• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN ORMAS ISLAM DALAM MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIA

GELIAT NAHDLATUL ULAMA

PERAN ORMAS ISLAM DALAM MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIA

Setiap organisasi kemasyarakatan dibentuk bermula dari sejarah panjang sebagai latar belakang kemunculannya. Kristalisasi dari semangat nilai-nilai yang muncul menjadi acuan dalam membentuk dan mewarnai gerak langkah suatu ormas. Itu sebabnya keberadaan setiap ormas memiliki visi dan misi berbeda, utamanya dalam hal menawarkan program-programnya maupun dalam hal memberdayakan sumber daya yang dimiliki guna mencapai sasaran yang diinginkan.

Untuk menilai apakah ormas Islam memiliki peran dalam meningkatkan sumber daya manusia perlu melihat dari pihak mana yang menilai. Pengaruh subyektif menimbulkan keberagaman penilaian. Misalnya, orang yang terlibat langsung dalam kegiatan akan berbeda apa yang dilihat dan dirasakan dengan orang yang tidak terlibat. Begitu pula antara anggota dengan yang bukan anggota.

Terlepas dari hal tersebut, ada ukuran umum untuk melihat ada tidaknya suatu peran. Bagaimanakah suatu ormas mengambil langkah-langkah kongkret di bidang pemeliharaan, pemanfaatan dan penyediaan sumber daya manusia. Adakah proses transformasi nilai-nilai sebagai dampak dari langkah yang telah diambil.

Untuk itu, perlu ada kejelasan format sumber daya manusia yang diinginkan, sehingga berdampak positif untuk perkembangan kehidupan ormas itu

sendiri, survive terhadap tuntutan perubahan, namun tetap mengacu pada

sendi-sendi dasar organisasi.

Pemberdayaan Sumber Daya Manusia dan Permasalahannya

Sumber daya manusia (SDM) bisa dijadikan sebagai “Human capital” yang

secara ekonomi akan sangat berperan dalam pembangunan ekonomi sosial. Pemberdayaan SDM adalah suatu proses untuk memperoleh dan meningkatkan jumlah orang yang mempunyai keahlian, pendidikan dan pengalaman yang menentukan bagi pembangunan (ekonomi dan politik) suatu negara. (Bappenas, 1990).

Namun, terkadang pembahasan sumber daya manusia masih memfokuskan kepada pendekatan individu dengan mengambil kasus masyarakat tertentu. Sehingga hasil yang diperoleh kurang memberikan manfaat yang luas karena terbatas pada kelompok individu dan sektor tertentu. Di sisi lain, kebermaknaan pemberdayaan SDM ditandai dengan adanya hubungan antar individu dan kelompok yang bersifat mono dualistik, saling terkait antara satu dengan yang lain. Keterkaitan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas anggota masyarakat yang pada akhirnya muncul sikap mandiri. Kemandirian akan mampu menumbuhkan prakarsa, kreatifitas dan inovasi yang dapat melakukan proses transformasi nilai-nilai sosial dan budaya.

89

Keberhasilan melakukan proses transformasi dicirikan dengan adanya pembaruan struktur dan budaya antara lain ditandai dengan: (a) adanya proses regenerasi; (b) munculnya golongan menengah baru dalam komposisi penduduk; (c) makin canggihnya stratifikasi dan spesialisasi keahlian; dan (d) makin banyaknya kelompok strategis yang muncul dan berkembang sebagai kekuatan baru. Sedangkan pembaruan budaya terjadi apabila masyarakat cenderung senang terhadap budaya demokrasi dan keterbukaan, diversifikasi informasi dan meningkatnya upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Lakpesdam, 1994)

Target sebagaimana rumusan di atas bagi suatu ormas (Islam) adalah suatu upaya yang berat. Beberapa kondisi dalam kehidupan masyarakat masih banyak menjadi faktor yang kurang mendukung. Mulai dari tingkat disiplin individu dan kelompok yang dirasa masih sangat rendah. Ini bisa terlihat dalam cara menghargai dan menepati waktu, menghormati tata tertib maupun norma-norma lainnya. Semangat berkreasi, semangat bersaing dan etos kerja selama ini kualitasnya masih juga rendah dan belum tumbuh merata di kalangan masyarakat, sehingga menyebabkan tingkat produktifitas masyarakat menjadi rendah.

Permasalahan lain yang dirasa masih menjadi kendala adalah menyangkut segi struktur maupun kultur berorganisasi. Segi struktur organisasi biasanya memiliki banyak perangkat oerganisasi baik vertikal maupun horizontal, namun belum cukup didukung oleh sistem pengendalian organisasi yang baik karena belum berorientasi pada manajemen profesional.

Dari segi kultur, organisasi terkadang diwarnai budaya paternalistik yang cenderung tidak proporsional. Pembagian peran sering dilakukan bukan karena dasar keahlian. Adanya pemusatan dan pelibatan kelompok-kelompok tertentu dengan alasan yang tidak rasional. Selain itu, dirasa masih ada dalam kepemimpinan dijumpai personal yang kurang memiliki kemampuan kepemimpinan.

Masih banyak lagi persoalan lain yang belum dapat terungkap. Kondisi ini berdampak pada kualitas kelembagaan suatu organisasi. Persoalannya sekarang akan menjadi adakah peran dari organisasi Islam dalam meningkatkan sumber daya manusia manakala organisasi itu terdapat beberapa kekurangan sebagaimana terurai di muka.

Ormas Islam dan Perannya

Setuju bahwa ormas Islam memiliki peran dalam meningkatkan sumber daya manusia. Hal ini merujuk pada tujuan organisasi yang biasa ditulis dalam anggaran dasarnya. Untuk mencapainya disusunlah seperangkat program kerja serta langkah-langkah pelaksanaannya. Perannya terlihat mulai dari tingkat yang sederhana, semisal kegiatan koordinasi dan mobilisasi hingga ke peran yang lebih tinggi, misalnya bagaimana membikin teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.

90

Seperti telah disebutkan di awal tulisan ini bahwa peran ormas Islam dalam meningkatkan sumber daya manusia dapat dilihat dari bagaimana ormas tersebut mengambil langkah-langkah dalam bidang pemeliharaan, pemanfaatan dan penyediaan sumber daya manusia serta adakah proses transformasi nilai baik secara individu maupun kelompok.

Langkah pemeliharaan dimaksudkan sebagai upaya membentuk

masyarakat memiliki sikap tertentu misal sikap taawasuth dan i‟tidal, ta‟awun dan amar

ma‟ruf nahi munkar. Sikap baku tersebut akan melahirkan perilaku sosial yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pemanfaatan sumber daya manusia perlu dilakukan secara proporsional dengan melihat potensi yang ada serta memperhatikan unsur tempat dan waktu. Pemanfaatan secara optimal akan menghasilkan proses perubahan tata nilai, pola pikir dan orientasi baik antar pribadi maupun kelompok. Pada gilirannya akan melahirkan manusia berkembang yang memiliki kecenderungan hidup dengan berdiferensiasi, berspesialisasi, ada regenerasi, responsif dan berupaya melakukan adaptasi dengan lingkungan.

Agar tidak terjadi terputusnya proses regenerasi, suatu ormas dituntut mampu menyediakan stok calon-calon penerus pengelola organisasi. Langkah ini ditempuh karena tidak ada satu pun organisasi menerima dikatakan sebagai organisasi papan nama.

Banyak bidang garapan sebagai wahana utnuk menyediakan sumber daya manusia yang memiliki kualitas baik. Antara lain melalui jalur pendidikan formal, informal maupun nonformal seperti yang dilakukan di pondok-pondok pesantren,

majelis ta‟lim maupun bentuk-bentuk kursus untuk menggali dan mengembangkan potensi baru.

Untuk pengembangan keterampilan dalam hal manajemen organisasi bisa dilakukan melalui sistem pendidikan dan latihan (diklat) misal latihan kepemimpinan. Begitu pula untuk kepentingan penyediaan yang berkaitan dengan sektor tertentu yang menuntut profesionalisasi dan keahlian maka dilakukan dengan penggabungan sistem diklat dan pendidikan formal.

Arah dari sekian upaya pemberdayaan SDM melalui peran-peran yang dilakukan oleh ormas diharapkan ada proses perubahan nilai secara mendasar baik struktural maupun kultural yang mengarah pada peningkatan kualitas organisasi. Pada akhirnya masyarakat menilai bahwa ormas telah berjasa dalam membawa anggotanya ke dunia yang serba maju.

Kemajuan suatu ormas sebenarnya sangat tergantung pada seberapa besar peran manusianya (pengurus/pnggota) dalam mengelolanya. Kesungguhan dalam memanej akan berdampak pada tingkat kualitas organisasi yang pada gilirannya akan dapat berperan membesarkan SDM-nya.

Oleh karena upaya meningkatkan sumber daya manusia hendaknya selalu mempertimbangkan aspek-aspek kelemahan, kekuatan, tantangan dan peluang

91

yang dimiliki dengan menggunakan pendekatan partisipatoris serta berangkat dari suatu kunci belajar dari pengalaman.

Sebagai harapan, tulisan sederhana ini dapat memberikan nuansa baru dalam menggali potensi yang sementara ini masih jauh terpendam dalam jiwa keanggotaan organisasi.

92