ASPEK HUKUM PIDANA KORPORASI DALAM PERISTIWA LUMPUR PANAS DI SIDOARJO
B. Posisi Kasus
13. Perkiraan dampak lingkungan hidup tahun 2007 S.D. 2013
Dengan adanya kejadian semburan lumpur yang hingga kini kurang jelas penyebab utamanya, maka perlu dipastikan tidak ada faktor geohazard yang ikut berperan dalam semburan lumpur Sidoarjo, suatu survei umum perlu segera dilakukan untuk mendapatkan informasi lengkap dan akurat mengenai keadaan geologis Wilayah Kerja Blok Brantas dan wilayah terkait yang kuat diduga terkait erat dengan situasi geologis Blok Brantas.
Hasil survei umum ini juga akan sangat berguna dalam menentukan penyebab utama semburan sehingga berdampak pada telitinya perencanaan dalam upaya penghentian semburan dan menduga luas wilayah dan lamanya dampak yang harus ditangani secara komprehensif.
Hal ini juga penting untuk pemberian izin baru bagi pemboran eksplorasi di wilayah kerja yang sama. Pada tanggal 18 Desember 2008 BPMIGAS
menargetkan sepanjang periode 2007-2009 ada kegiatan pemboran sebanyak 200 sumur eksplorasi. Target tersebut ditetapkan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produksi minyak nasional. Karenanya mengingat Kontrak Kerjasama Lapindo Brantas, Inc. Di Blok Brantas masih berlaku hingga tahun 2020, tidak dapat dihindari kemungkinan terjadi kegiatan pemboran eksplorasi di wilayah kerja tersebut.
Diperkirakan sepanjang garis pantai sebelah timur semburan lumpur ke arah Barat akan mengalami dampak (± 1.200 Ha tambak) karena terkontaminasi dengan rembesan air lumpur yang mempunyai Daya Hantar Listrik tinggi, yaitu 6500 (μs/cm) serta kandungan NH3 5 ppm relatif besar untuk penebaran bibit. Dampak ini dapat bertahan cukup lama, selama genangan lumpur masih bertambah. Ditemuinya unsur besi dan alumunium yang cukup tinggi pada lumpur bersifat meracuni tanaman. Salinitas yang tinggi akan potensial menghasilkan tekanan osmose sangat tinggi sehingga tanaman dapat mati kekeringan. Redoks Potensial (Eh) negatif pada lumpur mengindikasikan potensi terbentuknya asam sulfida (H2S), gas methane (CH4).
Akumulasi zat organik beracun juga dapat terjadi seperti fenol dan asam lemak berantai pendek. Hal tersebut berakibat tidak dapatnya lahan dimanfaatkan untuk budidaya pertanian, kecuali dilakukan upaya remediasi. Diperkirakan dampak ini akan bertahan minimal dalam waktu 3 s.d. 5 tahun. Hal ini disebabkan tidak mudahnya usaha-usaha penggelontoran kadar garam antara lain karena masalah topografi, normalisasi saluran irigasi, langkanya varietas tahan salinitas tinggi serta upaya pengaturan pola tanam.
Upaya pemindahan lumpur melalui Kali Porong dapat berakibat pada mobilisasi pencemar, pencemaran air Kali porong dan air perairan laut. Dalam jangka waktu 3 s.d. 6 tahun terjadi peningkatan resiko pencemaran tambak, pendangkalan dasar Kali Porong, Kerusakan dan penurunan jenis serta populasi habitat biota air. Selain itu yang juga terancam dalam jangka panjang, adalah produktivitas Selat Madura. Di delapan Kabupaten/Kota tercatat 100.000 ton/tahun hasil tangkapan dengan luas tambak di Kabupaten Sidoarjo 15.530 Ha yang memproduksi 20.721 ton bandeng dan udang, di Kabupaten Pasuruan 3.966 Ha, dengan produksi 4.186 ton/tahun, di Kota Pasuruan 502 ha, dengan produksi 271 ton/tahun.
Pembuangan ke laut mengundang resiko antara lain debu (50%) dan liat (45%) perlu waktu untuk mengendap. Yang perlu diwaspadai adalah pergerakan liat yang menyebar dan menimbuni terumbu karang dan/atau mangrove tempat pemijahan ikan yang ada di kawasan selat Madura, sehingga populasi ikan terancam menurun. Untuk pantai timur Sidoarjo tampaknya bukan masalah besar, karena muara sungai muara sngai ini merupakan hasil sedimentasi kali Brantas sejak ribuan tahun yang lalu. Masalahnya adalah bahan baku air laut untuk tambaknya yang mengandung material debu dan liat cukup tinggi.
Pada lahan yang terdampak rembesan perlu diperhatikan penentuan jenis komoditi yang tepat, serta dilakukan pengelolaan lahan secara terpadu. Pengaturan irigasi dan drainase perlu dilakukan secara intensif, terutama pada lahan-lahan baru pengganti lahan lama.
Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK, penulis berpendapat ada indikasi bahwa LBI telah sengaja melakukan perbuatan, dimana dalam hal ini perbuatan yang dilakukan adalah aktivitas penambangan diwilayah Sidoarjo, menjadi pemicu keluarnya lumpur panas. Kesengajaan yang penulis maksudkan disini adalah kesengajaan sebagai kemungkinan. Kesengajaan sebagai kemungkinan ialah kesengajaan untuk melakukan perbuatan yang diketahuinya bahwa ada akibat lain yang mungkin dapat timbul yang ia tidak inginkan dari perbuatan, namun begitu besarnya besarnya kehendak untuk mewujudkan perbuatan, ia tidak mundur dan siap mengambil resiko untuk melakukan perbuatan itu.
Ada beberapa argumentasi yang dapat digunakan untuk memperkuat pendapat penulis, yaitu:
Berdasarkan data dari hasil pemeriksaan BPK RI yang bekerjasama dengan beberapa instansi yang terkait yang memiliki kualifikasi dalam bidang eksplorasi migas, maka ditemukan sejumlah fakta yang menunjukkan indikasi adanya kesengajaan yang dilakukan oleh pihak LBI untuk melakukan aktivitas produksi diwilayah eksplorasi yang pada akhirnya berbuah peristiwa keluarnya lumpur panas di Sidoarjo, yaitu:
1) Hasil penelaahan BPK RI terhadap dokumen usulan dan evaluasi pemboran, diketahui bahwa prognosa LBI maupun evaluasi BP Migas tidak memasukkan aspek resiko terjadinya mud volcano diwilayah Jawa Timur, khususnya di daerah Sidoarjo.
Setelah terjadinya semburan lumpur panas, LBI baru memetakan detail sesar di permukaan BJP-1 pada bulan Agustus 2006. Interpretasi pemetakan
sesar tersebut menunjukkan adanya pola penyebaran daerah bencana yang sirkuler mengelilingi titik semburan. Penelitian lainnya menunjukkan adanya sesar/patahan Watukosek di daerah sumur pemboran Sumur BJP-1.
Potensi risiko lainnya adalah adanya sebaran gunung lumpur (mud volcano) di wilayah Jawa Timur. Merujuk tulisan Prof. Richard J. Davies (Birth of a mud volcano: East Java, 29 May 2006) maupun peneliti lainnya, keberadaan mud volcano telah lama diidentifikasi banyak terdapat di Jawa Timur.
Gunung lumpur tersebut misalkan terdapat di Bledug Kuwu, Sangiran, Kalang Anyar, Pulungan, G. Anyar, dan Bangkalan. Adanya potensi risiko pemboran akan menembus gunung lumpur dan adanya sesar/patahan ternyata tidak dimasukkan dalam prognosa pemboran maupun evaluasi pemboran. Berdasarkan dokumen yang ada, prognosa maupun evaluasi pemboran hanya memasukkan aspek risiko pemboran dalam bentuk loss, kick, maupun
blowout.
Tidak dimasukkannya potensi resiko diluar potensi resiko pemboran yang mungkin dijumpai dalam eksplorasi ini, menunjukkan ketidakhati-hatian LBI dalam proses eksplorasi ini. Padahal, keberadaan informasi mengenai potensi resiko lain diluar pengeboran penting untuk dicantumkan agar dapat dilakukan langkah-langkah antisipatif untuk mengatasi atau setidaknya meminimalisasi resiko.
PT. LBI selaku korporasi yang telah lama bergerak dibidang pertambangan, selayaknya memiliki pengalaman lebih mengenai hal ini.
Sehingga dalam kinerjanya, menjadi lebih detail dalam melakukan penilaian terhadap kelayakan dilakukannya eksplorasi atau tidak. Selain hal diatas, ada hal lain yang patut dicatat dari proses eksplorasi yang dilakukan oleh PT. Lapindo Brantas ini. Ini menjadi hal yang patut dipertanyakan mengapa korporasi sekelas LBI bisa melakukan kesalahan yang akhirnya membuahkan bencana yang demikian hebat.
Hal tersebut berkaitan dengan diabaikannya hasil penelitian awal mengenai kawasan yang akan diekplorasi, dimana dalam hasil penelitian yang ditinjau dari aspek geologi, geofisika dan aspek teknik pengeboran, ketiganya telah diabaikan begitu saja oleh pihak Lapindo.
Hasil kajian dari segi geologi menunjukkan bahwa Tipe play sembulan karbonat Kujung di Jawa Timur merupakan tipe play yang terbukti sangat produktif dan mempunyai rasio keberhasilan yang tinggi misalkan sumur-sumur BD-1 dan BD-2. Adapun kualitas reservoir batu gamping Kujung diperkirakan memiliki porosity 30% dengan permeabilitas di atas 10 darcy
dan peluang keberhasilan diperkirakan 18,4%.
Berbicara dari tinjauan geologis, maka patut pula ditilik kembali sejarah geologis cekungan Jawa Timur Utara. Menurut Van Bemmelen (1949), sejarah gologi daerah Jawa Timur Utara dimulaiutaan tahun lalu yang terbagi menjadi tiga bagian; bagian selatan (gunung api aktif); bagian tengah cekungan laut transngresi; dan bagian utara (pegunungan). Dibagian tengah terjadi pembentukan terumbu karang (reef) dan pengendapan sendimen klastik yang bersumber dari utara. Bersamaan dengan itu terjadi aktivits tektonik dan
ledakan gunung api yang cukup besar berlangsung terus menerus. Karena sifat ledakan gunung api yang mendadak dan besar, maka sendimen yang tertutup oleh endapan hasil ledakan ini tidak sempat mengalami pemadatan (masih asli berupa lumpur dan air).223
Aktivitas tektonik menyebabkan terjadinya pengangkatan,penurunan, pelipatan, dan pematahan terhadap batuan sendimen yang ada di cekungan Jawa Timur Utara. Aktivitas tektonik ini terjadi berulang-ulang, sehingga menyebabkan struktur geologi daerah ini menjadi kompleks, dimana reservoir minyak dan gas bumi yang ada didalam tanah akan terjebak pada struktuk geologi yang kompleks yaitu campuran antara struktur lipatan, patahan dan diapir. Ini berarti tiap ada upaya pengeboran akan menembus atau melewati zona lemah patahan, makin banyak patahan, maka makin lemah daerah itu. Ini sangat perlu diperhatikan karena bisa berakibat fatal.224
Dari sejarah geologi itu, maka pada cekungan Jawa Timur Utara terdapat batu gamping, terumbu dan batuan sendimen transngresi yang merupakan komponen utama formasi kujung, yang menjadi target utama pencarian minyak bumi. Pemikiran inilah yang digunakan oleh oleh ahli minyak bumi untuk berupaya menembus formasi kujung dengan harapan menjadi reservoir migas yang berukuran besar dan memang terbukti besar. Sebahagian besar dari perusahaan minyak berupaya menembus reservoir formasi kujung seperti yang sudah dieksplorasi dan dieksploitasi di Cepu, Bojonegoro, Laut Jawa dan lainnya. Namun ada catatan yang perlu diperhatikan, sebahagian dari
223
Amien Widodo, Memahami Bencana Gunung Lumpur (Kasus Lumpur Panas Sidoarjo), ITS Press, Surabaya, 2007, Hal. 4-5
224
perusahaan ini saat menembus formasi kujung pernah mengalami blow out
atau semburan liar seperti yang terjadi di Cepu, Bojonegoro, Laut Jawa dsb. Ini disebabkan karena reservoir formasi kujung bertekanan sangat besar dan harusnya menjadi catatan penting bagi pengusaha migas, untuk selalu memasang casing di kedalaman berapapun.225
225
Ibid. Hal. 5-6.
Pendapat Amien Widodo, seorang pakar Geologi dari ITS dalam bukunya
Memahami Bencana Gunung Lumpur (Kasus Lumpur Panas Sidoarjo), sangat gamblang menjelaskan kondisi geologis wilayah eksplorasi migas yang ada di Jawa timur utara, termasuk didalamnya wilayah eksplorasi LBI. Namun, lagi-lagi muncul pertanyaan, mengapa justru dalam kasus ini, LBI terkesan tidak memperdulikan keberadaan fakta tersebut? Setidaknya, demikianlah kesan yang penulis tangkap dari kasus ini.
Hal inilah yang menurut penulis menjadi substansi penting mengapa pada penjelasan sebelumnya penulis mengatakan bahwa ada indikasi kesengajaan yang dilakukan LBI dalam peristiwa keluarnya lumpur panas di Sidoarjo ini. Ada dua alasan mengapa penulis berkesimpulan demikian. Pertama, sebagai korporasi yang telah lama bergerak dalam bidang eksplorasi migas, selayaknya LBI mengetahui bahwa sangat penting untuk melakukan observasi awal mengenai wilayah yang hendak dieksplorasi, kemudian memetakan secara detail mengenai kondisi riil yang ada dilapangan, serta memperkirakan hal-hal (resiko) yang mungkin muncul.
Perkiraan yang dibuat, tidak hanya seputar resiko teknis yang mungkin dihadapi, namun resiko non teknis pun juga tidak boleh luput dari perkiraan. Dalam hal ini, LBI telah melakukan kesalahan fatal dengan tidak memasukkan aspek resiko non teknis yang berkaitan dengan dengan kondisi wilayah eksplorasi yang memiliki struktur geologi yang kompleks, karena banyak sekali terdapat lipatan, patahan, diapir bahkan gunung api lumpur. Pemahaman yang demikian, akan membuat korporasi menjadi lebih berhati-hati dalam proses eksplorasinya dan lebih waspada untuk tidak mengabaikan hal sekecil apapun yang memungkinkan resiko yang telah diprediksi tadi untuk muncul. Kejujuran korporasi dalam menggambarkan kondisi riil yang ada dilapangan juga akan sangat bermanfaat bagi pihak pengawas, dalam hal ini BP Migas, ketika melakukan evaluasi mengenai kegiatan eksplorasi, ternyata ditemukan adanya hal kontraproduktif yang dilakukan oleh pihak korporasi, maka BP Migas dapat proaktif untuk mengingatkan, sehingga resiko-resiko yang mungkin muncul dapat diantisipasi lebih dini.
Berkaitan dengan kondisi diatas, Ali Azhar Akbar dalam bukunya Konspirasi Dibalik Lumpur Lapindo (Dari Aktor Hingga Strategi Kotor), dinyatakan bahwa LBI telah mengabaikan hasil temuan dari penelitian sebelumnya yang terkait dengan kondisi geologis wilayah yang hendak dieksplorasi. Kusumastuti, ahli Geologi Huffco yang telah awal melakukan eksplorasi di Blok Brantas dan hasil temuannya telah dipublikasi pada tahun 2002, menemukan lapisan lempung atau slump yang dapt bergerak dan labil. Bila lapisan ini ditembus secara vertikal, mudah diprediksi adanya resiko