• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Sastra Terry Eagleton (melihat hubungan sastra dan ideologi)

Siklus peradaban telah meninggalkan pengaruh yang jelas terhadap segala dimensi kehidupan yang beragam. Bahkan kemunculan aliran seni dan sastra serta perkembangannya mengungkapkan secara detail tentang kebutuhan-kebutuhan mendasar kehidupan sosial manusia dalam ruang dan waktu, sesuai dengan kondisi hubungan antara individu dan masyarakat.49

Sesuai dengan dinamika masyarakat dan teks, karya sastra dihasilkan memiliki hubungan langsung dengan masyarakat yang melatar belakangi, sehingga memberi gambaran hubungan yang bermacam-macam. Melalui antar hubungan inilah terjadi medan-medan ideologi, baik dalam kaitannya dengan ciri-ciri estetis maupun propagandis ideologis.50

46 Rene Wellek dan Austin Warren, Teori Kesusasteraan, terj. Melani Budianta (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1995) 110-123.

47 M. H Abrams,The Mirror and The Lamp: Romantic Theory and The Critical Tradition (Oxford: Oxford University Press, 1953), 31.

48 A.Teew, Sastra dan Ilmu Sastra (Bandung: Pustaka Jaya, 2017), Cet. Ke-6, 40-41. Lihat juga Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik sampai Postmodernisme (Yogyakarta: Kanisius, 1994), 553.

49 H}ilma> Badi>r, Al-Ittija>h al-Waqi’i> fi> al-Riwa>yah al-‘Arabi>yah al-H}adithah fi> Mis}r

(Al-Iskandari}}>yah: Da>rul Wafa>’ lidunya> al-t}}aba>‘ah wa al-nashr, 2009), 43.

50 Nyoman Kuta Ratna, Sastra dan Cultural Studies Refresentasi Fiksi dan Fakta,

30

Paradigma struktural dalam kajian sastra merupakan kajian dalam perspektif yang aman karena paradigma teoritisnya menghindari konteks sosial sastra. Ketika karya sastra tidak didefinisikan dalam paradigma struktural, tetapi lebih ditempatkan sebagai satu praktik sosial-ideologis. Dalam konsep ini, hal yang ingin ditekankan adalah pertama, ideologi merepresentasikan hubungan-hubungan imajiner antara individu dengan kondisi-kondisi keberadaannya. Kedua, ideologi itu pada dasarnya bersifat material, tidak bersifat ideal atau spiritual.51

Menurut Althusser teks sastra merupakan unconsciousness (wacana ketidaksadaran) ideologis itu sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Friedrich Engels kesadaran palsu (false consciousness).52 Teks sastra merupakan transformasi dari proses tawar-menawar kehidupan individu dalam formasi sosial yang terjadi secara imajinatif. Teks sastra sebagai praktik sosial terjadi berkat dan dalam ideologi. Dengan demikian, ideologi diartikan sebagai praktik-praktik yang dipercaya dan diyakini saling berhubungan dengan praktik, dan struktur kekuasaan tempat manusia tersebut hidup.53

Berbicara tentang ideologi dalam dunia sastra, erat kaitannya dengan pandangan Marxisme yang didasarkan pada gagasan bahwa sastra adalah produk sosial dan ideologi. Ideologi pada umumnya menyampaikan representasi ide-ide dan pengalaman kolektif yang bertentangan dengan realitas material yang didasarkan pada pengalaman.54 Masyarakat menurut Marx merupakan sebuah struktur yang ditopang oleh dua elemen dasar, yaitu elemen material/ekonomi dan elemen ideologis/kultural. Elemen pertama disebutnya sebagai infrastruktur atau struktur dasar (base structure), sedangkan elemen kedua sebagai superstruktur atau struktur permukaan. Di antara kedua elemen itu elemen pertamalah yang menjadi pusat, menjadi penentu bagi keseluruhan struktur sosial. Superstruktur merupakan fungsi dari infrastruktur. Karena termasuk dalam elemen ideologis karya sastra merupakan fungsi dari struktur ekonomi yang menjadi dasar.55

Ideologi mengacu pada kawasan ideasional dalam suatu budaya. Dengan demikian istilah, ideologi meliputi nilai, norma, falsafah, kepercayaan religius, sentimen, kaidah etis, pengetahuan dan wawasan tentang dunia dan etos.56

51 Aprinus Salam, ‚Pengajaran Sastra dan Politik Kebudayaan.‛ Insania, Vol. 13,

No. 3, (2008), 4.

http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/insania/article/view/303, (diakses 23 januari 2019).

52 Teks asli ‚Ideology is a process accomplished by the so-called thinkerconscioly, indeed, but with a false consciousness.‛ Lihat Zachari Samalin, ‚Ideology.‛ Victorian Literature and culture, Vol. 46, No. ¾ (2018), 729.

https://doi.org/10.1017/S1060150318000670 (diakses 23 Januari 2019). 53 Lihat, Aprinus Salam, ‚Pengajaran Sastra dan Politik Kebudayaan.‛ 5.

54 Jefferson dan Robey, Ann dan David (ed), Modern Literary Theory (London: B.T. Batsford Ltd, 1987), 169.

55 Lihat, Faruk, Metode Penelitian Sastra (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 70.

56 Kaplan dan Manners, David dan Albert A, Teori dan Budaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), 154.

31

Ideologi secara umum sering diartikan sebagai suatu pandangan atau kebenaran yang dianut oleh seseorang atau masyarakat. Menurut Roland Barthes ideologi adalah mitos yang sudah melekat dalam suatu komunitas. Mitos disini merujuk pada pemaknaan atas suatu gejala budaya.57 Sedangkan menurut Giddens bahwa ideologi harus dipahami bagaimana struktur pemaknaan dimobilisasi untuk mengesahkan kepentingan sepihak kelompok hegemonis. Dengan kata lain ideologi mengacu pada bagaimana makna digunakan untuk menjustifikasi kekuasaan kelompok berkuasa yang mencakup banyak kelas, juga kelompok sosial yang didasarkan atas ras, gender, umur, dan lain-lain.58

Salah satu tokoh sosiologi sastra yang menggabungkan hubungan sastra dan ideologi adalah Terry Eagleton.59 Jika melihat latar belakang pemikiran Eagleton, sedikit atau banyak dipengaruhi oleh pemikiran Louis Althusser (1918-1990), seorang kritikus asal perancis. Salah satu pemikiran Althusser tentang konsep ideologi adalah ia merupakan sistem dari representasi di dalam masyarakat. Konsep ideologi ini juga yang digunakan dan dikembangkan oleh Eagleton dalam teorinya. Menurutnya, ideologi itu bisa berwujud hukum, politik, agama, etika, estetika dan sebagainya dengan fungsi melegitimasi kekuasaan kelas penguasa dalam masyarakat.60

Sebagai kritikus Neo-Marxis, Eagleton mengembangkan lagi teori Marxis yang mengatakan bahwa sastra adalah produk dari kekuatan sosial dan ideologi. Namun Eagleton menegaskan bahwa teks sastra bukan ‘ekspresi’ ideologi, juga bukan ideologi ‘ekspresi’ kelas sosial. Teks ini lebih tepat dikatakan sebagai produksi ideologi tertentu. Hubungan antara teks dan produksi adalah hubungan kerja.61 Dengan demikian, karya sastra merupakan bentuk persepsi dan sebagai salah satu metode untuk melihat ‚mentalitas sosial‛ atau ideologi di masanya.62

Untuk menunjukkan berbagai makna ini, beberapa definisi dari ideologi yang saat ini beredar sebagai berikut63:

1. Proses produksi makna, tanda dan nilai dalam kehidupan sosial.

2. Sebuah badan ide Karakteristik dari kelompok sosial tertentu atau kelas.

57 Lihat Chris Barker, Cultural Studies Teori dan Praktek (Bantul: Kreasi Wacana, 2018), Cet. Ke-11, 74-76.

58 Chris Barker, Cultural Studies Teori dan Praktek, 66-67.

59 Terry Eagleton merupakan salah satu kritikus asal Inggris Neo-Marxis, yang menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Karl Marx. Salah satu bukunya yang terkenal adalah ‚Marxis and Literary Criticism (1976).‛ Menurut Eagleton, tugas pertama kritik sastra adalah mendefinisikan hubungan antara sastra dan ideologi, karena karya sastra tidak hanya merupakan cerminan dari kenyataan melainkan mengandung efek ideologis yang nyata.

60 Terry eagleton, Marxis and Literary and Criticism (London: Taylor & Francis e-Library, 2006), 6.

61 Fadil Munawar Mansur, ‚Teori Marxis dan Aplikasinya pada Penelitian Karya Sastra Arab Modern,‛ Bahasa dan Seni, Vol. 40. No. 1 (2012), 127.

https://repository.ugm.ac.id/33012/ (diakses 27 Januari 2019).

62 Terry eagleton, Marxis and Literary and Criticism, 3.

32

3. Ide yang membantu untuk sah kekuatan politik yang dominan. 4. Gagasan palsu.

5. Secara sistematis mendistorsi komunikasi. 6. Yang menawarkan posisi untuk subjek.

7. Bentuk pemikiran yang termotivasi oleh kepentingan sosial. 8. Mengidentifikasi pemikiran.

9. Ilusi sosial yg diberlakukan. 10. Konjungsi wacana dan kuasa.

11. Media di mana aktor sosial sadar memahami dunia mereka. 12. Berorientasi aksi keyakinan.

13. Kebingungan linguistik dan realitas fenomenal. 14. Semiotik penutupan.

15. Media yang sangat diperlukan di mana individu menjalani hubungan mereka dengan struktur sosial.

16. Proses dimana kehidupan sosial dikonversi menjadi realitas alami.

Ada dua metode dalam kajian sosiologi sastra menurut Eagleton. Pertama, realis: yang melihat karya sastra sebagai sebuah fakta yang berangkat dari konteks sosial masyarakat. Kedua, pendekatan pragmatik: yang melihat sastra dapat dibentuk dalam berbagai macam faktor dan dapat dibaca dalam berbagai kalangan, artinya pendekatan ini lebih melihat karya sastra dari aspek kegunaan serta kemanfaatannya bagi pembaca.64