PROFIL KOMODITAS PERTANIAN UTAMA 4.1.Padi/Beras
4.1.1. Kondisi Saat Ini
4.1.1.2. Perdagangan Luar Negeri
Indonesia melakukan ekspor dan impor beras (Tabel 4.3). Selama 2008-2012, volume ekspor berfluktuasi dengan kecenderungan menurun, yaitu dari 1.867 ton pada tahun 2008, yang naik menjadi 2.395 ton pada tahun 2009, menjadi hanya 1.091 ton pada tahun 2012. Secara statistik terjadi penurunan volume ekspor rata-rata 18,87%/tahun selama 2008-2012. Dapat dikatakan bahwa volume ekspor tersebut sangat kecil dan dapat diabaikan.
Tabel 4.3. Volume Ekspor dan Impor Beras, 2008-2012. Tahun Ekspor (ton) Impor (ton) Defisit Perdagangan ton % 2008 1.867 288.369 286.502 15.346 2009 2.395 248.454 246.059 10.274 2010 345 686.108 685.763 198.772 2011 1.062 2.698.990 2.697.927 254.037 2012 1.091 1.927.563 1.926.472 176.549 Laju (%/th) -18,87 61,85 62,06 56.617 Sumber: Statistik Ekspor dan Statistik Impor 2008-2012 (BPS), diolah.
Sebaliknya, volume impor cenderung, utamanya sejak tahun 2011, yang mencapai sekitar 2,7 juta ton, padahal selama 2008-2010 masih kecil. Walaupun pada tahun 2012 menurun, impor masih menembus 1,93 juta. Secara statistik, volume impor meningkat sangat cepat dengan rata-rata 61,85%/tahun selama 2008-2012. Dengan demikian, defisit perdagangan beras Indonesia selalu terjadi
selama 2008-2012. Defisit perdagangan terus meningkat cepat, utamanya sejak 2011 yang mencapai 2,70 juta ton atau 254.037% dari volume ekspor. Pada tahun 2012 menurun tetapi masih besar yaitu 1,93 juta ton (176.549%). Secara statistik, defisit perdagangan beras meningkat sangat cepat yaitu rata-rata 62,06%/tahun untuk nilai absolut dan 56.617% untuk angka relatif selama 2008-2012.
Berikut ini ditunjukkan pasokan beras di pasar dunia, baik dari segi produksi maupun ekspor sebagai sumber impor beras Indonesia. Produksi beras dunia meningkat lambat dengan rata-rata 1,69%/tahun selama 2008-2011, sementara volume ekspornya meningkat jauh lebih cepat yatu rata-rata 7,19%/tahun (Gambar 4.3). Walaupun persentase volume ekspor terhadap produksi cenderung meningkat 0,40%/tahun, jumlah ekspor hanya sekitar 30-37 juta ton atau 7-8% dari total produksi dunia. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar produksi beras dunia (sekitar 92-93%) dikonsumsi oleh negara produsennya sendiri, dan hanya sebagian kecil untuk negara-negara lain.
Gambar 4.3. Produksi dan Ekspor Beras Dunia, 2008-2011 (juta ton). Sumber: FAO-Stat (2013), diolah.
Negara produsen utama beras dunia adalah China dan India dengan pangsa masing-masing 28,62% dan 21,19% atau 49,81% secara keseluruhan. Indonesia menempati urutan ketiga dengan pangsa 9,59%, sementara Thailand, Vietnam, Bangladesh san Myanmar menempati urutan berikutnya dengan pangsa masing-masing 6,06%, 5,25%, 4,75% dan 4,58%. Ketujuh negara tersebut memproduksi 80% dari produksi beras dunia selama 2009-2011. Sementara
97
negara pengekspor utama beras dunia adalah Thailand, Vietnan, Pakistan, AS dan India dengan pangsa masing-masing 28,51%, 20,21%, 10,47%, 9,96% dan 9,49% atau 78,63% secara keseluruhan. Untuk impor, dari 198 negara pengimpor beras seluruh dunia, tidak ada negara yang sangat menonjol. Pada tahun 2011, Indonesia merupakan negara pengimpor beras terbesar dunia dengan pangsa 8,19%, sementara urutan kedua dan ketiga masing-masing adalah Nigeria (6,52%) dan Bangladesh (3,90%).
Melihat fenomena tersebut diatas dapat dikatakan bahwa pasokan beras di pasar dunia sangat tipis. Apalagi negara produsen terbesar China, India dan Indonesia, yang penduduknya sangat besar dan laju pertumbuhannya cukup cepat, maka di waktu mendatang pasokan beras dunia akan menipis. Karena itu, Indonesia harus tetap berusaha meningkatkan produksi berasnya untuk mencukup kebutuhan domestiknya.
4.1.1.3. Harga
Harga beras dapat dilihat di tiga tingkatan, yaitu harga dunia, harga konsumen dan harga produsen (Tabel 4.4). Harga beras di pasar dunia dalam US$ selama 2008-2012 meningkat rata-rata 1,90%/tahun (dari US$ 0,529/kg pada tahun 2008 menjadi US$ 0,580/kg pada tahun 2012, sempat turun menjadi US$0,521/kg pada pada tahun 2010). Jika dikonversi ke dalam mata uang Rupiah, laju peningkatan harga beras dunia cenderung menurun rata-rata 0,81%/tahun, karena terjadi pelemahan (depresiasi) nilai tukar US$ terhadap Rupiah rata-rata 2,71%/tahun.
Tabel 4.4. Harga Beras di Pasar Dunia dan Indonesia, 2008-2012.
Tahun
Harga Dunia Harga Domestik Marjin1a) Marjin2 b) Marjin3 c)
US$/kg Rp/kg Konsumen (Rp/kg) Produsen (Rp/kg) Rp/kg % Rp/kg % Rp/kg % 2008 0,529 5.161 5.485 4.340 323 5,89 1.144 20,87 -821 -18,92 2009 0,549 5.707 6.012 4.836 305 5,08 1.176 19,57 -871 -18,01 2010 0,521 4.728 6.647 5.057 1.918 28,86 1.589 23,91 329 6,50 2011 0,552 4.844 7.384 6.535 2.540 34,40 850 11,50 1.691 25,87 2012 0,580 5.379 8.221 7.050 2.842 34,57 1.171 14,25 1.670 23,70 Laju (%/th) 1,90 -0,81 10,15 12,71 64,66 8,67 - - - - Keterangan:
a) Selisih antara harga konsumen dan harga dunia. b) Selisih antara harga konsumen dan harga produsen.
Tabel 4.4. Harga Beras di Pasar Dunia dan Indonesia, 2008-2012.
Tahun
Harga Dunia Harga Domestik Marjin1a) Marjin2 b) Marjin3 c)
US$/kg Rp/kg Konsumen (Rp/kg) Produsen (Rp/kg) Rp/kg % Rp/kg % Rp/kg % 2008 0,529 5.161 5.485 4.340 323 5,89 1.144 20,87 -821 -18,92 2009 0,549 5.707 6.012 4.836 305 5,08 1.176 19,57 -871 -18,01 2010 0,521 4.728 6.647 5.057 1.918 28,86 1.589 23,91 329 6,50 2011 0,552 4.844 7.384 6.535 2.540 34,40 850 11,50 1.691 25,87 2012 0,580 5.379 8.221 7.050 2.842 34,57 1.171 14,25 1.670 23,70 Laju (%/th) 1,90 -0,81 10,15 12,71 64,66 8,67 - - - - Keterangan:
a) Selisih antara harga konsumen dan harga dunia. b) Selisih antara harga konsumen dan harga produsen.
c) Selisih antara harga produsen dan harga dunia.
Sementara itu harga beras di tingkat konsumen meningkat sangat cepat dengan rata-rata 10,15%/tahun. Laju peningkatan harga konsumen ini lebih cepat dibanding kenaikan harga dunia, baik dalam US$, apalagi dalam Rupiah. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi antara harga konsumen dan harga dunia dalam Rupiah sangat rendah, yaitu 0,02. Parameter ini membuktikan bahwa selama 2008-2012 hubungan kedua tingkat harga tersebut sangat lemah. Selisih antara harga konsumen dan harga dunia juga sangat tinggi, terutama sejak 2010, dan cenderung meningkat sangat cepat dengan rata-rata 64,66%/tahun (dari Rp 323/kg pada tahun 2008 menjadi Rp 2.842/kg pada tahun 2012). Karena itu, persentase marjin harga tersebut juga sangat tinggi dan cenderung meningkat rata-rata 8,67%/tahun (dari 5,89% pada tahun 2008 menjadi 34,57% pada tahun 2012).
Harga gabah (setara beras) di tingkat petani meningkat rata-rata 12,71%/tahun. Laju peningkatan harga produsen ini lebih cepat dibanding laju kenaikan harga konsumen, apalagi harga dunia. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi dan koefisien korelasi antara harga produsen dan harga konsumen masing-masing adalah 1,05 dan 0,95. Kedua parameter ini membuktikan bahwa selama 2008-2012 hubungan kedua tingkat harga tersebut sangat kuat, dimana 95% kenaikan harga konsumen ditransmisikan ke harga produsen, dan setiap harga konsumen naik 10% maka harga produsen naik 10,5%. Selisih antara harga konsumen dan harga produsen juga cukup tinggi dan cenderung meningkat (dari Rp 1.144/kg pada tahun 2008 menjadi Rp 1.171/kg pada tahun 2012, pernah mencapai Rp 1.589/kg pada tahun 2010, dan Rp 850/kg pada tahun 2011). Karena itu persentase marjin harga tersebut juga cukup tinggi namun cenderung menurun (dari 20,82% pada tahun 2008 menjadi 14,25% pada tahun 2012, dan pernah mencapai 23,91 pada tahun 2010).
Harga produsen sejak pada tahun 2008 dan 2009 lebih rendah dibanding harga dunia dalam rupiah, tetapi sejak 2010 menjadi berbalik, yaitu harga produsen menjadi lebih tinggi. Pada tahun 2011 dan 2102 perbedaan harga mencapai hampir 1.700/kg atau sekitar 25%.
Marjin harga yang sangat tinggi tersebut, baik antara harga konsumen dan harga dunia menunjukkan bahwa pasar beras di dalam negeri bersifat oligopsonistik pada saat importir atau pedagang besar melakukan pembelian dan bersifat oligopsonistik pada saat importir atau pedagang besar melakukan penjualan. Ada kemungkinan bahwa beberapa perusahaan besar importir membentuk kartel dan mengendalikan harga beras (dan harga pangan lain) di
99 Indonesia. Faktor utama penyebab terjadinya kartel adalah UU tentang Persaingan Usaha yang pelaksanaannya tidak efektif sebagai akibat dari pengawasan oleh KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) tidak berjalan karena ada kekuatan struktural yang melindungi praktek kartel.