Kondisi Lokasi KKPD Selat Dampier
Kawasan konservasi perairan daerah Selat Dampier memiliki luas 336 200 ha. Kawasan dihubungkan dengan titik batas pada koordinat 130o 27‟53” BT dan 00o 31‟05” LS menuju ke Timur dengan koordinat 130o39‟53” BT dan 00o25‟13” LS di Teluk Kabui. Selanjutnya ke Timur koordinat 130o 42‟13” BT dan 00o 22‟ 47” LS ke arah Tenggara sampai koordinat 130o 47‟32” BT dan 00o26‟36” LS.
Batas ini selanjutnya ke arah Selatan pada koordinat 130o47‟ 47” BT dan 00o29‟ 38” LS menuju Tenggara pada koordinat 131o04‟ 33” BT dan 00o 46‟ 01” LS dan
ke arah Tenggara pada koordinat 131o13‟26” BT dan 01o 00‟ 59” LS terus ke arah Selatan pada koordinat 131o13‟28” BT dan 01o 02‟ 23” LS. Batas selanjutnya ke arah Selatan Barat Daya pada koordinat 131o11‟ 03” BT dan 01o 06‟ 48” LS serta ke arah Barat pada koordinat 131o 03‟ 30” BT dan 01o 07‟00” LS. Selanjutnya ke arah Pulau Salawati Utara ke arah Selat Sagawin pada koordinat 130o 38‟ 01” BT dan 00o57‟ 41” LS. Batas ini terus dilanjutkan ke arah Utara Selat Sagawin pada koordinat 130o 36‟ 37” BT dan 00o54‟46” LS serta menuju ke arah Barat. Batas terus ke arah Pulau Batanta Selatan sampai koordinat 130o 21‟ 03” BT dan 00o55‟ 19” LS. Berikutnya ke Barat pada koordinat 130o 21‟47” BT dan 00o 55‟20” LS ke Utara kembali ke titik awal batas.
Di dalam KKPD Selat Dampier terdapat 8 distrik atau kecamatan yaitu: Waigeo Barat Kepulauan, Waigeo Selatan, Meosmansar, Batanta Utara, Batanta Selatan, Salawati Barat, Salawati Utara and Salawati Tengah, dengan kampung sebanyak 29 kampung atau desa. Kawasan KKPD ini sejak dahulu menjadi pusat dari beberapa jenis kegiatan perikanan dibanding kawasan lainnya di Raja Ampat. Aktivitas perikanan ilegal termasuk bom ikan dan pengambilan sirip ikan hiu sudah puluhan tahun berlangsung, sebelum Pemda Raja Ampat menerapkan pengelolaan kawasan konservasi di seluruh perairan Raja Ampa t tahun 2008. Penduduk lokal juga memiliki lahan kebun atau pertanian yang sempit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Daerah konservasi Selat Dampier sudah berubah menjadi pusat wisata bahari dan wisata alam lainnya seperti misalnya pengamatan burung (bird watching).
Lokasi KKPD Selat Dampier terletak di sentral kawasan perairan Raja Ampat. Nama KKPD ini menandakan bentuk fisik berupa perairan selat yang kaya akan nutrien, yang sangat dibutuhkan dalam mendukung keberadaan sistem ekologi yang kaya dengan keanekaragaman hayati dan kelimpahan biota laut. Perairan selat ini memiliki arus yang kuat yang menyebabkan fenomena upwelling air dingin. Adanya fenomena upwelling yang berupa pengadukan massa air yang berbeda suhu dan membawa nutrien dibutuhkan bagi bio ta laut seperti karang untuk membentuk terumbu. Di lokasi tersebut ikan memperoleh makanan (feeding ground), mengasuh anak-anak (nursery ground), dan untuk pemijahan (spawning ground).
Tipe dan jenis ekosistem yang ada di Kepulauan Raja Ampat secara umum meliputi ekosistem terumbu karang, ekosistem lamun, ekosistem mangrove dan danau air asin (marine lake). Ada 4 jenis tipe terumbu karang yang ditemukan di
20
Kabupaten Raja Ampat yaitu: terumbu karang tepi (fringing reef), karang penghalang (barrier reef), gosong karang/taka (patch reef), dan karang cincin (atol reef). Menurut DeVantier et al. (2009), kawasan perairan Raja Ampat memiliki keragaman bentang terumbu (reefscape) sebanyak 14 kawasan dan habitat terumbu sebanyak 75 lokasi.
Sumber : DeVantier et al (2009)
Gambar 4. Klasifikasi terumbu karang di Raja Ampat Keterangan:
14 reefscapes (bentang terumbu) (skala 100 -1 000 km) and 75 habitat terumbu (skala10–100 km). 1 = Ayau (5), 2 = Wayag (3), 3 = Kawe (5), 4 = Waigeo Barat (10), 5 = Waigeo Timur (11), 6 = Gag (4), 7 = Selat Dampier (5), 8 = Mios (2), 9 = Batanta (3), 10 = Sorong (4), 11 = Kofiau (9), 12 = Salawati (1), 13 = Misool Barat-Laut (4), 14 = Misool Tenggara (6)
21
Hutan mangrove di kawasan konservasi Selat Dampier tumbuh subur di Waigeo Selatan, Gam Selatan, Batanta Utara dan bagian timur hingga tenggara
Salawati, dan juga di sekitar pulau-pulau kecil di sekitarnya. Hasil kajian Firman dan Azhar (2006), mendapatkan bahwa di Raja Ampat lebih jarang dibandingkan dengan daratan Papua dengan jumlah jenis 25 spesies. Padang lamun yang subur tumbuh antara bagian selatan pulau Waigeo dan Gam, utara pulau Batanta dan timur pulau Salawati. Padang lamun ini adalah habitat dari duyung (Dugong dugon) serta menjadi lokasi dalam pembesaran (nursery) bagi larva- larva ikan jenis lainnya.
Kawasan konservasi perairan daerah Selat Dampier terdapat 2 selat, yakni Selat Dampier dan Selat Segawin. Kedua selat ini menjadi lokasi migrasi dari beberapa jenis mamalia laut (cetacean) dari Lautan Pasifik ke lautan Hindia dan sebaliknya. Menurut jenisnya meliputi paus sperma (sperm whale) (Physeter Macrocephalus), paus pembunuh (killer whale) (Orcinus orca), masyarakat Selat Dampier menyebutnya rowetroyer, paus bryde (Balaenoptera brydei), paus bryde kerdil (Balaenoptera edeni), lumba-lumba hidung botol umum (Tursiops truncatus), lumba- lumba hidung botol Indopasifik (Tursiops aduncus), paus pembunuh palsu (Pseudorca crassidens), lumba- lumba spinner (Stenella longirostris), paus pemandu sirip pendek (Globicephala macrorhynchus), duyung (Dugong dugon) (Wilson et al 2010 dan UPTD 2011).
Kondisi Perairan
Arus laut yang terjadi di kawasan perairan Raja Ampat dipengaruhi oleh arus khatulistiwa utara dan arus khatulistiwa selatan. Arus khatulistiwa utara, merupakan arus panas yang mengalir menuju ke arah barat sejajar dengan garis khatulistiwa dan ditimbulkan serta didorong oleh angin pasat timur laut, sedangkan arus khatulistiwa selatan, merupakan arus panas yang mengalir menuju ke barat sejajar dengan garis khatulistiwa. Arus ini ditimbulkan atau didorong oleh angin pasat tenggara (Pemda Raja Ampat 2006). Pengamatan dengan data citra satelit Aviso memperlihatkan kondisi arus permukaan di KKPD Selat Dampier diperlihatkan pada Gambar 5a, arus permukaan laut selama musim barat (1 Desember 2008 – 1 Pebruari 2009) dan Gambar 5b, kondisi arus permukaan laut selama musim timur (1 Juni 2009 - 1 Agustus 2009).
Kondisi rata-rata arus memperlihatkan bahwa kawasan KKPD Selat Dampier memiliki arus yang besarnya kurang dari 1 m detik-1. Pengukuran harus di perairan Sapokren berkisar antara 5.07 – 19.60 cm detik-1 dan arus ini di perairan ini didominasi oleh pengaruh pasut (Sakka 2012). Letak kawasan KKPD Selat Dampier antara 2 selat yakni Selat Dampier dan Selat Sagawin memperlihatkan kondisi arus pasang surut yang deras (Pemda Raja Ampat 2006). Kondisi ini sangat baik untuk kehidupan terumbu karang karena pengaruh arus dapat cepat membersihkan sedimen atau lumpur yang menutupi polip karang.
22
Gambar 5. Hasil citra satelit Aviso tentang kondisi arus permukaan di
perairan Raja Ampat selama: (a) musim barat (1 Desember 2008 - 1 Februari 2009) dan (b) musim timur (1 Juni 2009 - 1 Agustus 2009)
Untuk mengetahui gambaran konsentrasi klorofil-A di lokasi penelitian maka digunakan data citra satelit Aqua-Modis Level 3. Pengamatan terhadap konsentrasi klorofil- a di perairan KKPD Selat Dampier terlihat pada Gambar 6 a dan 6 b. Dari gambar tersebut terlihat bahwa saat musim barat konsentrasi klorofil-a sekitar 0.25 – 0.35 mg m-3 dan pada musim timur sekitar rata-rata adalah 0.2 mg m-3. Pengaruh angin selatan pada bulan Juni hingga Agustus terlihat membawa sebagian nutrien dari peraiaran Sorong Selatan ke dalam perairan Raja Ampat. Pengaruh ini juga cukup mempengaruhi kawasan pantai di Selat Dampier meningkat sampai pada level konsentrasi klorofil-a 0.5 mg m-3. Konsentasi klorofil-A ini mempengaruhi tingkat kesuburan perairan menjadi lebih tinggi sehingga menguntungkan biota pemakan plankton (herbivora). Namun bila konsentrasi ini semakin meningkat, justru mengurangi kecerahan perairan yang mempengaruhi binatang karang mendapatkan sinar matahari untuk pertumbuhannya. Menurut Smith (1999), bila perairan memiliki kandungan
23 klorofil-a lebih kecil dari 1 mg m-3 digolongkan sebagi perairan oligotrofik, nilai klorofil-a 1 – 3 mg m-3 termasuk dalam perairan mesotrofik, nilai klorofil-a 3 - 5 mg m-3 termasuk perairan eutrofik dan nilai klorofil-a lebih besar di 5 mg m-3. termasuk hypertrofik. Dengan demikian, perairan KKPD Selat Dampier tergolong dalam perairan oligotrofik.
Gambar 6. Hasil Citra Satelit Aqua-Modis Level 3 tentang kondisi klorofil-A di perairan Raja Ampat selama: (a) musim barat (1 Desember 2011 – 1 Februari 2012) dan (b) musim timur (1 Juni 2012 - 1 Agustus 2012)
Kondisi Sosial Ekonomi Pertumbuhan Penduduk
Kawasan konservasi Perairan Daerah Selat Dampier adalah kawasan konservasi yang dijumpai jumlah kampung dan distrik terbanyak di Kabupaten Raja Ampat. Jumlah distrik ada 24 dan sebanyak 7 distrik (29%) dijumpai di KKPD Selat Dampir masing- masing adalah: Waigeo Selatan, Meosmansar, Batanta Selatan, Salawati Barat, dan Batanta Utara, Salawati Utara dan Salawati Tengah. Jumlah kampung dan kelurahan yang dijumpai di Raja Ampat adalah 121 kampung dan sebanyak 36 kampung (30%) berada di KKPD Selat Dampier.
Jumlah total penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2012 adalah 45 079 jiwa dan sebanyak 10 557 jiwa (25%) dijumpai di KKPD Selat Dampier. Kepadatan rata-rata penduduk yang tinggal di kawasan ini masih tergolong sangat kecil yakni sebanyak 6.9 jiwa ha-1 dibandingkan dengan penduduk di ibu kota Raja Ampat, Waisai, jumlahnya sebesar 8 560 jiwa dengan kepadatan 156.9 jiwa ha-1. Jumlah penduduk terpadat di KKPD ini dijumpai di Distrik Salawati Tengah sebanyak 11.92 jiwa ha-1. Hal ini sejalan dengan jumlah rumah tangga di distrik tertinggi yakni sebanyak 537 (lebih 25%) dari total 2 513 rumah tangga. Namun demikian jika dilihat dari rata-rata anggota rumah tangga maka distrik ini terkecil yang hanya sebesar 3.56 jiwa per rumah tangga, lebih kecil dari rata-rata anggota rumah tangga 4.6 jiwa.
24
Tabel 8. Kondisi peduduk di distrik-distrik dalam KKPD Selat Dampier Tahun 2012 Distrik Luas Daerah (km2) Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan Penduduk (Jiwa km-2) Jumlah Rumah Tangga Rata-Rata Anggota Rumah Tangga Waigeo Selatan 310.763 1750 5.63 375 5 Meosmansar 224.081 1641 7.32 309 5 Batanta Utara 250.861 907 3.62 168 5 Batanta Selatan 205.250 1310 6.38 270 5 Salawati Barat 133.859 897 6.70 195 5 Salawati Tengah 160.631 1913 11.91 523 4 Salawati Utara 240.946 2139 8.88 509 4 1526.391 10557 7.20 2 349 5
Sumber : BPS Raja Ampat, diolah (2013)
Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2012 sebesar 2.1% per tahun dan rata-rata laju pertumbuhan penduduk untuk 4 tahun ke belakang (2009-2012) sebesar 1.6%. Rasio pertumbuhan penduduk yang tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar 20.9%, yang disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah Raja Ampat pasca pemekaran daera h. Dengan tingkat kepadatan rata-rata penduduk di KKPD Selat Dampier yang masih sangat jarang yakni hanya 7.20 jiwa km-2, akan memberikan kondisi yang sangat positif untuk upaya konservasi karena tekanan antropogenik terhadap sumberdaya pesisir masih kecil, hal ini karena kebutuhan akan sumberdaya protein hewani dari ikan dan biota laut lainnya masih sedikit. Demikian juga dengan kebutuhan lahan untuk pemukiman dan fasilitas fisik lainnya di daratan masih terbatas, sehingga tidak banyak mengorbankan keberadaan hutan yang ada di pulau-pulau kecil. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan penduduk di Kabupaten Raja Ampat secara umum masih rendah. Data pada Tabel 9 menunjukkan bahwa dari tahun 2008 - 2012 persentase penduduk yang tidak berijasah dan ijasah SD masih lebih 60% dari seluruh penduduk Raja Ampat. Sampai dengan tahun 2012, persentase penduduk yang tidak lulus SD sebanyak 23.98 % dan lulusan SD 41.57 %. Demikian juga penduduk Raja Ampat yang hanya menyelesaikan pendidikan SMP dan SLTA masing- masing baru mencapai 16.80 % dan 13.90 %. Sementara itu, persentase penduduk Raja yang telah mencapai pendidikan di perguruan tinggi pada tahun 2012 adalah sebanyak 3.76 %. Angka tersebut mencerminkan masih sangat rendahnya tingkat pendidikan penduduk yang ada di Raja Ampat. Dengan kondisi ini, sulit bagi warga Raja Ampat untuk bisa berpartisipasi untuk membangun daerah tanpa kehadiran pendatang yang memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan. Untuk itu, pemerintah wajib memberikan peningkatan ketrampilan kepada masyarakat lokal misalnya pelatihan-pelatihan ketrampilan praktis yang sangat dibutuhkan memenuhi kebutuhan tenaga kerja di Raja Ampat.
Rendahnya tingkat pendidikan di Raja Ampat tidak lepas dari faktor- faktor persoalan aksesibilitas, keterbatasan sarana dan prasarana, ketidakmampuan
25 ekonomi, dan rendahnya perhatian orang tua akan nasib pendidikan anak-anak mereka. Penyebab lainnya adalah faktor kedisiplinan, integritas dan komitmen para pendidik dalam menjalankan tugasnya sebagai guru di kawasan pulau-pulau terpencil. Dengan kondisi ini mempengaruhi motivasi para peserta didik untuk mengikuti proses pendidikan dengan baik. Untuk itu, pemerintah daerah Raja Ampat segera membenahi sektor ini melalui peningkatan APBD setiap tahun, pengadaan guru yang bermutu, peningkatan fasilitas belajar dan mengajar, dan menyiapkan kurikulum yang relevan dengan kondisi daerah untuk menghasilkan murid yang kreatif.
Tabel 9. Persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut ijasah terakhir Kabupaten Raja Ampat
Tahun TidakMempunyai Ijasah SD SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah (%) 2008 28.89 45.08 15.54 9.05 1.44 100 2009 33.74 30.17 22.23 11.20 1.64 100 2010 33.07 35.45 13.04 12.56 5.88 100 2011 31.89 36.18 18.83 9.63 2.84 100 2012 23.98 41.57 16.80 13.90 3.76 100
Sumber : BPS Raja Ampat (2013)
Mata Pencaharian
Sebagian besar masyarakat Raja Ampat menggantungkan hidupnya dari sumberdaya alam baik di darat maupun di laut yang ada di wilayah mereka. Ketergantungan pada pengaruh alam menyebabkan masyarakat yang hidup dalam KKPD Selat Dampier umumnya berprofesi sebagai nelayan sekaligus seba gai petani. Aktivitas mereka sangat dipengaruhi oleh kondisi musim, terutama pada saat musim teduh penduduk mengandalkan laut untuk memenuhi penghidupan mereka dengan melakukan penangkapan ikan. Sebaliknya pada musim ombak besar aktivitas mereka diarahkan ke darat untuk berkebun dan berburu hewan liar. Mata pencaharian dengan pola ini biasanya dijumpai pada lokasi kampung yang memiliki lahan yang cukup besar. Pada kampung-kampung yang tinggal di pulau- pulau kecil atau yang tidak memiliki akses tanah yang cukup besar, aktivitas mata pencaharian difokuskan semata-mata untuk kegiatan penangkapan ikan.
1. Perikanan
Kegiatan perikanan yang dijalankan di Raja Ampat dari tingkat skala kecil sampai dengan perusahan perikanan skala besar. Namun secara umum, perikanan yang ada di Raja Ampat dan KKPD Selat Dampier khususnya didominasi perikanan skala kecil dengan pola subsisten. Sebagian besar komunitas masyarakat lokal di kawasan ini tinggal terisolir dan terpencil serta sangat mengandalkan sumberdaya laut untuk pemenuhan makanan mereka dengan hasil yang ada di sekitarnya. Perikanan skala besar (komersial) cukup berkembang seiring dengan kebutuhan akan komoditi perikanan baik untuk ekspor maupun kebutuhan lokal. Komoditas perikanan yang diproduksi dari Raja Ampat berasal dari penangkapan di laut dan kegiatan budidaya. Penangkapan terutama dengan
26
pada empat komoditas utama yakni kerapu, napoleon, lobster dan ikan teri. Produksi terbesar adalah ikan teri, kemudian diik uti oleh kerapu, napoleon dan lobster.
Selain kegiatan penangkapan, komoditas perikanan yang paling menonjol di daerah ini adalah budidaya mutiara. Budidaya mutiara dapat dijumpai pada perairan teluk yang tenang dan masih bersih. Di Seluruh Raja Ampat d ijumpai sebanyak 6 perusahaan yang memproduksi mutiara tahun 2012 sebanyak 1 563 240 gram. Selain produksi butiran mutiara, produk turunan budidaya ini adalah berupa: mutiara reject, daging siput, induk dan anakan siput mutiara, kulit kerang dan keshi pearls yang nilai ekonominya tinggi.
Tabel 10. Data produksi perikanan Kabupaten Raja Ampat selama 3 tahun
No Jenis Ikan Tahun
2010 2011 2012 1 Kerapu (kg) 33 800 44 900 40 500 2 Napoleon (kg) 1 140 1 590 1 645 3 Lobster (kg) 1 045 2 193 330 4 Teri (kg) 63 520 99 669 50 487 5 Ikan campuran (kg) 18 000 57 560 116 338 6 Mutiara (gram) 1 305 639 1 321 608 1 563 240 7 Mutiara Reject (gram) 273 747 278 975 357 179
8 Daging siput mutiara (kg) 893 2 192 4 410
9 Induk siput mutiara (ekor) 5 440 566 6 030 10 Anakan siput mutiara (ekor) 50 000 50 000 125 000
11 Kulit kerang (kg) 34 692 310 060 339 515
12 Keshi Pearls (gram) 11 170 14 731 12 423
Sumber : Dinas perikanan Raja Ampat (2013)
Jenis lain yang dapat dikembangkan juga adalah budidaya rumput laut dan budidaya kerapu. Budidaya rumput menjadi program Dinas Perikanan dan Kelautan Raja Ampat yang cukup berhasil dikembangkan pada tahun-tahun awal berdirinya Kabupaten ini. Namun program ini mengalami kendala pemasaran produksi rumput laut yang dihasilkan sehingga kemudian ditinggalkan oleh nelayan. Untuk budidaya kerapu, sangat potensial dikembangkan di kawasan dimana nelayan atau pembudidaya dapat menyediakan makanannya berupa ikan rucah. Salah satu lokasi tersebut adalah Distrik Salawati Utara, dimana di kawasan perairan ini terdapat banyak alat tangkap sero. Ikan- ikan yang bernilai ekonomis rendah yang tertangkap dalam alat tangkap ini, dapat dijadikan pakan untuk budidaya kerapu.
Terkait dengan implementasi pengelolaan di dalam KKPD Selat Dampier dan kawasan konservasi lainnya di Kabupaten Raja Ampat ada kecenderungan aktivitas penangkapan ikan yang mengeksploitasi sumberdaya semakin berkurang. Tabel 11 menunjukkan bahwa alat-alat tangkap yang masih beroperasi dalam kawasan ini adalah bagan ikan teri dan cumi-cumi, jaring insang hanyut, rawai dasar dan pajeko, namun demikian terlihat alat tangkap ini terdistribusi tidak
27 merata pada setiap distrik dalam KKPD Selat Dampier. Peluang pengembangan perikanan tangkap masih terbuka terutama di subzona perikanan berkelanjutan dan budidaya, yang luasnya mencapai 57.60 % dari total kawasan konservasi perairan Selat Dampier. Perikanan tangkap yang perlu yang dapat dikembang adalah jenis-jenis perikanan pelagis seperti tuna, cakalang, layang dan lemuru. Pelatihan ketrampilan nelayan dan bantuan sarana tangkap kepada nelayan lokal adalah salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat.
Tabel 11. Jumlah alat tangkap yang beroperasi di perairan KKPD Selat Dampier Tahun 2012 Distrik Bagan Teri Bagan Cumi- Cumi Jaring Insang Hanyut Rawai Dasar Pajeko Waigeo Selatan 8 1 - - - Meosmansar - - - - - Batanta Utara - - - - - Batanta Selatan - - - - - Salawati Barat 3 - 34 2 9 Salawati Tengah - - - - - Salawati Utara 6 - - - -
Sumber : Dinas perikanan Raja Ampat (2013)
2. Pariwisata
Kawasan perairan dalam KKPD Selat Dampier merupakan pusat kegiatan pariwisata perairan di Raja Ampat. Sampai tahun 2013, di KKPD ini telah terdapat dive resort sebanyak 10 lokasi. Selain itu, terdapat juga homestay milik masyarakat lokal dan kapal wisata laut (liveaboard) sebanyak 40 unit yang dikelola swasta. Selain wisata bahari, lokasi darat dalam KKPD ini memiliki potensi untuk wisata burung (birds watching), situs-situs budaya, dan hutan tropis yang masih asli.
Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan (Gambar 7). Sampai dengan tahun 2013 jumlah wisata
yang datanya diambil dari pembelian PIN masuk dalam kawasan konservasi Raja Ampat sebanyak 11 137 orang. Dari jumlah tersebut kunjungan wisatawan
internasional atau mancanegara 8 275 orang dan dari wisatawan nusantara 2 860 orang. Data jumlah kunjungan wisatawan dari tahun 2007 - 2013 menunjukkan kecenderung peningkatan wisatawan pertahun terhadap wisatawan mancanegera dan wisatawan nusantara masing- masing rata-rata sebesar 50% dan 105% (DKPA 2013).
28
Sumber : DKPA (2013)
Gambar 7. Pertumbuhan kunjungan wisata di Kabupaten Raja Ampat selama 7 tahun
Kunjungan wisatawan ini akan semakin meningkat seiring dengan semakin baiknya sarana dan prasarana wisata Raja Ampat dan promosi wisata yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Raja Ampat dan pemerintah pusat serta para pengusaha wisata di kawasan ini. Wisatawa n internasional yang berkunjung ke Raja Ampat berasal dari berbagai negara antara lain: Amerika Serikat (37%), Jerman (12%), Prancis (8%), Australia (7%), Belanda (6%) dan Jepang (5%) (Gambar 8).
Sumber : DKPA ( 2013)
Gambar 8. Persentase asal wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 J u m la h w is a ta w a n (o r a n g ) Wisatawan mancanegara Wisatawan nusantara Total wisatawan 51% 18% 7% 21% 1% 2% Eropa Asia Australia Kanada&Amerika Utara Afrika Amerika Selatan
29 Kondisi Sosial Budaya
Masyarakat adat di Raja Ampat
Dalam UU Otonomi K husus bagi Provinsi Papua Nomor 21 Tahun 2001 dijelaskan bahwa adat adalah kebiasaan yang diakui, dipatuhi dan dilembagakan, serta dipertahankan oleh masyarakat adat setempat secara turun-temurun. O leh karena itu, pemerintah provinsi (Papua dan Papua Barat) wajib mengakui, menghormati, melindungi, memberdayakan dan mengembangkan hak-hak masyarakat adat sesuai ketentuan peraturan hukum yang berlaku. Dengan demikian masyarakat adat adalah warga masyarakat asli Papua yang hidup dalam wilayah dan terikat serta tunduk kepada adat tertentu dengan rasa solidaritas yang tinggi di antara para anggotanya.
Masyarakat adat yang pertama-tama (indigenous people) mendiami Kepulauan Raja Ampat adalah orang atau suku Ma‟ya. Suku Ma‟ya tersebar kemudian menyebar dan menempati 4 pulau besar dan sekitar 600 lebih pulau- pulau kecil yang ada di kawasan ini. Penyebaran ini kemudian membentuk sebanyak 13 sub suku, masing- masing adalah: (1) di Pulau Waigeo menetap 4 sub suku yaitu Ambel, Langanyan, Wawiyai dan Kawe; (2) di Pulau Batanta dijumpai 2 sub suku yakni Bata dan O lon; (3) di Pulau Salawati dijumpai 5 sub suku masing- masing adalah Tipin, Mocu, Kawit, Saorof dan Fiawat; (4) di Misool terdapat sub suku Matbat dan Matlou.
Terjadinya hubungan antara masyarakat Pulau Biak-Numfor di Papua dan Raja Ampat dengan kawasan di sebelah barat yakni Maluku Utara dan Pulau Seram, memungkinkan terjadinya migrasi orang dari Pulau Biak-Numfor ke Raja Ampat. Mereka menempati pulau sekitar Meosmansuar dan Pulau Gam, serta sebelah timur dan utara Pulau Waigeo. Suku-suku pendatang ini hampir tidak bisa dibedakan dengan penduduk asli Raja Ampat karena proses interaksi dan akulturasi budaya melalui proses perkawinan.
Keberadaan orang Biak ke tanah Raja Ampat melahirkan sub suku Biak Raja Ampat atau sering disebut Biak Beser atau Biak Beteuw. Sebagian besar mereka tinggal di bagian selatan dan barat Pulau Waigeo, Pulau-pulau Kofiau dan Boo, dan Pulau Babi di sekitar Misool. Sub suku Biak lainnya adalah Usba dan Wardo yang dijumpai di Waigeo Timur dan Waigeo Utara serta Kepulauan Ayau di utara Raja Ampat. Selanjutnya terjadi pula migrasi penduduk dari Kepulauan Maluku (Provinsi Maluku dan Maluku Utara) khususnya dari pulau-pulau Tidore, Ternate, Halmahera dan Seram ke kawasan Raja Ampat. Perkawinan antara orang Biak Beser dengan Ternate/Tidore melahirkan sub suku Umka, sedangkan perkawinan antara orang Biak dengan Ternate/Tidore disebut Kafdarun.
Bahasa yang dipakai bagi orang Maya di Raja Ampat dikenal masing- masing dengan: (1) bahasa Ambel, (2) bahasa Matbat dan (3) bahasa Laganyeng. Bahasa Ambel dipakai di kawasan Teluk Mayalibit, Kapadiri dan Kabare. Sedangkan bahasa Matbat penuturnya hanya dijumpai di Pulau Misool. Untuk bahasa Laganyeng adalah bahasa yang digunakan pada sebagian besar kawasan adat suku Maya. Khusus untuk bahasa Biak, merupakan bahasa yang dipakai secara umum yang oleh masyarakat suku Biak dengan dialek yang berbeda-beda.
30
Sistem Kepemimpinan Tradisional
Sistem kepemimpinan tradisional di daerah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) menurut Mansoben (1995) dibedakan atas 4 sistem atau tipe politik yakni: (1) Bigman atau pria berwibawa, diperoleh dari kema mpuan individual, kekayaan material, kepandaian berkomunikasi, keberanian dalam memimpin perang, kekuatan fisik, dan bermurah hati; (2) Sistem kepemimpinan O ndoafi, merupakan kedudukan dan birokrasi tradisional pada satu suatu kampung atau etnik tertentu; (3) Sistem kepemimpinan kerajaan, diperoleh berdasarkan pewarisan sesuai dengan senioritas kelahiran dan klen; (4) Sistem kepemimpinan