• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip-prinsip Pemanfaatan Ruang Kawasan dengan

B. Prosedur Umum Pelaksanaan Konsolidasi Tanah Perkotaan

VI. PENGENALAN DAN PENGENDALIAN KAWASAN

3. PERENCANAAN, PEMANFAATAN, DAN

3.4. Prinsip Praktis bagi Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota

3.4.1. Prinsip-prinsip Pemanfaatan Ruang Kawasan dengan

Pemanfaatan kawasan rawan longsor dengan tingkat kerawasan tinggi lebih diarahkan pada pendekatan konsep bersahabat dengan alam. Hal ini berarti upaya mengalah atau menyesuaikan dengan kondisi alam lebih ditekankan daripada upaya merekayasa kondisi alam. Oleh karena itu kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi, lebih diutamakan untuk kawasan lindung (tidak layak bangun) atau kawasan pertanian, dan dalam pengembangannya harus mempertimbangkan beberapa hal berikut:

a. Perlindungan sistem hidrologi kawasan. Tujuan perlindungan sistem hidrologi ini adalah untuk menghindari pengumpulan pada lereng yang rawan longsor. Upaya penanaman kembali lereng yang gundul dengan jenis tanaman yang tepat di daerah hulu atau daerah resapan juga berperan penting dalam memulihkan sistem hidrologi lereng yang telah terganggu. Penanaman vegetasi yang tepat sangat penting dalam mengendalikan laju air yang mengalir ke arah hilir atau ke arah lereng bawah. Perlindungan terhadap sistem hidrologi kawasan ini sekaligus dapat dipadukan dengan upaya pencegahan bencana banjir.

b. Menghindari penebangan pohon secara sembarangan. Pohon-pohon asli dan pohon berakar tunggang seharusnya dipertahankan pada lereng untuk memperkuat ikatan antara butir tanah pada lereng yang sekaligus dapat menjaga keseimbangan sistem hidrologi.

c. Menghindari pembebanan terlalu berlebihan pada lereng. Pembebanan pada lereng yang kecuramannya lebih dari 400 (lebih dari 80%) dapat mengakibatkan meningkatnya gaya penggerak pada lereng, meskipun pembebanan ini dapat berperan menambah gaya penahan gerakan pada lereng yang lebih landai dari 400 (<80%). Sebagai tindakan preventif, beban konstruksi sedapat mungkin dihindari pada lereng dengan tingkat kerawanan sangat tinggi. Kawasan ini terlarang untuk pemukiman khususnya pada lembah sungai yang curam, tikungan sungai, serta pada alur sungai yang kering di daerah pegunungan.

d. Menghindari penggalian dan pemotongan lereng. Penggalian pada lereng di kawasan dengan tingkat kerawasan tinggi harus dihindari karena dapat mengakibatkan: (1) berkurangnya gaya penahan gerakan tanah dari arah lateral; (2) timbulnya getaran-getaran yang dapat melemahkan ikatan antar butir tanah pada lereng; dan (3) meningkatnya gaya gerak pada lereng karena lereng terpotong semakin curam. 3.4.2. Prinsip-prinsip Pemanfaatan Ruang Kawasan dengan Tingkat Kerawanan Menengah Ruang kawasan dengan tingkat kerawasan menengah tidak layak dimanfaatkan untuk industri, namun dapat dimanfaatkan bersayarat untuk permukiman, transportasi, pertanian, dan pertambangan.

Untuk permukiman dan transportasi dapat dibangun dengan persyaratan sebagai berikut:

(a) perlu dilakukan penyelidikan geologi teknik dan analisis kestabilan lereng. Dengan penyelidikan dan analisis ini zona-zona kritis dalam kawasan tersebut serta daya dukung kawasan tersebut dapat dipertahankan. Khusus untuk analisis kestabilan lereng pada lereng yang akan difungsikan sebagai kawasan budidaya, maka perlu ditetapkan faktor keamanan (Tabel 2);

(b) perlu diterapkan sistem drainase yang tepat pada lereng. Tujuan dari pengaturan sistem drainase ini adalah untuk menghindari air hujan banyak meresap masuk dan terkumpul pada lereng yang rawan

longsor. Jadi perlu dibuat drainase permukaan yang menyalurkan air limpasan hujan menjauh dari lereng rawan dan drainase bawah permukaan yang berfungsi untuk menyalurkan air hujan yang terlanjur meresap masuk ke dalam lereng.

Jika terjadi rembesan-rembesan pada lereng, berarti air dalam tanah pada lereng sudah berkembang tekanannya. Disarankan agar sgera dibuatkan saluran drainase bawah permukaan (misalnya dengan pipa, bambu, paralon) untuk menguras atau mengurangi tekanan air tersebut. Tindakan ini hanya efektif dilakukan pada lereng yang tersusun oleh tanah gembur. Pada saat hujan atau sehari setelah hujan jangan lakukan tindakan ini, karena sangat mungkin timbul gerakan massa tanah saat pekerjaan dilaksanakan.

Jika telah muncul retakan-retakan tanah berbentuk lengkung agak memanjang, maka retakan tersebut harus segera disumbat dengan material kedap air atau lempung yang tidak mudah mengembang apabila terkena air. Penyumbatan ini perlu dilakukan untuk menghindari air permukaan lebih banyak masuk mersap ke dalam lereng melalui retakan tersebut. Munculnya retakan menunjukkan bahwa tanah pada lereng sudah mulai bergerak karena terdorong oleh peningkatan tekanan air di dalam pori-pori tanah pada lereng. Dengan terhalangnya resapan air ke dalam lereng, maka peningkatan tekanan air di dalam pori-pori tanah dapat diminimalkan, sehingga longsoran dapat dikendalikan.

Pengaturan sistem drainase ini sangat vital terutama untuk lereng yang di dalamnya terdapat lapisan batulempung yang sensitif untuk mengembang apabila jenuh air, misalnya batulempung jenis

montmorillonite. Pada saat kering batulempung ini bersifat kompak, bersisik, dan retak-retak, namun

apabila dalam kondisi jenuh air batulempung tersebut akan berubah plastis, sehingga kehilangan kekuatannya. Dengan diaturnya drainase lereng, maka proses penjenuhan pada lapisan batulempung ini dapat diminimalkan.

(c) Perlu diterapkan sistem perkuatan lereng untuk menambah gaya penahan gerakan pada lereng. Perkuatan kestabilan lereng dapat dilakukan, misalnya dengan memasang salah satu atau beberapa dari konstruksi berikut yaitu tembok penahan, angkor, paku batuan, tiang pancang, tembok penahan, jaring kawat penahan jatuhan batuan, shortcrete, dan bronjong.

(d) Meminimalkan pembebanan pada lereng. Penetapan batas beban yang dapat diterapkan dengan aman pada lereng perlu dilakukan dengan menyelidiki struktur tanah dan batuan pada lereng dan sifat-sifat keteknikannya, serta dengen melakukan analisis kestabilan lereng. Pembebanan pada lereng yang lebih curam dari 400 dapat mengakibatkan peningkatan gaya penggerak pada lereng, meskipun pembebanan ini dapat berperan menambah gaya penahan gerakan pada lereng yang lebih landai dari 400. Perlu dihindari pula bangunan konstruksi dengan beban melampaui 2 ton/ft2, kecuali dilengkapi dengan teknologi perkuatan lereng dan pengendalian sistem drainase lereng.

(e) Memperkecil kemiringan lereng. Upaya memperkecil kemiringan lereng ini dilakukan untuk meminimalkan pengaruh gaya-gaya penggerak dan sekaligus meningkatkan pengaruh gaya penahan gerakan pada lereng. Besarnya kemiringan lereng yang disarankan untuk peruntukan budidaya tertentu diuraikan pada Tabel 3.

(f) Mengupas material gembur pada lereng. Pengupasan material ini dapat memperkecil beban pada lereng, yang berarti meminimalkan besarnya gaya penggerak pada lereng. Pengupasan ini dapat efektif diterapkan pada lereng yang lebih curam dari 400 (80%).

(g) Segera mengosongkan lereng dari kegiatan manusia. Apabila gejala awal terjadinya gerakan tanah mulai muncul, terutama pada saat hujan deras atau hujan tidak deras tetapi berlangsung terus menerus mulai pagi hingga malam. Meskipun hujan telah reda selama satu atau dua hari, jangan kembali ke lereng yang sudah menunjukan gejala akan longsor.

Tabel 2

Faktor Keamanan Minimum Kemantapan Lereng (KepMen PU No. 378/KPTS/1987)

Parameter Kuat Geser**)

Maksimum Minimum

Resiko*) Kondisi Beban

Teliti Kurang Teliti Teliti Kurang Teliti

Dengan gempa 1,50 1,75 1,35 1,50

Tinggi Tanpa gempa 1,80 2,00 1,60 1,80

Dengan gempa 1,30 1,60 1,20 1,40 Menengah Tanpa gempa 1,50 1,80 1,35 1,50 Dengan gempa 1,10 1,25 1,00 1,10 Rendah Tanpa gempa 1,25 1,40 1,10 1,20 Keterangan: *)

? Resiko tinggi bila ada konsekuensi terhadap manusia cukup besar (ada pemukiman), dan atau bangunan sangat mahal, dan atau sangat penting.

? Resiko menengah bila ada konsekuenasi terhadap manusia tetapi sedikit (bukan permukiman), dan atau bengunan tidak begitu mahal dan atau tidak begitu penting.

? Resiko rendah bila tidak ada konsekuenasi terhadap manusia dan terhadap bangunan (sangat murah) **)

? Kekuatan geser maksimum adalah harga puncak dan dipakai apabila massa tanah/batuan yang potensial longsor tidak mempunya bidang diskontinuitas (perlapisan, retakan/rekahan, sesar, dan sebagainya) dan belum pernah mengalami gerakan.

? Kekuatan geser residual dipakai apabila: (i) massa tanah/batuan yang potensial bergerak mempunyai bidang diskontinuitas; dan atau (ii) pernah bergerak (walaupun tidak mempunyai bidang diskontinuitas). Untuk pertanian dapat dimanfaatkan bersayarat sebagai berikut:

(a) Penanaman vegetasi dengan jenis pola tanam yang tepat. Untuk kawasan dengan tingkat kerawasan tingi dan telah mengalami penggundulan hutan, dapat ditanami kembali dengan jenis tanaman budidaya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Disarankan agar dipilih jenis tanaman yang tidak terlalu berat dan berakar tunggang. Jenis tanaman yang disarankan untuk dapat menguatkan tanah pada lereng diantaranya adalah pohon kemiri, laban, dlingsem, mindi, johar, bungur, banyan, mahoni, renghas, jati, kesambi, sonokeling, trengguli, tayuman, asam jawa dan pilang. Penanaman pada lereng harus memperhatikan jarak dan pola tanam yang tepat. Penanaman tanaman budidaya yang berjarak terlalu rapat dan lebat pada lereng dengan kemiringan lebih dari 400, dapat menambah beban pada lereng sehingga menambah gaya penggerak tanah pada lereng.

(b) Perlu diterapkan sistem terasering dan drainase yang tepat pada lereng. Tujuan dari pengaturan sistem terasering adalah untuk melandaikan lereng sedangkan sistem drainase ini adalah untuk mengotrol air agar tidak terlalu menjenuhi massa tanah pada lereng. Air yang berlebihan pada lereng akan mengakibatkan peningkatan bobot massa pada lereng ataupun peningkatan tekanan air pori yang dapat memacu terjadinya longsoran. Sistem drainase ini dapat berupa drainase permukaan untuk mengalirakan air limpasan hujan menjauhi lereng dan drainase bawah permukaan untuk mengurangi kernaikan tekanan air pori dalam tanah.

(c) Segera mengosongkan lereng dari kegiatan manusia. Apabila gejala awal terjadinya gerakan tanah telah mundul, terutama pada saat hujan deras atau hujan tidak deras tetapi berlangsung menerus mulai pagi hingga siang dan malam. Meskipun hujan telah reda selama satu atau dua hari, jangan kembali lebih dahulu ke lereng yang sudah mulai menunjukkan gejala akan longsor.

Untuk pertambangan dapat dimanfaatkan dengan bersyarat dengan: (a) Memperhatikan kestabilan lereng dan lingkungan

(b) Disertai dengan upaya reklamasi lereng.

Tabel 3

Persayaratan Kemiringan untuk Berbagai Peruntukan Budidaya (Marsh, W.M., 1991)

Peruntukan

Budidaya Kemiringan Lereng Maksimum (%) Kemiringan Lereng Minimum (%) Optimum (%) Kemiringan

Perumahan 20-25 0,00 2,00 Tempat Bermain 2-3 0,05 1,00 Septic Drainfield 15 0,00 0,05 Jalan a. v, 20 mil/jam b. v, 30 mil/jam c. v, 40 mil/jam d. v, 50 mil/jam e. v, 60 mil/jam f. v, 70 mil/jam 12 10 8 7 5