• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISIKO-RISIKO TERKAIT DENGAN BISNIS DAN INDUSTRI PERSEROAN

Laporan Posisi Keuangan

A. RISIKO-RISIKO TERKAIT DENGAN BISNIS DAN INDUSTRI PERSEROAN

1. Risiko Ekspansi trayek Perseroan bergantung pada pemberian dan pembaruan izin oleh badan atau instansi pemerintah serta perubahan kebijakan pemerintah lainnya.

Perseroan mengoperasikan armada bus AKAP berdasarkan izin trayek dan izin usaha yang diberikan oleh Direktorat Perhubungan Darat pada Kementerian Perhubungan Republik Indonesia serta pemerintah daerah di wilayah mana Perseroan menyediakan jasa pelayanan tersebut. Pada masa mendatang, tidak adanya jaminan bahwa Perseroan mampu mendapatkan izin trayek baru ataupun untuk memperpanjang izin trayek yang lama akan berdampak negatif yang bersifat material terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja operasional dan prospek usaha Perseroan. Risiko kebijakan pemerintah terutama kebijakan/aturan tentang kenaikan upah minimum propinsi dan upah minimum regional. Kenaikan upah minimum regional/propinsi yang melebihi tingkat inflasi akan mempengaruhi biaya produksi Perseroan. Hal ini disebabkan karena Perseroan sangat mengandalkan tenaga kerja manusia dalam operasionalnya.

2. Risiko kenaikan harga dan ketersediaan bahan bakar minyak/gas (BBM/BBG).

Bahan bakar adalah merupakan komponen utama dalam penentuan besarnya nilai jual tiket penumpang Perseroan dan juga merupakan komponen utama dalam pengoperasian armada bus Perseroan. Dalam melaksanakan kegiatan usahanya, Perseroan melakukan pembelian bahan bakar minyak (BBM) melalui Pertamina sesuai dengan harga jual bahan bakar nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. Harga tersebut dapat berubah sesuai dengan keputusan Pemerintah yang tidak berada dalam kendali Perseroan. Apabila terjadi kekurangan pasokan bahan bakar di pasar dunia, maka harga bahan bakar dapat mengalami peningkatan yang signifikan dan akan berdampak negatif secara material terhadap bisnis, kondisi keuangan, kinerja operasional dan prospek usaha Perseroan. Disamping itu, jumlah SPBBG di Jakarta yang sangat sedikit mengakibatkan terjadi antrian yang sangat panjang pada armada bus Busway TransJakarta milik semua operator sehingga waktu tunggu saat pengisian BBG menjadi sangat lama yaitu rata-rata 3 jam yang secara otomatis mengurangi jumlah jam operasi dan berdampak langsung kepada pendapatan Perseroan.

3. Risiko Biaya tetap yang bersifat substansial yang merupakan ciri dari kegiatan usaha jasa transportasi.

Usaha jasa transportasi darat umumnya bercirikan adanya biaya tetap yang bersifat substansial, terutama berkaitan dengan belanja modal untuk kendaraan dan pemeliharaannya, beban penyusutan, beban karyawan, biaya manajemen, biaya infrastruktur terkait dengan sistem informasi manajemen, biaya gedung dan pemeliharaan depo bus. Pada periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2013, dan pada tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 2010, beban penyusutan dan beban armada bus, terutama meliputi

beban suku cadang, penyusutan armada, perbaikan dan pemeliharaan, asuransi, kir dan perizinan masing-masing mencakup 41%, 41%, 40% dan 40% dari beban pendapatan langsung Perseroan. Peningkatan biaya tetap ini dapat berdampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja operasional dan prospek usaha Perseroan.

4. Risiko Perseroan tidak memiliki sumber dana yang cukup untuk mendanai pertumbuhan armada Perseroan atau untuk mengoperasikan kegiatan usaha Perseroan di masa mendatang.

Sebagaimana umumnya perusahaan-perusahaan di industri transportasi, jenis kegiatan usaha Perseroan bersifat padat modal. Perseroan memerlukan akses permodalan yang memadai untuk mendanai kegiatan operasional dan ekspansi yang berkesinambungan. Dana yang rencananya akan diperoleh dari hasil Penawaran Umum Saham ini ditambah dengan fasilitas kredit yang diperoleh Perseroan diperkirakan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan modal dalam rangka pengembangan usaha Perseroan pada saat ini hingga jangka pendek. Pada masa mendatang, Perseroan masih memerlukan tambahan pinjaman dan/atau pembiayaan permodalan untuk mendanai ekspansi dan kegiatan operasional. Perseroan tidak dapat menjamin bahwa pendanaan yang dibutuhkan atau bahwa alternatif pendanaan yang dipilih akan berhasil didapatkan oleh Perseroan dengan syarat dan kondisi yang sesuai dengan yang diharapkan Perseroan. Hal tersebut dapat berdampak negatif dan material terhadap bisnis, kondisi keuangan, kinerja operasional dan prospek usaha Perseroan.

Perseroan saat ini mempunyai pinjaman yang memuat pembatasan tertentu terhadap kegiatan operasional dan fleksibilitas keuangan yang dapat membatasi kemampuan Perseroan untuk mencapai target pertumbuhan, membatasi fleksibilitas Perseroan dalam merencanakan atau mengantisipasi perubahan dalam bisnis dan industri serta Perseroan sendiri menjadi semakin rentan terhadap kondisi ekonomi dan industri yang bersifat negatif. Penambahan pinjaman pun dapat menurunkan daya tawar Perseroan serta dapat mengakibatkan peningkatan beban bunga dan biaya pinjaman di kemudian hari. Cidera janji oleh Perseroan dapat menimbulkan hak kreditur untuk mempercepat pelunasan kredit tersebut atau mengeksekusi jaminan yang diberikan dan dapat mengakibatkan cross default terhadap pinjaman lain yang dapat berdampak negatif dan material terhadap bisnis, kondisi keuangan, kinerja operasional dan prospek usaha Perseroan.

5. Risiko persaingan usaha antar sesama perusahaan jasa angkutan darat penumpang umum.

Secara umum, basis kompetisi antar sesama perusahaan jasa angkutan darat penumpang umum adalah harga, pelayanan dan on-time performance. Untuk meningkatkan daya saingnya, Perseroan selalu berusaha untuk menambah jumlah armada bus baru, meremajakan armada lama, membuka trayek baru, menambah jaringan kantor-kantor perwakilan dan agen, meningkatkan efisiensi, melakukan berbagai inovasi demi mempertahankan kualitas layanan dan harga yang terjangkau. Harus diakui bahwa Perseroan bersaing ketat dengan jumlah dan usia kendaraan yang dimiliki Perseroan, sebab perusahaan-perusahaan otobus pesaing sangat gencar melakukan peremajaan dan penambahan armada bus baru dengan disain yang lebih modern yang berdampak pada berpindahnya sebagian pelanggan setia Perseroan kepada perusahaan otobus pesaing. Hadirnya pesaing baru di pasar yang umumnya gencar melakukan promosi dengan armada bus baru dan harga tiket promosi dapat membawa dampak negatif bagi pendapatan Perseroan.

6. Risiko persaingan usaha dengan moda angkutan penerbangan dan kereta api.

Perseroan menghadapi risiko persaingan usaha yang datang dari perusahaan penerbangan yang menerapkan konsep low-cost and low-fare. Basis kompetisi dengan moda angkutan penerbangan adalah harga dan waktu tempuh. Sedangkan dengan kereta api, basis kompetisinya adalah harga, daya angkut penumpang dan waktu tempuh. Tetapi pada umumnya persaingannya tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan penerbangan, sebab antara angkutan darat penumpang umum dan kereta api secara tradisionil sudah memiliki penumpang setia masing-masing.

7. Risiko ketergantungan pada satu pabrikan kendaraan untuk penyediaan armada dan suku cadang.

Sejak awal berdirinya CV LORENA yang menjadi cikal bakal Perseroan pada tahun 1970, Perseroan secara konsisten hanya menggunakan satu merek kendaraan bus saja yaitu Mercedes-Benz dengan berbagai tipe produk. Dasar pertimbangan Perseroan menggunakan hanya satu merek saja antara lain adalah kenyamanan, daya tahan kemudahaan dari segi teknis, serta efisiensi biaya pemeliharaan dan perbaikan. Selain itu, keseragaman kompetensi tenaga mekanik pun akan berdampak positif terhadap efisiensi dan efektifitas pemeliharaan dan perbaikan. Hal ini menjadi salah satu keunggulan kompetitif bagi Perseroan. Namun demikian, keunggulan kompetitif tersebut juga sekaligus menjadi risiko usaha tersendiri bagi Perseroan apabila terjadi kemungkinan penarikan armada oleh pihak pabrikan karena alasan keselamatan (safety recall) meskipun selama ini belum pernah dialami oleh Perseroan. Dalam kondisi tertentu, penarikan tersebut mungkin mengharuskan Perseroan untuk menarik kendaraan dari operasi.

Jika sejumlah besar armada bus ditarik secara bersamaan atau jika suku cadang pengganti yang dibutuhkan tidak tersedia dalam jumlah yang mencukupi, Perseroan mungkin tidak dapat mengoperasikan bus-bus tersebut dalam jangka waktu yang signifikan. Setiap penarikan armada bus, baik skala besar maupun kecil, dapat berdampak negatif terhadap pendapatan Perseroan. Ketidakmampuan pabrikan atau pemasok untuk menyediakan kendaraan atau suku cadang dengan harga wajar atau dalam jumlah yang dibutuhkan Perseroan dapat berdampak negatif dan material terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja operasional dan prospek usaha Perseroan.

8. Risiko pengakhiran atau tidak diperpanjangnya kontrak-kontrak penyediaan jasa Perseroan.

Sejak tahun 2008, Perseroan memasuki angkutan darat penumpang umum dalam kota melalui proyek Busway TransJakarta setelah memenangkan tender yang diselenggarakan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Perseroan memenangkan tender dan terikat kontrak selama 7 (tujuh) tahun dan opsi perpanjangan 2 (dua) tahun dengan Badan Layanan Umum Busway TransJakarta sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Adapun koridor-koridor yang dimenangkan oleh Perseroan melalui tender tersebut adalah Koridor 5 (Kampung Melayu – Ancol) dan Koridor 7 (Kampung Melayu – Kampung Rambutan) Demikian pula halnya dengan tender proyek Feeder Busway TransJakarta Rute 1 Sentra Primer Barat, Rute 2 Tanah Abang – Balai Kota dan Rute 3 Kawasan SCBD yang dimenangkan oleh Perseroan pada bulan April 2011 yang mengikat Perseroan selama 7 (tujuh) tahun dengan opsi perpanjangan 2 (dua) tahun. Beberapa saat sebelum masa kontrak berakhir, pemberi kerja akan mengadakan tender ulang untuk proyek-proyek tersebut. Kontrak dapat berakhir apabila jangka waktu telah berakhir atau apabila terjadi force majeur atau terjadi kelalaian pada salah satu pihak, baik dari sisi pemberi kerja maupun sisi Perseroan. Apabila kontrak-kontrak yang ada telah berakhir atau apabila terjadi pemutusan kontrak dikarenakan kelalaian dari Perseroan sendiri sebagamaina diatur dalam kontrak-kontrak dimaksud, maka hal tersebut akan berdampak negatif secara material terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja operasional dan prospek usaha Perseroan.

9. Risiko tidak diperbaharuinya perjanjian sewa dengan pemilik tempat di mana depo bus dan kantor-kantor perwakilan Perseroan berada.

Tidak ada jaminan bahwa perjanjian sewa akan diperpanjang dengan persyaratan yang dapat diterima atau bahkan diakhiri lebih awal. Jika perjanjian sewa tidak dapat diperpanjang atau diakhiri lebih awal, Perseroan terpaksa merelokasi depo bus, mengeluarkan biaya tambahan dan sumber daya untuk membangun depo bus baru dan mungkin mengakibatkan peningkatan biaya sewa yang harus dibayar oleh Perseroan. Selain itu, Perseroan mungkin tidak dapat menemukan lokasi baru yang cocok untuk difungsikan sebagai depo bus. Relokasi depo bus Perseroan juga akan mengganggu kegiatan operasional Perseroan dan mungkin mengakibatkan pengeluaran biaya tambahan. Sedangkan perjanjian sewa yang hanya dapat diperpanjang berdasarkan persyaratan yang kurang menguntungkan, mungkin dapat meningkatkan biaya operasional Perseroan. Semua hal di atas dapat berdampak negatif dan material terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja operasional dan prospek usaha Perseroan.

10. Risiko bencana alam.

Trayek-trayek Perseroan berada di wilayah daratan Indonesia yang merupakan negara yang rentan terhadap terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, gunung berapi, banjir dan lain-lain. Apabila terjadi bencana alam padatrayek-trayek Perseroan, maka operasi armada bus Perseroan dapat terganggu. Perseroan menghadapi risiko kemacetan lalu lintas akibat banjir atau rusaknya infrastruktur jalan raya/jembatan yang pada akhirnya akan meningkatkan biaya operasi Perseroan.

11. Risiko kemacetan lalu lintas dan penyeberangan antar pulau.

Perseroan menghadapi risiko terganggunya jadwal operasi akibat kemacetan lalu lintas di jalan raya maupun akibat panjangnya antrian di titik-titik penyeberangan antar pulau seperti Ketapang-Gilimanuk yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Bali, serta Merak-Bakauheni yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Risiko kemacetan lalu lintas jalan raya umumnya disebabkan dua hal yaitu (1) kualitas jalan yang sempit, rusak ataupun dalam perbaikan, dan (2) tingginya volume kendaraan yang melintas. Puncak kemacetan setiap tahunnya umumnya terjadi saat mudik lebaran menjelang hari raya Idul Fitri. Sedangkan risiko yang timbul dari penyeberangan antar pulau umumnya terjadi jika terdapat sekaligus beberapa kapal penyeberangan yang tidak dapat beroperasi sehingga mengakibatkan antrian yang panjang dan membutuhkan waktu tunggu yang lama. Risiko ini akan berdampak signifikan pada jumlah perjalanan yang dapat ditempuh armada dan berdampak negatif yang signifikan pada kinerja operasional yang pada akhirnya akan berdampak langsung pada kinerja keuangan Perseroan.

12. Risiko kecelakaan lalu lintas di jalan raya

Risiko kecelakaan lalu lintas merupakan risiko yang umumnya dihadapi setiap perusahaan angkutan, baik angkutan darat, laut maupun udara. Demikian juga halnya dengan Perseroan yang juga harus menghadapi risiko tersebut. Fenomena kemudahan persyaratan kredit kepemilikan kendaraan bermotor yang diberikan oleh perusahaan leasing kepada konsumennya dimanadengan uang muka yang relatif kecil, masyarakat sudah bisa membawa pulang sebuah sepeda motor baru. Tingginya peningkatan volume kendaraan di jalan raya dalam kurun waktu 10 tahun khususnya jenis kendaraan roda dua dan kendaraan pribadi jenis mobil kecil semakin meningkatkan potensi risiko kecelakaan lalu lintas bagi pengguna jalan raya termasuk Perseroan. Meningkatnya jumlah kendaraan di jalan raya dapat berdampak pada meningkatnya potensi risiko kecelakaan lalu lintas bagi Perseroan terutama pada saat menjelang dan sesudah perayaan hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri ketika terjadi lonjakan pemudik yang menggunakan sepeda motor.

13. Risiko tidak diperpanjangnya Perjanjian merek “Lorena”

Merek ”LORENA” secara eksklusif dimiliki sepenuhnya oleh PT Eka Sari Lorena (ESL) suatu Perseroan terbatas yang memiliki hubungan afiliasi melalui pemegang saham Perseroan. Berdasarkan Perjanjian Pinjam Pakai Merek “Lorena” tanggal 15 Agustus 2004 jis. Perjanjian Lisensi Merek ”LORENA” No. 001/ESLT/VII/2012 tanggal 9 Juli 2012, jis. Perubahan & Pernyataan Kembali Perjanjian Lisensi Merek ”LORENA” No. 002/ESLT/VII/2013 tanggal 1 Juli 2013, dan Perubahan dan Pernyataan kembali Perjanjian Lisensi Merek ”LORENA” No. 003/ESLT/I/2014 tanggal 21 Januari 2014 yang diaddendum pada tanggal 12 Maret 2014, ESL memberikan lisensi kepada Perseroan untuk dapat menggunakan Merek “LORENA” pada seluruh armada bus dan/atau transportasi darat yang dimiliki dan/atau dioperasikan oleh Perseroan baik untuk mengangkut penumpang maupun untuk mengangkut barang dalam menjalankan kegiatan usaha di bidang jasa angkutan penumpang umum darat antar kota antar propinsi. Perjanjian Lisensi Merek tersebut disertai dengan hak opsi membeli bagi Perseroan untuk mengambil alih hak Merek ”LORENA”. Dalam hal jangka waktu perlindungan Merek Terdaftar telah diperpanjang maka masa berlaku Perjanjian otomatis diperpanjang untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak tanggal 9 Pebruari 2015. Dalam hal para pihak akan mengakhiri perjanjian ini, maka dapat dilakukan dengan pernyataan bersama secara tertulis selambat-lambatnya 30(tiga puluh) hari sebelum tanggal pengakhiran perjanjian. Pengakhiran juga dapat terjadi apabila salah satu Pihak melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam Perjanjian atau adanya permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang atau kepailitan yang diajukan terhadap salah satu Pihak. Dalam hal suatu keadaan mengakibatkan perjanjian merek ini tidak diperpanjang atau jangka waktu perlindungan Merek Terdaftar tidak diperpanjang oleh ESL selaku pemilik Merek Terdaftar, akan berdampak terhadap penjualan Perseroan, kondisi keuangan, kinerja operasi dan prospek usaha Perseroan.

14. Risiko Perseroan tidak memiliki cakupan asuransi aset yang memadai

Perseroan menyatakan bahwa kebijakan asuransi Perseoran secara wajar sejalan dengan praktek dalam industri serupa. Asuransi yang dimiliki Perseroan, mencakup tanggung jawab pihak ketiga terhadap cedera (termasuk kematian) atau kerusakan kepada pihak ketiga akibat penggunaan kendaraan Perseroan. Namun Perseroan menyatakan bahwa asuransi tersebut masih belum memadai untuk menanggung seluruh risiko, karena didalam polis asuransi Perseroan tersebut memuat bab pengecualian dan bab pembatasan tertentu mengenai cakupan jenis klaim Perseroan yang dapat diajukan kepada perusahaan asuransi. Oleh karena itu, Perseroan dimungkinkan menanggung kewajiban atau kerugian yang diakibatkan karena Perseroan harus menanggung klaim atas cedera, kematian dan kerusakan properti yang diakibatkan penggunaan armada bus dan untuk klaim atas ganti rugi dari pekerja serta klaim lainnya karena Perseroan tidak bisa mengklaim ganti rugi kepada Perusahaan Asuransi karena tidak masuk pada jenis pertanggungan perusahaan asuransi. Hal ini dapat membawa dampak negatif yang bersifat material terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja operasi dan prospek usaha Perseroan.

15. Risiko perubahan kondisi perekonomian, politik dan sosial.

Perseroan menjalankan kegiatan usahanya di wilayah daratan Indonesia yang secara historis beberapa kali mengalami gejolak politik dan sosial. Ketidakstabilan kondisi ekonomi, politik dan sosial di Indonesia dapat menyebabkan kerusuhan oleh buruh ataupun massa yang berada di luar kendali Perseroan dan secara langsungsangat mempengaruhi jalannya kegiatan usaha Perseroan.Ketidakstabilan kondisi ekonomi, politik dan sosial di Indonesia dapat menyebabkan lesunya industri pariwisata di daerah pariwisata akibat pembatalan atau penundaan perjalanan oleh pelancong domestik yang menggunakan angkutan darat penumpang umum. Kenaikan harga-harga kebutuhan bahan pokok masyarakat dapat menyebabkan masyarakat akan mengurangi alokasi biaya perjalanannya dimana hal ini berpengaruh pada kegiatan operasional dan kinerja Perseroan.