BAB II KAJIAN TEORI
2.2 Kajian Teori
2.2.3 Pedagogi Reflektif
2.2.3.1 PPR sebagai Pedagogi
PPR adalah suatu pedagogi, bukan hanya sekedar metode pembelajaran. Pedagogi merupakan suatu pendekatan, suatu cara dosen mendampingi mahasiswa sehingga mahasiswa berkembang menjadi pribadi yang utuh. Dalam pedagogi, ada visi dan tujuan: mahasiswa akan dibantu menjadi manusia seperti apa. Di dalamnya juga ada pilihan metode-metode yang digunakan dalam proses pendampingan tersebut.
Dalam PPR, tujuan seluruh pendidikan adalah agar mahasiswa menjadi manusia yang utuh, yang gembira dalam mengabdi Tuhan lewat melayani sesamanya. Pribadi utuh terjadi bila mahasiswa mau hidup bagi dan bersama sesama (people for and with others). Suparno (2015: 19) mengatakan bahwa tujuan manusia utuh dalam pendidikan itu diterjemahkan dalam rumusan 3C berikut: competence, conscience, dan compassion. Competence berarti menguasai ilmu pengetahuan/keterampilan sesuai bidangnya. Secara sederhana, mahasiswa setelah mendalami dan mengolah bahan yang dipelajari menjadi kompeten dalam bidang atau bahan tersebut. Secara lebih mendalam, mahasiswa juga dapat melakukan suatu hal yang terkaitan dengan bidang itu. Jadi bukan hanya segi inteleknya berkembang, tetapi juga afeksi dan psikomotoriknya berkembang.
Conscience berarti mempunyai hati nurani yang dapat membedakan baik
dan tidak baik. Secara sederhana, mahasiswa dapat menganalisis segi baik dan buruknya bahan yang dipelajari, mengerti alasan-alasan moral dibaliknya, dan hatinya tergerak untuk memilih yang baik. Dengan demikian, mahasiswa mempunyai kepekaan hati yang cenderung memilih yang baik dari hal-hal yang dipelajari.
Compassion berarti mahasiswa mempunyai kepekaan untuk berbuat baik
bagi orang lain yang membutuhkan, punya kepedulian pada orang lain terutama yang miskin dan kecil (option for the poors). Kompetensi yang diharapkan terjadi selanjutnya adalah compassion, kepekaan untuk membantu orang lain. Mahasiswa yang sungguh kompeten menurut PPR bukan hanya menjadi pandai tetapi sekaligus akan didorong untuk peka pada kebutuhan orang lain dan juga mau berbuat sesuatu berkaitan dengan bidangnya itu bagi kemajuan orang lain. Dengan cara ini, mahasiswa yang sungguh kompeten secara PPR akan menjadi orang yang hidup bagi orang lain, bukan egois hanya memikirkan kebutuhannya sendiri. Dengan cara inilah mahasiswa dibantu menjadi pribadi yang sungguh mengabdi Tuhan lewat pelayanannya pada sesama.
Tiga unsur utama paradigma pedagogi refleksi adalah pengalaman, refleksi, dan aksi. Unsur yang belum disebutkan adalah konteks dan evaluasi. Gambaran pembinaan siswa melalui paradigma pedagogi refleksi sebagai berikut.
KONTEKS
Bagan 21. Gambaran Pembinaan Siswa melalui PPR a. Konteks
Konteks untuk menumbuhkembangkan pendidikan antara lain sebagai berikut. Pertama, wacana tentang nilai-nilai yang ingin dikembangkan, agar semua anggota komunitas, guru, dan siswa menyadari bahwa yang menjadi landasan pengembangan bukan aturan, perintah, atau sanksi-sanksi, melainkan nilai-nilai kemanusiaan. Guru atau dosen (fasilitator) perlu menyemangati mereka agar memiliki nilai seperti: persaudaraan, solidaritas, penghargaan terhadap sesama, tanggung jawab, kerja keras, kasih, kepentingan bersama, cinta lingkungan hidup, dan nilai-nilai lain yang semacam itu. Diharapkan seluruh
Refleksi: Memperdalam pemahaman. Mencari makna kemanusiaan, kemasyarakatan. Menyadari motivasi, dorongan, keinginan Pengalaman: Mempelajari sendiri, latihan kegiatan sendiri (lawan ceramah). Tanggapan afektif terhadap yang
dilakukan, latihan dari yang dipelajari.
Evaluasi: Evaluasi ranah intelektual. Evaluasi perubahan pola pikir, sikap, perilaku siswa.
Aksi: Memutuskan untuk bersikap, berniat, berbuat. Perbuatan konkret. T U J U A N
anggota komunitas berbicara mengenai nilai-nilai. Kedua, contoh-contoh penghayatan mengenai nilai-nilai yang diperjuangkan, lebih-lebih contoh dari pihak guru atau dosen. Kalau itu ada, maka peserta didik akan cenderung melihat, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai yang dihayati lingkungannya. Ketiga, hubungan akrab, saling percaya, agar bisa terjalin dialog yang saling
terbuka antara guru dan siswa. Setiap orang dihargai, ditunjukkan kebaikannya, ditantang untuk melakukan yang benar, baik, dan indah.
b. Pengalaman
Pengalaman untuk menambahkan persaudaraan, solidaritas, dan saling memuji adalah pengalaman bekerja sama dalam kelompok kecil yang
“direkayasa” sehingga terjadi interaksi dan komunikasi yang intensif, ramah dan
sopan, penuh tenggang rasa, dan akrab.
Sering kali tidak mungkin guru atau dosen (fasilitator) menyediakan pengalaman langsung mengenai nilai-nilai yang lain. Untuk itu, peserta didik difasilitasi dengan pengalaman yang tidak langsung. Pengalaman tidak langsung bisa diciptakan, misalnya dengan membaca atau mempelajari suatu kejadian. Selanjutnya guru atau dosen (fasilitator) memberi sugesti agar siswa mempergunakan imajinasi mereka, mendengar cerita dari guru, melihat gambar sambil berimajinasi, bermain peran, atau melihat tayangan film atau video.
c. Refleksi
Guru atau dosen memfasilitasi dengan pertanyaan agar peserta didik terbantu untuk berefleksi. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan divergen agar peserta didik secara otentik dapat memahami, mendalami, dan meyakini temuannya. Peserta didik dapat diajak untuk diam dan hening untuk meresapi apa yang baru saja dibicarakan. Melalui refleksi, peserta didik meyakini makna nilai yang terkandung dalam pengalamannya. Diharapkan peserta didik membentuk pribadi mereka sesuai dengan nilai yang terkandung dalam pengalamannya itu. d. Aksi
Guru atau dosen memfasilitasi peserta didik dengan pertanyaan aksi agar peserta didik terbantu untuk membangun niat dan bertindak sesuai dengan hasil refleksinya. Dengan membangun niat dan berperilaku dari kemauannya sendiri peserta didik membentuk pribadinya agar nantinya (lama-kelamaan) menjadi pejuang bagi nilai-nilai yang direfleksikannya.
e. Evaluasi
Setelah pembelajaran, guru atau dosen memberikan evaluasi atas kompetensinya dari sisi akademik. Ini adalah hal wajar dan merupakan keharusan. Sekolah atau pun kampus dibangun untuk mengembangkan ranah akademik dan menyiapkan siswa menjadi kompeten di bidang studi yang dipelajarinya.
Pedagogi Ignasian bermaksud mewujudkan pembentukan yang mencakup kemajuan akademik, namun, tidak hanya itu. Yang menjadi fokus perhatian kita adalah pertumbuhan peserta didik yang menyeluruh sebagai pribadi demi sesama. Jadi, evaluasi berkala perkembangan peserta didik dalam sikap, prioritas-prioritas,
dan kegiatan-kegiatan selaras dengan sikap menjadi orang demi orang lain (man for others) amat penting.