• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Posisi Keuangan

DEWAN DIREKSI

C. Prospek dan Strategi Usaha

Prospek Usaha

Selaras dengan visi pembangunan Indonesia yang tertuang dalam Undang-Undang No.17 tahun 2007 tentang pembangunan jangka panjang nasional tahun 2005-2025, Pemerintah melalui Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) berusaha menempatkan Indonesia sebagai negara maju dengan pendapatan per kapita yang berkisar USD 14.250 – USD 15.000 dengan nilai total perekonomian (PDB) berkisar antara USD 4 – USD 4,5 Triliun. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan pertumbuhan riil sebesar 6,4-7,5% pada 2011-2014 dan sekitar 8-9% untuk periode 2015-2025. Pertumbuhan ini harus diikuti dengan penurunan tingkat inflasi dari 6,5% menjadi 3% pada tahun 2025. Dengan kombinasi tersebut maka karakteristik sebagai negara maju akan terpenuhi.

Proyeksi PDB dan Pendapatan Per Kapita

2010 2011 2012 2025 E 2045 E

Produk Domestik

Bruto Rp6.423 Triliun Rp7.621 Triliun Rp8.372 Triliun USD 4 – 4,5 Triliun USD 15 – 17,5 Triliun

Pendapatan

Perkapita USD 3.000 USD 3.495 USD 3.851

USD 14.250 – 15.500

USD 44.500 – 49.000 Sumber: Badan Pusat Statistik, Depkeu.go.id

Salah satu sisi faktor pendorong perkembangan ekonomi indonesia adalah Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia, dimana dalam satu dasawarsa terakhir Indonesia sedang mengalami pergeseran struktural yang penting dari segi demografi. Dari 240 juta penduduk, lebih dari sepertiga berumur di bawah 29 tahun, dan sebagian besar tinggal di daerah perkotaan. Ini menggambarkan angkatan kerja yang dinamis di dalam pasar tenaga kerja yang bertumbuh sebesar 2,3 juta orang per tahun. Tingkat urbanisasi yang cepat ini merupakan sumber tenaga kerja strategis di pusat-pusat investasi daerah urban. Berdasarkan data dari World Bank, pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai angka 239.870.000 orang dimana jumlah populasi Indonesia diproyeksikan akan terus tumbuh dan berkembang dengan proyeksi tingkat pertumbuhan sekitar 0,5% per tahun dari tahun 2010 sampai tahun 2050. Pada tahun 2050, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan akan mencapai sekitar 289 juta orang. Hal ini tentu akan menjadi faktor penopang perekonomian Indonesia, karena salah satu pendorong perekonomian adalah dari konsumsi masyarakat.

Proyeksi Penduduk Indonesia

119. 622 125. 609 130. 869 135. 357 139. 028 141. 747 143. 441 144. 157 143. 991 120. 248 126. 038 131. 194 135. 691 139. 503 142. 472 144. 459 145. 436 145. 462 2010 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045 2050 Laki-Laki Perempuan

Perkembangan tingkat konsumsi masyarakat juga berdampak pada tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia yang meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun dengan angka pertumbuhan rata-rata pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sebesar 8.24% per tahun (Sumber: Badan Pusat Statistik, Maret 2013). Hal ini juga didukung dari statistik data Departemen Perhubungan Republik Indonesia dimana jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sebelum tahun 1995 hanya mencapai kurang dari 20 juta unit, namun pada tahun 2010 sudah mencapai sekitar 60 juta unit dan diperkirakan akan terus bertambah dan diproyeksikan menjadi sekitar 140 juta unit pada tahun 2020.

Pertumbuhan Jumlah Kendaraan Bermotor Secara Nasional (Unit)

Sumber: Departemen Perhubungan, Badan pusat Statistik (Maret 2013)

Disisi lain, rata-rata pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor nasional tidak diikuti pertumbuhan infrastruktur jalan raya di Indonesia. Berdasarkan data statistik panjang jalan nasional (Sumber:Badan Pusat Statistik, Maret 2013), rata-rata pertumbuhan panjang jalan selama 5 tahun terakhir dari tahun 2007 hingga 2011 hanya sebesar 4,11% per tahun.

Pertumbuhan Panjang Jalan Nasional (Km)

Sumber: Badan Pusat Statistik (Maret 2013)

Perseroan berpendapat bahwa peningkatan kendaraan bermotor di Indonesia dan perbandingannya dengan pertumbuhan panjang jalan sudah berada pada taraf yang mengkhawatirkan, karena dengan jumlah kendaraan yang sedemikian besar tanpa didukung oleh infrastruktur jalan yang memadai akan berdampak pada kemacetan lalu lintas jalan raya terutama di kota-kota besar maupun di jalan raya

74,614 140,000 0 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000 120.000 140.000 160.000 1993 1996 1999 2002 2005 2008 2011 2014 2017 2020 '000 uni t 421.535 437.759 476.337 487.314 496.607 380.000 400.000 420.000 440.000 460.000 480.000 500.000 520.000 2007 2008 2009 2010 2011

penghubung antar kota-kota besar, sebab keterbatasan infrastruktur jalan raya akan menghambat laju pergerakan ekonomi.

Perusahaan otobus (PO) segmen AKAP juga mengalami pertumbuhan setiap tahunnya namun tidak signifikan. Pada tahun 2008 jumlah perusahaan otobus segmen AKAP terdapat sebanyak 822 perusahaan dan dalam kurun waktu 5 tahun berikutnya (hingga tahun 2012) jumlahnya hanya bertambah sebanyak 117 perusahaan otobus, atau hanya bertumbuh rata-rata 3,51% secara nasional setiap tahunnya.

Jumlah Perusahaan Otobus Segmen AKAP Nasional

Sumber:Direktorat LLAJ (Maret 2013)

Di sisi lain, jumlah bus segmen AKAP yang dioperasikan oleh perusahaan otobus juga mengalami pertumbuhan, di mana pada tahun 2008 terdapat 19.970 unit bus yang dioperasikan dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 21.720 unit bus. Pertumbuhan jumlah unit bus segmen AKAP nasional hanya bertumbuh rata-rata 2,83% per tahun.

Jumlah unit bus AKAP Nasional

Sumber:Direktorat LLAJ (Maret 2013)

Pada industri transportasi darat angkutan penumpang umum, hal yang terpenting untuk diperhatikan adalah jumlah bus yang dioperasikan oleh para operator bus AKAP. Melihat perkembangan dalam 3 tahun terakhir, jumlah Bus AKAP mengalami perkembangan yang baik yaitu 4,41%. Perseroan menilai hal ini menunjukkan semakin banyak masyarakat yang menggunakan moda transportasi bus segmen AKAP untuk melakukan perjalanan jarak jauh.

822 846 866 883 907 2008 2009 2010 2011 2012 19.970 19.811 20.802 21.157 21.720 2008 2009 2010 2011 2012

Perseroan sangat memahami dan mendukung Pemerintah dalam hal mengatasi kemacetan lalu lintas. Salah satu langkah antisipatif dari Pemerintah adalah membenahi sistem transportasi angkutan darat penumpang umum, antara lain dengan memberi berbagai insentif dan kemudahan kepada pengusaha angkutan darat penumpang umum terutama angkutan bus umum, seperti misalnya subsidi bahan bakar, pengurangan bea masuk kendaraan, kemudahan perizinan usaha dan trayek, serta kemudahan-kemudahan lainnya.

Pada September 2010, Wakil Presiden Boediono telah menginstruksikan “17 Langkah Atasi Kemacetan Jakarta”. UKP4 ditunjuk sebagai koordinator dalam mengawasi implementasinya. Ke-17 instruksi Wakil Presiden itu adalah:

1. Berlakukan electronic road pricing, yakni penggunaan jalan dengan sistem berbayar.

2. Sterilkan jalur busway. Terdapat empat koridor bus TransJakarta sebagai empat koridor utama dalam proyek sterilisasi. Dalam hal ini, sterilisasi adalah menertibkan jalur busway dari pengendara sepeda motor dan mobil yang memaksa masuk ke jalur busway.

3. Kaji parkir on-street disertai penegakan hukum. Melalui renaksi ini, warga diharapkan mulai tertib dan tidak memarkir kendaraan bermotornya di pinggir jalan, karena telah seringmenjadi kontributor utama dari kemacetan.

4. Perbaiki sarana-prasarana jalan. Agenda ini akan dilaksanakan melalui penerbitan peraturan pelaksanaan kontrak tahun jamak berbasis kinerja, pembuatan dan perbaikan marka jalan, penyediaan ruang pedestrian, serta pengaturan arah jalan, rambu, dan lampu lalu-lintas.

5. Tambah jalur busway hingga mencapai 12 koridor.

6. Untuk angkutan transportasi, siapkan harga bahan bakar gas (BBG) khusus. Hal ini merupakan langkah positif dimana pemerintah menyuntikkan insentif terhadap angkutan umum agar beralih menggunakan BBG serta menambah titik-titik pengisian BBG.

7. Tertibkan angkutan umum liar, terutama bus kecil yang tak efisien. Instansi terkait mampu mendorong bus kecil beralih menggunakan armada bus yang lebih besar.

8. Optimalkan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek dengan re-routing, yakni hanya akan single operation.

9. Tertibkan angkutan liar sekaligus tempat perhentiannya.

10. Bangun layanan mass rapid transit (MRT) jalur Lebak Bulus-Bundaran HI yang masa konstruksinya ditargetkan untuk dimulai pada 2011.

11. Bentuk Otoritas Transportasi Jakarta (OTJ). Gubernur DKI Jakarta akan memainkan peran selaku koordinator antar instansi terkait.

12. Tambah jalan tol—rencananya akan dibangun enam ruas jalan tambahan.

13. Batasi kendaraan bermotor, mengingat, terutama di Jakarta, setiap tahunnya konsumsi dan angka penjualan kendaraan bermotor relatif tinggi. Dampaknya, itu menjadi sumber masalah baru, mulai dari kemacetan hingga polusi.

14. Siapkan lahan park and ride untuk mengurangi kendaraan serta untuk mendukung penggunaan KRL sebagai insentif yang sesuai untuk menarik lebih banyak masyarakat menggunakan KRL sebagai moda transportasi.

15. Bangun double-double track KRL Jabodetabek ruas Manggarai-Cikarang.

16. Percepat pembangunan lingkar-dalam KRL yang diintegrasikan dengan sistem MRT. 17. Percepat pembangunan KA bandara.

Apabila ke-17 butir program kerja tersebut dapat terealisasi, maka prospek industri angkutan darat penumpang umum akan semakin cerah. Subsidi BBM yang meningkat setiap tahun akibat pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor sangat membebani APBN. Bagi masyarakat pengguna jalan, kemacetan lalu lintas menimbulkan inefisiensi biaya dan waktu. Sedangkan dampak pada perekonomian, kemacetan lalu lintas menghambat proses mobilisasi manusia dan distribusi barang. Melalui program UKP4, Pemerintah akan melakukan perbaikan sistem transportasi darat untuk mobilisasi masyarakat dan barang, sehingga prospek angkutan darat tetap terbuka dengan potensi yang sangat besar.

Dengan prospek yang demikian besar, para pengusaha akan bersemangat untuk meningkatkan kualitas bus dan layanannya sehingga masyarakat pengguna kendaraan bermotor pribadi secara sukarela akan bersedia menggunakan jasa angkutan darat penumpang umum. Perseroan melihat bahwa rencana pembenahan yang akan dilakukan oleh Pemerintah itu akan memberi peluang bagi Perseroan untuk konsisten berkegiatan di bidang usaha angkutan darat penumpang umum.

Strategi Usaha

Perseroan memiliki visi menjadi perusahaan transportasi darat terbaik di Indonesia dengan sistem yang terintegrasi dan layanan prima, sedangkan misi Perseroan adalah memberikan jasa transportasi darat dengan kualitas terbaik, serta membangun layanan transportasi darat yang aman, nyaman, tepat waktu dan memuaskan pelanggan. Untuk mencapai tujuan ini, Perseroan memiliki dua fokus strategi yaitu Strategi Jangka Pendek dan Strategi Jangka Panjang. Adapun rumusan dari strategi-strategi Perseroan adalah sebagai berikut:

C.1. Strategi Jangka Pendek

Perseroan ingin mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di industri jasa angkutan darat penumpang umum AKAP di pulau Jawa, Bali dan Sumatera. Untuk mewujudkan hal ini, Perseroan akan menerapkan langkah-langkah strategi jangka pendek. Perseroan berencana untuk membuka trayek-trayek baru terutama untuk wilayah yang tidak bersinggungan dengan moda transportasi udara maupun kereta api, serta menata ulang trayek-trayek (rerouting) yang kurang menguntungkan. Untuk mengantisipasi rencana pembukaan trayek-trayek baru maupun penataan ulang trayeknya, Perseroan berencana menambah kantor perwakilan baru dan menambah jumlah agen penjualan tiket yang tersebar di sepanjang trayek pulau Bali, Jawa dan Sumatera termasuk di kota-kota kecil yang terpelosok. Persyaratan ketat yang diberlakukan kepada seluruh agen Perseroan antara lain adalah hanya boleh menjual tiket bus AKAP milik Perseroan saja dan diharuskan menjual tiket sesuai dengan tarif yang ditetapkan Perseroan.

Perseroan berencana untuk melakukan penambahan jumlah unit bus dan peremajaan bus. Selain penambahan jumlah bus yang akan dialokasikan pada trayek-trayek yang sudah dilayani maupun pada trayek-trayek baru, Perseroan berencana untuk meremajakan sebagian armada bus yang sudah cukup lama melayani trayek AKAP agar penumpang merasa tetap nyaman untuk bepergian jarak jauh.

Untuk memastikan tingkat kesiapan operasi armada, Perseroan akan mengembangkan fasilitas depo/bengkel di pusat (Bogor dan Jakarta) maupun di daerah-daerah seperti Medan, Palembang, Pekanbaru, Surabaya, Denpasar, dan Jember. Hal ini tentu harus diikuti dengan peningkatan kualitas tenaga mekanik. Untuk itu, Perseroan tetap akan melanjutkan program pendidikan 6 bulan khusus mekanik Mercedes-Benz bekerja sama dengan Training Center Mercedes-Benz Indonesia. Untuk mengantisipasi penambahan jumlah armada bus AKAP dan penambahan trayek, Perseroan sudah mulai merekrut dan melatih awak bus baru dan akan terus meningkatkan jumlahnya demi mempertahankan rasio yang ideal antara jumlah armada bus dengan jumlah awak bus.

Perseroan juga akan menambah jumlah kantor penjualan tiket dan akan melakukan standarisasi tata muka (layout) kantor-kantor penjualan tiket untuk mencerminkan identitas korporasi (corporate identity). Selain itu, Perseroan telah mengimplementasikan penjualan tiket dalam jaringan (on-line) berbasis internet (e-Ticketing) untuk seluruh kantor-kantor cabang/perwakilan demi memudahkan sistem pengadministrasian penjualan tiket. Untuk kantor agen, belum seluruhnya diimplementasikan karena terkendala kantor agen yang belum memadai. Diharapkan, awal kuartal kedua tahun 2014 penjualan tiket secara on-line sudah bisa diakses oleh publik agar para calon penumpang bisa membeli tiket bus Perseroan kapan saja dan dimana saja. Melalui e-Ticketing, calon penumpang bisa membeli tiket bus AKAP milik Perseroan secara on-line tanpa harus mendatangi kantor-kantor penjualan tiket. Rencananya, implementasi e-Ticketing secara resmi dan menyeluruh (go live) akan launching pada awal kuartal kedua tahun 2014. Implementasi sistem e-Ticketing ini berdampak saling

menguntungkan bagi calon penumpang dan Perseroan. Di satu sisi, para calon penumpang dapat merencanakan perjalanan jauh hari sebelumnya dan mendapat kepastian jadwal keberangkatan dan nomor kursi. Di sisi lain, Perseroan diuntungkan dengan penerimaan di muka jauh hari sebelum hari keberangkatan. Selain itu, secara internal Perseroan akan lebih mudah memonitor penjualan di seluruh kantor perwakilan yang sekaligus memudahkan pengaturan arus kasnya, serta memudahkan proses pengaturan jadwal operasi bus dan awak bus. Perseroan juga berencana memperluas agen penjualan tiket melalui kerja sama dengan jaringan gerai-gerai toko swalayan.

Pada tanggal 1 Juli 2013, Perseroan juga sudah mengaplikasikan sistem komputer SAP ERP secara menyeluruh (go live) untuk mengintegrasikan seluruh proses administrasi bisnis Perseroan.

Untuk pengembangan bisnis, Perseroan sedang mempersiapkan dua produk layanan yang baru yaitu Feeder Satelit, Feeder Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB) dan Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB). Feeder Satelit untuk melayani para penumpang dari kota-kota penyangga Jakarta menuju kota Jakarta dan sebaliknya yang terkoneksi dengan terminal-terminal Busway TransJakarta. Pasar utamanya adalah masyarakat yang bekerja di kota Jakarta atau sebaliknya, dimana mereka setiap pagi berangkat ke kota Jakarta dan sore hari kembali ke rumah, atau sebaliknya. Perseroan sudah memiliki izin trayek untuk mewujudkan rencana Feeder Satelit.

Perseroan memiliki strategi tersendiri dalam hal keunggulan biaya (cost advantage) dalam merealisasikan pengoperasian Feeder Satelit sehingga akan menjadi keunggulan daya saing tersendiri dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan pesaing. Feeder APTB dan BKTB melayani penumpang yang berasal dari kota-kota penyangga yang terkoneksi langsung dengan layanan Busway TransJakarta dan rute-rute Feeder Busway TransJakarta milik Perseroan. Perseroan sudah mengajukan surat permohonan kepada Dinas Perhubungan Propinsi DKI Jakarta agar dapat ditunjuk sebagai salah satu operator APTB dan saat ini Perseroan sedang menunggu jawaban.

C.2. Strategi Jangka Panjang

Perseroan bertekad untuk menjadi perusahaan transportasi terintegrasi yang pertama dan berharap menjadi pemimpin pasar di Indonesia. Dalam jangka panjang, Perseroan akan melanjutkan program pembukaan trayek-trayek baru seperti memasuki wilayah pulau Kalimantan dan Sulawesi karena kedua pulau besar tersebut merupakan pasar yang sangat prospektif apabila jalan raya Trans Kalimantan dan Trans Sulawesi sudah terealisasikan. Perseroan juga akan mengembangkan Feeder Satelit dari dan ke kota-kota penyangga Jakarta lainnya, seperti Tangerang, Serpong, Karawaci, Cilegon, Merak, Bekasi, Cikarang, dan lain sebagainya, dan proaktif mengembangkan kerja sama dalam program APTB dan BKTB dengan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Dalam proyek Busway TransJakarta di DKI Jakarta maupun proyek bus rapid transit sejenis di kota-kota besar propinsi lainnya, Perseroan akan berusaha untuk memenangkan tender pada proyek-proyek busway dan sejenisnya. Untuk memperkuat divisi Bengkel, Perseroan secara berkelanjutan akan bekerja sama dengan Mercedes-Benz Indonesia Academy untuk mengirimkan calon-calon mekanik baru untuk dididik di dalam program pendidikan 6 bulan dan Diploma-3. Perseroan berencana untuk menjadikan divisi Workshop sebagai unit usaha yang berorientasi laba (profit center) dengan harapan dapat tercipta efisiensi biaya dan mutu yang lebih baik dalam hal perawatan dan perbaikan, serta kontrol internal yang efektif atas penggunaan suku cadang.

Dalam kurun waktu 5 tahun mendatang, Perseroan berencana untuk memasuki bidang usaha lainnya yang terkait dan dapat bersinergi dengan usaha utama, antara lain stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sebagai tempat pengisian bahan bakar minyak untuk armada bus segmen AKAP milik Perseroan dan umum, stasiun pengisian bahan bakar gas (SPPBG) sebagai tempat pengisian bahan bakar gas untuk armada bus segmen Busway TransJakarta milik Perseroan dan operator lainnya, serta fasilitas area istirahatsebagai tempat rehat bagi penumpang dan armada bus segmen AKAP, dan park & ride bagi para penumpang busway di mana mereka bisa memarkir kendaraannya lalu melanjutkan perjalanan dengan Busway TransJakarta milik Perseroan.

Perseroan juga berencana untuk memasuki bidang-bidang usaha transportasi darat lainnya seperti layanan bus pariwisata, shuttle service (layanan antar jemput) bagi karyawan perusahaan-perusahaan. Perseroan menyadari bahwa bidang ini sudah banyak digarap oleh operator lainnya, namun demikian Perseroan telah mempersiapkan strategi tertentu untuk memasuki bidang-bidang ini. Perseroan juga berencana untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan operator AKAP lainnya pada trayek-trayek yang berpotensi untuk dikembangkan.

Perseroan sangat memperhatikan kualitas sumber daya manusia yang terlibat pada industri transportasi angkutan bus umum seperti awak bus, mekanik dan manajemen. Dalam jangka 5 tahun mendatang, Perseroan berencana untuk mendirikan sekolah setingkat Diploma-3 untuk manajemen transportasi darat dan mekanik, serta pusat pendidikan dan latihan khusus untuk menghasilkan pengemudi siap pakai. Perseroan akan menjalin kerja sama dengan pihak-pihak eksternal terkait seperti pemasok kendaraan bus, kepolisian, Kementerian Perhubungan, serta Dinas Perhubungan di tingkat propinsi.