PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. PPSS Sukorejo Situbondo
3. PP al-Amien Prenduan Sumenep a. Sejarah Berdirinya
139
melalui kegiatan ma’hadiyah dan madrasiyah.
3. PP al-Amien Prenduan Sumenep a. Sejarah Berdirinya
PP Al-Amien Prenduan dalam penelitian ini difokuskan pada TMI yang merupakan pengembangan dari sistem pendidikan “tradisional”, menjadi sistem pendidikan modern serta merupakan lembaga pendidikan menengah pertama di al-Amien.41 Musleh Wahid menyebutnya sebagai lembaga pengkaderan,42 dirintis oleh KH. Ahmad Djauhari Pada tahun 1959, terinspirasi dari model KMI yang ada di Pondok Modern Gontor.
Lokasinya berada di 2 km sebelah Barat dari lokasi Al-Amien lama.43 Tepatnya di Desa Prenduan Kabupaten Sumenep, kurang lebih 30 km sebelah Barat Kota Sumenep, dan 22 km sebelah Timur Kota Pamekasan.44 KH. Djauhari Khotib sebagai perintis mengasuh TMI ini
41 PP. Al-Amien Prenduan, sebelumnya adalah Pondok Pesantren Tegal (Ponteg) yang dirintis
oleh KH Djauhari Khotib, kemudian dalam perkembangan selanjutnya Pondok Tegal ini berubah menjadi PP. Al-Amien yang diresmikan pada tahun 1952 M. Nama Al-Amien itu sendiri merupakan nama kecil daripada KH. Djauhari Khotib, kemudian ditetapkan menjadi nama resmi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan sebagai penghargaan baginya. Selain daripada itu guru KH. Djauhari Khotib ketika mondok di Mekkah sering memanggilnya dengan sebutah “al-amien”. Hal ini juga menjadi inspirasi dipilihnya nama al-Amien sebagai nama resmi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan yang berjalan sampai sekarang, dalam : KH. Ahmad Fauzi Tijani, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Wawancara, Sumenep : 20 Maret 2018.
42 Musleh Wahid, Wakil Rektor I IDIA dan Pernah menjabah Pengasuh TMI Al-Amien Putri tahun.
2008, Wawancara, Sumenep : 12 Mei 2017.
43 Semula rintisan Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan berada di pondok Tegal, kemudian
dipindahkan ke tempat yang sekarang (al-Amien II) dengan sistem TMI. Sedangkan yang di pondok Tegal (al-Amien I), sistem pendidikan yang dikembangkan seperti pondok-pondok lain pada umumnya, yaitu ada SMP-SMA. dalam KH. Ghozi Mubarok, Wawancara , Sumenep : 19 Juni 2017.
44Moh. Hefni, Penerapan Total Institution di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep,
KARSA, Vol. 20. No, 1 (Tahun, 2012), 46.
140
selama kurang lebih sepuluh tahun (wafat pada bulan Juli 1971).45
b. Masa Pengembangan
Pasca KH. Ahmad Djauhari Khotib (1971), usaha pengem-bangan TMI dilanjutkan oleh putra-putranya dan para santri senior. Usaha tersebut menempuh langkah-langkah pendahuluan sebagai berikut : Pertama; membuka lokasi baru seluas kurang lebih 6 (enam) hektare, amal jariyah dari santri-santri KH. Ahmad Djauhari;46 Kedua; Membentuk tim kecil yang beranggotakan tiga orang, teridri dari KH. Muhammad Tidjani Djauhari, KH. Muhammad Idris Djauhari, dan KH. Jamaluddin Kafe. Ketiga, mengadakan studi banding ke Pondok Pesan-tren Gontor dan pesanPesan-tren-pesanPesan-tren besar lainnya di Jawa Timur, sekaligus memohon restu pada para kiai sepuh. Upaya yang dilakukan oleh tim kecil tersebut, kemudian mendapatkan restu secara khusus dari KH. Ahmad Sahal, dan KH. Imam Zarkasyi Gontor, untuk memulai usaha pengembangan TMI seperti KMI Pondok Modern Gontor.47
Setelah melewati proses pendahuluan, maka pada hari Jum’at tanggal 3 Desember 1971 M, bertepatan dengan tanggal 10 Syawal 1391 M, TMI secara resmi didirikan oleh KH. Muhammad Idris Djauhari. Momen ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi TMI. PP
45 KH. Ghozi Mubarok, Wkl. Pengasuh PP Al-Amien Prenduan, Wawancara, Sumenep : Juni
2017.
46 Semula rintisan TMI Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan berada di pondok Tegal, kemudian
dipindahkan ke tempat yang sekarang (al-Amien II) dengan sistem TMI. Sedangkan yang di pondok Tegal (al-Amien I), sistem pendidikan yang dikembangkan seperti pondok-pondok lain pada umumnya, yaitu ada SMP-SMA. dalam KH. Ghozi Mubarok, Wawancara , Sumenep : 19 Juni 2017.
47 Moh. Hefni, Penerapan Total Institution ...47
141
Al-Amien Prenduan Sumenep.48 Restu dari pimpinan Pondok Pesantren Gontor, memiliki makna yang sangat penting bagi tim pengembangan TMI, karena mereka merupakan alumni pesantren tersebut. Bahkan KH. Tidjani Djauhari pernah menjadi sekretaris pesantren Gontor.49 Oleh karena itu, meskipun tidak persis sama dengan Gontor, namun masyarakat menilainya TMI tak ubahnya Pondok Pesantren Gontor versi Madura.50 Pengasuh TMI PP. Al-Amien menuturkan :
“Kalau TMI merupakan salah satu pengembangan dari sistem pendidikan yang ada di Pondok Pesantren al-Amien, kurikulumnya di susun sendiri, di kembangkan sendiri, mirip seperti Gontor tetapi tidak sama. Sebagian besar memang ada sistem yang diadopsi dari Pondok Modern Gontor, karena pengelolanya banyak yang alumni dari sana. TMI ini merupakan lembaga pendidikan yang setingkat dengan Tsanawiyah-Aliyah, atau SMP-SMA. Tetapi model sekolahnya dimulai dari kelas satu sampai kelas 6 (enam)”.51
Untuk itu, TMI dengan paradigma barunya, sebagai lembaga pendidikan pesantren yang independen, “berdiri di atas dan untuk semua golongan,” dengan panca jiwanya, adalah sebenarnya merupakan penerapan nilai-nilai yang telah diterapkan oleh Pondok Modern Gontor, kemudian diadopsi oleh TMI dengan beberapa modifikasi. Modifikasi itu dilakukan disesuaikan dengan kearifan lokal (local
wishdom) yang ada di TMI Al-Amien Prenduan.52
Pilihan model pesantren yang demikian itu, pada awalnya
48 Ibid, 47.
49 Mardiyah, Kpepemimpinan Kiai dalam Memelihara Budaya Organisasi, (Malang : Aditya
Media Publishing, 2013), 155
50 KH. Ghazi Mubarok, Wawancara, Sumenep : Juni 2017.
51 KH. Zainullah Ro’is, Pengasuh TMI Al-Amien Prenduan, Wawancara, Sumenep : 19 Juni 2017.
52 Musleh Wahid, Wawancara, Sumenep : 19 Juni 2017.
142
kurang diterima oleh masyarakat Madura, karena dianggap “aneh” tidak sesuai dengan kultur pesantren yang ada di Madura.53 Pada masa awal dibuka, peminatnya sangat minim. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, langkah awal yang dilakukan oleh TMI adalah menerima drouping calon murid dari Gontor yang tidak lulus tes pada saat itu. Drouping calon santri dari KMI Gontor tersebut, dipimpin oleh Ust. Yunus Abu Bakar.54 Yunus Abu Bakar membenarkan hal itu, sperti penjelasannya berikut ini :
TMI Al-Amien Prenduan itu mengalami perkembangan yang pesat mulai lokasinya di tempat yang baru itu, tetapi agak lama juga prosesnya, kita pernah droup santri dari Gontor. Jadi yang tidak lulus di Gontor ada berapa Bus jumlahnya ratusan orang, saya tidak hafal. Mereka itu kan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, jadi ada beberapa yang memang betul-betul ingin mondok, rasa ingin tahuunya tinggi itu di kirim ke TMI Al-Amien Prenduan Sumenep. Jadi itu awal proses menasionalnya TMI Al-Amien seperti yang ada sekarang ini.55
Usaha tersebut membuahkan hasil, TMI mengalami perkem-bangan yang cukup mengembirakan. Justru karena sistem yang diterapkannya itu berbeda dengan “pondok pesantren lain”, TMI Al-Amien Prenduan menjadi pesantren alternatif yang semakin menggema
53 Kurang diterimanya TMI dengan sistem barunya, sebenarnya bukan karena sistem pendidikan
yang diterapkannya semata, melainkan lebih kepada faktor faham ideologi yang dipraktikkannya. Meskipun TMI dalam praktiknya mengikuti faham ahlussunnah wal-Jama’ah, fiqihnya syafi’iyah, seperti mayoritas pondok pesantren yang ada di Indonesia pada umumnya, namun TMI tidak pernah menamakan dirinya sebagai pondok pesantren NU, padahal amaliyahnya sehari-hari adalah amaliah NU. Musleh Wahid, Wawancara (Sumenep : 20 Maret 2018), juga dibenarkan oleh KH. Ahmad Fauzi Tijani, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Wawancara (Sumenep : 20 Maret 2018)
54 KH. Ghazi Mubarok, Wawancara, Sumenep : 19 Juni 2017.
55 Yunus Abu Bakar, Dosen UINSA Surabaya dan Alumni Pondok Modern Gontor,
Wawancara, ,Surabaya : 16 September 2017.
143
dalam peta kognisi masyarakat secara nasional, bahkan internasional.56
c. Eksistensi TMI Sebagai Lembaga Pendidikan
Sebagai lembaga pendidikan menengah pertama yang ada di PP Al-Amien Prenduan Sumenep, secara kelembagaan TMI setara dengan institusi satuan lembaga pendidikan setingkat dengan Madrasah Aliyah dan SMA. Namun sistem pembelajarannya mengikuti model Kulliatul Mu’allimin (KMI), yaitu dimulai dari kelas I sampai kelas VI. Kurikulumnya disusun sendiri, tanpa mengikuti ketentuan pemerintah.57 Eksistensi TMI mendapat pengakuan dari pemerintah RI melalui Menteri Agama RI pada tahun 1998, yaitu disetarakan dengan Madrasah Aliyah, dan oleh Kementerian Pendidikan Nasional RI (Kemendikbud), pada tahun 2000 disetarakan dengan SMA.58
Ada 4 (empat) ciri khusus (karakteristik) yang ditengarai seba-gai “keunikan”, sekaligus menjadi derajat pembeda TMI PP al-Amien Prenduan dengan pesantren lainnya. Keempat ciri khusus tersebut adalah : (1). TMI tampil sebagai pesantren modern baik dari segi mana-jemennya maupun sistem pembelajarannya; (2). Otonomi pengelolaan kurikulum TMI dan independensinya dari semua golongan; (3). TMI membekali santrinya dengan bahasa Arab dan Bahasa Inggris; dan (4). studi lanjut ke luar negeri untuk santri yang berprestasi.59
56 KH. Ghazi Mubarok, Wawancara, Sumenep : 19 Juni 2017.
57 Musleh Wahid, Wawancara, Sumenep : 19 Juni 2017.
58 Ibid.
59 Insiatun, Alumni TMI PP al-Amien Tahun 2003, Wawancara, Sumenep 09 Mei 2018.
144
d. Keadaan Guru dan Murid
Guru yang mengajar di TMI memiliki tiga sebutan, yaitu: (1).
Ustadz, sebutan umum yang berlaku bagi semua pendidik yang
melaksanakan tugas aktifitas pembelajaran di TMI;60 (2). Mu’allim, sebutan bagi para santri senior yang mendapatkan tugas sebagai pengurus di pesantren, seperti ; membimbing keterampilan santri, keorganisasian, penulisan karya ilmiah, pidato dan lain sebagainya;61
(3). Mudarris, sebutan bagi pendidik yang sedang malakukan kegiatan proses pembelajaran di kelas.62
Jumlah guru TMI secara keseluruhan sebanyak 344 orang, terdiri dari 184 ustadz dan 160 orang ustadzah.63Sedangkan murid (santri) berjumlah 2522 orang, dengan rincian santri putra 1211 orang dan santri putri 1311 orang. Terdiri dari Marhalah Tsanawiyah Putra 590 orang serta Putri 603 orang. Sedangkan Marhalah Aliyah Putra 621 orang dan Putri 708 orang.64 Mereka berasal dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia, juga manca negara seperti Thailand, Malaysia dan Brunai Darussalam.
Latar belakang santri TMI beraneka ragam, dari keluarga NU, Muhammadiyah, Persis, bahkan Al-Isyad. 65 KH Ghozi Mubarok
60 Fathol Mu’in, Kepala BAUK IDIA Prenduan, Wawancara, Sumenep: 13 Maret 2018.
61 Ibid.
62 Ibid.
63 Warta Singkat (WARKAT) Pondok Pesantren Al-Amien....69.
64 Ibid.
65 Belum ada data scara statistik tentang berapa jumlah persentase santri dilihat dari
masing-masing latar belakang faham keagamaan keluarganya, namun dilihat dari segi praktik ritual
145
memberikaan penegasan seperti pada potongan wawancara berikut; “Saya tidak punya datanya, tetapi kalau perkiraan dasar saya lebih banyak yang NU, tapi jelas ada yang dari Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain.”66 Musleh Wahid menceritakan kejadian manarik yang sering terjadi di TMI PP. Al-Amien seperti berikut ini:
“Di sini ini sering terjadi misspersepsi, santri yang dari Muham-madiyah mondok di TMI karena menduga TMI adalah pondok Muhammadiyah, ternyata amaliyahnya NU, seperti diba’an, tahlilan, sholawatan dan lain-lain. Hal serupa juga terjadi pada santri yang NU, karena TMI. di Madura mereka menduga sudah pasti NU, ternyata di dalamnya terdapat santri yang bukan dari kalangan NU, dan itu terjadi hampir setiap tahun ada.67