• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Lokasi

4.1.2. profil SMA Sultan Iskandar Muda

Profil sekolah dimaksudkan untuk menggambarkan atau menceritakan sekolah SMA SIM sebagai lokasi penelitian. Jenjang SMA yang berada dalam naungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini berdiri pada tanggal 08-08-1988 dengan SK Pendirian Sekolah 390/I05/A 1988. Beralamat di jalan Tengku Amir Hamzah Pekan I, Gang Bakul, Kecamatan Medan Sunggal, Kotamadya Medan, kode pos 20121.

30

SMA ini berada tepat di dalam kompleks gedung bertingkat Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda diatas tanah kurang lebih 1 ha. Gedung SMA ini bersatu dengan jenjang pendidikan lainya yakni jenjang SD,SMP dan SMK. Sekolah yang Nomor Pokok Sekolah Nasional : 10210843 saat ini dikepalai oleh Bapak Edy Jitro Sihombing MPd. Tercatat beliau sudah berada di YPSIM mulai tahun 1996, itu artinya beliau sedang menjalani tahun ke 22 mengabdi untuk YPSIM, sedangkan untuk menjabat kepala sekolah sudah 11 tahun sampai sekarang.

Izin Operasional :KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA MEDAN

NO. SK : 420/10.021/DIKMENJUR/2014, 8 OKT 2014

NSS : 304076006210

NDS : 3007120133

NPSN : 10210843

NIS : 301700

JENJANG AKREDITASI : A

TAHUN BERDIRI :1987

Seiring dengan berjalanya waktu, SMA ini makin lama semakin mengalami peningkatan dalam semua bidang termasuk jumlah siswa. Tercatat sampai saat tercatat

31

jumlah siswa-siswi yang ada mencapai 700an, pada umumnya berasal dari daerah tempat sekolah itu berdiri yakni sekitaran Medan Sunggal. Berikut data detail jumlah siswa berdasarkan jenis kelamin di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda.

Tabel 2. Jumlah Siswa berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah %

Laki-laki 313 44

Perempuan 408 56

Total 721 100

(Sumber: SMAS Sultan Iskandar Muda 2018).

Dari tabel diatas terlihat jelas bahwa komposisi murid ditinjau dari jenis kelamin menunjukkan jumlah siswa yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yakni sejumlah 408 orang dibanding siswa yang berjenis kelamin laki-laki yang hanya berjumlah 313 orang.

Kemudian jumlah siswa sebanyak 721 orang tersebut terbagi kedalam tiga tingkat kelas pada jenjang SMA yakni kelas X, XI dan XII. Berikut tabel berdasarkan tingkat kelas yang ada pada jenjang SMA. Kelas X adalah jumlah terbanyak dari ketiga kelas ini, dimana tercatat jumlah siswa yang ada berjumlah 288 orang, disusul kelas XI sebanyak 222 orang, diikuti kelas XII sebanyak 211 orang. Total jumlah siswa dari ketiga tingkat kelas adalah 721 orang. Berikut tabelnya.

32

Tabel 3. Jumlah Siswa berdasarkan Tingkat

Tingkat Jumlah %

X 288 40

XI 222 31

XII 211 29

Total 721 100

(sumber: SMAS Sultan Iskandar Muda 2018).

Sebagai sekolah yang mengutamakan keberagaman, sekolah ini juga menerima semua kalangan tanpa melihat latar agama siswa. Hal itu terlihat dari jumlah siswa berdasarkan agama cukup variatif. terlihat dalam tebel ada penganut agama-agama resmi di Indonesia yakni agama Islam 376 orang, kedua ada Kristen sebanyak 172 orang, kemudian ketiga ada agama Katholik berjumlah 36 orang, diikuti agama Hindu sebanyak 25 orang dan terakhir agama Budha sebanyak 11 orang. Total keseluruhan ditinjau dari jenis agama yang dianut. Data tersebut bisa dikonfirmasi melalui tabel yang disajikan berikut ini.

Tabel 4. Jumlah Siswa berdasarkan Agama

Agama Jumlah %

Islam 376 53

Kristen 172 24

Katholik 36 4,9

Hindu 25 3

33

Budha 111 15

Kong Hu Chu 0 0

Lainnya 1 0,1

Total 721 100

(sumber: SMAS Sultan Iskandar Muda 2018)

Dari sisi umur, sebagaimana sekolah SMA pada umumnya, siswa di YPSIM ini terlihat didominasi oleh siswa berumur antara 16-18 tahun dengan jumlah 664 orang.

Sementara untuk siswa umur dibawah 16 tahun tetapi sudah berada pada jenjang SMA, tercatata ada sebanyak 36 orang. Ada juga siswa yang masih pada tingkat SMA tapi umurnya sudah 18 lebih terlihat dalam tabel dibawah sebanyak 21 orang. Dari total jumlah kelompok penduduk berdasarkan umur pada jenjang SMA berjumlah 721 orang.

Berikut tabel detailnya

Tabel 5. Jumlah Siswa berdasarkan Umur

Umur Jumlah %

< 16 Tahun 36 5

16 – 18 Tahun 664 92

>18 Tahun 21 3

Total 721 100

(sumber: SMAS Sultan Iskandar Muda 2018)

34

4.1.3 Visi dan Misi Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM)

Setiap lembaga pendidikan pasti memiliki visi dan misi untuk mencapai tujuan dalam sebuah proses pembelajaran. Visi menjadi elemen paling penting dalam menentukan suksesnya sebuah aktivitas pendidikan, dalam artian visi menjadi kerangka dan tulang punggung dari semua aktivitas yang dilaksanakan di sekolah. Adapun visi yang ditetapkan di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda adalah sebagai berikut:

“Menjadi sekolah yang unggul dalam IPTEK dan mendukung keberagaman dalam suasana kebersamaan.

Untuk misinya sendiri adalah

1. Menciptakan suasana belajar yang aman, harmonis dan kondusif.

2. Meningkatkan kinerja para guru, staf dan pegawai berdasarkan kompetensi yang dimilikinya.

3. Mewujudkan nilai-nilai pendidikan dalam bentuk siswa/siswi yang beriman, bertaqwa dan produktif.

4. Membekali peserta didik dengan keterampilan bidang seni dan olahraga.

5. Menumbuhkan jiwa persatuan dan kesatuan dengan tidak membeda-bedakan suku, agama, ras dan status sosial ekonomi serta jenis kelamin.

6. Menjadikan lulusannya mempunyai life skill untuk dapat diterima di dunia kerja.

7. Menumbuhkan kerjasama dengan instansi lain dalam pengembangan kualitas dan kuantitas siswa.

8. Menumbuhkan sikap kepedulian sosial siswa secara optimal terhadap lingkungan sekolah dan sekitarnya.

35

9. Melaksanakan bimbingan dan pembelajaran secara efektif sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

10. Menjadikan siswa yang memiliki dedikasi, disiplin, jujur, inovatif, tekun dan ulet sebagai wujud pengembangan SDM yang unggul.

4.1.4 Keadaan Guru

Guru adalah salah satu faktor terpenting di dalam keberlangsungan lembaga pendidikan. Ini dimaksudkan agar setiap proses kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik sebagaimana yang diharapakan agar tercapai visi dan misi sekolah yang telah ditentukan diawal.

Guru di SMA YPSIM sendiri ada sebanyak 26 orang. Untuk mendapat gamabaran yang lebih jelas, berikut data guru dalam bentuk tabel ditampilkan berdasarkan jenis kelamin.

Tabel 6. Jumlah Guru berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah %

Laki-laki 10 38

Perempuan 16 62

Total 26 100

(sumber: SMAS Sultan Iskandar Muda 2018)

Jumlah guru yang berada di SMA Sultan Iskandar Muda tercatat sebanyak 26 orang terbagi dalam beberapa mata pelajaran. Guru yang berjenis kelamin perempuan terlihat lebih banyak dibandingkan dengan guru yang berjenis kelamin laki-laki.

36

Masing-masing berjumlah 16 orang diikuti laki-laki sejumlah 10 orang, jumlah keseluruhan mencapai 26 orang. Para guru inilah salah satu elemen yang telah membantu tercapainya sasaran pendidikan SMA Sultan Iskandar Muda yang telah ditetapkan di visi dan misi sekolah. Melaksanakan tugas dan peran dengan maksimal sehingga transfer ilmu kepada siswa berada pada kondisi optimal.

Sedangkan ditinjau berdasarkan pendidikan, guru-guru di SMA YPSIM bisa dilihat dalam tabel dibawah.

Tabel 7. Jumlah Guru berdasarkan Ijazah

Ijazah Tertinggi Jumlah %

Kurang dari S1 0 0

S1 atau Lebih 26 100

(sumber: SMAS Sultan Iskandar Muda

Para guru yang mengajar di SMA Sultan Iskandar Muda merupakan pengampuh mata pelajaran yang sudah mendapatkan pendidikan di universitas sesuai mata pelajaran. Kondisi itu dibuktikan dari gelar pendidikan terakhir yang mereka capai adalah tingkat S1 (Sarjana) bahkan beberapa dari guru sudah ada yang memperoleh gelar M.Pd, yang artinya sudah menjajaki pendidikan setingkat lebih tinggi dari pada sarjana.

Ini membuat kondisi intelektual di ligkungan SMA Sultan Iskandar Muda sudah memenuhi standart atau kriteria yang dibutuhkan sebagai seorang guru seperti sekolah kebanyakan pada umumnya.

37

Dalam KBM di kelas guru mengacu pada student centered. Guru bertindak sebagai fasilitator dan siswa yang aktif untuk menemukan penyelesaian dalam pembelajaran. Untuk membuktikan teori yang ada kegiatan praktikum menjadi salah satu program yang dilaksanakan oleh guru, disamping memanfaatkan lingkungan sebagai media belajar misalnya kegiatan outdor, kunjungan museum, kebun botani dan lain sebagainya.

Guru di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda juga selalu mendapat pelatihan atau sosialisasi terkait bagaimana menerapkan pendidikan multikultural. Pihak yayasan mengundang para akademisi, pemerintah kota maupun aktivis untuk memberikan penyuluhan. Hal ini penting karena guru menjadi pemegang peran sentral dalam mewujudkan pendidikan multikultural kepada siswa, sehingga menjadi keharusan untuk terus memupuk dan meningkatkan kapasitas setiap guru.

4.1.5 Struktur Organisasi

Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dalam usaha mensukseskan pendidikan formal suatu sekolah mesti memiliki struktur oeganisasi yang baik yakni suatu badan yang mengatur segala urusan untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi merupakan kerangka dan susunan pewujudan pola hubungan diantara fungsi, tugas, wewenang serta taggung jawab yang berbeda-beda. Struktur organisasi SMA Yayasan Pergurun Sultan Iskandar Muda Medan, Sunggal dapat dilihat dalam foto terlampir. (Dokumentasi 4 Juni 2018)

38

Struktur Organisasi SMA Sultan Iskandar Muda TP 2017/2018 Kepala Sekolah

1 Laboratorium Fisika : Indri Dayana M.Si

5 Laboratorium Bahasa : Jun P Harefa S.S .M. TCSOL

39 4.1.6 Sarana dan Prasarana Sekolah

Untuk mendukung kegiatan belajar menagajar serta memberi kemudahan terlaksananya proses belajar mengajar , maka di SMA Yayasan Pergurun Sultan Iskandar Muda terdapat beberapa sarana prasarana seperti Perpustakaan, beberapa Lab, fasilitas olahraga, rumah ibadah, radio keberagaman. (Penulis melampirkan dokumentasi 4 Juni 2018)

4.2 Profil Informan

Dalam penelitian ini, ada 8 (delapan) orang informan yang diwawancarai, diantaranya 1 kepala sekolah, 4 orang guru agama dan 3 orang siswa SMA YPSIM.

Informan 1

Nama : Edy Jitro Sihombing M.Pd (Kepala Sekolah) Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 35 Tahun

Suku : Batak

Agama :

Bapak Edy Jitro Sihombing merupakan kepala sekolah SMA di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda. Tercatat beliau sudah menjabat sudah hampir 11 tahun dimulai sejak tahun 1996. Berdasarkan hasil wawancara, beliau sebenarnya sudah 21 tahun berada di sekolah ini hanya saja untuk jabatan kepala sekolah baru dimulai semenjak tahun 1996. Pria bersuku batak ini bercerita tentang berdirinya YPSIM pada

40

tahun 1987. Jumlah siswanya kira-kira kurang lebih 145 orang. Menurut penuturan beliau pada awalnya sekolah ini berdiri bertujuan untuk bagaimana anak-anak yang tidak mampu bisa menikmati pendidikan.

Selain itu beliau menjelaskan bahwa tujuan sekolah ini yang tak kalah penting adalah untuk memperkenalkan bahwa Indonesia adalah negara yang beraneka ragam seperti suku, agama dan ras. Bahwa tanpa memandang latar belakang setiap orang berhak untuk mendapatkan pendidikan. karena itulah menurutnya sekolah YPSIM dikenal juga dengan sebutan “sekolah pembauran”.

Beliau berumur tahun 35 Tahun tersebut memang sudah menerapkan tentang keberagaman dimana istrinya sendiri adalah seorang yang beretnis Tionghoa, artinya sudah tidak memandang latar belakang lagi ketika memilih pasangan hidup. Para pembantunya pun di ruang kepala sekolah terdiri dari beragam suku dan agama. Ia menjelaskan bahwa guru sendiri harus memberikan teladan langsung kepada siswa dalam menerapkan nilai-nilai multikultural.

Informan 2

Nama : Sumitra

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 40 Tahun

Suku : Tamil

Agama : Hindu

41

Ibu Sumitra merupakan salah satu guru yang ada di sekolah SMA Yayasan Pergurun Sultan Iskandar Muda. Beliau mengampuh mata pelajaran agama Hindu.

Menurut penuturan beliau, sudah hampir lima tahun mengabdi di sekolah YPSIM menggantikan guru agama Hindu yang sudah tidak mengajar lagi karena hendak menikah. Ia mendapat informasi dari temanya dan setelah itu mengajukan lamaran yang melewati beberapa tahap proses, termasuk menguji calon guru terkait wawasan tentang multikultural. Kemudian setelah memenuhi syarat diterima untuk mengampuh mata pelajaran agama Hindu.

Beliau menuturkan bahwa pedidikan multikultural yang diterapkan disekolah ini terbukti misalnya dalam interaksi sehari-hari, misalnya suku Tamil yang biasanya cenderung mempunyai kulit gelap tidak pernah ditemukan siswa yang rasis misalnya dengan menyebut panggilan Kelling (sebutan untuk orang India). Bahkan siswa Tionghoa yang kulitnya putih tidak pernah mengcapkan panggilan bermakna negatif tersebut. Dia melanjutkan penerapan pendidikan multikultural semakin kuat karena siswa-siswi di perguruan ini kompak tanpa memandang latar berlakang, bermain sama, makan bersama. Sehingga budaya keberagaman itu sangat nyata dirasakan pengaruhnya.

Saat ini, perempuan berumur 40 Tahun ini sedang berkuliah di Universitas Prima Indonesia (UNPRI) pada program studi Bahasa Indonesia. Beliau melakukan kuliah ketika sudah selesai mengajar di sekolah.

42 Informan 3

Nama : Jesika Angelina

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 15 Tahun

Suku : Tionghoa

Agama : Budha

Jesika Angelina meurupakan salah satu siswa yang bersekolah di SMA Sultan Iskandar Muda. Dari wawancara yang dilakukan oleh penulis, Angelina bersekolah disini karena menuruti saran dari orangtuanya, itu mengapa informan bersekolah disini hanya pada tingkat SMA saja, tidak mulai dari jenjang TK, SD bahkan SMP.

Sebelumnya informan bersekolah di sekolah SMP Swasta Supriyadi Medan.

Ketika penulis bertanya perihal pendidikan multikultural, perempuan berusia 15 tahun ini langsung memberikan jawaban yang singkat yakni “tidak membeda-bedakan, dalam penuturanya lebih lanjut, pendidikan multikultural di SMA Sultan Iskandar Muda diterapkan dengan baik sehingga menjadi keunggulan tersendiri daripada sekolah-sekolah lain yang terkadang masih dijumpai sikap-sikap pembullyan. Bisa berbaur dari berbagai jenis latar belakang yang tidak didapat dari sekolah sebelumnya yang cenderung menonjolkan mayoritas seperti sekolah satu agama, etnis.

Informan lebih lanjut mengatakan bahwa senang bersekolah di SMA Sultan Iskandar Muda karena guru-guru disini semua ramah dan baik, persis seperti mereka mengajarkan pendidikan multikultural terutama tentang sikap tidak bisa

membeda-43

bedakan, saling mengejek warna kulit dan saling menghargai. Tapi informan juga turut mengomentari bagaimana ia menemukan beberapa guru yang didalam kelas pilih kasih, dalam kata lain anak kesayangan karena siswanya pintar. Tapi informan mengatakan maklum dengan keaadaan tersebut karena menurut pengalamanya disekolah sebelumnya pun ada sikap-sikap pilih kasih dari guru kepada orang yang lebih pintar.

Siswi kelas dua SMA ini kemudian mengungkapkan bahwa dia senang dan nyaman bersekolah disini kendatipun dalam penuturanya kompleks atau lapangan sekolahnya kurang luas. Tapi kondisi itu bisa ditutupi oleh keadaan fasilitas yang lamayan bagus ditambah tempat yang bersih. Pun dengan peraturan yang ada, informan tidak terlalu terkejut dan terbebani karena disekolah sebelumnya juga menerapkan peraturan sekolah seperti pada umumnya, semisal kedisiplinan, hanya saja perlu melakukan beberapa adaptasi menyangkut sikap perlakuan kepada yang berbeda latar belakang denganya sebagaimana dengan penekanan kultur multikultural yang ada dalam sekolah SMA Sultan Iskandar Muda.

Informan 4

Nama : Abdul Farid

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 16 Tahun

Suku : Jawa

Agama : Islam

44

Abdul Farid merupakan salah satu siswa SMA Sultan Iskandar Muda yang sudah sangat lama bersekolah ditempat ini. Menurut penuturanya, mulai dari tingkat SD ia menginjakkan kakinya di perguruan yang dipiloti oleh pria beretnis Tionghoa, Sofyan Tan ini. Dia menjelaskan bahwa dulunya iya bersekolah di perguruan ini karena kehendak orangtuanya. Tetapi karena tingkat SD dilewati dengan menyenangkan, dengan raut wajah berseri-seri dia mengatakan bahwa tingkat lanjutan pun akan tetap berda di sekolah ini dan terbukti bahkan sampai tingkat SMA sekarang dia tetap bertahan dengan pilihanya.

Ketika penulis menyanyakan perihal mengapa informan nyaman disekolah ini dikarenakan banyak hal menarik yang ia dapatkan. Bahkan dalam belajar, guru-gurunya bisa membuat situasi tidak bosan. Ada semacam refresh dari pembelajaran supaya tidak membosankan dan membuat pening kepala.

Siswa yang beralamat di jalan Amal ini mengungkapkan pendapat yang hampir sama dengan siswa lainya bahwa pendidikan multikultural merupakan kondisi yang tidak membedakan suku, agama atau pun ras. Semua sama tarafnya. Dia mengungkapkan bahwa kodisi multikultural harus bisa menolak segala diskriminasi, sehingga tidak hanya identitas yang sama dikawani, tapi semua latar belakang.

Dalam pembelajaran di kelas menurut penuturanya posisi duduk siswa tidak bisa selalu sama dengan satu agama ataupun suku, agar semua siswa bisa saling berteman agar rasa kebersamaan semakin kuat. Lebih lanjut dia menjelaskan tentang keberadaan pohon yang semua siswa menyebut sebagai “pohon kerukunan”. Informan memberikan pengandaian bahwa dari pohon tersebut bisa ditiru oleh siswa karena

45

pohon dalam memberikan oksigen yang dibutuhkan manusia tersebut tidak pilih kasih, adil tanpa memandang latar belakang.

Informan 5

Nama : Ebenezer Parulian Dabukke M.Pd Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 30 Tahun

Suku : Batak

Agama : Kristen Protestan

Informan merupakan salah yang mengajar di Perguruan Sultan Iskandar Muda sampai saat ini, ia mengampuh mata pelajaran agama kristen pada setiap tingkat di jenjang SMA. Beliau menuturkan sudah hampir lima tahun lebih mengabdi di sekolah ini, tepat pada 15 mei 2018 yang lewat genap mengajar, memberikan ilmu pelajaran kepada siswa.

Beliau juga merupakan salah satu guru yang cukup diperhitungkan keberadaanya karena di salah satu guru yang menjadi insruktur yang dipercaya untuk memberikan motivasi kepada siswa dalam rangka penanaman nilai- nilai multikultural.

Pendidikan multikultural menurutnya merupakan pendidikan untuk semua orang dimana semua anak mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik tanpa melihat suku, agama, ras, status sosial dan perbedaan-perbedaan lainya.

46

Informan juga terlihat ahli ketika memberikan informasi kepada penulis perihal pendidikan multikultural, terlihat ketika ia menjelaskan panjang lebar menyangkut kultur, ikon-ikon sekolah dan aktivitas-aktivitas siswa.

Informan 6

Nama : Purna Satya Raz

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 29 Tahun

Suku : Tamil

Agama : Budha

Purna Satya Raz merupakan satu-satunya guru agama Budha yang ada di jenjang SMA Perguruan Sultan Iskandar Muda. Tercatatat ia sudah mengabdi selama dua tahun lebih. Awal beliau mengetahui sekolah ini karena informasi dari istrinya yang juga mengajar di Perguruan Sultan Iskandar Muda mengampu mata pelajaran agama Budha juga. Bedanya istrinya mengajar pada jenjang SMP.

Ketika perguruan membuka lowongan kerja sebagai guru agama budha, istrinya merekomendasikanya untuk segera mengajukan lamaran dan ternya diterima sebagai satu-satunya pengampuh mata pelajaran agama budah.

Informan bercerita sebenarnya guru agama budha yang ada di sekolah ini ada sejumlah empat orang, hanya saja dibagi dalam tiga jenjang yakni SD, SMP dan SMA.

47

Lulusan sekolah bodidarma ini lebih lanjut bercerita mengenai pendidikan multikultural.

Pendidikan multikultural baginya adalah pendidikan yang tidak membeda-bedakan antara ras, budaya, suku, bahasa dan lainya. Informan menjelaskan dengan optimis bahwa keberadaan sekolah yang menananmkan nilai-nilai multikultur akan menciptakan generasi masa depan yang baik serta mencinta negaranya.

Informan 7

Nama : Tri Rizki Zahara S Pd.i Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 24 Tahun

Suku : Jawa

Agama : Islam

Informan merupakan guru agama islam pada tingkat SMA di Perguruan Sultan Iskandar Muda. Dulunya ia mengetahui keberadaan sekolah ini karena menemukan lowongan kerja guru di internet. Kebetulan loker yang dibutuhkan juga sesuai dengan jurusan waktu kuliah yakni Sarjana Pendidikan Islam (SPd.i)

Setelah mengetahui informasi tersebut dia kemudia mengajukan lamaran dan akhirnya diterima sebagai pengajar untuk mengampuh mata pelajaran agama islam.

Lebih lanjut, informan menjelaskan bahwa proses untuk bisa mengajar disekolah ini harus melewati beberapa tahap. Pengalamanya seperti ia ceritakan bahwa awal

48

mengajukan lamaran ada sesi wawancara. Wawancara yang dimaksud disini untuk mengetahui seberapa jauh wawasan calon guru tentang nilai-nilai multikultural, kondisi sekolah, keadaan siswa.

Perempuan bersuku Jawa ini dalam perjalananya sudah tiga tahun lebih mengajar di Perguruan Sultan Iskandar Muda.

Informan 8

Nama : Gilbert Yeremi Naibaho

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 16 Tahun

Suku : Batak

Agama : Kristen

Gilbert Yeremi Naibaho merupakan salah satu siswa SMA Sultan Iskandar Muda. Sudah mulai dari SMP ia menuntut ilmu disekolah ini. Ia menuturkan bahwa dulunya tahu sekolah ini dari kawan ketika sekolah dasar. Kemudian setelah itu mendiskusikan kepada orang tua terkait akan dimana melanjutkan sekolah menengah pertama setelah lulus SD.

Setelah bersepakat dengan orangtuanya, jadilah ia melanjutkan sekolah di Sultan Iskandar Muda. Dari keteranganya, ia menjelaskan bahwa berada disekolah ini sangat menyenangkan, karena sekolahnya bersih, rapi. Guru dan siswa kompak saling tegur

49

sapa dan yang paling berkesan karena dia pernah menjuarai kompetisi futsal antar kelas sebagaimana ekstrakurikuler yang digelutinya.

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa disekolah ini fasilitasnya bisa mengembangkan talenta siswa menjadi meningkat. Ini yang membuatnya betah bersekolah disini sampai pada jenjang SMA kelas X seperti sekarang.

Siswa yang beralamat di jalan sembada 7 no 2 padang bulan ini mengatakan bahwa pendidikan mutikultural merupakan pendidikan keberagaman atau menghargai satu sama lain.

4.3 Kurikulum di Yayasan Sultan Iskandar Muda

Kurikulum merupakan pedoman dari pendidikan formal dalam menjalankan proses belajar-mengajar di ruangan kelas. Sehingga bentuk materi dalam kurikulum formal itu sangat penting. Hasil kajian dari Australia mengenai praktik pendidikan nilai-nilai multikulturalisme , di sekolah-sekolah pun menyarankan penggunaan pendekatan integratif untuk mengembangkan kurikulum dan tidak hanya memasukkan nilai-nilai multikulturalisme ke dalam mata pelajaran yang bersifat humaniora dan keagamaan saja (Raihani, 2011). Tetapi juga harus diintegrasikan ke pelajaran matematika, bahasa inggris, dan pelajaran pendukung lainya.

Sebaik-baiknya konsep untuk pendidikan multikultural yang integratif, akan sangat sia-sia apabila guru sebagai pengajar kurang optimal dalam menyampaikan nilai-nilai tersebut, baik dalam wilayah kognitif, afektif maupun psikomotoriknya. Oleh sebab itu, ada beberapa kualifikasi guru yang diperlukan dalam konteks pengembangan

50

pembelajaran multikultural yakni: a. Guru harus memiliki skil keguruan, pemahaman, pengalaman, dan nilai-nilai kulturnya dengan baik, sehingga dapat memahami siswa-siswanya yang secara etnik, ras dan kultur berbeda dengan mereka, serta dapat menerima para siswanya dalam kelas untuk bias belajar bersama,

pembelajaran multikultural yakni: a. Guru harus memiliki skil keguruan, pemahaman, pengalaman, dan nilai-nilai kulturnya dengan baik, sehingga dapat memahami siswa-siswanya yang secara etnik, ras dan kultur berbeda dengan mereka, serta dapat menerima para siswanya dalam kelas untuk bias belajar bersama,