• Tidak ada hasil yang ditemukan

SAPI POTONG DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

3. Kulit dan Tulang. Kulit dan tulang harus diolah lebih lanjut untuk kepentingan usaha berbahan kulit ataupun tulang

8.5. Subsistem Pemasaran

8.5.1. Potensi Pasar Sapi Potong

Potensi pasar sapi potong di Nusa Tenggara Timur dapat dibagi dua, yaitu pasar domestik dan pasar di luar NTT. Permintaan sapi potong di Nusa Tenggara Timur relatif cukup besar, yatu di atas 68 ribu ekor pemotongan per tahun (Gambar 43). Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi daging sapi menjadi salah satu prioritas konsumsi bagi masyarakat di NTT, selain daging babi dan ikan laut. Sayangnya, 60% - 80% pemotongan sapi untuk skala domestik didominasi oleh sapi betina, padahal pemerintah setempat sudah memasang pemberitahuan di setiap RPH secara tertulis pelarangan

pemotongan ternak betina produktif serta sanksi yang akan diberikan. Akan tetapi, pemberitahuan tersebut tidak menurunkan minat untuk tetap memotong sapi betina dengan berbagai alasan. Apabila kondisi ini terus dibiarkan dapat menjadi kontra produktif terhadap pengembangan sapi potong di NTT karena pabrik sapi potong terus mengalami penurunan. Oleh karena itu, harus ada upaya khusus mencegah banyaknya pemotongan sapi betina produktif secara tegas.

Gambar 43

Pasar Demand Sapi Potong di Nusa Tenggara Timur (Sumber: Dinas Peternakan Provinsi NTT, 2019; BPS Provinsi

NTT, 2018)

Adapun potensi pasar kedua adalah pasar sapi potong antar pulau. Sebagai provinsi yang sudah terkenal sebagai lumbung sapi di Indonesia, Provinsi NTT telah sejak lama mengeluarkan sapi potong ke luar NTT, baik untuk keperluan antar provinsi ataupun antar negara. Hal ini menjadi bukti bahwa provinsi ini telah menjadi lumbung sapi nasional.

Adapun potensi pasar sapi potong ke luar NTT dapat dilihat pada Gambar 43. Berdasarkan gambar tersebut, jumlah pengeluaran sapi potong dari tahun 2015 – 2018 mengalami

peningkatan. Hal ini menunjukkan minat konsumen di luar Provinsi NTT atas sapi-sapi dari NTT (Sapi Bali dan Sapi Sumba Ongole) cukup besar, baik untuk digemukkan kembali, dibiakan, ataupun untuk keperluan ibadah qurban.

Saluran Pemasaran Sapi dan Daging Sapi

Secara umum dapat digambarkan subsistem pemasaran sapi dan daging sapi di Provinsi NTT (Gambar 44). Pada gambar tersebut terlihat pola saluran pemasaran sapi potong dan daging sapi di NTT. Ada dua saluran pemasaran untuk pemasaran sapi potong, sedangkan untuk daging sapi ada tiga saluran pemasaran.

Gambar 44

Saluran Pemasaran Sapi dan Daging Sapi di Nusa Tenggara Timur

Secara garis besar, saluran tataniaga sapi potong diperuntukkan bagi perdagangan ke luar Provinsi NTT, sedangkan untuk pasar lokal cenderung ke saluran tataniaga

daging sapi. Penjelasan rinci dari Gambar 44 adalah sebagai berikut:

1. Saluran Tataniaga Sapi Hidup. Saluran ini lebih dikhususkan pada perdagangan sapi hidup untuk kebutuhan luar provinsi. Ada dua saluran tataniaga dalam perdagangan sapi hidup, yaitu saluran 3 tingkat dan 4 tingkat.

a. Peternak sapi tidak terlalu kesulitan untuk menjual sapinya. Para pedagang sapi sudah terdapat disetiap kabupaten/kota. Motif penjualan sapi bagi para peternak lebih dari pada untuk mempertahankan hidup dan sebagai tabungan. Harga sapi Bali dan Sumba Ongole dalam bentuk hidup adalah Rp 29.000 – 30.000/kg perberat hidup, akan tetapi harga tersebut bisa turun jika peternak menjual sapinya dalam kondisi ada kebutuhan mendesak, harga mencapai 26.000 – 28.000/kg/berat hidup.

b. Pedagang kecil, yaitu pedagang sapi tingkat desa atau kecamatan yang memiliki kerjasama secara tidak tertulis dengan pedagang besar di tingkat kabupaten/kota. Para pedagang kecil ini mampu mengumpulkan sapi 2 – 10 ekor sapi bakalan dari peternak yang dibayar dengan tunai. Para pedagang kecil ini membeli sapi dari para peternak dengan cara taksiran. Pembelian sapi dilakukan oleh pedagang kecil ini apabila dapat order dari pedagang besar untuk kiriman ke luar provinsi.

c. Pedagang Besar di NTT merupakan pedagang yang memiliki akses ke pedagang besar di luar Provinsi NTT. Umumnya, mereka masih memiliki hubungan yang kuat dengan para pedagang besar di luar Provinsi NTT karena permodalan dari pedagang besar di NTT dipasok dari pedagang besar di luar NTT. Harga sapi yang diterima di pedagang besar NTT dari penjualan sapi dari pedagang kecil adalah Rp 32.000 – 33.000/kg/berat hidup dengan cara di timbang. Jadi, apabila pedagang kecil tersebut terdapat kesalahan taksiran di tingkat peternak terhadap berat sapi yang

dibeli adalah resiko yang harus ditanggung oleh pedagang kecil tersebut. Para pedagang besar di NTT memiliki asosiasi, yaitu HP2SKI (Himpunan Peternak dan Pedagang Sapi dan Kerbau Indonesia). Para pedagang besar ini harus memiliki perusahaan agar dapat mengajukan kuota ke pemerintah kabupaten/kota karena ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kuota sapi dari pemerintah daerah. Para pedagang besar di NTT ini disebut sebagai perusahaan pengirim sapi oleh pemerintah daerah.

d. Pedagang Besar di luar Provinsi NTT. Pedagang ini merupakan pembeli sapi yang posisinya berada di luar Provinsi NTT. Umumnya, para pedagang ini sebagai pemasok modal bagi para pedagang besar di NTT. Para pedagang besar ini menerima sapi di pelabuhan-pelabuhan tujuan dari kapal tol laut Camara Nusantara (CN). Selanjutnya, sapi-sapi yang dikirim dari NTT tersebut ada yang langsung dijual untuk dipotong dan ada juga yang digemukkan terlebih dahulu sebelum di jual. Harga jual sapi di tingkat pedagang ini adalah Rp 44.000 – 45.000/kg/berat hidup.

e. Pasar Lili adalah pasar hewan di mana para peternak bisa menjual langsung ternak sapi di pasar tersebut. Konsumen yang datang ke pasar hewan tersebut adalah pedagang kecil ataupun pedagang besar.

f. Konsumen atau end users untuk sapi-sapi dari NTT adalah para pedagang daging sapi yang ada di kota-kota besar.

2. Saluran tataniaga daging sapi. Saluran ini sebenarnya mencerminkan perdagangan sapi di tingkat domestik NTT. Apabila dipetakan, ada dua saluran pemasaran yang ada di tataniaga daging sapi, yaitu:

a. Saluran satu tingkat adalah di mana pedagang daging langsung membeli sapi dari peternak dengan cara ditaksir. Umumnya, harga yang diterima para pedagang daging tersebut dalam bentuk sapi hidup adalah Rp 30.000/kg. Kesalahan taksiran dapat berakibat pada hasil daging sapi yang diperoleh. Selanjutnya, sapi yang

dibeli dari peternak tersebut di potong di RPH. Khusus di RPH Oeba Kota Kupang, sapi-sapi yang dipotong kebanyakan sapi betina. Beberapa alasan yang diberikan oleh para pedagang daging tersebut adalah bahwa saat ini kesulitan mendapatkan sapi bakalan karena kebanyakan bakalan dijual ke luar provinsi dan mereka berdalih bahwa sapi betina yang dipotong non produktif sehingga harganya lebih murah, yaitu Rp 27.000 – 28.000/kg/berat hidup. Namun, hasil survey juga memperlihatkan terdapat beberapa sapi produktif yang dipotong di RPH tersebut. Harga jual daging di RPH adalah rata-rata Rp 100.000/kg.

b. Saluran dua tingkat, yaitu para pedagang sapi membeli sapi dari peternak, kemudian menjualnya ke pedagang daging yang langsung di potong di RPH dan selanjutnya daging dari hasil pemotongan di jual di pasar. Biasanya, pedagang daging membeli sapi dari pedagang sapi dengan harga lebih mahal dibandingkan dengan pedagang daging membelinya langsung ke peternak. Di samping itu, ada juga pedagang daging yang membeli sapi di Pasar Hewan, khususnya di pasar hewan Lili di Kabupaten Kupang.

c. Saluran 3 tingkat adalah dari pedagang sapi hidup didistribusikan sapi ke pedagang daging untuk di potong di RPH yang kemudian dagingnya dijual ke industri pengolahan daging, seperti baso, lalu hasil produksi baso dijual ke konsumen.

Tambahan catatan untuk perdagangan sapi hidup, didasarkan pada hasil survey menunjukkan bahwa perdagangan ternak sapi meliputi berbagai macam tipe ternak dan atau periode tumbuh sebagai berikut:

1. Penjualan sapi muda atau bakalan. Umumnya sapi muda atau bakalan induk atau penggemukkan memiliki mobiltas yang tinggi. Penjuala untuk sapi pada tipe ini dapat dijual kapan saja dan ditukar tambah dengan milik tetangga atau pedagang.

2. Jantan dewasa. Saluran pemasaran untuk sapi jantan bakalan realtfi tidak berubah, yaitu mulai dari peternak, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang pengumpul kabupaten/antar pulau seterusnya ke luar NTT. Disamping itu, untuk pasar local (konsumen akhir) umumnya hanya pada hari raya kurban serta untuk kebutuhan seremonial adat, serta pada saat kasus /kondisi tertentu seperti ternak jantan yang cacat maka dipotong RPH lokal.

3. Ternak sapi betina. Pemotongan sapi betina menjadi isu penting di NTT karena sapi betina banyak di potong RPH. Alasan para pelaku memotong sapi betina karena kekurangan ternak jantan. Sapi jantan lebih banyak dipasarkan keluar Provinsi NTT. Para pemotong sapi betina, biasanya mendapatkan sapi betina dari peternak langsung atau dari pasar hewan. Oleh karena itu, pemotongan betina produktif menjadi isu penting di wilayah NTT terutama di Pulau Timor.

Pasar Hewan Lili

Salah satu fasilitas peternakan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kupang, Provinsi NTT adalah pasar hewan. Pasar hewan ini menjadi salah satu pusat pemasaran ternak sapi, kuda, dan kerbau terbesar yang ada di Kabupaten Kupang atau bahkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Para pelaku di pasar hewan ini terdiri dari peternak dan para pelaku perdagangan, seperti pedagang kecil ataupun pedagang besar dan pedagang antar pulau. Berbagai jenis ternak besar yang dijual, baik ternak betina, anak, bakalan, dan jantan sehingga memberikan banyak variasi pilihan kepada para pelaku tataniaga.

Hasil survey ke Pasar Hewan Lili menunjukkan bahwa tingkat penjualan sapi di pasar hewan berkisar antara 500 ekor – 700 ekor perhari pada setiap hari pasar, yaitu hari Rabu dan Kamis. Hasil penjualan dari pasar ini dengan berbagai tujuan, yaitu untuk dipotong di RPH, digemukkan, pembiakan, ataupun untuk penjualan ke luar wilayah NTT. Retribusi yang dikenakan

atas fasilitas pemerintah ini adalah Rp 1.000/ekor sapi. Oleh karena itu, pasar hwan ini memberikan sumbangan pendapatan bagi Pemda Kabupaten Kupang. Adapun aktivitas di Pasar Hewan Lili dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 45

Kegiatan di Pasar Hewan Lili, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Pasar Antar Pulau

Nusa Tenggara Timur sudah terkenal sebagai suplier sapi hidup ke berbagai provinsi di Indonesia. Sebagai salah satu produsen sapi bagi pulau lainnya, provinsi ini terus meningkatkan populasi ternak Sapi Bali dan Sumba Ongole. Peternak rakyat mendominasi usaha sapi di provinsi ini dan hanya sedikit perusahaan yang bergerak di investasi sapi potong. Didukung dengan sumber daya alam yang memadai, usaha pembibitan sapi yang dikelola oleh para peternak

mampu memberikan kehidupan bagi keluarga peternak. Oleh karena itu, untuk menjaga agar populasi sapi potong di NTT tidak menyusut, pemerintah daerah melakukan pembatasan pengeluaran (kuota) sapi antar pulau.

Pemerintah daerah melalui Dinas Peternakan Provinsi NTT melakukan pembatasan pengeluaran sapi perkabupatennya. Dasar penetapan kuota adalah ajuan dari tiap kabupaten/kota yang selanjutnya direkapitulasi di tingkat provinsi. Tiap-tiap perusahaan diberi kesempatan untuk mengajukkan permintaan kuota sapi untuk satu tahun pengiriman. Pengajuan tersebut disampaikan ke Dinas Peternakan atau instansi yang memiliki fungsi di bidang peternakan tiap-tiap kabupaten/kota. Rekomendasi kuota ditetapkan melalui peraturan Gubernur NTT setiap Januari atau Februari. Adapun kuota dan realisasinya untuk pengeluaran sapi dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 46

Kuota dan Realisasi Pengeluaran Ternak Sapi Provinsi Nusa Tenggara Timur dari Tahun 2014 – Oktober 2019

(Sumber: Dinas Peternakan Provinsi NTT, 2019)

Pada Gambar 46 diperlihatkan kuota dan realisasi pengeluaran sapi dari tahun 2014 – Oktober 2019. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa hanya di tahun 2015 saja realisasi

pengeluaran sapi melebihi dari kuota yang ditetapkan. Selain itu, jumlah kuota yang disiapkan tiap tahun tersebut tidak mampu dicapai. Persaingan yang ketat antara penjualan sapi lokal dan impor di wilayah-wilayah konsumen, seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat menjadi titik tolak pengiriman sapi. Khususnya Jawa Barat, wilayah ini merupakan wilayah terbesar penerima sapi asal NTT terutama di musim hari raya qurban.

Adapun pasar sapi potong ke luar Provinsi NTT dari tahun ke tahun realisasi kuotanya cukup meningkat. Pada tahun 2015, realisasi kuota sapi potong untuk permintaan ke luar provinsi adalah 52.811 ekor per tahun, akan tetapi pada tahun 2018 meningkat menjadi 67.454 ekor. Sebenarnya, pada tahun 2018 pemerintah NTT melalui Dinas Peternakan memberikan kuota sebesar 69.850 ribu ekor, namun realisasinya hanya 67 ribuan ekor. Sampai dengan bulan Oktober 2019, realisasi penjualan sapi ke luar provinsi adalah 61.213 ekor dari kuota sebesar 69.650 ekor pertahun (Dinas Peternakan Provinsi NTT, 2019). Pada tahun 2015, realisasi penjualan sapi keluar provinsi melebihi dari target yang ditentukan, sedangkan dari tahun 2016-2018 penjualan sapi tidak mampu mencapai kuota yang diberikan.

8.5.2. Fasilitasi Pendukung Distribusi Perdagangan Sapi