• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN HASIL TEMUAN

B. Pola Relasi Guru dan Murid Sebagai Implikasi Interaksi Edukatif

1. PPSS. Sukorejo Situbondo

285

min al-thariqah, wa ruuhu al-mudarrisi ahammu min al-mudarrisi” (metode

lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan jiwa guru lebih penting daripada guru itu sendiri).84

B. Pola Relasi Guru dan Murid Sebagai Implikasi Interaksi Edukatif

Karena interaksi edukatif yang terjadi di tiga pondok pesantren tersebut telah berlangsung lama, berkesinambungan, sistematis serta mengarah pada satu tujuan, maka dalam perkembangannya kemudian, interaksi edukatif tersebut mampu membangun pola relasi sosial dengan karakteristiknya masing-masing. Sejalan dengan pendapat Spradley dan McCurdy yang mengatakan, apabila interaksi antara dua orang atau lebih berjalan berkesinambungan (terus menerus), dengan pola yang sama, serta bertahan dalam kurun waktu yang relatif lama, akan membentuk suatu pola relasi sosial.85

Sesuai data hasil temuan lapangan, pola relasi antara guru dan murid yang terbangun melalui interaksi edukatif di ketiga pondok pesantren itu, dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. PPSS. Sukorejo Situbondo

PPSS dalam membangun pola relasi guru dan murid, berpegang teguh pada tradisi lama (salaf) yang dinilai baik, tetapi tetap terbuka

84Mardiyah, Kepemimpinan Kiai Dalam Memelihara Budaya Organisasi (Yogyakarta : Aditya

Media Publishing, 2015), 138, baca juga : Abdullah Munir, Spiritual Teaching : Agar Guru

Senantiasa Mencintai Pekerjaan dan Anak Didiknya (Yogyakarta : Pustaka Insan Madani, 2007),

V.

85 James P. Spradley dan David McCurdy, Anthropology: The Cultural Perspective (New York:

John Wiley and Sons, Inc, 1975), 11.

286

terhadap perkembangan baru (modern) yang dianggap lebih baik. Proses adopsi yang dilakukan, tanpa menggeser nilai-nilai prinsip yang telah dibangun sejak masa rintisan. Bahkan terjadi upaya penguatan terhadap nilai-nilai (salaf) yang ditanamkann pendiri pesantren sebelumnya, kemudian dikompromikan dengan konsep komunikasi modern.

Kitab Ta’li>m al-Muta’allim tetap menjadi rujukan utama adab santri dalam menuntut ilmu. Namun, tidak dipahami secara tekstual semata, melainkan terdapat pemahaman atau interpretasi secara kontekstual sesuai dengan perkembangan zaman dan didialogkan dengan leteratur-leteratur lainnya. 86 Implementasinya adalah PPSS penerapkan relasi moderasi dengan pola pentahapan sesuai jenjang pendidikan para santri; yaitu; (1). Untuk santri pemula atau santri yang pendidikannya tingkat ula dan menengah, diterapkan model komunikasi imla’ atau dekte. Komunikasi yang dibangun bersifat satu arah yaitu berupa arahan-arahan dan instruksi dengan meminimalkan diskusi.87 (2). Untuk murid (santri) yang sudah dianggap dewasa, atau santri yang sudah menjadi pengurus, relasi yang dibangun menerapakan konsep diskusi, dialog dengan tetap memperhatikan etika dan penghormatan kepada guru (kiai). Dalam banyak kesempatan, kiai (pengasuh) membuka ruang komunikasi dua dimensi bahkan multi dimensi dengan para santri yang sudah dianggap diwasa dari segi pengalaman keilmuannya.88

86 KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, Wawancara, Sukorejo, 23 Oktober 2017.

87 Ibid.

88 Ibid.

287

Penerapan konsep dialogis ini menurut Muhajir bukanlah sesuatu hal yang “bid’ah”. Bahkan dalam ajaran Islam, juga merupakan sunah yang sering terjadi antara Rasulullah Saw dengan para sahabat. 89 Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif oleh murid terhadap guru melalui diskusi di PPSS ini sangat diapresiasi. Dengan catatan harus tetap menjaga etika dan akhlak sebagai cirikhas kesantriannya, sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.90

Dalam pandangan peneliti, penghargaan guru terhadap murid (santri) dan penghormatan murid terhadap guru (kiai) berjalan secara proporsional, sesuai batas-batas yang dibenarkan oleh ajaran agama. Termasuk juga penghormatan terhadap putra atau anggota keluarga guru (kiai). Dalam kasus ini, Kiai Azaim memberikan batasan, sampai sejauh mana kemudian batas toleransi penghormatan murid terhadap putra guru (kiai) maupun anggota keluarganya.91

Dengan demikian, dapat difahami bahwa proses interaksi edukatif yang terjadi di PPSS mampu membentuk pola relasi sosial yang cukup mudes, yaitu terjadi keseimbangan antara dua entitas yang berbeda. Yakni sistem pesantren salaf di satu sisi dan sistem pendidikan modern di sisi yang lain. Pola keseimbangan (balance) tersebut, peneliti

89 KH. Afifuddin Muhajir, Wkl. Pengasuh PPSS, Wawancara, Situbodo : 17 Oktober 2017.

90 KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, Wawancara, Sukorejo, 23 Oktober 2017.

91 Hak seorang putra kiai yang harus di didik dengan anak seusianya, hak seorang santri yang ingin

memulyakan putera gurunya. Ini dimana titik temunya. Silahkan hormati, tapi ada batasannya. Mencium tangannnya tidak perlu, lora tidak perlu dicium tangganya kalau belum alim. Maka itu ada batasannya, karena menghormati sesenorang tidak harus mencium tangan. Kadang sebaliknya, mencium tangan tapi tidak hormat”, Ibid.

288

mengkategorikannya dengan “pola relasi sosial moderasi,” sejalan dengan tesis yang dibangun oleh Fritz Hieder, bahwa kehidupan sosial seseorang atau kelompok orang berproses dari hubungan kesukaan, persetujuan, kemudian keseimbangan antara tiga pihak.92 Sebaliknya, keadaan yang tidak seimbang akan menimbulkan ketegangan dan membangkitkan tekanan-tekanan untuk memulihkan keseimbangan. Keseimbangan menunjukkan sebuah situasi yang di dalamnya unit-unit yang ada dan sentiment-sentiment yang dialami “hidup” berdampingan tanpa tekanan,93 meskipun sejatinya masing-masing memiliki pandangan dan prinsip-prinsip yang berbeda.

Relasi sosial moderasi atau sikap keseimbangan yang ditunjukkan oleh PPSS, tidak terlepas dari sistem pendidikan yang dijalankannya. Pilihan model pondok pesantren dengan tipe komprehenshif-interkonektif telah memberikan andil besar terhadap bangunan sikap relasi antara guru (kiai) dan murid (santri) yang terjadi di dalamnya. Menjaga keseimbangan dengan cara mempertahankan nilai-nilai salaf yang cenderung patronase, kemudian pesantren khalaf yang cendereung egaliter bukanlah hal yang mudah. Apalagi sistem pendidikan modern yang dimaksudkan itu, notabeninya masih dianggap terinspirasi dari pendidikan Barat. Maka kemudian pengembangan yang dilakukan adalah dengan meminjam istilah

92 Yuniandra Aulia Risky, Teori Keseimbangan (Fritz Heider), tersedia dalam :

http://-yrandra.blogspot.co.id-/2013/03/teori-keseimbangan-fritz-heider.html, diakses tanggal 15 Mei 2018.

93 Ibid.

289

Azyumardi Azra “menolak sambil mengikuti”.94

Sembari menolak beberapa tradisi yang dilakukan pesantren modern karena dianggap mengancam eksistensi tradisi pesantren salaf yang telah lama dibangun, tetapi ada proses adopsi terhadap hal-hal yang baik tanpa mengubah secara signifikan tradisi peantren salaf itu sendiri.95 Relasi moderasi yang dilakukan pesantren tipe (moderat) ini berpegang pada prinsip mempertahankan nilai-nilai lama yang masih baik, kemudian mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.96 Juga sejalan prinsip ajaran islam wasaṭiyah,97 yang menjadi pegangan penganut Islam Ahlus al-Sunnah wa al-Jama>’ah, terutama kalangan warga Nahdlatul Ulama’

(NU).