PRODUKSI BERSIH
3. Metanogenesis Produk utama dari proses anaerobik dapat terjadi melalui dua cara Cara utama adalah fermentasi produk utama pada fase pembentukan
4.5. Profil Umum Kelompok Tani Sidomulyo
Teknik olah basah kopi yang dilakukan petani kopi Desa Sidomulyo mampu menghasilkan kopi kualitas ekspor. Meskipun pada awalnya tidak mudah untuk mengajak petani kopi melakukan olah basah kembali. Namun, berkat kerjasama antara I-MHERE, Dinas Perkebunan Kabupaten Jember, masyarakat, Puslit Kopi Kakao Indonesia dan kelompok tani yang ada di Desa Sidomulyo, maka olah basah sebagai peningkatan mutu kopi petani Sidomulyo dapat dilaksanakan.
Menurut Sudarko (2010), pembentukan kelompok tani kopi di Desa Sidomulyo dilatarbelakangi oleh keinginan untuk membentuk suatu perkumpulan anggota atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama sehingga dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi. Kelompok tani Suluh Tani merupakan perintis dari kelompok tani yang ada di Desa Sidomulyo. Kelompok Suluh Tani berdiri sejak tahun 1983. Kemudian untuk memudahkan koordinasi melalui persetujuan anggota kelompok, Suluh Tani dipecah menjadi 3 kelompok tani berdasarkan dusun, yaitu Sidomulyo, Krajan, dan Curah Manis. Seiring pertambahan penduduk maka terjadi pula penambahan jumlah dusun di Desa Sidomulyo, sehingga terbentuk 2 kelompok tani lagi. Sehingga saat ini terdapat 5 kelompok tani yaitu Kelompok Tani Suluh Tani, Sidomulyo I, Curah Manis, Tunas Jaya, dan Kelompok Tani Barokah.
Kelompok Tani Sidomulyo I didirikan pada tahun 1997 dengan anggota sebanyak 30 orang dan total luas lahan anggota 30 ha. Saat ini jumlah anggota telah mencapai 170 orang. Adapun tujuan dan asas kelompok ini adalah.
1. Berdasarkan gotong royong, saling bahu membahu serta tidak menyimpang dari azas Pancasila dan UUD 1945
2. Meningkatkan produktivitas usaha tani dengan teknologi pengendalian hama terpadu sesuai dengan potensi wilayah dan peluang pasarnya
3. Memperbaiki penanganan hasil lepas panen sesuai dengan kebutuhan dan mutu yang lebih menguntungkan
4. Melestarikan dan mendayagunakan musuh alami serta mempertahankan kondisi agroekosistem perkebunan yang ramah dan berkelanjutan dan
5. Menampung aspirasi anggota.
Struktur kelompok tani Sidomulyo I dapat dilihat pada Gambar 23. Ketua kelompok bertugas sebagai koordinator. Sekretaris di bagian administrasi dan bendahara di bidang pendanaan. Ketua kelompok mempunyai kewajiban dan hak
antara lain: (1) menentukan tata kehidupan kelompok, (2)
menyetujui/mendisposisikan segala keuangan yang ada kaitannya dengan kelompok, (3) menyampaikan pertanggungjawaban pengurus dalam rapat anggota pada akhir masa jabatannya, (4) mengolah hasil laporan tiap bagian/seksi, dan (5) memberi informasi dan mendampingi tamu dinas dan luar.
Sekretaris memiliki kewajiban dan hak: (1) bertanggungjawab atas administrasi kelompok, (2) menyusun notulen rapat anggota bersama atau rapat anggota tahunan, (3) bersama ketua menyusun rencana kerja, (4) mempersiapkan dan menyimpan surat-surat penting serta dokumen kelompok, dan (5) mengatur rapat-rapat internal kelompok. Bendahara berkewajiban: (1) mengatur dana-dana dengan persetujuan anggota, (2) mengatur belanja atau pendapatan kelompok, (3) menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanja kelompok dan (4) mengatur dan menyelamatkan hal-hal lain yang berkaitan dengan keuangan kelompok.
Seksi bidang saprodi usahatani berkewajiban: (1) mencatat populasi tanaman kebun, (2) menyediakan sarana dan prasarana produksi dan reproduksi, (3) mengatur dan menentukan tata kerja di kebun kelompok. Seksi produksi dan pengolahan hasil berkewajiban: (1) menyediakan sarana dan prasarana produksi hasil perkebunan kelompok, (2) mengolah dan memperbaiki mutu kopi hasil kelompok, (3) merencanakan dan mengkoordinir kegiatan teknologi pengolahan hasil pertanian kebun kopi. Seksi pemasaran berkewajiban: (1) mengatur dan menentukan pemasaran dan (2) menggali kemitraan/kerjasama dengan pihak ketiga baik mengenai bibit maupun hasil produksi dan pemasarannya. Seksi humas bertugas: (1) merencanakan pengembangan usaha kelompok, dan (2)
mencari terobosan baru di luar usaha kelompok tani yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup kelompok.
KETUA
SEKRETARIS
SEKSI SAPRODI SEKSI HUMAS
SEKSI PRODUKSI & PENGOLAHAN SEKSI PEMASARAN SEKRETARIS ANGGOTA
Gambar 23 Struktur Kelompok Tani Sidomulyo I
Kelompok Tani Sidomulyo I merupakan kelompok yang memiliki jejaring usaha cukup banyak di antara kelompok yang lainnya. Pada tahun 2007 mendapatkan sertifikasi kopi layak ekspor dari Utz Certified, lembaga sertifikasi Belanda yang memungkinkan terjadinya MoU (Memorandum of Understanding) dengan eksportir PT ICP. Pada tahun yang sama, kelompok tani juga melakukan kontrak kerjasama dengan Universitas Jember untuk program Community Development Program I-MHERE project selama tiga setengah tahun yang dibiayai oleh World Bank. Selain itu pada tahun 2009, mendapat bantuan modal dari Dinas Perkebunan melalui program CSR (Corporate Social Responsibility).
Kelompok Tani Sidomulyo I juga sering mengikuti pelatihan dan lokakarya seperti Studi Banding ke KSD Cipta Mandiri Bali tahun 2003, Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLHPT), dan Sekolah Lapangan (SL) Agribisnis, Diklat Koperasi dan UMKM di Malang tahun 2009. Kelompok Tani Sidomulyo I ikut berpartisipasi dalam Program Penelitian Belanda tentang penyakit bubuk kopi (PBKO) pada tahun 2009, lokakarya pemasaran, dan manajemen industri kopi, pelatihan pupuk organik serta pelatihan internet melalui program I-MHERE. Kelompok Tani Sidomulyo I juga secara aktif berkonsultasi dengan Pusat
Puslitkoka, Jember serta PPL Dinas Perkebunan Kabupaten Jember terkait permasalahan dan pengembangan kelompok tani.
Untuk memperlancar komunikasi dan penyebaran informasi, Kelompok Tani Sidomulyo rutin melakukan pertemuan mingguan dan bulanan. Pertemuan mingguan dilakukan melalui acara pengajian rutin (Jamaah Nurul Jadid) setiap Jumat malam. Pertemuan bulanan melalui arisan setiap tanggal 1 yang dilanjutkan diskusi kelompok serta penyuluhan dari PPL. Melalui arisan pula dapat dikumpulkan dana untuk modal usahatani dengan dana minimal Rp 20.000,- dan maksimal tidak terbatas. Adapun iuran wajib anggota kelompok sebanyak Rp 1000,-.
Berbagai kegiatan kelompok juga diadakan untuk meningkatkan kebersamaan dan upaya belajar bersama, misalnya melalui kerja bakti yang disebut girikan. Girikan adalah kegiatan gotong royong yang sering dipakai untuk praktek kebun, kerja bersama ataupun membantu anggota kelompok tani lain dalam usaha tani kopi. Girikan dilakukan di kebun kopi milik anggota kelompok tani dengan luasan kerja maksimal 0,5 ha secara bergiliran tiap minggu pada hari jumat pagi. Apabila ada anggota yang berhalangan hadir tanpa izin, maka ketua mengenakan denda sebanyak Rp 30.000,-. Denda ini juga berlaku bagi anggota yang melanggar kesepakatan dengan memberikan makanan selain rokok dan air minum saat kebunnya mendapat giliran dibantu. Tujuan pemberian denda ini adalah agar anggota kelompok dapat berpartisipasi aktif dalam semua kegiatan tanpa merasa berat hati.
Pada tanggal 8 Desember 2007, Kelompok Tani Sidomulyo I dengan difasilitasi Tim Commnity Development (Comdev) I-MHERE Project Universitas Jember membentuk Koperasi Buah Ketakasi (Buah Kelompok Tani Kopi Sidomulyo). Ide pendirian koperasi ini berawal dari keinginan pengurus dan anggota untuk mengembangkan diri secara mandiri dalam usaha kopi yang tidak terbatas pada budidaya kopi (on farm) tetapi hingga pemasaran dan pengolahan kopi (off farm). Pendirian Koperasi Ketakasi ini dilatarbelakangi beberapa hal.
1. Keberadaan lembaga koperasi diharapkan (a) mampu mengurangi
ketergantungan kebutuhan modal yang dibutuhkan petani kopi terhadap para tengkulak; (b) wadah pembelajaran bagi petani dalam pengembangan
kerjasama yang saling membutuhkan dan menguntungkan, (c) menciptakan budaya menabung para petani.
2. Menciptakan sinergi antara lembaga akademis (Universitas Jember) dengan lembaga koperasi melalui transformasi informasi dan teknologi.
3. Membangun akses yang kuat antara lembaga keuangan dengan koperasi melalui penyediaan fasilitas pemodalan usaha.
4. Membangun akses yang kuat dengan lembaga pemasaran, khususnya lembaga eksportir dan AEKI (Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia) yang berkedudukan di Jawa Timur melalui penyediaan informasi pasar dan harga kopi.
Kelompok Tani Sidomulyo I memulai kembali sistem pengolahan basah yang dipercaya dapat meningkatkan mutu kopi pada tahun 2010. Melalui bantuan dan kerjasama dengan Universitas Jember dan Puslitkoka dalam I-MHERE Project, kelompok tani mendapatkan fasilitas pengolahan basah yang salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu kopi yang dihasilkan. Penerapan sistem pengolahan basah diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan petani sekaligus meningkatkan mutu kopi. Kegiatan pemasaran biji kopi olah basah yang dihasilkan tetap melalui PT ICP.
Hingga saat ini beberapa prestasi yang telah dimiliki oleh Kelompok Tani Sidomulyo I, antara lain: (1) menjadi tim penerima tamu Puslitkoka, Indonesia saat kunjungan kebun kopi rakyat terutama tamu-tamu dari luar negeri seperti Kanada, Columbia, Australia, Belanda, dan Perancis, (2) kelompok yang berhasil menerapkan teknologi olah basah pada kopi rakyat, (3) pelopor kelompok yang mendapatkan Utz Certification dari Belanda untuk memenuhi GAP (Good Agricultural Practices) yang meliputi aspek ramah lingkungan, sosial ekonomi, pekerja, dan masyarakat sekitar dan penciptaan eco friendly cultivation, (4) kelompok yang mendirikan koperasi serta usaha kerja sama dengan Bank Jatim, Bank Mandiri, Universitas Jember, dan Dinas Perkebunan yang sudah berkembang pesat dengan badan hukum 518/500.BH/XVI.7/436.313/2007, dan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2009 telah memiliki jumlah aktiva Rp 198.762.680,-, (5) mengolah kopi sampai siap konsumsi dalam bentuk kemasan bubuk dengan kapasitas sekali sangrai 70 kg dengan daerah pemasaran kota-kota di Jawa Timur. Pada tahun 2010 koperasi mendapatkan akses permodalan dari
Bank Jatim sebesar 1,5 milyar rupiah. Keberadaan pabrik mini tempat pengolahan basah kopi dengan kapasitas produksi 1 ton dalam 4 jam dan hasil kopi HS kurang lebih 750 liter belum mampu memenuhi standar kualitas dan menampung panen anggota koperasi. Oleh karena itu masih dibutuhkan tenaga manual untuk menyempurnakan pengolahan dan modifikasi alat-alat yang ada. Sarana dan fasilitas Kelompok Tani Sidomulyo yang telah dimiliki disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Sarana dan fasilitas Kelompok Tani Sidomulyo I
Item Jumlah (buah/unit)
Sarana budidaya dan pengolahan kopi (a) Handsprayer (b) Hummermill (c) Timbangan gantung (d) Gunting pangkas (e) Gergaji (f) Pisau okulasi (g) Timbangan duduk
(h) Alat pengering kopi stasioner (i) Alat pengupas kulit (pulper) (j) Alat pencuci biji kopi (washer) (k) Alat pemisah kulit (huller)
(l) Alat sangrai dan penggilingan kopi (m) Alat pres pengemas
(n) Alat pengukur kadar air kopi (koka tester) (o) Seperangkat penampung dan pipa sumber air (p) Pabrik mini pengolahan basah
21 3 9 54 53 12 3 3 1 1 2 1 1 1 1 1 Sarana pertemuan
(a) Balai desa (b) Koperasi
1 1 Sarana penggalian modal
(a) Koperasi serba usaha Buah Ketakasi (b) Kios pertanian
1 1 Sarana komunikasi dan arsip
(a) Laporan kegiatan kelompok (b) Telepon seluler dan interkom
(c) Koleksi buku tentang kopi dan lainnya
1 25 60
87