TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Perawatan pada Pasien Edentulus Penuh .1 Gigi Tiruan Penuh
Gigi tiruan lengkap atau gigi tiruan penuh (GTP) didefinisikan sebagai suatu protesa yang menggantikan keseluruhan gigi-geligi dan jaringan mulut disekitarnya.
Tujuan dari gigi tiruan ini adalah untuk merehabilitasi sistem stomatognatik. Gigi tiruan penuh tidak hanya meningkatkan sistem pengunyahan pasien yang edentulus, tetapi juga fonetik serta penampilan dari pasien. Oleh karena itu, jenis rehabilitasi ini dapat meningkatkan kualitas hidup dan aktivitas sosial pasien.7 Gigi tiruan penuh
konvensional adalah perawatan sering dipilih untuk kasus kehilangan seluruh gigi karena biaya perawatannya yang relatif murah dibandingkan overdenture atau perawatan gigi tiruan yang berhubungan dengan implan.37
Gambar 4. Gigi tiruan penuh38
Fungsi utama dari GTP adalah untuk mengembalikan fungsi mastikasi, fonetik, dan estetis:
1. Mastikasi
Salah satu tujuan dalam perawatan dengan gigi tiruan penuh adalah untuk mengembalikan fungsi mastikasi atau pengunyahan pasien. Fungsi pengunyahan yang tepat sangat penting, karena pengunyahan akan memengaruhi pencernaan pada makanan. Proses mastikasi berperan dengan cara mengurangi ukuran makanan dan mengubahnya menjadi bolus yang homogen sehingga dapat ditelan. Fungsi pengunyahan yang tepat juga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.8
2. Fonetik
Pemakaian gigi tiruan penuh dapat membantu mengembalikan fonetik pada pasien yang edentulus. Gigi tiruan penuh dapat mengembalikan pengucapan huruf-huruf yang dihasilkan melalui bantuan gigi, bibir, lidah seperti dari lidah ke palatum (d, n, t), lidah ke gigi (l, th), gigi ke gigi (s, sh, z), gigi ke bibir (f, v), dan bibir ke bibir (b, m, p).9
3. Estetis
Estetika dalam cabang ilmu prostodontik dapat didefinisikan sebagai suatu filosofi yang berhubungan dengan kecantikan. Mengembalikan kembali senyum pasien yang edentulus dianggap sebagai salah satu capaian dalam perawatan prostodontik, karena senyum adalah bagian integral dari wajah. Tujuan utamanya adalah untuk mengganti gigi yang hilang, mengembalikan dimensi vertikal normal, dan memberikan dukungan untuk jaringan lunak wajah, sehingga nantinya akan memberikan estetika yang optimal bagi pasien dan akan meningkatkan kepercayaan diri serta kualitas hidup pasien.10
Gigi tiruan penuh juga memiliki beberapa indikasi dan kontraindikasi. Beberapa indikasi untuk perawatan gigi tiruan penuh adalah38:
1. Kehilangan seluruh gigi pada salah satu rahang atau keduanya.
2. Pasien yang tidak dapat melakukan perawatan dengan dental implant dikarenakan adanya masalah keuangan, riwayat penyakit sistemik, atau adanya kerusakan pada struktur vital, seperti saraf dan pembuluh darah.
3. Kanker intraoral yang telah menyebabkan hilangnya jaringan intraoral yang parah, sehingga pada lengkung gigi yang edentulus, protesa gigi tiruan lengkap fungsinya tidak hanya menggantikan gigi, tetapi juga mengisi bagian dari jaringan yang hilang, seperti nasofaring dan palatum keras.
Beberapa kontraindikasi untuk perawatan gigi tiruan penuh adalah:
1. Pasien tidak ingin menggunakan piranti lepasan untuk menggantikan gigi-gigi yang hilang.
2. Pasien mempunyai alergi terhadap bahan akrilik yang digunakan sebagai bahan pembuatan basis gigi tiruan penuh.
3. Pasien mempunyai refleks muntah yang parah.
2.3.2 Pemeriksaan Awal Pasien
Untuk memiliki dugaan prognosis yang baik, perawatan dalam kedokteran gigi memerlukan perencanaan awal yang tepat. Perencanaan ini termasuk diagnosis, pemeriksaan yang teliti, dan membuat rencana perawatan. Keberhasilan perawatan
gigi tiruan penuh dimulai dengan adanya pemeriksaan secara menyeluruh, yaitu terhadap fisik dan kondisi psikologis pasien, yang nantinya akan menghasilkan perawatan yang baik, berupa gigi tiruan penuh yang fungsional dan memenuhi harapan pasien. Setiap pasien adalah individu yang berbeda dari individu lain, sehingga rongga mulut setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda-beda dari satu dengan yang lainnya. DeVan (1942) menyatakan bahwa “the dentist should meet the mind of the patient before he meets the mouth of the patient”, artinya bahwa dokter gigi harus memahami pasien terlebih dahulu, baik motivasinya, keinginannya, riwayat mengenai keadaan edentulusnya, ataupun perawatan yang pernah dilakukan untuk mengatasi keluhannya.
Permasalahannya adalah bagaimana mengidentifikasi atau membuat gigi tiruan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien melalui pemeriksaan. Oleh karena itu, agar mendapatkan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat, pemeriksaan menyeluruh meliputi pemeriksaan ekstraoral dan intraoral dikombinasikan dengan evaluasi psikologis pasien sangat penting untuk dilakukan.39 Hal-hal berikut harus dievaluasi untuk mendapatkan diagnosis dan rencana perawatan yang adekuat21:
1. Identitas pasien
Identitas pasien yang penting untuk diketahui terdiri dari nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, alamat, dan nomor telepon.
2. Riwayat medis
Riwayat medis berperan besar terhadap prognosis penyakit pasien. Beberapa penyakit sistemik yang dapat memengaruhi perawatan gigi tiruan penuh diantaranya adalah diabetes mellitus, anemia, penyakit yang berhubungan dengan kekurangan nutrisi, adanya terapi radiasi, penyakit sendi, kardiovaskular, hipertensi, penyakit jantung, paru-paru, dan lainnya.
3. Riwayat dental
Pada riwayat dental, perlu ditanyakan mengenai alasan kehilangan seluruh gigi, seperti penyakit periodontal, karies gigi, atau penyebab lainnya. Keluhan utama pasien termasuk didalamnya karena rencana perawatan akan sangat bergantung pada
tahap ini. Pengalaman pasien yang sudah memakai gigi tiruan sebelumnya, alasan mengapa pasien memerlukan gigi tiruan baru, jumlah, durasi pemakaian, informasi terkait estetik, fonetik, mastikasi, retensi, dan vertikal dimensi gigi tiruan sebelumnya penting untuk diketahui. Terakhir, gigi tiruan yang ada harus dievaluasi dan dokter gigi perlu mendiskusikan mengenai apa yang pasien harapkan dengan gigi tiruan barunya. Selain itu, dalam tahap ini dokter gigi juga melakukan evaluasi terhadap psikologis pasien. MM House (1950) mengklasifikasi psikologis pasien menjadi empat kategori, yaitu philosophical, exacting, hysterical, dan indifferent.
4. Pemeriksaan klinis a. Pemeriksaan ekstraoral
Pemeriksaan ekstraoral dilakukan terhadap bentuk wajah, profil wajah, simetri wajah, tinggi wajah, otot wajah, warna kulit, ketebalan dan panjang dari bibir, dan sendi temporomandibular.
b. Pemeriksaan intraoral
Pemeriksaan intraoral dilakukan terhadap bentuk lengkung rahang, bentuk linggir sisa alveolar, mukosa, daya lentur jaringan, relasi linggir alveolar, jarak antar rahang, mukosa, bentuk dari palatum, tuberositas maksila, saliva, ukuran lidah, dan perlekatan frenulum.
5. Pemeriksaan radiografi
Pemeriksaan radiografi akan memberikan informasi mengenai keberadaan sisa akar yang tertinggal, adanya foreign bodies atau benda asing, kondisi patologis dan keadaan osteoporosis menyeluruh pada tulang pendukung. Pemeriksaan radiografi yang dilakukan adalah radiografi panoramik yang pada umumnya bertujuan untuk melihat resorpsi dari linggir alveolar.
2.3.3 Gigi Tiruan Penuh Rahang Bawah
Gigi tiruan penuh rahang bawah memiliki tantangan yang lebih besar dari gigi tiruan penuh rahang atas dalam aspek teknisnya bagi dokter gigi dan sering merupakan tantangan dalam pemakaiannya bagi pasien. Ditambah lagi, adanya lidah dengan variasi ukuran, bentuk, dan aktivitas pada masing-masing individu yang akan
mempersulit prosedur pencetakan dalam pembuatan gigi tiruan dan kemampuan pasien untuk mengendalikan gigi tiruannya. Retensi dari gigi tiruan penuh rahang bawah akan selalu terganggu oleh pergerakan lidah.20
Oleh karena itu, sudah tidak dapat dihindari lagi bahwa ada potensi masalah atau keluhan yang akan muncul setelah pemasangan gigi tiruan penuh, terutama pada gigi tiruan penuh rahang bawah. Masalah-masalah ini mungkin bersifat sementara dan sebagian besar diabaikan oleh pasien atau mungkin cukup serius sehingga pasien tidak dapat mentoleransi gigi tiruannya. Ketika suatu keluhan muncul dalam pemakaian gigi tiruan, penting agar permasalahan tersebut diselesaikan secara sistematis dan logis. Riwayat mengenai kondisi pasien dan pemeriksaan rongga mulut yang cermat harus dilakukan agar diagnosis akurat dan perencanaan perawatan dapat disusun dengan tepat.Beberapa keluhan yang sering timbul dari pasien setelah pemasangan gigi tiruan adalah adanya ketidaknyamanan, masalah dukungan pada gigi tiruan, masalah yang berhubungan dengan retensi dan stabilisasi, serta permasalahan lain seperti kesulitan dalam berbicara, makan, adanya suara ketika makan, perubahan rasa, dan gagging.
Gigi tiruan rahang bawah sering menjadi fokus dari keluhan pasien seperti adanya ketidakstabilan dan masalah pada retensi, rasa sakit, dan ketidakmampuan mengunyah, sehingga dalam pembuatannya memerlukan perhatian khusus.13
2.4 Retensi dan Stabilisasi pada Gigi Tiruan Penuh