• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. PERIODE PEMBEN TUKAN HIZBUT TAHRIR

3. Periode Tujuh Puluhan (1970 1979)

Meskipun para pengikut partai Baats bersikap keras dan kasar, khususnya sejak mer eka ber hasil memper kuat kedudukannya di pemerintahan Irak, setelah kudeta tahun 1968 M., namun semua itu tidak mampu menghentikan Hizbut Tahrir dari mengemban dakwah. Sejak itu, para pengikut partai Baats mulai melakukan pembersihan berbagai partai dan kekuatan politik yang lain. Mereka membangun apa yang

dinamakan "Ist ana Puncak" yang dekat dengan gambaran Baghdad secara

internasional sekarang. Hizbut Tahrir adalah pihak yang paling besar mendapatkan keburukan dar i rencana mereka. Pada tahun 1970 M. mereka menangkapi para anggota Hizbut Tahrir setelah menyebarkan manifesto Hizbut Tahrir. Mereka adalah Pengacara Muhammad Ubaid al-Bayati, Abdul Jabbar al-Kawaz (Direktur Biro Informasi Hizbut Tahrir Irak sekarang), Muhamad N adhir, Ghasub Yunus al- Jaburi, Sa'ad ad- Dafrawi, Zaidan dari wilayah al-Kurkh, Syakir al-Ubaidi, Muhammad N adhir, asy-Syeikh Arif dari Haniqin, al-Ustadz Shalah, Muhammad Agha, Faruq an-N uaimi, Faiz dari Palestina, dan lainnya. Mereka mendapatkan penyiksaan dar i para algojo. Kemudian mereka dibebaskan melalui amnesti yang dikeluarkan setelah dua bulan dari penangkapan.

Hizbut Tahrir terus berdakwah di Irak tanpa memperdulikan sikap keras yang dilakukan partai Baats terhadap partai-partai yang lain. Antara tahun 1972 M. - 1973 M. Hizbut Tahrir melakukan banyak kontak dengan sekelompok orang yang memiliki kekuatan di Irak. N amun, kontak- kontak ini gagal. Setelah organisasi terbongkar, para anggota Hizbut Tahrir ditangkapi dan disiksa dengan keras. Termasuk di antara mereka yang ditangkap adalah asy-Syeikh Taqiyuddin an-N abhani, sebab ketika itu beliau sedang berada di Irak dengan nama samaran. Tidak seorang pun yang mengetahui keberadaannya kecuali beberapa anggota Hizbut Tahr ir. Setelah organisasi terbongkar dan para aparat keamanan melakukan penangkapan terhadap para anggota Hizbut Tahrir, asy-Syeikh Taqiyuddin masih ragu antara meninggalkan Irak atau tetap di Irak. Di tengah-tengah keberadaan asy-Syeikh Taqiyuddin an-N abhani di Jalan ar-Rasyid, di tempat al-Khayyathah al-Islamiyah-yang pemiliknya adalah teman asy-Syeikh Taqiyuddin an-N abhani, yang berada di wilayah Haifa juga. Dan selama di Irak beliau sering ke tempat itu-asy-Syeikh Taqiyuddin an-N abhani ditangkap dengan tuduhan sebagai anggota Hizbut Tahrir, dan al-Khayyath pemilik tempat turut ditangkap juga. Selama dalam penangkapan beliau disiksa dengan keras hingga beliau tidak dapat berdiri karena seringnya disiksa. Para anggota Hizbut Tahrir membantunya berdiri ketika mereka

130

kembali ke ruang tahanan. Ketika pemilik tempat al-Khayyathah al- Islamiyah dibebaskan setelah campur tangan mas'ul wilayah Lebanon dan Suriah yang mengungsi ke Irak, asy-Syeikh Taqiyuddin an-N abhani juga

ikut dibebaskan.69

Serangan yang bertubi-tubi itu, tidak mampu mengubur tekad dan semangat Hizbut Tahrir, serta menghentikan kegiatan-kegiatannya. Justru Hizbut Tahrir semakin gencar dengan berbagai aktivitasnya. Kemas'ulan Hizbut Tahrir dipimpin oleh Ahmad Abdul Hasan al-Majma'iy-yang dikenal dengan Ahmad al-Bana, sebab beliau bekerja di bangunan dan kontraktor- hanya saja aparat keamanan mampu menyingkap organisasi ini pada tahun 1974 M., dan banyak anggota Hizbut Tahrir yang ditangkap dan divonis dengan masa ber beda-beda, dan sebagian yang lain divonis secar a inabsensia dengan vonis mati, di antara mereka adalah Ahmad al-Banna, yang berhasil meloloskan diri. Aktivitas Hizbut Tahrir tidak berhenti setelah penangkapan besar-besaran ini dan banyaknya yang divonis mati di depan pengadilan. Selanjutnya kemas'ulan Hizbut Tahrir di Irak dipimpin oleh Abdul Karim Ahmad. Di bawah kepemimpinanya Hizbut Tahrir mampu mendapatkan dar ah segar ke dalam organisasi ini. Sebagian mer eka memiliki energi dan semangat yang luar biasa untuk beraktivitas bersama barisan Hizbut Tahrir. Pada akhir bulan September tahun 1977 M. aparat keamanan lagi-lagi mampu membongkar oraganisasi ini, dan menangkap banyak sekali anggota Hizbut Tahrir. Mereka divonis dengan masa yang beragam, dan sebagian lagi divonis mati, namun kemudian diringankan dengan vonis seumur hidup.

Itulah gambaran kongkrit kegiatan-kegiatan Hizbut Tahrir di Irak dan kuantitas anggotanya pada periode tujuh puluhan yang lebih besar dar i pada per iode lima puluhan dan enam puluhan. Bahkan aparat keamanan pun melihat dengan jelas bahwa Hizbut Tahrir tiba-tiba besar ketika mereka membongkar organisasi ini pada tahun 1977 M. dan serangan besar-besaran ditujukan kepada H izbut Tahrir hingga akhir dekade tujuh puluhan. Diriwayatkan bahwa asy-Syeikh Taqiyuddin an-

N abhani-setelah berbagai serangan yang bertubi-tubi ini-berkata: "Aku

t elah dihancurkan di Irak". Pada bulan Juni 1979 M. aparat keamanan kembali membongkar organisasi Hizbut Tahrir di Irak. Beberapa anggota Hizbut Tahrir ditangkap. Atha' Khalil-pemimpin Hizbut Tahrir sekarang- adalah salah seorang yang ditangkap ketika itu. Pada akhir tahun 1979 M.

___________________

69 Lihat . H izbut Tahrir al- Islamiyah H aqaiq wa W at saiq, hlm. 171; Adwa' ala at -Taharruk arRraj'iy wa

Asalibuhu, hlm. 125; M afhum al-Adalah al-Ijt ima'iyah fi al-Fikr al-Islami al-M u'ashirah, hlm. 148; pengacara Muhammad Ubaid al-Bayati, w aw ancara dengan Abdul Jabbar al-Kaw az, dan w aw ancara dengan al- Ustadz Shalah ash-Shalihi, dan w aw ancara dengan asy-Syeikh Sa'dun Ahmad al-U baidi.

131

semua anggota Hizbut Tahrir dibebaskan setelah dikeluarkannya amnesti umum pada bulan Agustus 1979 M. bagi semua tahanan termasuk mereka yang divonis mati. Para anggota Hizbut Tahrir yang melarikan diri di antara mereka yang divonis mati kembali lagi ke Irak, di antaranya adalah Ahmad al-Banna.70