BAB IV ANALISIS YURIDIS TERHADAP PUTUSAN HAKIM DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KEKERASAN KEPADA ANAK PERKARA TINDAK PIDANA KEKERASAN KEPADA ANAK
KEPADA ANAK (STUDI PUTUSAN NOMOR 65/PID.SUS/2018/PN WAT)
C. Kasus Posisi
9. Pertimbangan Hakim
Menimbang bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan apakah berdasarkan fakta-fakta hukum tersebut diatas, Terdakwa dapat dinyatakan telah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya;
Menimbang, bahwa Terdakwa telah didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan yang berbentuk alternatif, maka Majelis Hakim langsung memilih untuk mempertimbangkan dakwaan kesatu sebagaimana ditaur dalam Pasal 80 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut:
1. Setiap orang;
2. Menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.
Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan unsur-unsur tersebut, sebagai berikut:
ad.1. Setiap Orang;
Menimbang, bahwa yang pembuat Undang-Undang Perlindungan Anak mendefinisikan setiap orang sebagai perseorangan atau korporasi yang juga merupakan bentuk lain dari barangsiapa sebagaimana lazimnya digunakan dalam KUHP. Barangsiapa adalah siapa saja yang merupakan subjek hukum yaitu orang atau manusia, dalam hal ini yang didakwa melakukan suatu tindak pidana yang kepadanya dapat dipertanggung-jawabkan atas perbuatan yang dilakukannya;
Menimbang bahwa berdasarkan fakta hukum yang telah terungkap di persidangan, yang mana terdakwa Suryanto Bin Simen adalah termasuk orang perseorangan dan merupakan subjek hukum sebagai pendukung hak dan kewajiban;
Menimbang, bahwa di persidangan terdakwa telah pula membenarkan bahwa ia terdakwa oleh Penuntut Umum telah didakwa melakukan tindak pidana sebagaimana daam surat dakwaan Penuntut Umum tersebut, sehingga dengan demikian identitas dari orang yang bernama Suryanto Bin Simen yang diajukan ke persidangan ini telah dicocokkan dan ternyata telah sesuai dan cocok dengan identitas terdakwa dalam perkara ini, sehingga dengan demikian Majelis Hakim berpendapat bahwa dalam perkara ini tidak terdapat error in persona pada diri terdakwa, oleh karenanya terdakwa Suryanto Bin Simen tersebut dapat dimintai pertanggung-jawaban atas perbuatannya;
Menimbang, bahwa berdasarkan rangkaian pertimbangan hukum sebagaimana tersebut di atas, Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur ad.1 setiap orang, telah terpenuhi secara sah menurut hukum.
ad.2 Menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak;
Menimbang, bahwa untuk membuktikan unsur ini Majelis Hakim mendasarkan pertimbangan pada fakta-fakta hukum bahwa pada hari Selasa tanggal 27 Februari 2018 sekira pukul 15.00 Wib, bertempat dihalaman rumah saksi SUTIRAH yang beralamat di Dsn. Pelem Rt.18 Ds. Kebonharjo Kec.
Samigaluh Kab. Kulonprogo, terdakwa telah melakukan penganiayaan terhadap seorang anak yang bernama ARIA KUSUMAWARDHANA. Pada hari Selasa tanggal 27 Februari 2018 sekira pukul 10.00 Wib, terdakwa mendapat laporan oleh tetangganya yang bernama SAMI kalau anak terdakwa yang bernama FAREL telah mencuri uang diwarung dekat sekolah. Selanjutnya terdakwa menanyakan kebenaran berita tersebut kepada FAREL dan saat itu FAREL mengatakan kalau dirinya disuruh mengakui telah mengambil uang tersebut oleh kakak kelasnya yang dikelas VI. Mendengar pernyataan seperti itu dari anaknya yang bernama FAREL terdakwa lantas menjadi emosi. Bahwa selanjutnya terdakwa langsung mengumpulkan teman-teman FAREL diwarung yang terletak didekat sekolah anaknya dan menanyai satu persatu anak tersebut. Selanjutnya salah satu dari anak tersebut yang bernama KEVIN menceritakan kepada terdakwa kalau beberapa hari yang lalu FAREL ditelanjangi oleh ARIA DWI KUSUMA dan disuruh untuk berdiri didepan kelas dan memegang kemaluan teman perempuannya yang bernama NANA selanjutnya NANA juga disuruh
untuk memegang kemaluan FAREL, dan kalau mereka tidak mau melakukannya maka ARIA DWI KUSUMA mengancam keduanya akan dibanting. Setelah mendengar cerita dari KEVIN tersebut terdakwa langsung mengajak KEVIN untuk mencari ARIA DWI KUSUMA. Bahwa terdakwa bertemu dengan ARIA di depan rumah saksi SUTIRAH di Dsn. Pelem Ds. Kebonharjo Kec. Samigaluh Kab. Kulonprogo, terdakwa lalu menghentikan ARIA sambil bertanya “kamu yang bernama Somed?” lalu terdakwa dengan posisi berhadapan menarik rambut saksi korban ARIA dengan menggunakan tangan kanan dan melempar saksi korban ARIA sampai terjatuh, lalu baju saksi korban di tarik dengan tujuan agar saksi korban berdiri. Selanjutnya setelah saksi korban ARIA berdiri terdakwa lalu memukul punggung saksi korban sebelah kanan sebanyak 2 (dua) kali dengan menggunakan tangan mengepal, lalu terdakwa juga menendang bagian perut saksi korban sebanyak 1 (satu) kali dengan menggunakan kaki kanan. Selanjutnya terdakwa juga memukul leher saksi korban ARIA bagian belakang sebanyak 2 (dua) kali menggunakan tangan kanan mengepal. Bahwa terdakwa juga menarik baju saksi korban sampai sobek dan melempar tubuh saksi korban ARIA sampai terjatuh, lalu terdakwa membangunkan saksi korban ARIA dengan cara menjambak rambut saksi ARIA dan kemudian terdakwa menyuruh saksi ARIA pulang kerumah.
Menimbang, bahwa berdasarkan uraian fakta hukum diatas, Majelis Hakim berpendapat bahwa Terdakwa Suryanto Bin Simen telah melakukan perbuatan melakukan kekerasan terhadap anak yaitu korban Aria Dwi Kusuma.
Menimbang, bahwa berdasarkan rangkaian pertimbangan hukum sebagaimana tersebut diatas, Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur ad.2 dapat dibuktikan, oleh karenanya telah terpenuhi secara sah menurut hukum;
Menimbang, bahwa berdasaran rangkaian pertimbangan hukum, Majelis Hakim berpendapat bahwa oleh karena seluruh unsur dari Pasal 80 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, sebagaimana pada dakwaan kesatu tersebut telah terpenuhi secara sah menurut hukum, maka Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana: “melakukan kekerasan terhadap anak”;
Menimbang, bahwa dalam persidangan, Majelis Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka Terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya;
Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana;
Menimbang, bahwa dalam perkara ini terhadap Terdakwa telah dikenakan penangkapan dan penahanan yang sah, maka masa penangkapan dan penahanan tersebut harus dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa ditahan dan penahanan terhadap Terdakwa dilandasi alasan yang cukup, maka perlu ditetapkan agar Terdakwa tetap berada dalam tahanan;
Menimbang, bahwa Penuntut Umum dalam amar tuntutannya telah menuntut pula terdakwa untuk membayar restitusi sebesar Rp.9.800.000,-
(sembilan juta delapan ratus ribu rupiah) sebagaimana Surat Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban tanggal 22 Juni 2018. Oleh karena itu, perihal Pengajuan Permohonan Restitusi, Majelis Hakim akan mempertimbangkannya sebagai berikut.
Menimbang, bahwa mengenai restitusi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Restitusi Bagi Anak Yang Menjadi Korban Tindak Pidana;
Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan restitusi adalah pembayaran ganti kerugian yang dibebankan kepada pelaku berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atas kerugian materiil dan/atau immateriil yang diderita korban atau ahli warisnya;
Menimbang, bahwa berdasarkan selanjutnya berdasarkan Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2017 disebutkan bahwa setiap anak yang menjadi korban tindak pidana berhak memperoleh Restitusi dan salah satu tindak pidana yang mendapatkan restitusi salah satunya mengenai anak korban kekerasan fisik dan/atau psikis;
Menimbang, bahwa selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2017 disebutkan bahwa restitusi bagi anak yang menjadi korban tindak pidana berupa: a. ganti kerugian atas kehilangan kekayaan;
b. ganti kerugian atas penderitaan sebagai akibat tindak pidana; dan/atau c.
Penggantia biaya perawatan medis dan/atau psikologis;
Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2017 Permohonan Restitusi diajukan oleh pihak korban. (2) Pihak korban sebagaimana dimakusd pada ayat (1) terdiri atas: a. Orang Tua atau
Wali Anak yang menjadi korban tindak pidana; b. Ahli Waris Anak yang menjadi korban tindak pidana; dan c. Orang yang diberi kuasa oleh Orang Tua, Wali, atau Ahli Waris Anak yang menjadi korban tindak pidana dengan surat kuasa khusus;
Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim setelah meneliti berkas perkara Nomor 65/Pid.Sus/2018/PN Wat bersama lampirannya maka Majelis Hakim menemukan adanya permohonan restitusi yang diajukan oleh SUKIJO ALIAS ADI SUMARTO selaku Orang Tua dari anak ARIA DWI KUSUMA WARDHANA tertanggal 27 Maret 2018 yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri Wates yang pada pokoknya memohon supaya diberikan restitusi karena anaknya telah menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh SURYANTO BIN SIMEN dimana akibat dari peristiwa tersebut korban mengalami kerugian materiil dan immateriil sejumlah Rp.2.677.000,- (dua juta enam ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah) dikarenakan anaknya mengalami tekanan psikologis dan mental.
Menimbang, bahwa selanjutnya mengenai besaran restitusi yang dibebankan kepada Terdakwa sebagaimana dimintakan oleh Pemohnon (SUKIJO ALIAS ADI SUMARTO selaku Orang Tua anak ARIA DWI KUSUMA WARDHANA) sebesar Rp.2.677.000,- (dua juta enam ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah) dan besaran yang dicantumkan dalam tuntutan Penuntut Umum sebesar Rp.9.800.000,- (sembilan juta delapan ratus ribu rupiah) maka berdasarkan bukti pendukung yang diajukan oleh Penuntut Umum mengenai besaran restitusi sesuai perhitungan dari surat LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) No. R-441/1.5.2. HSKR/LPSK/06/2018, maka Majelis Hakim berpendapat besaran restitusi yang harus diberikan kepada anak ARIA DWI KUSUMA WARDHANA berdasarkan perhitungan dari surat LPSK (Lembaga
Perlindungan Saksi dan Korban) No. R-441/1.5.2. HSKR/LPSK/06/2018 tersebut dapat dibenarkan menurut Undang-Undang untuk dibebankan kepada terdakwa tersebut diatas;
Menimbang, bahwa terhadap barang bukti berupa 1 (satu) buah kaos oblong warna hitam bertuliskan BUNAKEN, oleh karena tidak dipergunakan lagi dalam pembuktian perkara ini maka status barang bukti tersebut akan ditentukan sebagaimana amar putusan;
Menimbang, bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan yang meringankan Terdakwa;
Keadaan yang memberatkan :
a. Perbuatan Terdakwa dapat meresahkan masyarakat;
Keadaan yang meringankan :
a. Terdakwa adalah pelaku pertama kali (first offender) tindak pidana;
b. Terdakwa kooperatif selama persidangan;
c. Terdakwa masih memiliki tanggungan keluarga untuk dinafkahi;
Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa dijatuhi pidana maka haruslah dibebani pula untuk membayar biaya perkara;
Memperhatikan, Pasal 80 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan.