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan provinsi, namun pada sisi lain, juga melakukan “diskresi, atau bahkan “resistensi” untuk mewujudkan agenda dan kepentingan yang dimiliki.
Pertanyaannya kemudian adalah, pada konteks teoritis, apa yang dapat dijelaskan oleh kesimpulan umum temuan penelitian di atas bila dikaitkan dengan konsep good governance?. Secara singkat dapat dikatakan bahwa, jika dibaca dengan lensa perspektif good governance, tata kelola KEK relatif telah memenuhi parameter good, karena konstruksi konseptual yang dibangun telah mengakomodasi prinsip-prinsip dasar good governane, antara lain, partisipasi, akuntabilitas, dan transparansi. Dalam narasi yang lebih eksplisit, indikasi good governance dalam tata kelola KEK pada dua kasus yang diteliti (Mandalika dan Tanjung Kelayang), antara ditunjukkan oleh desain organisasi penyelenggara yang relatif efisien, dengan struktur yang tidak rumit, namun kaya dengan fungsi (miskin struktur-kaya fungsi). Bila ditilik lebih jauh uraian tugas, fungsi, dan tanggung jawab dari masing-masing unit didalam struktur lembaga penyelenggara KEK tersebut—mulai dari Dewan Nasional, Dewan Kawasan, Administrator, sampai dengan Bandan Usaha Pengelola—terlihat dengan jelas telah menegakkan prinsip akuntabilitas dan transparansi.
Kembali ditegaskan di sini, bahwa secara teoritis, konstruksi konsep dan desain kebijakan tata kelola KEK tersebut, relatif telah sejalan dengan konsep good governance. Utama, telah menegakkan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan kejelasan legal framework dalam pengambilan keputusan maupun implementasi kebijakan, sebagaimana dikemukakan oleh Chhotray and Stoker (2009: 14). Konstruksi konsep dan desain kebijakan tata kelola KEK yang berlaku saat ini, juga mengkonfirmasi aplikasi dari enam prinsip good governance sebagaimana
94 | P u s a t P e n e l i t i a n E k o n o m i L I P I
dikemukakan oleh Hyden dan Court (2002). Walaupun, aplikasi dari prinsip keadilan (fairness) cenderung telihat samar-samar.
Namun demikian, menurut penulis, konsep dan desain kebijakan tata kelola KEK tersebut, memiliki sedikitnya ada 3 (tiga) kelemahan mendasar, yaitu: a) konstruksi konseptualnya yang hanya bertumpu pada upaya mengintegrasikan antara struktur dan aktor; b) peran dari kultur (tata nilai) cenderung diabaikan; c) desain kelembagaan sangat banal mencerminkan karakter
state-centre. Implikasi dari adanya tiga kelemahan mendasar ini, maka tidak mengherankan jika
kemudian, pada level praksis, implementasi tata kelola KEK banyak menghadapi persoalan, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil penelitian tentang KEK Mandalika di Nuasa Tenggara Barat, dan KEK Tanjung Kelayang di Bangka Belitung.
Temuan penelitian ini mengisyaratkan bahwa konstruksi konsep dan desain kebijakan tata kelola yang secara teoritis dapat dikategorikan good tidak serta merta dapat dioperasionalkan pada level praksis, bila tidak proper. Pada konteks inilah kita sampai pada pemahaman akan pentingnya melakukan revitalisasi konsep maupun desain kebijakan tata kelola KEK dengan merujuk pada konsep proper governance. Sebagaimana dikemukakan oleh Hidayat (2016: 164), sejatinya, keberhasilan dari konsep governance pada level implementasi tidak hanya terletak pada apakah konsep tersebut good atau bad, tetapi lebih pada apakah tepat (proper) atau tidak-nya konsep governance yang digunakan. Proper governance yang dimaksud di sini tidak lain adalah, suatu tata kelola yang tepat, pantas, dan "nyaman", sesuai dengan karakteristik sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang dimiliki suatu komunitas. Oleh Karena itu, tegas Hidayat (2016: 164), konsep proper governance harus bertumpu pada, sedikitnya, empat prinsip utama, yaitu: Developmental, Democratic, Socially Inclusive, dan Cultural and Historical Context (Local Content).
Bila empat prinsip dasar proper governance tersebut dioperasionalkan pada konteks tata kelola KEK, secara umum dapat dikatakan bahwa prinsip pertama dan kedua, relatif telah diakomodasi. Namun demikian, prinsip ketiga (Socially Inclusive), dan prinsip keempat (Cultural
and Historical Context/Local Content), cenderung diabaikan. Atas dasar kenyataan ini, maka
cukup beralasan jika direkomendasikan bahwa konsep maupun desain kebijakan tata kelola KEK niscaya menghendaki revitalisasi untuk mengakomodasi dua prinsip proper governance yang
95 | P u s a t P e n e l i t i a n E k o n o m i L I P I
terabaikan tersebut. Pada konteks yang lebih luas, revitalisasi konseptual itu krusial dilakukan dalam rangka menghadirkan konstruksi tata kelola KEK yang tidak saja mengintegrasikan antara struktur dan aktor, tetapi juga mengakomodasi peran penting dari “kultur” (tata nilai) yang berlaku dalam masyarakat.
Lebih konkritnya, dalam upaya mengoperasionalkan prinsip proper governance untuk revitalisasi konsep tata kelola KEK, diantara langkah-langkah penting yang harus dilakukan adalah: a) mengakomodasi unsur society (tokoh masyarakat, tokoh agama, dan perwakilan pelaku ekonomi) kedalam keanggotaan Dewan Kawasan, sehingga dengan demikian, akses dan kontrol masyarakat terhadap keberadaan KEK dapat lebih terjamin; b) mengatur secara eksplisit mekanisme backward dan forward linkages antara zona inti KEK dengan wilayah penyengga, sehingga dapat tercipta inklusifitas ekonomi; c) mengakomodasi dan mengaplikasikan kearifan lokal dalam desain dan realisasi kegiatan pariwisata pada zona inti KEK, sehingga prinsip local
content terlihat secara nyata; d) menunjuk pejabat kepala Administrator KEK dari kalangan
profesional, sehingga persoalan “ambiguitas” terkait status Administrator, dan kecemburuan yang terjadi dikalangan para pejabat Pemerintah Daerah terhadap Administrator dapat diatasi.
Selanjutnya, dalam rangka merealisasikan revitalisasi konsep tata kelola tersebut pada tingkat praksis, maka dipandang perlu untuk mengavaluasi dan merevisi beberapa Peraturan Perundang-Undangan yang sejauh ini dijadikan sebagai landas-pijak dalam penyelenggaran KEK. Diantara regulasi tersebut adalah, Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 124 Tahun 2012, tentang Perubahan atas Perpres No. 33 Tahun 2010, Tentang Dewan Nasional Dan Dewan Kawasan Kawasan Ekonomi Khusus.
96 | P u s a t P e n e l i t i a n E k o n o m i L I P I