• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Semiotik Roland Barthes sebagai Teori Bantu Terry Eagleton

Bahasa merupakan alat komunikasi dalam mengungkapkan pikiran lewat kata-kata yang tersusun.72 Bahasa digunakan dalam kenyataan yang paling konkret untuk berbagai tujuan yang dikehendaki manusia. Ada yang digunakan sebagai alat membuat perjanjian, memberi sugesti, ajakan, melakukan sindiran, kritik, dan sebagainya.

Sebagai seni bahasa, sumbangan terpenting karya sastra dalam kaitannya dengan masalah-masalah kemasyarakatan adalah kemampuannya dalam mentransformasikan sekaligus mengabadikan kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari, sebagai interaksi sosial ke dalam peristiwa-peristiwa sastra, sebagai perilaku fiksional. Dengan kalimat lain bahasa sastra mentransendensikan kejadian-kejadian, sehingga masalah-masalah yang biasa menjadi luar biasa.73

Bahasa sebelum dipakai oleh penulis, sudah merupakan sistem tanda, sistem semiotik; setiap tanda, unsur bahasa itu mempunyai arti tertentu, yang secara konvensi disetujui, harus diterima oleh anggota masyarakat. Di dalam sistem tanda itu tersedia perlengkapan konseptual yang sukar sekali kita hindari, sebab perlengkapan itu merupakan dasar pemahaman dunia nyata yang sekaligus merupakan dasar komunikasi antara masyarakat.74

Karya sastra merupakan refleksi pemikiran, perasaan dan keinginan pengarang lewat bahasa. Bahasa itu sendiri tidak sembarangan bahasa, melainkan bahasa yang khas, yakni bahasa yang memuat tanda-tanda atau semiotik.75 Sebagai fakta semiotik, karya sastra mempunyai eksistensi ganda, yakni sekaligus berada dalam dunia indrawi (empirik) dan dunia kesadaran (consciousness) yang non empirik. Aspek keberadaannya yang pertama dapat ditangkap oleh indra manusiawi, sedangkan aspek keberadaannya yang kedua tidak dapat dipahami oleh indera.76 Oleh karena itu, untuk mengetahui makna teks yang berupa tanda dalam karya sastra seperti novel diperlukan teori semiotik agar dapat mengungkapkan makna yang tersirat.

71 H}amdu ibn Na>s}ir al-Dakhili, Fi> al-Adab al-’Arabi> al-H}adist (Riya>d}: Na>di> al-Adabi>, 2000),h.

72 Fa>ru>q H}asa>n, Dira>sa>t Naqdiyah Ra’yu Naqdiyah, (Kairo: Al-Haiah al-Mis}riyah al-‘Ammah lilkita>b, 2008), 10.

73 Nyoman Kuta Ratman, Sastra dan Cultural Studies Representasi Fiksi dan Fakta, 316.

74 A. Teww, Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984), 96.

75 Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi, 1.

35

Secara etimologis semiotika bersumber dari bahasa Yunani dari akar kata seme, semeion yang berarti tanda. Kajian semiotika berawal dari studi klasik dan skolastik atas seni logika , retorika, dan poetika. Istilah semiotika sudah digunakan oleh Plato dan Aristoteles dalam karya mereka Cratylus Ponders the Origin of Language dan Poetics On interpretation.77 Ferdinand de Saussure mengertikan semiotika sebagai ‚ilmu yang menelaah tentang tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Ia juga merupakan sebuah model ilmu pengetahuan sosial yang disebut ‚tanda‛. Kemudian menurut Saussure, ada suatu hubungan antara penanda dan petanda yang bersifat diada-adakan sebab tidak ada ketertarikan logis.78 Kajian semiotik dalam media mulai ada pada tahun 1950, yang awalnya merupakan metode dalam penelitian sastra, ilmu sosial, dan kritik seni.79 Semiotik adalah ilmu yang mempelajari tentang sistem tanda.80 Dalam bahasa arab disebut dengan ‘ilmu al-‘ala>ma>t atau Si>ma>iyyah tapi di kalangan kritikus Arab lebih disepakati dengan istilah Si>ma>iyyah yaitu ilmu tanda.81. Dalam semiotik, tanda mencakup bentuk dari kata-kata, gambar, suara, gerak/isyarat dan benda. Semiotik juga dikatakan sebagai salah satu metode bagaimana penciptaan makna dari konstruksi sosial.82

Dalam studi sastra semiotika memiliki tiga asumsi. Pertama, karya sastra merupakan gejala komunikasi yang berkaitan dengan pengarang, wujud sastra sebagai sistem tanda, dan pembaca. Kedua, karya sastra merupakan salah satu bentuk penggunaan sistem tanda (system of signs) yang memiliki struktur dalam tata tingkat tertentu. Ketiga, karya sastra merupakan fakta yang harus di rekonstruksikan pembaca sejalan dengan dunia pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.83

Perkembangan semiotika kontemporer, tanda-tanda sebagai ilmu pengetahuan modern berasal dari dua sumber, yaitu Ferdinand de Saussure (1857-1913) ahli linguistik dari Swiss dan Charles Sanders Peirce (1839-1914) ahli filsafat dan logika Amerika.84 Selanjutnya Roland Barthes (1915-1980) ia adalah seorang pelopor semiotik yang mengembangkan strukturalis pada semiotik teks. Pada tahun

77 Nyoman Kuta Ratna, Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), Cet. Ke-2, 256. Untuk lebih jelas lihat Paul Cobley and Litza Jansz, Introducing Semiotics ( Victoria: McPherson’s Printing Group, 2001), 4.

78 Yasraf Amir Piliang, HiperRealitas Kebudayaan (Yogyakarta: Lkis, 1999), 115.

79 Gill Branston and Roy Stafford, Student’s Book (London: Routledge, 2003), 10.

80 Simon Malpas and Paul Wake (ed), The Routledge Companion to Critical and Cultural Theory, (Canada: Routledge 2013), Cet. Ke 2, 18.

81 Sukron kamil, Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern, 193. Untuk lebih jelas lihat Sa>la>h} Fad}al , Nazariyyatul bina>iyah Fi> an-naqd al-adabi>, (Beirut: Da>rul Afa>q al-Ibdi>dah, 1985), 443.

82 Dhanil Chandler, Semiotics: the Basic, (London: Reuledge, 2002), 2.

83 Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: Pt Remaja Rosdakarya, 2013), 142.

84 Mereka hidup sezaman tapi tidak saling mengenal sehingga secara konseptual, sebagai mazhab Eropa Kontinental Saussure menggunakan istilah semiologi, sedangkan sebagai mazhab Amerika Peirce menggunakan istilah semiotika. Dalam perkembangan berikutnya istilah semiotika lah yang lebih populer.

36

1960 ia merupakan pemuka kaum strukturalis dan juga salah seorang yang mengembangkan program semiotik Saussure. Semiotik dalam perspektif Roland Barthes, melihat signifikasi (tanda) sebagai sebuah proses yang total sebagai suatu susunan yang sudah terstruktur. Signifikasi itu tidak terbatas pada bahasa, tetapi terdapat pula hal-hal yang bukan bahasa. Barthes menganggap pada kehidupan sosial, apapun bentuknya, merupakan suatu sistem tanda tersendiri.85

Barthes menegaskan semiologi mendalilkan dua istilah, yakni penanda dan petanda. Dalam konteks ini kita perlu berhati-hati sebab dalam bahasa ke-seharian, ada yang mengatakan bahwa penanda mengungkapkan petanda, dan sistem semiologi kita tidak hanya dihadapkan dengan dua istilah, melainkan tiga istilah yang berbeda. Tiga istilah itu adalah penanda (gambaran akuistik), petanda (konsep), dan tanda (hubungan antara konsep dan citra). Penanda dan petanda ada sebelum mereka bersatu dan membentuk objek ketiga, yakni tanda.86 Kedua istilah semiotika dan semiologi tidak memiliki perbedaan yang substansif, tergantung dimana istilah itu popular. Ada kecenderungan istilah semiotika lebih populer dibandingkan istilah semiologi, sehingga penganut mazhab Saussurean pun sering menggunakan istilah semiotika. Namun yang perlu dijelaskan keduanya merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda berdasarkan kode-kode tertentu. Tanda-tanda tersebut akan tampak pada tindak komunikasi manusia lewat bahasa baik lisan maupun isyarat.

Teori Saussure tentang tanda telah diperluaskan oleh Barthes. Disini pemaknaan terjadi dalam dua tahap. Tanda (penanda dan petanda) pada tahap pertama dan menyatu sehingga dapat membentuk penanda pada tahap ke kedua, kemudian pada tahap berikutnya, penanda dan petanda yang telah menyatu ini dapat membentuk petanda baru yang merupakan perluasan makna. contoh penanda (imaji bunyi) mawar mempunyai hubungan (relasi) dengan petanda (konsep) ‘bunga yang berkelopak susun dan harum’. Setelah penanda dan petanda ini menyatu, timbul pemaknaan tahap ke dua yang berupa perluasan makna. petanda pada tahap kedua menjadi ‘gadis muda’ (makna ini sangat bergantung konteks). Makna tahap kedua disebutkan konotasi, sedangkan makna tahap pertama disebut denotasi.87

Berikut adalah peta tanda dari Roland Barthes 1. Signifier (Penanda) 2. Signified (Petanda) 3. Denotative Sign (Tanda Denotatif)

4. Connotative Signifier 5. Connotative Signified

85 Kurniawan, Semiologi Roland Barthes (Magelang: Indonesia Tera, 2001), 53.

86 Roland Barthes, Mitologi (yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004), 186-187.

87 Okke K.S. Zaimar, Semiotik dan Penerapannya dalam Karya Sastra (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008),59.

37

(penanda konotatif) (petanda konotatif)

6. Connotative Sign (Tanda konotatif)

Barthes menggunakan konsep connotation untuk menyingkap makna-makna yang tersembunyi. Konsep ini menetapkan dua cara pemunculan makna-makna yang bersifat promotif, yakni denotatif dan konotatif. Pada tingkat denotatif, tanda-tanda mencuat terutama sebagai makna primer yang ‚alamiah‛. Namun pada tingkat konotatif, di tahap sekunder, muncullah makna yang ideologis.88

Pada tingkat pemaknaan tahap kedua (connotative) ini, berupa makna yang bersifat ideologis, maka akan muncul penanda baru yang disebut dengan mitos (myth). Mitos atau mitologi sebenarnya merupakan istilah lain yang dipergunakan oleh Barthes untuk ideologi. Mitologi merupakan level tertinggi dalam penelitian sebuah teks, dan merupakan rangkaian mitos yang hidup dalam sebuah kebudayaan. Mitos merupakan hal yang penting karena tidak hanya berfungsi sebagai pernyataan bagi kelompok yang menyatakan, tetapi kunci pembuka bagaimana pikiran manusia dalam sebuah kebudayaan bekerja.89 Dapat disimpulkan bahwa mitos merupakan rujukan yang bersifat kultural bersumber dari budaya yang ada yang digunakan untuk menjelaskan gejala atau realitas yang ditunjuk dengan lambang-lambang. Dengan kata lain, mitos berfungsi sebagai deformasi dari lambang yang kemudian menghadirkan makna-makna tertentu dengan berpijak pada nilai-nilai sejarah dan budaya masyarakat.90 Perspektif Barthes tentang mitos ini menjadi salah satu ciri khas semiologinya yang membuka ranah baru semiologi, yakni penggalian lebih jauh penandaan untuk mencapai mitos yang bekerja dalam realitas keseharian masyarakat.

Untuk memahami proses terjadinya penandaan yang bersifat ideologis (myth), Barthes menceritakan peristiwa ketika dirinya disodori sebuah majalah Paris Match. Dalam sampul majalah tersebut terdapat visualisasi seseorang pemuda kulit hitam yang mengenakan seragam serdadu Perancis. Pose pemuda tersebut menunjukkan bahwa ia sedang memberi hormat pada bendera Perancis. Pata tataran pertama (denotasi) yang menjadi penanda adalah gambar pada sampul majalah tersebut, sedangkan yang menjadi petanda adalah konsep seorang serdadu Perancis kulit hitam yang mengenakan seragam keprajuritan negara Perancis dengan tangan diangkat keatas dan mata menatap ke arah bendera Perancis tersebut. Semua petanda yang hadir di tataran denotasi menyatu dengan penanda dan berkat relasinya dengan penanda, ia menjadi penanda di tataran konotasi. Selanjutnya, penanda yang hadir ditahap kedua ini beranting dengan petanda baru yang memuat

88 Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, 263-264.

89 Sri Wahyuningsih, ‚Kearifan Budaya lokal Madura Sebagai Media Persuasif: Analisis Semiotika Komunikasi Roland Barthes dalam Iklan Samsung Galaxy Versi Gading dan Giselle di Pulau Madura,‛ Jurnal Sosio Didaktika, Vol. 1, No. 2 (2014), 172-180.

http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/SOSIO-FITK/article/view/1259 (diakses 24 September 2018).

38

ideologi tertentu yakni imperialitas Perancis, kemiliteran Perancis dan juga kebebasan negara Perancis yang memiliki anak negeri dari berbagai ras.91

Dua tahap penandaan signifikansi (two order of signification) Barthes dapat digambarkan sebagai berikut:

Tataran Pertama Tataran Kedua Realitas Tanda Budaya

Bentuk

Gambar 2: Signifikasi Dua Tahap Barthes.92

Melalui gambar ini Barthes, seperti dikutip Fiske, menjelaskan: signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Konotasi mempunyai makna subjektif atau paling tidak intersubjektif. Pemilihan kata-kata kadang merupakan pilihan terhadap konotasi, misalnya kata ‚penyuapan‛ dengan ‚memberi uang pelicin‛. Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah objek; sedangkan konotasi adalah bagaimana menggambarkannya. Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam.93

Mitos ini tidak dipahami sebagaimana pengertian klasiknya, tetapi lebih diletakkan pada proses penandaan ini sendiri, artinya mitos berada dalam diskursus semiologinya tersebut. Konstruksi penandaan pertama adalah bahasa, sedangkan

91 Christian K. Wedemeyer, ‚Beef, Dog, and Other Mythologies: Connotative Semiotics in Maha>yoga Tantra Ritual and Scripture,‛ Journal of the American Academy of

Religion, Vol. 75, No. 2 (2007), 395-396.

https://academic.oup.com/jaar/article/75/2/383/698359, (diakses 24 September 2018).

92 Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, 69.

93 Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, 69.

denotasi Penanda

Petanda

Konotasi

39

konstruksi penandaan kedua merupakan mitos, dan konstruksi penandaan tingkat kedua ini dipahami oleh Barthes sebagai metabahasa (metalanguage).94

40 BAB III

LATAR BELAKANG SOSIAL MASYARAKAT ARAB SAUDI: BIOGRAFI RAJA’ABD ALLA>H Al-S}A>NI‘