• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : Pengaturan Prinsip Keterbukaan Perusahaan Publik di Pasar

A. Perlindungan Hak Tenaga Kerja di Indonesia

1. Pengertian Tenaga Kerja

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat.131 Sedangkan pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.132 Dengan demikian, pekerja/buruh merupakan bagian dari tenaga kerja yang bekerja dalam hubungan kerja, berada di bawah perintah pemberi kerja133 dan atas jasanya dalam bekerja, yang bersangkutan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

2. Hak-Hak Tenaga Kerja

Hak adalah sesuatu yang harus diberikan kepada seseorang sebagai akibat dari kedudukan atau status seseorang. Menurut Rudolf Von Jhering, hak adalah sesuatu yang penting bagi seseorang yang dilindungi oleh hukum, atau suatu kepentingan

131

Pasal 1 ayat 2 UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

132

Pasal 1 ayat 3 UU No. 13 Tahun 2003, Ibid

133

Pasal 1 ayat 4 UU Ketenagakerjaan menyatakan, Pemberi Kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang memperkerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalam dalam bentuk lain.

yang terlindungi.134

Hak normatif adalah hak dasar buruh dalam hubungan kerja yang dilindungi dan dijamin dalam peraturan perundang-undangan. Hak-hak tersebut ada yang bersifat ekonomis, bersifat politis, bersifat medis, bersifat sosial. Hak-hak tersebut antara lain:

Demikian pula halnya dengan pekerja/buruh mempunyai hak-hak karena statusnya itu. Hak-hak pekerja/buruh terbagi dalam dua kategori, yakni hak normatif dan non normatif.

a) Hak untuk mendapat upah/gaji (Pasal 1602 KUHPerdata);

b) Hak atas pekerjaan dan penghasilan yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 3 Undang-Undang Nomor 14 tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja);

c) Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan (Pasal 5 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan);

d) Hak setiap pekerja/buruh memperoleh perlakukan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha (Pasal 6 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan);

e) Hak setiap tenaga kerja untuk memperoleh dan/atau meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya melalui pelatihan kerja (Pasal 11 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan);

134

f) Hak setiap pekerja/buruh untuk mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan kerja sesuai dengan bidang tugasnya (Pasal 12 ayat (4) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan);

g) Tenaga kerja berhak untuk memperoleh pengakuan kompetensi kerja setelah mengikuti pelatihan kerja yang diselenggarakan lembaga pelatihan kerja pemerintah, lembaga pelatihan kerja swasta, atau pelatihan di tempat kerja. (Pasal 18 ayat (1) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan);

h) Tenaga kerja yang telah mengikuti program pemagangan berhak atas pengakuan kualifikasi kompetensi kerja dari perusahaan atau lembaga sertifikasi. (Pasal 23 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan);

i) Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih, mendapatkan atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri (Pasal 31 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan);

j) Hak untuk membentuk serikat buruh, menjadi atau tidak menjadi anggota serikat buruh (Pasal 104 ayat (1) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan);

k) Hak mendapat perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (paragraf 5 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan);

l) Hak untuk mendapatkan hari libur, istirahat/cuti haid, hamil, melahirkan (Pasal 79-85 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan)

Masih banyak lagi hak-hak buruh yang diatur dalam berbagai peraturan perundangan-undangan di Indonesia, semua hak tersebut termasuk dalam hak normatif buruh.

Hak non normatif adalah hak yang tidak diatur secara tegas oleh undang- undang seperti rendahnya uang makan, uang transport dan uang susu, pakaian seragam, uang penyelenggaraan dan dana rekreasi, sistem pembayaran upah, kejelasan status pekerja, service charge di tempat penginapan, fasilitas tempat kerja kurang memadai atau pencabutan fasilitas, dan hal-hal lain yang tidak diatur oleh undang-undang namun terkait dengan kesejahteraan buruh.

3. Hubungan antara Tenaga Kerja dan Perusahaan

Hubungan antara tenaga kerja dan perusahaan pada dasarnya adalah hubungan kerja. Hubungan kerja adalah suatu hubungan hukum yang dilakukan oleh paling sedikit dua subjek hukum mengenai suatu pekerjaan tertentu yang diimplementasikan dalam bentuk perjanjian kerja. Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 ayat (15) menyatakan bahwa, hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja135

135

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 angka 14 menyebutkan bahwa “Perjanjian Kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau

, yang mempunyai unsur pekerjaan upah dan perintah.

Hal tersebut dipertegas oleh Pasal 50 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang menyebutkan hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan buruh. Perjanjian Kerja tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum, adanya pekerjaan yang dijanjikan dan pekerjaan yang dijanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan, dan peraturan perundang- undangan yang berlaku.136

4. Perlindungan Hak Tenaga Kerja

Pekerja merupakan tulang punggung perusahaan, tanpa adanya pekerja tidak mungkin perusahaan itu bisa berjalan dan berpartisipasi dalam pembangunan. Menyadari akan pentingnya pekerja bagi perusahaan, pemerintah dan masyarakat, maka perlu dilakukan pemikiran agar pekerja dapat menjaga keselamatannya dalam menjalankan pekerjaan. Demikian pula perlu diusahakan ketenangan dan kesehatan pekerja agar apa yang dihadapinya dalam pekerjaan dapat diperhatikan semaksimal mungkin, sehingga kewaspadaan dalam menjalankan pekerjaan tetap terjamin. Pemikiran-pemikiran tersebut merupakan program perlindungan pekerja, yang dalam

pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban para pihak.” Bandingkan dengan Pasal 1601 a KUHPerdata yang menyebutkan bahwa perjanjian kerja adalah suatu persetujuan bahwa pihak kesatu yaitu buruh mengikatkan diri untuk menyerahkan tenaganya kepada pihak lain, yaitu majikan dengan upah selama waktu tertentu.

136

praktik sehari-hari berguna untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas dan kestabilan perusahaan.137

Imam Soepomo membagi perlindungan pekerja/buruh dalam tiga bahagian, yaitu:138

a) Perlindungan ekonomis, yaitu suatu jenis perlindungan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk memberikan kepada pekerja/buruh suatu penghasilan yang cukup untuk memenuhi keperluan sehari-hari baginya serta keluarganya, termasuk dalam hal pekerja/buruh tersebut tidak mampu bekerja karena sesuatu di luar kehendaknya. Perlindungan ini disebut dengan jaminan sosial;

b) Perlindungan Sosial, yaitu suatu perlindungan yang berkaitan dengan usaha kemasyarakatan, yang tujuannya memungkinkan pekerja/buruh itu “mengenyam” dan mengembangkan kehidupannya sebagai manusia pada umumnya, dan sebagai anggota masyarakat dan anggota keluarga atau yang biasa disebut dengan kesehatan kerja;

c) Perlindungan teknis, yaitu jenis perlindungan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk menjaga pekerja/buruh dari bahaya kecelakaan yang dapat ditimbulkan alat-alat kerja atau oleh bahan yang bahan yang diolah atau dikerjakan oleh perusahaan. Perlindungan jenis ini disebut dengan keselamatan kerja.

Sedangkan menurut Kartasapoetra G. dan Rience Indraningsih, perlindungan pekerja ini mencakup:

137

Lalu Husni, Perlindungan Buruh (Arbeidsbescherming), dalam Zainal Askin, dkk, Dasar-

dasar Hukum Perburuhan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), h. 95-96.

138

a) Norma keselamatan kerja, yang meliputi keselamatan kerja yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat-alat kerja bahan dan proses pengerjaannya, keadaan tempat kerja dan lingkungan serta cara-cara melakukan pekerjaan.

b) Norma Kesehatan kerja dan heigine kesehatan perusahaan, meliputi pemeliharaan dan mempertinggi derajat kesehatan pekerja, mengatur persediaan tempat, cara dan syarat kerja yang memenuhi heigine kesehatan perusahaan dan kesehatan pekerja untuk mencegah penyakit, baik akibat bekerja atau penyakit umum serta menetapkan syarat kesehatan bagi perumahan pekerja.

c) Norma kerja yang meliputi perlindungan terhadap tenaga kerja yang bertalian dengan waktu bekerja, sistem pengupahan, istirahat, cuti, kerja wanita, anak, kesusilaan, ibadah menurut keyakinan masing-masing, kewajiban social kemasyarakatan dan sebagainya.

d) Perlindungan terhadap tenaga kerja yang mendapatkan kecelakaan dan/atau menderita penyakit akibat pekerjaan, berhak atas ganti rugi perawatan dan rehabilitasi akibat kecelakaan dan/atau penyakit akibat pekerjaan, ahli warisnya juga berhak mendapat ganti rugi.

Berbagai bentuk perlindungan yang dikemukakan oleh pendapat diatas adalah perlindungan yang telah diakomodir oleh undang-undang ketenagakerjaan. Namun, untuk tenaga kerja perusahaan publik perlindungan-perlindungan tersebut dirasa belum cukup, karena belum mampu meningkatkan bargaining position tenaga kerja. Salahsatu cara menjamin perlindungan terhadap tenaga kerja dalam sebuah

perusahaan adalah dengan menawarkan kepemilikan perusahaan kepada karyawannya (Employee Stock Ownership Plan). Konsep kepemilikan saham dari ESOP ini mempunyai beberapa cara dan metode pelaksanaannya, yaitu:139

Pertama, perusahaan dapat memberikan porsi dari sahamnya kepada serikat pekerja. Serikat pekerja inilah nantinya yang akan menjadi pemegang saham dari perusahaan tersebut. Pembayaran dividen dari saham tersebut dapat dilakukan dengan melihat senioritas atau kedudukan dari karyawan tersebut. Kedua, perusahan dapat menawarkan porsi dari sahamnya kepada karyawan dengan harga di bawah pasar. Pembelian dapat dilakukan tunai atau dipotong dari gaji karyawan. Biasanya hanya karyawan tetaplah yang boleh memilih opsi ini. Pada pembagian dividen, karyawan memiliki opsi untuk mendapatkan uang tunai atau meningkatkan kepemilikan sahamnya.140

Bagi karyawan kepemilikan saham ini selain memberikan perlindungan juga dapat meningkatkan bargaining position karyawan tersebut terhadap kebijakan perusahaan dan pengawasan manajemen dari perusahaan oleh karyawan. Sehingga pada gilirannya manajemen perusahaan akan lebih memperhatikan kepentingan karyawan. Sedangkan bagi perusahaan, kepemilikan saham oleh karyawan ini dapat memberikan keuntungan dari segi produktivitas dan loyalitas karyawan.

139

Selengkapnya lihat http://www.allbussiness.com/human-resoursces/benefits-employee- ownership-stock-options/2975897-1.html, diakses 22 Mei 2011.

140

B. Prinsip Keterbukaan terkait Perlindungan Hak Tenaga Kerja pada