• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Dan Tantangan Pengembangan Air Limbah

1) Identifikasi Permasalahan Air Limbah

Tabel 6.42 Identifikasi Permasalahan Pengelolaan Air Limbah Yang Dihadapi Di Kabupaten Samosir

No. Aspek Pengelolaan

Air Limbah Permasalahan

Tindakan

Yang Sudah Dilakukan Yang Akan Dilakukan

(1) (2) (3) (4) (5)

A. Kelembagaan

Bentuk Organisasi Dinas Permukiman dan Tata Ruang

Badan Lingkungan Hidup Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah Dinas Kesehatan Dinas Pendidikan

Instansi yang terkait telah melaksanakan sesuai dengan kemampuan.

Pemkab akan

meningkatkan kinerja dalam pengelolaan air limbah.

Tata Laksana (Tupoksi, SOP, Dll Belum adanya SOP dalam penanganan air limbah.

Saat ini masih dalam tahap menjalankan Tupoksi.

Pemkab akan membuat Perda atau SOP.

Kuantitas dan Kualitas SDM Kuantitas dan Kualitas SDM masih rendah

B. Perundangan Terkait Sektor (Perda, Pergub, Perwali).

Belum adanya Perda tentang Air Limbah di Kabupaten Samosir.

Dalam tahap pembahasan. Pemkab segera menerbitkan Perda. C. Pembiayaan Sumber-sumber Pembiayaan (APBD Prov/Kab/Kota/Swasta/ Masyarakat. Retribusi. Rata-Rata pertumbuhan pembiayaan sekitar 13% dan belum ada retribusi air limbah domestic.

Belum ada Perda tentang air limbah.

Pemkab akan menambah anggran Pemkab segera

membuat Perda air limbah

Pemkab akan mengajukan proposal program kegiatan di tingkat Pusat dan Provinsi untuk peningkatan penagnanan air limbah.

D. Peran Serta Masyarakat dan Swasta.

Belum ada Peran Serta Masyarakat dan Swasta

Penyuluhan risiko air limbah dari dinas terkait

Mencoba kerjasama dengan sector Swasta dalam penanganan iar limbah.

E. Teknis Operasional 1. Sistem Onsite Sanitation

MCK

Jamban Keluarga/Cubluk/Septik Tank

Septik Tank Komunal PS Sanimas Truck Tinja IPLT

Sebagian besar masyarakat masih menggunakan on site

sistim dimana air limbah baungan langsung dialirkan ke sungai, danau atau saluran irigasi.

Belum adanya Truck Tinja. Belum adanya IPLT.

Berdasarkan Studi EHRA bahwa 33,6% masyarakat belum memiliki septik tank yang tidak memenuhi standar teknis.

Dinas terkait telah melaksanakan sosialisasi dalam penanganan MCK, Jamban serta Septik Tank.

Pemkab direkomendasikan pengadaan Truck Tinja Dinas terkalit akan

melakukan pengawasan terhadap pengelolaan MCK, Jamban serta Spetik Tank. Pemkab direkomendasikan membangun IPLT.

2. Sistem Off Site Sanitation Sambungan Rumah. Sistem Jaringan Pengumpul Sistem Sanitasi Berbasis

Masyarakat. IPAL.

Saat ini Pemkab Samosir belum mempunyai sistem Off Site Sanitation.

Pemkab akan membuat studi dan masterplan terkait sistem Off Site.

2) Tantangan dan Peluang Pengembangan Sektor Air Limbah

Tantangan Sektor Air Limbah meliputi tantangan internal dan tantangan eksternal. Adapun tantangan internal sektor air limbah di Kabupaten Samosir adalah:

a. Masih adanya masyarakat yang Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Dari data hasil Studi EHRA Tahun 2014 Dinas Kesehatan bahwa sebesar 62,7% belum berprilaku BABS, sedangkan 37,3% berprilaku BABS;

b. Kecenderungan meningkatnya angka penyakit terkait air (waterborne diseases) akibat masih rendahnya cakupan pelayanan baik diperkotaan maupun diperdesaan;

c. Perlunya konservasi sumber air baku untuk menjamin terjaganya kualitas dan kuantitas air baku akibat menurunnya kualitas air tanah dan air permukaan sebagai sumber air baku untuk air minum; d. Peningkatan kelembagaan yang memungkinkan dilaksanakannya pengelolaan air limbah

permukiman secara lebih proporsional dengan dukungan sumber daya ahli yang memadai;

e. Penggalian sumber dana untuk investasi dan biaya operasi dan pemeliharaan terutama dari pihak swasata yang harus sinergi dengan penerapan pemulihan biaya (cost recovery) secara bertahap merupakan tantangan yang harus segera diketahui solusinya secara win-win solution.

f. Pembagian porsi antara dana APBN dan APBD yang akan dialokasikan dalam pengembangan penyelenggaran pengelolaan air limbah belum terlihat secara tegas.

Adapun tantangan Eksternal yang ada di Kabupaten Samosir adalah:

a. Target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), yaitu bebasnya pembuangan tinja secara terbuka (Open defecation free) sampai dengan tahun 2014;

b. Pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) yaitu terlayani 50% masyarakat yang belum mendapatkan akses air limbah sampai dengan tahun 2015;

c. Tuntutan pembangunan yang berkelanjutan dengna pilar pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup;

d. Tuntutan penerapan good dovernance melallui demokratisasi yang menuntut pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan;

e. Tuntutan Rencana Aksi Nasional dalam menghadapi Perubahan Iklim;

f. Kondisi keamanan dan hukum nasional yang belum mendukung iklim investasi yang kompetitif. Peluang dalam pengelolaan air limbah adalah:

a. Telah diaturnya kewajiban penanggulangan pencemaran terhadap lingkungan dan perlindungan sumber air baku dalam tataran undang-undang sampai dengan peraturan daerah;

b. Peraturan perundangan juga telah mengatur keterpaduan penanganan air limbah dengan pengembangan sistem penyediaan air minum;

c. Adanya peningkatan kesadaran masyarakat dalam penyelenggaraan air limbah permukiman; d. Pentingnya pengelolaan air limbah untuk mendukung konservasi sumber daya air, seperti yang

tertuang dalam UU RI Nomor 7/2004 tentang Sumber Daya Air;

e. Tanggung jawab penyelenggaraan air limbah permukiman sebagaimana ketetapan dalam UU Nomor 32 tahun 2004 dan PP Nomor 38/2007 menjadi kewenangan pemerintah daerah;

f. Tuntutan keterpaduan penanganan air limbah dan pengembangan sistem penyediaan air minum sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 16/2005;

g. Adanya potensi peningkatan kesadaran masyarakat baik di perkotaan maupun di perdesaan dalam penyelenggaraan air limbah permukiman.

Adapun Undang-Undang yang mengatur tersebut adalah:

1. UU RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Adanya kewajiban bagi setiap orang untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup;

2. UU RI Nomor 7/2004 tentang Sumber Daya Air Pentingnya pengelolaan air limbah untuk mendukung konversi sumber daya air;

3. UU Nomor 32 Tahun 2004 dan PP Nomor 38 Tahun 2007, Tanggungjawab penyelenggaraan air limbah permukimanmerupakan kewenangan pemerintah daerah;

4. PP Nomor 16 Tahun 2005, Tuntutan Keterpaduan penanganan air limbah dan pengembangan sistem penyediaan air minum;

5. Adanya potensi peningkatan kesadaran masyarakat baik diperkotaan maupun diperdesaan dalam penyelenggaran air limbah permukiman.

6.4.1.3 Analisis Kebutuhan Air Limbah

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisis atas dasar besarnya kebutuhan penanganan air limbah, baik itu untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat (basic need) maupun kebutuhan pengembangan kota (development need).

Berikut ini tabel analisis kebutuhan air limbah.

Tabel 6.43 Analisis Kebutuhan dan Target Pencapaian Daerah

No. Uraian Kondisi Eksisting Kebutuhan (Thn)

2015 2016 2017 2018 2019

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

A. Peraturan Terkait Sektor Air Limbah

Ketersediaan Peraturan Bidang Air LImbah Belum ada

B. Kelembagaan Bentuk Organisasi

Tata Laksana (Tupoksi, SOP, Dll Kuantitas dan Kualitas SDM

BLHPP, Tarukim K&P Ada Ada C. Pembiayaan

Sumber Pembiayaan (APBD Prov/Kab/Kota/Swasta/Masyarakat/dll)

Tarif Retribusi

Realisasi Penarikan Retribusi (% terhadap target)

Ada Belum ada Belum ada

D. Peran Serta dan masyarakat

(sudah ada/belum ada/bentuk kontribusi, dll Masih terbatas E. Sistem Setempat (Onsite)

Ketersediaan dan kondisi IPLT Kapasitas IPLT

Tingkat Cakupan Pelayanan IPLT Ketersediaan dan Kondisi Truck Tinja) Biaya O & P

Kualitaas Efluen IPLT (BOD & COD)

Ketersediaan sistem pengolahan air limbah skala kecil/kawasan/ Komunitas Belum ada Belum ada Belum ada Belum ada Belum ada Belum ada Belum ada Belum ada - - - - -

F. Sistem Terpusat (Off site)

Kapasitas IPAL

Tingkat Cakupan Pelayan IPAL Biaya O & P

Belum ada Belum ada Belum ada Catatan:

Pemerintah Kabupaten Samosir saat ini belum mempunyai Sistem Setempat (Onsite) dan Sitem Terpusat (Off site), untuk itu 5 (lima) kedepan Pemerintah Kabupaten Samosir akan mempunyai Sistem Setempat (Onsite) dan Sitem Terpusat (Off site).

6.4.1.4 Program dan Kriteria Kesiapan Pengembangan Air Limbah

A. Target dan Sasaran Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah (SPAL) 2015-2019

 Akses Pelayanan pengelolaan air limbah 100% : Perkotaan 100% dan Perdesaan 100%.

- 2015: 64 %;

- 2016: 72 %;

- 2017: 85 %;

- 2018: 92 %;

- 2091: 100 %.

B. Program Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah

 Strategi Pelaksanaan.

- Peningkatan Kesadaran masyarakat;

- Peningkatan kepedulian dan komitmen Pemda;

- Peningkatan kelembagaan dan kompetensi SDM;

- Peningaktan akses air limbah layak;

- Kerjasama lintas sektor dan kemitraan;

- Pengembangan skala penanganan;

- Peningkatan kualitas perencanaan air limbah.  Program Non Fisik 2015-2019.

- Kampanye, edukasi dan promosi;

- Advokasi pemda (eksekutif dan Legislatif);

- Bantuan Teknis kelembagaan;

- Pendampingan Pemutakhiran SSR;

- Sinkronisasi Lintas Sektor (Implementasi/Pendanaan);

- Peningkatan Kapasitas SDM.  Program Fisik 2015-2019.

1. SPAL Setempat: - Tangki Septik Individual; - Tangki Septik Komunal; - Sarana Pengangkutan. - IPLT.

2. SPAL Terpusat: - Skala Komunal;

- Skala Kawasan; - Skala Kota.