• Tidak ada hasil yang ditemukan

7.2 Adaptasi Sosio-Ekologi Pasca Longsor

7.2.2 Populasi

Mengacu pada konsep Steward, salah satu unsur inti (core) yang mengalami perubahan sebagai dampak pemanfaatan teknologi pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya adalah populasi. Teknologi yang menyebabkan perubahan pada aspek populasi-kependudukan di Sirnagalih adalah adopsi bantuan Huntara yang menyebabkan terjadinya perubahan pada (a) pola pemukiman dan (b) pola interaksi-gaya hidup serta perubahan pola tanam yang menyebabkan terjadinya (c) arus migrasi sirkuler.

a. Pola Pemukiman Kampung

Jumlah penduduk di Kampung Sirnagalih sebanyak 238 jiwa dengan jumlah keluarga sebanyak 55 KK. Dari 55 keluarga terdapat 42 KK (160 jiwa) yang kehilangan tempat tinggal dan akhirnya mengungsi ke hunian sementara (Huntara). Adapun sisanya sebanyak 13 KK masih menempati rumah masing- masing karena luput dari bencana longsor.

Antara penduduk yang kehilangan tempat tinggal dengan yang tidak kehilangan tempat tinggal masih berada dalam kampung yang sama. Hanya saja dengan dibangunnya Huntara maka pola pemukiman Kampung Sirnagalih menjadi berubah. Awalnya, pola pemukiman yang ada di Sirnagalih memiliki bentuk persebaran tempat tinggal yang didasarkan oleh kondisi topografi alam dan aktivitas penduduknya sebagai petani. Kondisi topografi yang berbukit serta pekerjaan sebagai petani membentuk pola pemukiman menyebar mengikuti arah lahan garapan dengan mendirikan tempat tinggal pada lahan yang landai.

Mereka yang awalnya bermukim berdasarkan pada kedekatan atau keberadaan lahan garapan, seperti kebun, ladang dan sawah kini harus bergeser dan bermukim pada lahan yang dianggap aman dan layak8. Secara psikis, pola fikir warga kini sangat dipengaruhi oleh faktor keamanan dan kelayakan lahan untuk membangun kembali tempat tinggal. Banyak warga yang enggan untuk membangun kembali rumah mereka di tempat yang sama. Selain karena faktor ekonomi juga karena kekhawatiran terhadap keselamatan jiwa.

Beberapa warga yakni 3 keluarga yang kondisi rumahnya hanya rusak ringan dan masih layak ditempati juga enggan untuk kembali ke rumah mereka.

8

Secara geologi lahan dinilai aman-layak oleh Dinas ESDM Kab. Bogor sehingga direkomendasikan untuk dijadikan pemukiman

Meninggalkan rumah untuk memilih hidup di Huntara memerlukan pengorbanan yang cukup besar. Kehidupan yang serba terbatas di Huntara, mulai dari minimnya air bersih, listrik, jarak yang jauh, bangunan yang kurang layak membuat mereka harus menjalani pilihan tersebut dengan pertimbangan masih lebih aman dibandingkan harus kembali ke rumah.

Penyebaran penduduk meskipun saat ini masih bersifat temporer dimana warga kampung 68 persen (160 jiwa) berada di Huntara, namun dapat dipastikan bahwa faktor kedekatan dengan lahan garapan tidak lagi menjadi faktor utama. Warga lebih memilih faktor keamanan demi keselamatan jiwa sebagai alasan utama untuk memilih tempat tinggal baru meskipun di sisi lain beberapa warga yang bekerja sebagai petani masih berharap agar keberadaan lahan garapan tetap mudah dijangkau.

Harapan warga berjalan seiring dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yakni merelokasi korban longsor ke tempat yang lebih aman dan layak untuk dijadikan tempat tinggal sementara. Pemerintah membangun hunian sementara di atas lahan yang telah direkomendasikan oleh Dinas ESDM Kab. Bogor sebagai lahan yang aman dan layak berdasarkan kondisi geologi.

b. Pola Interaksi dan Gaya Hidup

Pola pemukiman yang kini lebih mengutamakan faktor keamanan dan kelayakan lahan, sehingga terkonsentrasi pada satu titik berdampak pada perubahan pola hidup yakni; (1) aksesibilitas terhadap beberapa sektor publik seperti sekolah, pasar, kantor desa, posyandu-balai kesehatan dan tempat- tempat umum lainnya. Jarak antara pemukiman warga yang baru (Huntara) dengan sarana publik tersebut menjadi lebih jauh dengan medan yang lebih berat. Warga yang terbiasa berjalan kaki untuk mencapai jalan utama desa mengeluhkan jarak dengan kondisi jalan yang cukup terjal. Anak-anak yang masih sekolah pun mengeluh dan sering memilih jalan alternatif dengan melewati kebun milik warga meskipun kondisi jalan cukup membahayakan terlebih ketika jalan menjadi licin karena hujan.

(2) Selain persoalan aksesibilitas yang semakin jauh, dampak lain dari terkonsentrasinya warga di Huntara adalah perubahan pola interaksi antar sesama tetangga yang kini senasib dan harus tinggal bersama. Pola interaksi tersebut berdampak pada perubahan sikap dan perilaku. Misalnya, perubahan

sikap dalam hal berbagi fasilitas umum seperti kamar mandi. Warga dilatih untuk memiliki sifat toleransi yang lebih tinggi. Warga juga belajar cara menghemat penggunaan air dan listrik. Sikap disiplin pada diri anak-anak yang sedang bersekolah juga terlihat. Setiap pukul 4 dinihari anak-anak sudah harus bangun dan antri untuk mandi.

Selain berbagi fasilitas umum, warga juga belajar untuk melatih diri berbagi ketenangan dan kenyamanan. Sebagian warga yang terbiasa dengan suara

musik keras dan menggangu ketenangan „dipaksa’ untuk mau menghargai hak

orang lain. Persoalan kebersihan juga menjadi kebutuhan umum sehingga

beberapa warga muncul sebagai „sukarelawan’ yang secara rutin membersihkan

fasilitas umum seperti kamar mandi atau membakar sampah milik warga.

Peran-peran sosial yang didalamnya terdapat hak dan kewajiban muncul tanpa disadari, meskipun dinamika kehidupan sosial di Huntara tidaklah berjalan mulus. Ada saja warga yang belum bisa menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Tidak tanggap dengan keberadaan hak dan kewajibannya sebagai sesama penghuni Huntara. Tanpa disadari sanksi sosial seperti teguran hingga menjadi bahan gunjingan terjadi. Proses tersebut masih dan akan terus berjalan hingga batas waktu yang belum diketahui.

(3) Dampak lainnya adalah beberapa kebutuhan warga menjadi berubah akibat perubahan fisik tempat tinggal. Diantaranya adalah pembelian listrik dengan menggunakan voucher elektrik. Di tempat tinggal sebelumnya warga masih menggunakan listrik secara manual (meteran). Di Huntara, listrik disediakan melalui penggunaan voucher elektrik. Perubahan tersebut berdampak pada perubahan konsumsi terhadap listrik. Warga menggunakan listrik secara

hemat karena „terpaksa’, akibat kesulitan memperoleh voucher.

Beberapa tindakan penghematan lainnya juga terlihat dari penggunaan alat-alat listrik. Banyak peralatan listrik yang tadinya digunakan sehari-hari kini dibatasi penggunaannya bahkan sebagian warga mamilih untuk tidak lagi menggunakan. Peralatan listrik yang paling banyak digunakan oleh warga adalah

lampu dan alat masak „rice cooker’ namun manfaat dari rice cooker hanya digunakan untuk memasak nasi sedangkan fungsi untuk menghangatkan tidak digunakan. Beberapa warga juga ada yang menggunakan TV namun pemakaiannya dibatasi. TV lebih dimanfaatkan oleh anak-anak sebagai alat hiburan. Para orangtua memilih untuk membatasi jam nontonnya. Bahkan

sebagian warga memilih untuk tidak menggunakan TV meskpun alat penunjang seperti antena parabola telah mereka miliki. Sebagian lagi membatasi alat hiburannya dengan cukup mendengarkan musik dari pemutar CD. Hanya 2 warga yang menggunakan kulkas dengan alasan untuk menjual minuman dingin. Tidak sedikit warga yang pada akhirnya memilih tidak menggunakan peralatan listrik demi melakukan penghematan.

Selain persoalan listrik, perubahan lainnya yang terjadi akibat perubahan fisik tempat tinggal (Huntara) yang berbahan baku dari kayu dan anyaman bambu, adalah perubahan cara memasak. Awalnya semua warga menggunakan tungku dan kayu bakar sebagai media untuk memasak. Kini sebagian warga mulai beralih menggunakan kompor gas dan rice cooker. Warga khawatir jika menggunakan kayu bakar akan membahayakan tempat tinggal mereka. Selain itu, asap pembakarannya pun cukup mengganggu. Meskipun sebagian warga masih ada yang tetap memasak menggunakan kayu bakar dengan dalih tidak pandai menggunakan kompor gas maupun rice cooker namun mereka menjadi lebih bersikap waspada dan berhati-hati. Warga tidak berani meninggalkan tungku jika sedang memasak dan memastikan bara api benar-benar padam ketika selesai memasak.

(4) Akibat distribusi penduduk yang tidak menyebar (terkonsentrasi pada satu tempat) juga mengakibatkan pemanfaatan sumberdaya air menjadi tidak seimbang. Banyaknya warga (160 jiwa) yang hidup di Huntara menyebabkan kebutuhan terhadap air bersih meningkat. Fasilitas penyediaan air berupa air sumur yang dialirkan menggunakan mesin tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar warga (Gambar 25, Kanan). Air bersih pun menjadi barang mahal. Kondisi tersebut menyebabkan warga harus mencari sumber air lainnya yang mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk minum, masak, mencuci dan mandi.

Kebutuhan air untuk dikonsumsi langsung masih dipenuhi dari air bersih yang dialirkan ke Huntara, sedangkan untuk kebutuhan membersihkan seperti mandi dan mencuci terpaksa dipenuhi dengan cara memanfaatkan air dari persawahan. Jauhnya jarak antara Huntara dan sumber mata air lainnya yang masih bersih dan layak untuk dikonsumsi membuat warga lebih memilih untuk memanfaatkan air persawahan yang jaraknya lebih dekat.

Sebagian warga malah memanfaatkan sebagai tempat untuk keperluan

membuang „hajat’. Kondisi tersebut „memaksa’ warga menjalani gaya hidup yang

tidak sehat. Pada awalnya warga merasa tidak nyaman dengan kondisi air persawahan (Gambar 25, Kiri). Namun lama kelamaan mereka pun akhirnya terbiasa dan kini sudah menjadi hal yang biasa. Apa yang dikatakan Bell, dkk. bahwa salah satu efek dari adaptasi adalah menurunnya batas toleransi sehingga menjadi terbiasa terlihat benar.

Gambar 25 Sumur dan kamar mandi di Huntara (gambar kiri), Salah satu lokasi pancuran di areal persawahan (gambar kanan).

Selain pemukiman penduduk yang terkonsentrasi di Huntara, populasi ternak seperti ayam dan kambing juga ikut menyatu dengan Huntara warga. Pada awalnya hewan ternak ditempatkan di sekitar pekarangan rumah dengan posisi yang tidak tentu. Ada yang dibuatkan kandang, ada juga yang hanya ditambat di pohon. Warga yang memiliki pekarangan bebas menempatkan ternak mereka di bagian depan, samping, atau belakang rumah.

Semenjak warga tinggal di Huntara, hewan ternak merekapun ikut pindah. Demi kenyamanan bersama, mereka yang memiliki ternak seperti kambing dan ayam harus membuat kandang dan menposisikan kandang-kandang tersebut di bagian belakang Huntara. Ternak mereka pun tidak lagi dikeluarkan dari kandang karena keterbatasan tempat dan dianggap dapat mengganggu kenyamanan para penghuni Huntara.

Selain interaksi antara sesama penghuni Huntara, hubungan dengan warga lain yang tidak tinggal di Huntara juga tetap terjalin melalui aktivitas pengajian yang secara rutin diadakan. Tidak ada perubahan mendasar yang

terjadi dari hubungan sosial yang telah terbina. Sikap empati dan simpatik justru diperlihatkan oleh warga di luar Huntara. Salah satunya adalah memindahkan tempat pengajian ke mushalla Huntara dengan pertimbangan warga lebih banyak yang tinggal di Huntara. Sikap empati lainnya adalah ketika debit air di sumur Huntara berkurang, maka warga di Huntara dipersilahkan untuk mengambil air bersih dari sumur warga lainnya.

Berbagai kondisi di atas memperlihatkan bahwa telah terjadi berbagai bentuk penyesuaian baik yang bersifat internal individu ataupun kolektif. Bentuk- bentuk penyesuaian tersebut merupakan adaptasi yang dilakukan oleh para

warga untuk mencapai „kenyamanan’ meskipun dalam kondisi yang sebenarnya

tidak layak. Dalam ketidaklayakan tersebut, mereka telah memilih cara-cara bertahan hidup yang dianggap paling pantas dan paling memungkinkan untuk dijalankan agar keselarasan dalam berinteraksi terhadap sesama penghuni Huntara dapat tercipta.

c. Arus Migrasi

Penurunan kualitas lingkungan akibat longsor menyebabkan salah satu potensi alam yakni sumberdaya lahan menjadi tidak produktif. Ketidakproduktifan tersebut terjadi pada lahan yang tadinya berfungsi dengan baik sebagai lahan garapan serta pemukiman.

Akibatnya, beberapa kepala rumahtangga mulai mencoba untuk mencari pekerjaan di luar kampung seperti merantau ke tempat lain (kota). Untuk saat ini, kota yang banyak menjadi sasaran warga adalah Bogor dan Jakarta. Mereka yang merantau adalah para buruh tani yang tidak memiliki lahan namun merasakan dampak dari kerusakan lahan garapan. Penurunan produktivitas membuat para pemilik lahan yang mempekerjakan buruh tani merasa kesulitan untuk memberi upah. Hasil yang diperoleh tidak lagi maksimal sehingga nasib para buruh tani pun menjadi terkatung-katung.

Dalam 3 bulan terakhir setelah terjadi longsor beberapa buruh tani (7 orang dari 18 orang) mulai mengadu nasib dengan bekerja di sektor jasa. Ada 4 orang bekerja sebagai buruh tumbuk di Kecamatan Nanggung dan 3 orang ke Jakarta menjadi kuli bangunan.

Jumlah buruh tani yang melakukan migrasi memang hanya 39 persen namun realita tersebut menggambarkan bahwa mencari kerja dengan keluar dari

kampung merupakan salah satu alternatif warga untuk bertahan hidup. Menurunnya daya dukung daerah asal menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya migrasi meski saat ini masih bersifat non permanen (sirkuler)9. Mereka merantau bukan dalam waktu yang lama. Bagi yang merantau ke Bogor, mereka meninggalkan rumah hanya dalam hitungan hari. Dalam seminggu mereka pasti menyempatkan diri untuk balik, sedangkan yang di Jakarta lebih lama. Mereka balik sebulan sekali.

Mereka kembali ke kampung biasanya karena pekerjaan di luar sedang tidak ada atau memang telah selesai, sebab pekerjaan yang mereka lakukan sebagai buruh hanya bersifat temporer. Jika kembali ke kampung, mereka menggarap lahan lagi jika ada yang membutuhkan. Jika tidak dibutuhkan mereka lebih memilih untuk mencari kayu bakar di pinggir hutan Batu Kaca.

Faktor lain yang membuat mereka melakukan migrasi sementara (non permanen) adalah masih kuatnya ikatan batin dengan istri-anak serta kampung halaman yang ditinggalkan. Mereka semua menyatakan bahwa merantau hanyalah untuk mencari penghasilan tambahan agar dapat bertahan hidup bukan untuk mengejar kekayaan. Penghasilan yang mereka peroleh dari hasil merantau benar-benar digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja.

Jika melihat kondisi lingkungan serta kepadatan penduduk baik secara geografis maupun agraris di Kampung Sirnagalih, pilihan sebagian warga untuk melakukan migrasi pada prinsipnya adalah tepat. Jumlah penduduk Kampung Sirnagalih sebanyak 226 Jiwa dengan jumlah rumahtangga sebanyak 55 KK. Dari hasil pengolahan data primer, gambar 28 menyajikan data geografis kepadatan penduduk di Kampung Sirnagalih sebanyak 15 jiwa/ha, dan data agraris kepadatan penduduk sebanyak 3 sampai 4 petani/ha. Kepadatan tersebut termasuk tinggi dengan kondisi lingkungan yang mengalami penurunan kualitas.

Gambar 26 Kepadatan Penduduk Berdasarkan Satuan Geografis dan Agraris Kampung Sirnagalih

Kepadatan Penduduk (KP) Geografis = 15, 07 Jiwa/Ha

Kepadatan Penduduk (KP) Agraris = 3, 54 Petani/Ha

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer dan Sekunder, 2012

9

Gerak penduduk dari satu wilayah menuju ke wilayah lain tanpa ada niatan menetap di daerah tujuan (Mantra 2009)

Menjadi persoalan bagi daerah tujuan seperti Jakarta dan Bogor jika pilihan warga untuk bermigrasi secara permanen dalam hal ini urbanisasi dimana tingkat kepadatan penduduk di kota-kota besar sudah tinggi sedangkan para urban tidak memiliki skill dan keahlian yang memadai. Solusi untuk keluar dari persoalan bencana pun terkesan hanya berpindah tempat meskipun dengan jenis persoalan yang berbeda.