• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 Perkembangan Ekonomi Makro Daerah

1.3.1 Pertanian

Pertumbuhan LU pertanian mengalami perlambatan pada triwulan IV 2017, setelah mengalami peningkatan pada triwulan sebelumnya. Pada triwulan IV 2017 lapangan usaha pertanian tumbuh melambat 4,72% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 7,22% (yoy). Penurunan kinerja lapangan usaha pertanian pada triwulan IV 2017 bersumber dari menurunnya produksi tanaman bahan makanan dan perkebunan. Kenaikan produksi tanaman bahan makanan (tabama) didorong oleh telah berlalunya masa panen dan awal musim tanam baru padi.

Penurunan yang terjadi pada sub-LU tabama selama triwulan IV 2017 tersebut terkonfirmasi melalui penurunan luas panen padi serta kenaikan luas lahan puso di Kalimantan Barat. Luas lahan panen padi di Kalimantan Barat pada triwulan IV 2017 tercatat 43,31 ribu hektar atau menurun dibandingkan dengan triwulan lalu yang seluas 106,16 ribu hektar. Adapun luas lahan puso mengalami peningkatan menjadi 306 hektar pada triwulan IV 2017, dibandingkan dengan pada triwulan sebelumnya yang seluas 155 hektar. Di sisi lain, luas lahan tanam padi menunjukkan peningkatan seiring dengan musim tanam baru. Luas lahan tanam padi pada triwulan IV meningkat menjadi 212,90 ribu hektar, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 122,63 ribu hektar.

Sumber: Dinas Pertanian Prov. Kalbar, diolah

Grafik 1.35 Perkembangan Luas Lahan Tanam Sawah Kalimantan Barat

Sumber: Dinas Pertanian Prov. Kalbar, diolah

Grafik 1.36 Perkembangan Luas Lahan Panen Sawah Kalimantan Barat

Sumber: Dinas Pertanian Prov. Kalbar, diolah

Grafik 1.37 Perkembangan Luas Lahan Puso Kalimantan Barat

Sumber: Dinas Pertanian Prov. Kalbar, diolah

Grafik 1.38 Perkembangan Luas Lahan Dampak Perubahan Iklim (DPI)

Secara spasial, penurunan luas lahan panen terjadi di seluruh Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat, dengan penurunan terbesar terdapat di Kabupaten Sambas dan Mempawah. Luas lahan panen di Kabupaten Sambas turun hingga 37,26 ribu hektar, yaitu dari 40,69 ribu hektar menjadi 3,4 ribu hektar, sementara luas panen di wilayah Kabupaten Mempawah berkurang seluas 9,8 ribu hektar dari 10,62 ribu hektar pada triwulan III 2017 menjadi 845 hektar pada triwulan IV 2017. Secara umum, terjadinya penyusutan lahan ini utamanya disebabkan oleh banjir pada lahan tanam padi yang terjadi di hampir seluruh Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat, meskipun dengan luasan lahan yang berbeda. Hanya lahan tanam padi di Kota Pontianak dan Kabupaten Bengkayang saja yang tidak terdampak oleh banjir pada triwulan IV tersebut.

Tabel 1.4 Perkembangan Luas Lahan Panen Sawah Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat (Ha)

Sumber: Dinas Pertanian Prov. Kalbar, diolah

Produksi karet slab di Kalimantan Barat menurun, seiring dengan penurunan harganya. Volume produksi karet slab menurun menjadi 62,15 ribu ton pada triwulan IV 2017 dari 69,30 ribu ton pada triwulan sebelumnya, atau turun dari 37,57% (yoy) menjadi 21,27% (yoy). Dari sisi perkembangan harga, karet slab juga mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Tercatat harga karet Slab Kalimantan Barat pada triwulan IV 2017 berkisar Rp17.435/Kg atau menurun tipis -1,55% (qtq) relatif terhadap harga rata-rata karet Slab pada triwulan sebelumnya (Rp17.710/Kg). Hal tersebut tercermin juga dari harga karet di tingkat petani saat ini masih cenderung berada pada menyentuh titik terendah, yaitu berkisar antara Rp5.000-Rp6.000/Kg dari yang sebelumnya dapat mencapai Rp12.000-Rp15.000. Dalam kondisi demikian, petani biasanya akan memilih untuk menyimpan terlebih dahulu karet dengan cara dibekukan dan baru akan dijual ketika harga sudah relatif stabil.7

Sumber: Dinas Pertanian Prov. Kalbar, diolah

Grafik 1.39 Perkembangan Produksi Karet Kalimantan Barat

Sumber: Dinas Perkebunan Prov. Kalbar dan Bloomberg, diolah

Grafik 1.40 Perkembangan Harga Karet Slab dan Internasional I II III IV Sambas 23,500 4,543 40,693 3,429 Bengkayang 14,211 510 7,459 768 Landak 29,706 6,070 16,372 9,204 Mempawah 11,864 2,025 10,620 845 Sanggau 22,299 5,044 10,446 16,068 Ketapang 17,735 12,866 3,893 295 Sintang 10,916 1,422 2,592 75 Kapuas Hulu 6,667 89 2,222 914 Sekadau 6,791 845 1,079 390 Melawi 4,653 215 640 -Kayong Utara 10,261 7,875 2,662 1,046 Kubu Raya 35,856 10,567 4,549 1,446 Pontianak 178 - 38 21 Singkawang 2,611 213 2,898 205 Total 197,248 52,284 106,163 43,317 Trend Kabupaten/Kota 2017

Produksi kelapa sawit (Tandan Buah Segar/TBS) Kalimantan Barat juga mengalami penurunan. Produksi TBS menurun sebesar -13,85% (yoy) pada triwulan IV 2017 dari sebelumnya 87,17% (yoy) pada triwulan III 2017. Penurunan produksi TBS dipengaruhi kondisi cuaca yang cukup ekstrem pada akhir tahun. Dampaknya berkurangnya produksi TBS ini menyebabkan harga TBS Kalimantan Barat meningkat. Relatif terhadap triwulan sebelumnya, rata-rata harga TBS Kalimantan Barat pada triwulan IV 2017 tercatat sebesar Rp1.744,00/kg, atau lebih tinggi 2,82% (yoy) terhadap rata-rata harga TBS triwulan yang sama tahun lalu (Rp1.696,12/kg).

Sumber: Dinas Perkebunan Prov. Kalbar, diolah

Grafik 1.41 Perkembangan Produksi TBS Kalimantan Barat

Sumber: Dinas Perkebunan Prov. Kalbar, diolah

Grafik 1.42 Perkembangan Harga TBS Kalimantan Barat

Pertumbuhan LU pertanian Kalimantan Barat pada 2017 tumbuh meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan LU pertanian tahun 2017 sebesar 6,54% (yoy) berada di atas pencapaian pertumbuhan tahun 2016 yang sebesar 4,46% (yoy). Peningkatan lahan pertanian sepanjang tahun 2017 di seluruh wilayah Kalimantan Barat mendorong kenaikan produksi beras Kalimantan Barat. Produksi padi di Kalimantan Barat pada tahun 2017 mencapai 1,5 juta ton atau meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 1,3 juta ton. Peningkatan produksi padi juga mendukung ekspor beras perdana ke Malaysia sebanyak 25 ton pada Oktober 2017 lalu. Selain itu, berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kalimantan Barat, pada tahun 2017 Kalimantan Barat mengalami surplus lahan tanam seluas 12 ribu hektar yang menjadi modal dalam upaya peningkatan target produksi padi menjadi 1,6 juta ton di tahun 2018. Kondisi cuaca yang telah kembali normal pasca berlalunya fenomena El Nino pada 2016 yang lalu juga turut mendorong peningkatan kinerja LU pertanian secara umum.

Memasuki triwulan I 2018, kinerja LU pertanian diprediksikan meningkat. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan membaiknya kinerja subsektor tabama dan perkebunan. Meningkatnya kinerja subsektor tabama dipengaruhi oleh masa panen raya padi yang diperkirakan akan terjadi pada akhir triwulan. Lebih jauh, meningkatnya kinerja sub-LU perkebunan diperkirakan masih ditopang oleh produksi TBS dan karet Kalimantan Barat yang masih akan mengalami meningkat seiring dengan kondisi cuaca yang telah kembali normal pasca hilangnya pengaruh El Nino yang lalu.