SAPI POTONG DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
3. Kulit dan Tulang. Kulit dan tulang harus diolah lebih lanjut untuk kepentingan usaha berbahan kulit ataupun tulang
8.6. Subsistem Pendukung Agribisnis Sapi Potong di Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur
8.6.2. Peran Koperasi Dalam Pengembangan Sapi Potong
Peran koperasi di dalam pengembangan sapi potong telah dilakukan oleh Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD) Provinsi Nusa Tenggara Timur. PUSKUD merupakan koperasi sekunder yang memilki unit usaha yang salah satunya adalah bidang peternakan. Bidang peternakan telah dimulai sejak awal didirikannya dan mulai diselenggarakan secara efektif pada tahun 1987. Berdasarkan hasil diskusi dengan Sekretaris PUSKUD NTT dijelaskan bahwa sejak tahun 1987 hingga 2001, PUSKUD lebih banyak melakukan perdagangan sapi potong dibandingkan dengan usaha budidyanya. PUSKUD juga telah mencoba melakujkan penjajagan kerjasama dengan para peternak, namun bentuk kemitraan belum mapan dan usaha petenakan sapi potong belum efektif.
Pada tahun 2002, PUSKUD mulai mengembangakan pola kemitraan yang lebih strategis dengan peternak. Kerjasama yang dilakukan dengan peternak mengarah pada pola contract
farming dengan tujuan usahanya adalah usaha penggemukan
dan pembibitan sapi potong, khususnya dengan peternak yang ada di Pulau Timor (meliputi beberapa kabupaten/kota, seperti Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah
Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan sebagainya). Sejarah berkembangnya pola kemitraan secara formal di NTT ini merupakan respon dari lepasnya Provinsi Timor Timur menjadi sebuah Negara di tahun 1999. Respon tersebut dilakukan dengan berusaha memberdayakan petani di Daratan Timor agar terjadi peningkatan pendapatan masyarakat. Dengan adanya peningkatan pendapatan untuk masyarakat maka diharapkan dapat mengurangi kemiskinan khususnya rumah tangga petani.
“Kita berfikir bahwa akan terjadi ketimpangan antara Timor Leste dan Timor Barat. Hal tersebut yang mendasari mulai dari tahun 2002, kita melakukan kerjasama, awalnya dengan petani kemudian petani tersebut kita fasilitasi untuk membentuk koperasi sehingga otomatis anggota-anggota yang menjadi binaan kami adalah anggota koperasi, dan koperasi tersebut adalah anggota PUSKUD.”
(Wawancara dengan Sekretaris PUSKUD NTT, 2019)
Pola kerjasama yang dibangun diantaranya adalah dengan memberikan Sapi Bali bakalan yang kemudian dipelihara petani untuk digemukkan selama beberapa bulan. Standar yang ditetapkan oleh PUSKUD sebagai inti adalah pada saat berat sapi sudah mencapai 275 kg, sapi tersebut akan dijual ke PUSKUD karena juga bertindak sebagai off-taker bagi peternak. Peran yang dilakukan PUSKUD adalah menjamin bahwa sapi potong yang dipelihara peternak akan terjual dan peternak akan mendapatkan pendapatan pada saat waktu yang sudah ditetapkan.
Pola kemitraan yang dibangun oleh PUSKUD sebenarnya tidak hanya diterapkan pada usaha penggemukan saja. Model kemitraan tersebut juga diterapkan pada usaha pembibitan. Namun demikian, pada usaha pembibitan belum memiliki jaminan keberlanjutan. Hal ini disebabkan oleh karakteristik usaha pembibitan membutuhkan investasi jangka panjang dan
turn-over rate-nya cukup lama sehingga kebuthan modal
lembaga keuangan karena resiko usaha pembibitan sangat tinggi. PUSKUD berpendapat bahwa:
“… usaha pembibitan sebenarnya harus dikerjakan oleh pemerintah karena turnover-nya terlalu panjang, sehingga kita lebih fokus kepada penggemukan saja.”
(Wawancara dengan Sekretaris PUSKUD NTT, 2019)
Model kemitraan antara PUSKUD dan Peternak merupakan salah satu model kemitraan di NTT yang telah menerapkan kontrak secara formal dengan peternak sapi potong. Isi kontrak mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak. Secara umum pihak peternak berkewajiban untuk memelihara dengan baik, menyediakan lahan hijauan, perkandangan, dan menginformasikan jika terjadi sesuatu pada ternak seperti sakit atau mati. Pihak inti yaitu PUSKUD berkewajiban untuk menyediakan bakalan sesuai kebutuhan peternak, pendampingan teknis budidaya, dan menyediakan pasar untuk hasil panen ketika bobot sapi telah mencapai minimal 275 kg.
Pada pola kemitraan ini, calon plasma yang mengajukan diri untuk bermitra dengan inti harus mengajukan aplikasi dengan persyaratan memiliki lahan untuk pakan dan kandang. Selanjutnya calon plasma akan diseleksi oleh PUSKUD sebagai inti khususnya terkait dengan sumberdaya lahan yang dimiliki, perkandangan, dan rekam jejak pada pemeliharan sapi potong. Setelah calon plasma terpilih sebagai plasma maka tahapan selanjutnya adalah pemilihan sapi bakalan yang nanti siap dipelihara oleh plasma. Sapi bakalan yang siap digemukkan didapatkan dari pasar hewan lokal di Kota Kupang. Para peternak sebagai calon plasma bersama dengan pihak inti secara bersama-sama memilih calon bakalan di pasar hewan sesuai dengan standar bakalan. Selain itu, sapi bakalan juga bisa didapatkan dari peternak yang ingin menjual sapi bakalan kepada PUSKUD.
Standar sapi bakalan yang akan dipelihara sangat bervariasi. Hal ini erat kaitannya dengan ketersediaan sapi bakalan di
pasaran yang saat ini ketersediannya sangat terbatas. Pihak inti dan plasma bersepakat bahwa sapi bakalan yang akan dipelihara memiliki bobot badan antara 140 kg hingga 200 kg. Berat badan sapi bakalan ditimbang dan dicatat sebagai bobot badan awal yang tercantum di dalam kontrak antara inti dan plasma. Proses penimbangan disaksikan oleh para pengurus koperasi primer dan dilakukan secara terbuka sehingga kedua belah pihak mengetahui.
Bobot badan awal untuk sapi bakalan tersebut akan mempengaruhi lama pemeliharaan. Hal ini harus dipahami oleh kedua belah pihak sebab standar penjualan oleh off-taker adalah 275 kg berat hidup. Akibatnya, semakin rendah bobot badan sapi bakalan maka cenderung semakin lama dipelihara oleh peternak. Lama pemeliharaan tentu saja juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan input-input lain seperti pendampingan teknis, pakan, obat-obatan hingga tantangan iklim yang sangat ekstrem di NTT. Kondisi iklim dan cuaca di NTT yang sangat esktrim khususnya terkait pada ketersediaan air dan hijauan menjadi tantangan yang sangat serius dalam mengembangkan pola kemitraan yang berkelanjutan.
“… berat 200 kg sekitar 6 bulan, 120 kg sekitar 1 sampai 2 tahun, berarti total pemeliharaan per petani 6 bulan sampai 2 tahun.”
(Wawancara dengan PUSKUD, 2019)
Pengalaman yang dilakukan oleh PUSKUD selaku inti dalam pola kemitraan ini mengundang ketertarikan lembaga keuangan baik nasional maupun internasional untuk mendanai model kemitraan ini. Salah pemodal untuk usaha penggemukan sapi potong ini adalah National Cooperative Business Association (NCBA) dari Amerika Serikat yang tertarik mendanai proyek yang dilakukan PUSKUD NTT tersebut. Namun demikian, lembaga keuangan dalam konteks pola kemitraan ini lebih banyak berhubungan dengan PUSKUD selaku inti belum berhubungan dengan peternak. Dukungan lembaga keuangan kepada peternak diperlukan dalam
kaitannya dengan penyediaan input selama proses pemeliharaan. Gambar 51 menunjukkan bahwa peran PUSKUD belum menjadi avalist bagi peternak karena lembaga keuangan masih terbatas berhubungan dengan inti. Peran PUSKUD sebagai inti akan sangat bergantung pada dukungan lembaga keuangan. Jika tidak ada dukungan dari lembaga keuangan maka contract farming tidak akan berjalan dengan baik. Inti akan mengalami keterbatasan modal dan berdampak pada peternak yang tidak akan lagi mendapatkan akses pasar dari PUSKUD.
Gambar 51
Pola Kemitraan PUSKUD dan Peternak (Sumber: Priyono dan Priyatno, 2018)
Saat ini, pola kemitraan usaha peternakan sapi potong tidak hanya terbatas pada sebatas contract farming antara PUSKUD dan peternak. Desain kemitraan telah berkembang secara kelembagaan koperasi yang terstruktur dari PUSKUD, KUD dan Koperasi Peternak (KOPNAK). Struktur kelembagaan koperasi ini terus berkembang salah satunya dengan adanya pola kemitraan usaha sapi potong sejak tahun 2002. Model
contract farming yang diterapkan oleh PUSKUD kemudian
menjadi aktivitas utama dalam kerangka koperasi. Dengan demikian proses budidaya tidak saja hanya menjamin pasar
bagi peternak, tetapi juga menjamin kualitas produk bagi aktor di rantai pasokan. PUSKUD saat ini memiliki anggota sejumlah 79 koperasi primer yang berupa KUD dan KOPNAK. Perkembangan KOPNAK cukup pesat dengan adanya program
contract farming tersebut.
“Yang memelihara sapi kami arahkan untuk membentuk koperasi peternakan yang sampai dengan hari ini ada 45 koperasi peternakan yang tersebar di Daratan Timor dan ada juga di Flores. Dari 45 koperasi, 44 nya ada di Pulau Timor (Tidak termasuk kota kupang). Sejak tahun 2002, kami sudah memberikan mitra kepada petani, kumulatifnya sudah sekitar 59.000 ekor.”
(Wawancara dengan PUSKUD, 2019)
Hasil diskusi dengan Sekretaris PUSKUS NTT di tahun 2019 tersebut juga menyebutkan bahwa jumlah peternak yang bermitra sapi potong dengan PUSKUD tinggal sedikit. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1. NCBA yang telah bekerjasama dengan PUSKUD NTT sejak tahun 1992 – 2005 berdampak pada pengurangan modal kerjasama, padahal modal dari NCBA bisa untuk mendanai input produksi kepada peternak
2. Tidak adanya kepastian kuota sapi yang diberikan pihak Dinas Peternakan Provinsi NTT padahal kuota sapi ini bisa memberikan kepastian adanya jaminan pasar bagi PUSKUD untuk menjual sapi hasil penggemukan oleh peternak.
3. Ada beberapa miss-management di dalam pengelolaan kemitraan
8.6.3. Peran Asosiasi Pedagang Sapi Potong Bagi