• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Perbankan dalam Pengembangan Sapi Potong Potong

SAPI POTONG DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

3. Kulit dan Tulang. Kulit dan tulang harus diolah lebih lanjut untuk kepentingan usaha berbahan kulit ataupun tulang

8.6. Subsistem Pendukung Agribisnis Sapi Potong di Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur

8.6.4. Peran Perbankan dalam Pengembangan Sapi Potong Potong

Sektor pertanian masih menjadi tumpuan pembangunan bagi Indonesia. Akan tetapi, perkembangan di sektor ini tidak mengalami peningkatan yang berarti karena skala usaha kecil, kepemilikan lahan terbatas (khususnya di Pulau Jawa), dan banyaknya petani gurem yang mengelola usaha pertanian. Dari tahun ke tahun pemerintah telah meluncurkan berbagai program untuk sektor pertanian, salah satunya adalah program kredit pertanian. Lemahnya permodalan menjadi salah satu kendala di sektor ini. Untuk mengatasi hal tersebut, selama lebih dari empat dekade pemerintah telah memberikan bantuan permodalan pertanian dengan berbagai skim, seperti bantuan bergulir, penguatan modal, subsidi bunga, ataupun program yang mengarah pada kredit komersial. Hasil dari program tersebut ada yang berhasil ada pula yang tidak berhasil. Kecenderungan dari berbagai hasil penelitian menunjukkan hanya kurang dari 10% petani yang berhasil memanfaat program pemerintah tersebut, selebihnya gagal. Banyak faktor

yang menyebabkan terjadinya kegagalan tersebut, salah satunya adalah masih kuatnya ketergantungan petani terhadap bantuan pemerintah sehingga bantuan modal pinjaman pun masih dianggap sebagai bantuan, padahal modal pinjaman tersebut harus dikembalikan.

Akar pemasalahan dari pembiayaan kredit adalah apakah sudah tepat memberikan kredit pertanian dengan sistem perbankan pada petani gurem. Jika ditinjau dari tingkatan petani, sebenarnya ada tiga posisi petani yang bisa dikelompokkan, yaitu:

1. Petani Gurem adalah petani dengan status sebagai buruh ataupun kepemilikan lahan terbatas

2. Petani Setengah Komersil, yaitu para petani yang telah mampu menghidupi keluarganya dari hasil budidaya pertanian

3. Petani Komersil adalah para petani yang telah mampu menjual hasil usaha pertanian dalam skala besar.

Berdasarkan hal tersebut, maka para petani gurem seharusnya jangan dipaksa untuk mengikuti program kredit komersial karena petani ini tidak memiliki aset ataupun kemampuan untuk membayar cicilan, bahkan untuk hidupnya nya pun masih berada di rentang kemiskinan. Oleh karena itu, tipe petani ini masih menjadi ranahnya pemerintah untuk dibina dan difasilitasi untuk meningkatkan level usahanya. Sedangkan petani setengah komersil dan komersil dapat difasilitasi dengan program kredit dari pemerintah karena mereka memiliki kemampuan untuk membayar cicilan kredit dari hasil usahataninya.

Modal usahatani dibagi atas dua, yaitu modal sendiri dan modal pinjaman. Modal pinjaman bisa dari berbagai sumber, seperti keluarga, tetangga, teman, rentenir, ataupun lembaga finansial. Dengan adanya peminjaman tersebut, maka akan ada transaksi dan perjanjian hutang piutang antara peminjam dan kreditor. Hal ini senada dengan pengertian kredit menurut Undang-undang No. 10/1998 tentang Perbankan menyebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat

dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga imbalan atau pembagian hasil keuntungan. Dengan demikian, pembiayaan menjadi salah satu alternatif dalam membiayai operasional suatu kegiatan disamping modal sendiri.

Ada tiga komponen penting dalam pembiayaan, yaitu peminjam, pemberi pinjaman, dan uang atau barang yang dipinjamkan. Peminjam dan pemberi pinjaman bisa dilakukan secara individu, kelompok ataupun institusi. Peminjam adalah orang atau kelompok ataupun institusi yang memerlukan pembiayaan untuk membiayai berbagai kegiatan mereka, sedangkan yang memberi pinjaman adalah orang atau kelompok ataupun institusi yang memberikan bantuan pinjaman modal dengan imbalan jasa dan waktu yang ditetapkan.

Kehadiran pasar uang dan lembaga keuangan adalah untuk mengurangi friksi pasar yang disebabkan terjadi informasi yang asimetris dan biaya transaksi (Beck and Kunt, 2008). Beberapa teori menegaskan bahwa kegiatan pembiayaan sebagai penghambat pembangunan ekonomi. Hal ini dibuktikan dengan beberapa model menunjukkan bahwa kegiatan finansial tidak menyentuh masyarakat miskin yang juga menghasilkan ketidakmerataan pendapatan (Banerjee and Newman, 1993). Kebanyakan ahli ekonomi pembangunan mengatakan bahwa friksi keuangan itu lebih disebabkan karena fokus pada redistribusi fiskal untuk mengurangi ketidakmerataan pendapatan dan pertumbuhan. Sedangkan kekurangan akses terhadap keuangan mempunyai dampak berlanjut atas ketidakmerataan pendapatan, yakni mempunyai dampak negatif terhadap insentif untuk menabung dan kerja (Beck and Kunt, 2008). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Beck, Demirguc-Kunt and Levine (2007) memperlihatkan bahwa negara-negara yang pengembangan sistem keuangannya lebih baik dapat mempercepat peningkatan distribusi pendapatan

terhadap masyarakat miskin dan mengurani ketidakmerataan pendapatan, diukur melalui gini rasio dari tahun 1960 – 2005. Hal ini berarti bahwa lembaga keuangan mempunyai peran di dalam pembangunan ekonomi nasional.

Selama tahun 1960 – 1970, Bank Dunia mencatat bahwa proyek-proyek pendanaan multirateral ataupun bilateral di perdesaan umumnya didukung oleh kredit untuk pengembangan pertanian (World Bank, 2003). Walaupun intervensi ini bisa memperbaiki produksi pertanian dalam jangka pendek, tetapi menyebabkan tingginya biaya terutama tidak bekerlanjutan dalam jangka panjang dan gagal dalam mencapai kebanyakan petani. Akan tetapi, di tahun 1980-an membuktikan beberapa contoh bantuan pendanaan yang sukses dengan merestrukturisasi bank untuk pendanaan pertanian melalui Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Perdesaan, seperti di Indonesia dan Thailand berdasarkan jumlah klien dan keuntungan (Committee of Donor Agencies 1995). Pada saat yang bersamaan, para donor membantu untuk memperbaiki lembaga keuangan mikro dan kondisi kebijakan untuk LKM melalui program secara struktural dan mendukung pertumbuhan NGO, lembaga simpan pinjam, dan LKM lainnya untuk mencapai perbaikan secara substansial dalam konteks capaian jangka panjang dan kemandirian. Dengan demikian, Bank Dunia dan donor lainnya telah mendukung sistem perbaikan keuangan khususnya pendanaan bagi sektor pertanian di perdesaan melalui LKM. Lembaga keuangan mikro inilah yang membantu petani di desa yang memerlukan modal usaha dalam skala kecil.

Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar penduduknya (lebih dari 40 juta) bermatapencaharian di bidang pertanian, menjadi hal yang sangat strategis untuk mendorong sektor pertanian menjadi sektor unggulan dan menjadi penopang hidup bagi kebanyakan petani di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah melalui Departemen Pertanian telah berkomitmen untuk melaksanakan kebijakan pembiayaan pertanian melalui subsidi dan program pembiayaan yang

mudah di akses oleh petani. Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, kebijakan intervensi pemerintah dalam kegiatan pertanian melalui berbagai program pertanian, termasuk pembiayaan, seringkali banyak yang tidak berhasil. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu (1) program tidak sesuai dengan kondisi petani ataupun kelompok tani, (2) program dilakukan secara top down dan dilaksanakan secara luas dan tidak memperhatikan karakteristik wilayah, (3) program hanya berjalan sampai kegiatan proyek tersebut selesai, dan tidak berkelanjutan. Dampak lainnya adalah semakin tingginya tingkat ketergantungan petani terhadap program, bukan mendorong mereka untuk lebih mandiri.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kelembagaan ekonomi pedesaan tidak berkembang baik akibat terlalu banyaknya campur tangan yang cenderung berlebihan dari sistem birokrasi pemerintah (Nurmanaf, 2007). Tindakan ini mengakibatkan beberapa hal sebagai berikut: (1) melumpuhkan sebagian kelembagaan lokal yang selama ini berkembang dan berperanan di masyarakat dalam pemerataan pendapatan, termasuk kelembagaan pembiayaan pertanian; (2) melemahnya peranan kelembagaan pembiayaan pertanian tersebut membawa konsekuensi semakin terbatasnya akses petani terhadap sumber-sumber pembiayaan; dan (3) menciptakan kondisi informasi yang tidak simetris antara sebagian besar masyarakat (dalam hal ini petani) dengan kelompok masyarakat lainnya (Sudaryanto dan Syukur, 2000; Syukur et al., 2003; dan Syukur dan Windarti, 2001). Hal ini membawa implikasi yang luas berupa rendahnya aksesibilitas pelaku agribisnis terhadap sumberdaya modal, teknologi, peningkatan kemampuan, informasi pasar dan lain sebagainya.

Sebenarnya, intervensi pemerintah melalui program-program pertanian tidak semuanya mengalami kegagalan, namun ada juga yang berhasil dilakukan. Banyak kelompok-kelompok pertanian yang sukses melaksanakan program pertanian pemerintah. Kesuksesan mereka terletak pada kesungguhan mereka melaksanakan kegiatan dan program yang diintrodusir

pemerintah sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan demikian, semakin jelas bahwa program-program yang dirancang oleh pemerintah dalam rangka peningkatan kesejahteraan petani harus memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut: (1) kebutuhan apa yang diperlukan masyarakat; (2) lokalitas atau spesifikasi wilayah; (3) sharing pendanaan antara pemerintah dan petani/kelompok tani; dan (4) norma-norma yang terdapat di masyarakat pertanian di suatu wilayah. Hal ini ditujukkan agar program yang dilakukan pemerintah bisa berlangsung secara berkelanjutan (sustainable) walaupun umur program tersebut telah habis. Lebih jauh lagi, program-program pertanian yang dilakukan pemerintah bisa meningkatkan pendapatan bagi rumah tangga pertanian.

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, terdapat dua jenis pasar kredit atau pasar pembiayaan di wilayah pedesaan (Syukur et al., 2003), yaitu pasar pembiayaan formal dan pasar pembiayaan informal. Pembiayaan formal (khususnya untuk kegiatan non program) beroperasi di pedesaan yang dalam mekanisme pengajuan dan penyalurannya mengikuti mekanisme pasar. Artinya, kaidah-kaidah kelayakan diberlakukan secara formal, seperti tingkat bunga yang dibebankan adalah tingkat bunga komersial dan dilayani oleh lembaga formal. Beberapa contoh lembaga pembiayaan formal, baik skala besar ataupun kecil seperti Bank BRI, BNI, BCA, Bank Mandiri, bank-bank Syariah (Bank Muamalat, Bank Mandiri Syariah, dan sebagainya) Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Lembaga pembiayaan informal juga beroperasi dalam perekonomian masyarakat termasuk masyarakat pertanian. Pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) termasuk lembaga pembiayaan informal merupakan langkah yang tepat dalam upaya mengentaskan kemiskinan dan pengembangan ekonomi rakyat (World Bank, 2003). Sebagai penyedia dana bagi petani, lembaga informal dinilai sangat fleksibel dan relatif mudah diakses karena tidak memerlukan prosedur administrasi yang rumit seperti halnya

lembaga pembiayaan formal. Beberapa contoh LKM yang bergerak di masyarakat pertanian adalah koperasi, rentenir, pengijon, para pedagang di sektor input pertanian atau pedagang di sektor output, dan sebagainya.

Selain itu apa yang telah diuraikan di atas, masih banyak lagi program-program pembiayaan yang mendukung pengembangan usaha pertanian di pedesaan yang telah diimplementasikan, baik yang dilakukan oleh pemerintah, swasta, perguruan tinggi, ataupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dalam pelaksanaan program tersebut diakui bahwa masih banyak hambatan yang dihadapi terutama penyediaan jaminan oleh peminjam yang lebih banyak disyaratkan oleh lembaga keuangan formal, rendahnya akses petani terhadap lembaga keuangan formal karena ketakutan kehilangan aset lahan, kekhawatiran akan terlilit hutang, dan banyak lagi.

Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat strategis di Indonesia. Meskipun perannya yang cukup strategis, sektor pertanian masih menghadapi beberapa kendala, salah satunya adalah keterbatasan permodalan petani dan pelaku usaha pertanian lainnya. Kebutuhan modal pertanian akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya skala usaha dan melonjaknya harga input pertanian, seperti pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja. Dengan kondisi tersebut, maka lembaga pembiayaan mempunyai peran strategis di dalam membantu meningkatkan modal pertanian.

Bank Dunia telah melakukan pengembangan strategi baru untuk perdesaan melalui perluasan akses masyarakat miskin terhadap lembaga keuangan dan pengembangan aneka ragam produk-produk pertanian. Peningkatan akses terhadap lembaga keuangan dan pengembangan variasi produk ditujukkan untuk peningkatan pendapatan dan pengurangan kemiskinan, khususnya petani (World Bank, 2007). Khusus pembiayaan pertanian, Bank Dunia memfokuskan pengembangan pada kemudahan persyaratan jasa keuangan,

efisiensi, perkembangan lembaga keuangan dan produk-produknya, dan pengembangan investasi infrastruktur sosial dan ekonomi. Jadi jelas bahwa tujuan dari pengembangan keuangan di perdesaan adalah mendorong masyarakat miskin bisa mengakses lembaga keuangan, khususnya petani, dalam memperoleh pembiayaan. Akan tetapi, konsep ini bisa menjadi perangkap bagi orang miskin atau petani skala kecil yang mendapatkan pembiayaan dari lembaga perbankan. Maksudnya, jika petani tidak mampu membayar hutang pinjaman, maka aset lahan yang menjadi salah satu aset bagi petani akan tergadaikan. Walaupun demikian, pembiayaan pertanian menjadi salah satu opsi untuk mendorong operasionalisasi produksi pertanian di perdesaan.

Modal bagi petani menjadi salah satu faktor produksi penting dalam usahataninya sehingga mereka bisa membeli input dan sarana produksi untuk aktivitas usahanya. Berbagai studi literatur menunjukkan bahwa petani mempunyai akses yang lemah atau keterbatasan terhadap lembaga keuangan, khususnya lembaga keuangan informal. Selama ini, petani dalam mengelola usahataninya lebih memanfaatkan modal sendiri, atau keluarganya, atau para pelepas uang dengan modal tinggi tapi mudah mengaksesnya. Di samping itu, petani yang berlahan luas lebih mudah mengakses lembaga keuangan baik formal mauupun informal dibandingkan petani dengan luas lahan yang sempit. Hal ini terkait dengan kepemilikan aset lahan, di mana para pemberi pinjaman (lender) lebih menyukai petani yang berlahan luas karena ada jaminan lahan jika petani tidak mampu mengembalikan pinjaman. Oleh karena itu, jika petani sulit mendapatkan permodalan, maka pengelolaan usahatani pun akan mendapatkan kesulitan. Dengan demikian, modal menjadi salah satu faktor penting dalam usahatani.

Saat ini, petani dapat mengakses permodalan dalam beberapa skema penyaluran kredit, baik program pembiayaan yang dilakukan oleh pemerintah, kerjasama pemerintah dengan perbankan, perbankan, dan lembaga keuangan informal.

Skema penyaluran kredit ini diupayakan agar petani bisa memilih sistem kredit yang sesuai dengan kemampuannya.

Berbagai kendala dan hambatan yang dihadapi petani dalam mengakses pembiayaan pada lembaga keuangan komersil, yaitu (Ratnawati, 2009):

1. Permasalahan collateral (jaminan) sebagai salah satu persyaratan peminjaman di bank komersil.

2. Kurang pemahaman atas persyaratan administrasi perbankan

3. Tingginya biaya transaksi dan cara pembayaran bulanan yang tidak sesuai dengan pendapatan petani yang bersifat musiman.

Secara umum, perbankan komersial bisa menyalurkan kredit permodalan kepada petani. Akan tetapi, dalam penyaluran kreditnya selalu mengalami distorsi sebagai akibat dari

asymetric information. Pihak perbankan komersial lebih

cenderung memilih peminjam yang mempunyai aset yang lebih baik karena pihak perbankan menerapkan sistem kehati-hatian (prudent) guna mengurangi resiko kegagalan. Oleh karena itu, kondisi inilah yang menyebabkan kurang optimalnya penyaluran kredit oleh perbankan di sektor pertanian walaupun pemerintah telah memberikan subsidi bunga pada kredit pertanian.

Kredit Usaha Rakyat merupakan program pembiayaan yang telah menjadi satu-satunya program pembiayaan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Program ini dipilih sebagai

benchmark karena keberhasilannya di dalam mengelola

pembiayaan yang di program oleh pemerintah. Oleh karena itu, beberapa program pembiayaan pemerintah yang hampir bersamaan munculnya, yaitu pada tahun 2007 dilebur menjadi satu program pembiayaan, yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR) di tahun 2015.

Pada bagian ini dijelaskan beberapa hasil kajian yang berkaitan dengan kinerja kredit KUR dari berbagai sudut

pandang kajian masing-masing. Adapun hasil-hasil studi adalah sebagai berikut:

1. Kategori KUR Lama. Penelitian yang dilakukan oleh