Reformasi Birokrasi dan Cita-cita Mewujudkan Pemerintahan yang
A. REFORMASI BIROKRASI: BERANGKAT DARI EVALUASI
Roadmap Reformasi Birokrasi (RMRB) tahun 2020–2024 menargetkan delapan area perubahan, antara lain manajemen perubahan, penataan dan penguatan organisasi, penataan peraturan perundangan, penataan sumber daya manusia, penataan tata laksana, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas, dan peningkatan kualitas laya nan publik (Kemenpan RB, 2020). Dokumen RMRB 2020–2024 menjelaskan dengan gamblang hasil evaluasi implementasi roadmap pada periode sebelumnya, analisis lingkungan strategis yang berpotensi mendukung pelaksanaan roadmap berjalan, hingga sasaran dan strategi pelaksana-an RMRB 2020–2024.
Tiga sasaran pelaksanaan RMRB 2020–2024 adalah birokrasi yang baik dan bersih, birokrasi yang kapabel, dan pelayanan publik yang prima (KemenPAN-RB, 2020). Tingkat pencapaian ketiga
Buku ini tidak diperjualbelikan.
sasaran tersebut diukur dengan sejumlah indikator, yakni indeks perilaku antikorupsi, opini Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), indeks profesionalitas Aparatur Sipil Negara (ASN), dan indeks pelayanan publik ( Kemenpan RB, 2020).
Area perubahan yang dicakup dalam RMRB 2020–2024 tidak berbeda dengan periode sebelumnya. Kedelapan area tersebut diang-gap masih relevan sehingga RMRB 2020–2024 perlu meneruskan sejumlah realisasi yang belum terlaksana. Sebagai contoh, klasterisasi area perubahan disusun berdasarkan sasaran. Selain itu, setiap instansi diberi keleluasaan untuk menentukan daftar prioritas area perubahan sesuai kondisi dan kapasitas masing-masing (KemenPAN-RB, 2020).
Guna meningkatkan kualitas RMRB 2020–2024, terdapat tiga hal yang yang akan ditekankan, yaitu
1. pelaksanaan roadmap lebih difokuskan pada hal-hal yang bersifat implementatif dibandingkan formalitas,
2. program dan kegiatan dirancang agar dapat dilaksanakan hingga tingkat unit kerja, dan
3. analisis akan dilakukan secara lebih menyeluruh dan antisipatif Dalam Tabel 10.1 akan dipaparkan data ukuran keberhasilan RMRB periode 2015–2019. Berdasarkan data pada Tabel 10.1, reali sasi sejumlah indikator belum mencapai target. Pertama, opini BPK (Wajar Tanpa Pengecualian, WTP) terhadap kementerian/lembaga.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Kusumawati dan Ratmono (2017) membahas tentang determinan opini atas laporan keuangan pemerin-tah daerah di Indonesia. Meski ruang lingkup penelitiannya adalah pemerintah daerah, beberapa poin dalam studi tersebut relevan untuk dikaitkan dalam konteks pemerintah pusat. Studi tersebut menemukan sejumlah faktor yang menyebabkan institusi memperoleh opini audit di luar WTP, di antaranya sistem pengendalian internal yang lemah, ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, usia institusi sejak awal terbentuk, ukuran institusi berdasarkan jumlah
Buku ini tidak diperjualbelikan.
Indonesia Emas Berkelanjutan ...
114
Tabel 10.1 Tingkat pencapaian ukuran keberhasilan RMRB Tahun 2015‒2019 Sasaran Indikator Satuan Baseline Target Reali sasi
Birokrasi yang bersih dan akun tabel
1 Opini WTP atas laporan keuangan
K/L % 74 95 86*
Provinsi % 53 85 91
Kabupaten % 18 60 66
Kota % 33 65 77
2 Tingkat kapabilitas
APIP Skor 1‒5 1 3
--K/L 23,53*
Provinsi 52,94*
Kabupaten/Kota 23,23*
3 Tingkat kematangan
Implementasi SPIP Skor 1‒5 1 3
K/L 24,42*
Provinsi 44,12*
Kabupaten/Kota 23,23*
4 K/L/Pemda yang akuntabel (skor B atas SAKIP)
K/L % 39,3 85 87,8
Provinsi % 27,7 75 85,29
Kabupaten/Kota % 30 50 33,86*
5 Penggunaan e-Procurement terhadap belanja pengadaan
% 30 80
Buku ini tidak diperjualbelikan.
Sasaran Indikator Satuan Baseline Target Reali sasi
profesionalitas ASN Skor
1‒100 76 86 77,70*
3 Indeks e-Government
nasional/SPBE Skor 0-5 1,98 2,1 2,18
K/L Skor 0‒5 2,84 n.a. 2,98
Provinsi Skor 0‒5 2,25 n.a. 2,48
Kabupaten/Kota Skor 0‒5 1,84 n.a. 2,04
Birokrasi pelayanan publik
(Pusat) Skor 0‒10 7,22 9 **
Integritas pelayanan publik
(Daerah) Skor 0‒10 6,82 8,5 **
2 Survei kepuasan
dan Kab/Kota) Skor 0‒5 2,75 3,25 3,43 4 Survei kepuasan
masyarakat Skor
0‒100 75 77 80,91
Keterangan:
* belum mencapai target
** indeks belum tersedia
Sumber: Lampiran Permenpan RB Nomor 25 Tahun 2020 (Kemenpan RB, 2020, hal.24)
Buku ini tidak diperjualbelikan.
Indonesia Emas Berkelanjutan ...
116
karyawan, total aset, total pendapatan, tingkat produktivitas, kualitas sumber daya manusia, serta tindak lanjut rekomendasi hasil pemerik-saan terdahulu. Sementara itu, Sekretaris Jenderal BPK, Bahtiar Arif, menyebutkan empat indikator pembentukan opini atas suatu laporan keuangan, yaitu kesesuaian pelaporan sesuai standar yang telah diten-tukan oleh BPK, kejelasan informasi pelaporan, keberadaan sistem pengendalian internal, dan kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan (Ulya & Djumena, 2020).
Kedua, rendahnya tingkat implementasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), baik di tingkat pusat maupun daerah.
Meskipun SPIP telah berjalan lebih dari satu dekade sejak pertama kali ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008, pelaksanaannya masih penuh tantangan hingga saat ini. Dalam evaluasi pelaksanaan RMRB periode sebelumnya (Kemenpan RB, 2020), ditemukan persoalan kapasitas sumber daya manusia yang belum memahami definisi, maksud, dan pentingnya reformasi birokrasi sehingga program-program pendukung reformasi birokrasi tidak tersusun dengan baik. Selain itu, disinggung pula bentuk tim pelaksana yang paling ideal di setiap instansi, baik ad hoc maupun struktural. Kelemahan tim dalam bentuk ad hoc, misalnya, umumnya dihadapkan dengan keterbatasan waktu, tenaga, dan pikiran karena aparatur menanggung dual fungsi, yakni sebagai bagian dari tim dan sebagai aparatur yang terikat tugas dan fungsi di institusinya. Akibat-nya, tim tersebut hanya bekerja ketika Kemenpan RB berkunjung untu melakukan evaluasi. Di sisi lain, ketika tim pelaksana reformasi birokrasi diintegrasikan dalam tugas tambahan jabatan struktural, ditemukan kecenderungan tumpang tindih dengan struktur lain yang sudah ada dengan tugas serupa. Di samping persoalan bentuk ideal tim pelaksana reformasi birokrasi, rotasi pegawai juga menjadi tan-tangan terkait persoalan kapasitas sumber daya manusia sebagaimana disinggung di atas. Adanya rotasi pegawai membutuhkan waktu bagi anggota tim baru untuk memahami pelaksanaan reformasi birokrasi.
Ketiga, angka realisasi akuntabilitas pemerintah kabupaten/kota hanya berkisar sedikit di atas baseline. Mengingat SAKIP berkenaan
Buku ini tidak diperjualbelikan.
erat dengan tingkat penyerapan anggaran, angka ini dapat dikaitkan dengan rendahnya tingkat penyerapan anggaran pemerintah daerah, di samping soal akuntabilitas kinerja. Namun, bukan berarti indikator penyerapan anggaran dapat menjadi pembenaran untuk mengha-biskan anggaran. Yusrianti dan Safitri (2015) mengkritisi bahwa indi kator keberhasilan SAKIP tersebut berdampak pada munculnya paradigma pelaksanaan kegiatan berbasis penyerapan anggaran serta Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) yang tidak optimal dan minim substansi. Masalah rendahnya manajemen kinerja dilaporkan oleh KemenPAN-RB sebagai dampak dari ke gagalan instansi pemerintah menyusun dan menyinkronisasikan empat agenda, yaitu perumusan tujuan/sasaran pembangunan yang ber orien tasi hasil, ukuran keberhasilan, program/kegiatan, dan alokasi anggaran (Firdausy & Hanifah, 2018; KemenPAN-RB, 2020).
Singkatnya, instansi tidak memahami peran dan kontribusinya dalam pembangunan (Firdausy & Hanifah, 2018).
Keempat, penyelenggaraan birokrasi yang berorientasi layanan berkualitas. Layanan publik yang berkualitas menjadi salah satu indi -kator dalam Target 16.6 SDGs. Berdasarkan catatan pelaksanaan RMRB 2014–2019, indeks pelayanan publik menunjukkan tren posi tif dari waktu ke waktu (KemenPAN-RB, 2020). Ada enam aspek peng ukuran indeks pelayanan publik, yaitu kebijakan pelayanan, pe ningkatan pro-fesionalisme sumber daya manusia, peningkatan kualitas sarana dan prasarana, pemanfaatan Sistem Informasi Pelayanan Publik (SIPP), pengelolaan konsultasi dan pengaduan, serta penyelenggaraan inovasi dalam pelayanan publik (Kemenpan RB, 2020).