• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGRIBISNIS SAPI POTONG DI INDONESIA

3.2. Penawaran Daging Sapi di Indonesia

3.2.1. Produksi Sapi Potong

Produksi sapi potong lebih cenderung dikaitkan dengan jumlah populasi dalam satuan ekor atau satuan ternak (ST). Umumnya, produksi sapi lebih dititikberatkan pada jumlah pedet (anak sapi) yang dilahirkan pada kurun waktu tertentu. Kelahiran sejumlah pedet ini sebagai penambahan populasi sapi dari populasi sapi sebelumnya. Di samping itu, produksi sapi juga berasal pemasukan sapi dari luar wilayah Indonesia, khususnya sapi bakalan impor. Sebelum ada program Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Siap Bunting), belum ada instansi peternakan yang mampu memberikan informasi terkait dengan jumlah pedet yang lahir tiap tahunnya. Data yang ada hanyalah data perkiraan kelahiran yang tingkat keakuratannya belum bisa dibuktikan. Padahal dengan adanya data kelahiran pedet ini, kita dapat memperkirakan tambahan populasi sapi pada periode tertentu. Dengan adanya program Upsus Siwab, data akseptor yang di inseminasi buatan, jumlah kebuntingan, dan jumlah kelahiran perhari dilaporkan oleh seluruh instansi pemerintah di daerah yang mendapatkan program Upsus Siwab.

Perkembangan populasi sapi potong di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 4. Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa perkembangan populasi sapi potong mengalami penurunan di tahun 2013 sebanyak lebih dari 2 juta ekor dibandingkan dengan tahun 2011. Hal ini diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang melakukan pengetatan impor sapi bakalan dan daging beku di tahun 2011. Kondisi ini menyebabkan banyak sapi potong dan sapi perah yang dieksploitasi atau dipotong guna memenuhi permintaan dalam negeri. Namun demikian, perkembangan populasi sapi potong terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya.

1 4 ,8 4 2 1 5 ,9 8 1 1 2 ,6 8 6 1 4 ,7 2 7 1 5 ,4 2 0 1 5 ,9 9 7 1 6 ,4 2 9 1 6 ,4 3 3 1 7 ,1 1 9 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 0 0 0 e ko r Gambar 4

Perkembangan Populasi Sapi di Indonesia dari Tahun 2011-2019

(Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2015 dan 2019)

Produksi Pedet

Produksi pedet merupakan sejumlah kelahiran pedet yang dihasilkan dari sejumlah sapi betina yang bunting. Dengan adanya sejumlah pedet yang lahir, secara otomatis jumlah populasi sapi akan bertambah. Data dan informasi yang paling lengkap tentang produksi pedet berasal dari program UPSUS SIWAB (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting). Program ini dirancang untuk mengoptimalisasi aktivitas reproduksi sapi sehingga mampu menghasilkan sapi-sapi betina produktif yang bunting dan sekaligus bisa menghasilkan sejumlah kelahiran pedet. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan-Kementerian Pertanian, selama 3 tahun program UPSUS SIWAB dijalankan mampu melahirkan sejumlah pedet sebanyak 4.739.423 ekor. Hal ini secara otomatis dapat meningkatkan populasi sapi di Indonesia. Adapun tingkat kebuntingan sapi betina dan kelahiran pedet dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5

Target dan Realisasi Tingkat Kebuntingan Sapi Betina dan Kelahiran Pedet Program UPSUS SIWAB dari 2017 - 2019

(Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2017, 2018, dan 2019)

Pemasukan Sapi

Total supply juga dipenuhi dari pemasukan sapi. Pemasukan sapi adalah masuknya sapi dari luar wilayah provinsi ataupun luar negeri (misalnya Australia). Pemasukan sapi ini bisa berasal dari impor ataupun sapi lokal dari satu provinsi migrasi ke provinsi lainnya. Wilayah-wilayah yang menjadi sentra impor sapi bakalan dari luar negeri adalah Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah. Adapun provinsi-provinsi yang biasanya memasok sapi bakalan dan siap potong adalah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Adapun perkembangan pemasukan sapi dapat dilihat pada Gambar 6 dan 7.

Gambar 6

Perkembangan Pemasukan Sapi

(Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2015 dan 2019)

Pada Gambar 7 ditunjukkan aliran suplai sapi hidup dari Provinsi NTT dan Jawa Timur (garis tipis lurus warna hitam) dan Australia (garis lurus terputus-putus dan lurus hitam tebal). Australia merupakan negara pengekspor sapi hidup dan daging sapi ke berbagai negara, termasuk ke Indonesia. Indonesia merupakan pangsa pasar terbesar bagi sapi bakalan dan daging sapi dari Australia. Catatan dari detiknews tanggal 21 Januari 2020 (m.detik.com) menyatakan bahwa ekspor sapi ke Indonesia pada tahun 2019 mencapai 675.874 ekor dan merupakan ekspor terbesar dibandingkan dengan ke negara lainnya.

Pada tahun 2020, Australia membatasi ekspor sapi hidup ke seluruh dunia di bawah angka 1 juta ekor yang disebabkan terjadinya kekeringan di wilayah produksi sapi di Australia. Indonesia merupakan pangsa pasar sapi hidup dan daging sapi yang cukup besar. Berita online tersebut menyatakan pula bahwa kebutuhan daging sapi di Indonesia untuk tahun 2020 adalah 600.000 ton dan angka ini sama dengan tahun 2019.

Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan akan daging sapi tersebut, Indonesia membuka kuota daging sapi impor sebanyak 60.000 ton daging (sapi dan kerbau) untuk kebutuhan konsumsi dan 129.000 ton untuk kebutuhan industri. Adapun kuota untuk sapi hidup adalah 550.000 ekor di tahun 2020. Salah satu provinsi di Indonesia yang turut mengambil bagian dalam bisnis sapi hidup adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Provinsi ini sudah lama menjadi wilayah pensuplai sapi bagi provinsi lain dan bahkan pernah melakukan ekspor ke Hongkong di tahun 1970-an. Namun, hal ini tidak berlangsung lama karena Pemerintah Pusat menyarankan untuk mensuplai sapi-sapi hidup di wilayah Indonesia saja karena permintaan sapi hidup masih tinggi. Uraian lebih jauh peran suplai sapi hidup dari provinsi ini diuraikan lebih detail di bab-bab berikutnya.

Gambar 7

Distribusi Sapi antar Wilayah Provinsi dan Australia Midl

e East

Total Supply Sapi Potong

Total suplai sapi potong dapat dihitung dari populasi sapi tahun sebelumnya (stok), produksi pedet, pemasukan sapi dan pengeluaran sapi diperoleh dari data-data di atas. Sebenarnya, angka stok sapi diperoleh dari populasi akhir pada setiap akhir tahun. Berdasarkan tabel dan gambar yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat disusun total suplai sapi potong dalam bentuk hidup seperti pada Tabel 1. Tabel tersebut sebagai ilustrasi jumlah suplai sapi potong yang terdapat di Indonesia berdasarkan hasil perhitungan dan data dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Tabel 1. Perkembangan Total Suplai Sapi Potong di Indonesia Tahun 2017-2019 Total Populasi Sapi (000 ekor) 2017 2018 2019 Hasil Hitungan Data Ditjen Hasil Hitungan Data Ditjen Hasil Hitungan Data Ditjen Populasi Sapi (thn sebelumnya) 15,997 15,267 16,087 Pemasukan Sapi 482 1,020 676 Pemotongan sapi 1,956 2,032 2,039 Pedet Lahir 744 1,832 1,996 Total 15,267 16,429 16,087 16,433 16,720 17,119

Keterangan: Basis data hasil hitungan dari data Ditjen PKH yaitu statistik peternakan Indonesia dan data Upsus Siwab

Berdasarkan Tabel 1, perkembangan total suplai atau persediaan sapi potong yang ada di Indonesia dari tahun 2017 – 2019 mengalami peningkatan, namun data hasil hitungan tidak sesuai dengan data populasi dari Ditjen PKH. Pengambilan data tahun 2017 – 2019 tersebut didasarkan pada adanya program Upsus Siwab oleh pemerintah saat itu di akhir tahun 2016. Ketidaksesuaian ini kemungkinan disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah perbedaan variabel yang digunakan dalam perhitungan populasi. Tabel 1 di atas merupakan ilustrasi perkembangan populasi sapi didasarkan pada variabel-variabel populasi sapi tahun

sebelumnya, pemasukan sapi, pemotongan sapi (Gambar 13), dan jumlah pedet yang lahir. Namun demikian, perbedaan hasil antara hasil perhitungan dan data dari Ditjen PKH yang ditampilkan pada Tabel 1 tersebut perlu dimaknai bahwa perbedaan pengukuran dapat menyebabkan perbedaan dari hasil yang diperoleh.