• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Sejarah Negara Saudi Arabia

5. Reformasi Sosial Budaya masyarakat Arab Saudi

melarang perempuan mengemudikan kendaraan, membeli perangkat musik, memesan kamar hotel atas nama mereka sendiri, dan bermaksud (tetapi tidak berhasil) melarang penumpang-penumpang perempuan untuk menggunakan sabuk pengaman di kursi depan mobil. Yang terakhirini lantaran mereka takut hal tersebut akan menonjolkan dada perempuan yang telah ditutupi jilbab. Sebelumnya, wahabi telah bekerja keras untuk mnecegah masuknya telepon ke saudi, khawatir media tersebut digunakan seagai sarana satanik yang mendorong interaksi antara laki-laki dengan perempuan. Bahkan selama beberapa waktu,mereka berhasil mencegah masuknya televisi (portal bagi masuknya pengaruh jahat dari luar islam), televisi satelit (invasi multinasional kekuatan satanik), dan internet (kejahatan eksternal yang tidak dapat dibasmi, yang menggunakan jalur telepon, dan lebih bruk lagi, sekarang menggunakakn broadband). Dilema-dilema baru membebani pikiran ulama, termasuk interface cabul antarjenis kelamin dengan bluetooth, kamera pada telepon genggam dan SMS.62

5. Reformasi Sosial Budaya masyarakat Arab Saudi

Masalah budaya di dunia dewasa ini, dalam berbagai arah memiliki signifikansi tertentu. Di banyak penjuru dunia, sekarang ini menjadi semakin jelas. Perputaran antara yang sosial dan yang politis dan yang kultural telah terbalik. Hubungan antara ketiga ini dalam peradaban kontemporer adalah hubungan yang beruntun sebagai berikut: pertama sosial, kedua politis, dan yang terakhir kultural.ini menunjukkan hubungan sebab-akibat diantara ketiganya, sekalipun berkelindan dan dialektis merupakan hubungan yang memberi pengaruh segala global, terhadap hubungan ekonomi dan sosial yang merefleksikan secara langsung pada tataran politis sehingga menentukan bentuk berbagai hubungan di dalamnya. Pengaruh itu sampai pada tataran kultural dimana dalam kesadaran sosial politik, yakni ideologis, ia menemukan ekspresinya yang pada tataran tertentu sepadan dengan fakta ekonomi – sosial yang ada.

Selalu ada pandangan tertentu terhadap ‚yang kultural‛. Karena ia memberikan tataran tertentu dari kemerdekaan relatif, maka ‚yang kultural‛ itu tidak tunduk secara mekanik terhadap pengaruh sosial dan masalah politis. Namun prioritas dan urgensinya selalu diberikan pada ‚yang sosial‛ sebagai kaidah dan penentu dan penggerak. Cara pandang seperti ini telah mendominasi dan menancap hingga dengan sendirinya ia menjadi bagian dari ‚yang kultural‛ (al-Tsaqa>fi>), serta menunjukkan muatan secara ideologis. Demikian ia mendominasi ruang kultural di Eropa pusat. Dan pada tahun 1970-an didominasi oleh jargon-jargon ideologis yang menunjukkan masalah sosial sebagai problem utama, yaitu jargon-jargon sosialis, konflik kelas, kesatuan proletar, dan seterusnya. Jargon-jargon yang mengangkat masalah budaya tak seorangpun yang mengingkarinya.

62

Qanta A. Ahmed, The Lost Arabian Woman: Fakta Terbaru Wanita-Wanita Saudi Arabia yang Selama ini Ditutupi-Tutupi, 52-24.

58

Bangsa Arab merupakan salah satu bangsa tertua dalam peradaban sejarah manusia. Sejarah kebudayaan bangsa Arab bukan lah hanya sebatas telah melewati berbagai periodisasi sejarah. Istilah atau sebutan Arab bukanlah hanya sebatas wilayah, namun Arab mempunyai definisi yang luas jika dikaitkan dengan kebudayaan yang berkembang di dalam negara Arab itu sendiri. Salah satu aspek yang menarik tentang kebudayaan Arab adalah tidak hanya sebuah cerita kebudayaan yang independen dan mandiri. Namun, juga budaya Arab yang terbentuk karena interaksi dengan modernitas sehingga tercipta sebuah etnis budaya Arab kontemporer.

Jika kita jelajahi aspek budaya Arab Saudi, terdapat empat karakteristik yang menentukan sistem masyarakat Arab Saudi. Pertama, letak geografis masyarakat Arab Saudi telah membentuk jati diri bangsa Arab Saudi menjadi anti-individualis. Mereka menempatkan kepentingan kelompok, keluarga dan sukunya diatas kepentingan pribadi. Bahkan bisa ditarik secara umum bahwa 60% dari nilai Arab Saudi, sikap dan pola perilakunya berasal dari nilai-nilai kolektif masyarakatnya. Kedua. Kebudayan Arab Saudi menjunjung tinggi keistimewaan dan eksklusifitas bagi pemuka masyarakatnya bagi pemuka masyarakatnya. Ketiga, masyarakat Arab Saudi memiliki sistem komunikasi eksplisit dan implisit di antara sesama mereka untuk membantu nilai-nilai kolektivitas mereka. Keempat, budaya Arab Saudi dipandang cenderung bersifat polikronik. Hal ini ditandai dengan beberapa urusan yang dikerjakan secara stimultan. Namun, hal ini tidak berlaku pada beberapa urusan yang bersifat diplomatif.63

Sejauh ini, kearaban bukan hanya sekedar ukuran dari sebuah language (bahasa Arab), melainkan bagaimana pola pikir mempengaruhi persoalan culture masyarakat Arab itu sendiri. Masyarakat Arab Saudi modern bisa digambarkan dengan pengaruh dominasi kolonial asing yang begitu kuat. Mereka berusaha menegakkan gaya hidup modernisasi yang dibawa oleh Barat. Konsep barat begitu mewarnai masyarakat Arab Saudi modern. Meskipun masyarakat Arab Saudi modern menguasai sistem kenegaraan dan mendominasi masyarakat atas pola modern, namun itu tidak berarti bahwa nilai-nilai tradisional tersisihkan.

Bila kita melihat jantung di kota-kota Arab Saudi, kita akan disuguhkan dengan pemandangan pasar tradisional dan tempat-tempat perbelanjaan modern begitu mendominasi sesak dan padatnya kota. Dunia profesi masyarakat Arab Saudi modern juga terbagi menjadi kalangan profesional modern dan pekerja tradisional. Pada puncak strata kelas, profesi elit mendominasi kalangan masyarakat Arab Saudi modern seperti dokter, ahli hukum, pengusaha dan profesi elit lainnya. Pada masyarakat kelas bawah dengan ekonomi yang rendah, mereka adalah pekerja tradisional seperti buruh, pekerja kasar dan pandai besi.64

63 Jehad Al-Omani, Understanding the Arabic Culture, (Oxford: Spring Hill Road, 2008), h. 32-34.

64 Lihat Halim Barakat The Arab World: Society, Culture, and State, (Los Angeles: University of California Press, 1993), h. 23.

59

Realita sosial memperlihatkan bahwasanya, masyarakat Arab Saudi modern tidak memahami dimensi kultural yang terjadi sekarang. Mereka mengesampingkan nilai-nilai tradisional dan membangun kembali pertanian, industri, pendidikan, tradisi, dan kebudayaan dengan semangat modernisme ala Barat. Fenomena yang paling bahaya masyarakat Arab Saudi modern dewasa ini adalah melimpahnya kekayaan hasil dari minyak bumi.

Konsekuensi dan implikasi dari perubahan ekonomi dan perubahan sistem pemerintahan juga berimbas pada perubahan sosial budaya. Perkembangan ekonomi berpengaruh sangat signifikan dalam dinamika sosial budaya Arab Saudi. Hal ini dikarenakan komoditas minyak yang memiliki pendapatan langsung dari hasil komersialisasi minyak bumi mulai pada tahun 1948. Pada masa ‘Abdul ‘Azi>z bin ‘Abdul al-Rah}ma>n al-Sa‘u>d, Sa‘u>d bin ‘Abdul ‘Azi>z al-Sa‘u>d dan Fais}al bin ‘Abdul ‘Azi>z al-Sa‘u>d65 adalah masa transisi dan perubahan dari sisi tradisional menjadi pandangan modern yang didasarkan pada perkembangan ekonomi.66

Pertengahan abad ke-20, sebagian besar masyarakat Arab Saudi masih menganut gaya hidup tradisional. Banyaknya periazah yang mengunjungi Mekah dan Madinah, untuk haji dan umrah memberi dampak yang signifikan terhadap perkembangan pola kehidupan masyarakat di Arab Saudi. Disinilah terjadi kontak dengan negara luar. Selanjutnya interaksi dengan dunia luar makin berkembang dengan adanya inovasi dalam bidang transportasi, teknologi, pendidikan, ekonomi dan organisasi. Di bidang ekonomi dengan meningkatnya kekayaan dari hasil minyak bumi juga telah menyebabkan perubahan domestik yang tidak dapat dipungkiri. Metode produksi modern telah dikembangkan pada masyarakat tradisional dengan dikenalkan pada jutaan tenaga asing dan mempekerjakan ribuan orang saudi dengan pekerjaan yang non-tradisional. Di bidang pendidikan, ribuan pelajar Arab Saudi disekolahkan di luar negeri, sebagian besar di Amerika Serikat. Di bidang teknologi, cara berkomunikasi masyarakat tidak lagi berpusat pada televisi dan radio, tetapi telah menggunakan internet sebagai media komunikasi, terutama kaum muda

65 Pada masa ‘Abdul ‘Azi>z bin ‘Abdul al-Rah}ma>n al-Sa‘u>d, karakteristik masyarakat yang agraris tentu sangat berlawanan pada permulaan perkembangan ekonomi yang terletak pada aspek sumber daya mineral. ‘Abdul ‘Azi>z bin ‘Abdul Rah}ma>n al-Sa‘u>d harus melakukan detribalisasi dan menata masyarakat kaum badui untuk dapat memaksimalkan potensi sumber daya manusia. Pada masa Sa‘u>d bin ‘Abdul ‘Azi>z al-Sa‘u>d, program konvensional tidak banyak dilakukan,namun pada masa Fais}al bin ‘Abdul ‘Azi>z al-Sa‘u>d,pergolakan sumber daya manusia secara besar-besaran mulai dari aspek pendidikan, aspek komunikasi, aspek administrasi, dan aspek pemerintahan menjadi konsentrasi sendiri bagi Fais}al bin ‘Abdul ‘Azi>z al-Sa‘u>d. Menurut Fais}al pendidikan merupakan penjaga kedaulatan negara di kemudian hari. Tim Niblock, Saudi Arabia: Power Legitimacy and Survival, h. 27.