• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Kerja KTH Kepayang Lestari Tahun 2015-2016/2017

V. PEMBENTUKAN KELOMPOK TANI HUTAN (KTH) DESA KEPAYANG

5.12. Rencana Kerja KTH Kepayang Lestari Tahun 2015-2016/2017

Penjelasan tentang perencanaan yang sedapat mungkin memenuhi prinsip CERDAS (Cocok, tEpat, Realistik, DApat diukur, dan Sesuai dengan kebutuhan atau keadaan).

Latihan membuat rencana CERDAS.

Contoh rencana CERDAS; Melakukan latihan kesehatan ternak kambing untuk 15 anggota kelompok sampai akhir tahun 2002.

Contoh rencana kurang CERDAS; Latihan kesehatan ternak untuk anggota kelompok.

Diskusikan bersama dalam pleno kategori mana yang akan dibuat rencana kerjanya (dengan mempertimbangan hasil di atas, berdasarkan optimisme yang muncul di atas)

Kembali lagi dengan kelompok yang sebelumnya, buatlah beberapa rencana yang bisa dilakukan kelompok untuk mencapai cita-cita yang telah dirumuskan. Rencana yang telah dirumuskan didiskusikan bersama anggota keompok yang lainnya dalam pleno.

Terakhir kelompok tadi akan membuat perincian unruk rencana yang telah diepakati bersama dalam diskusi pleno. Dimana perencanaan tersebut terdiri dari; Kegiatan (rencana itu sendiri), Siapa (yang akan bertanggung jawab untuk pelaksanaanya), Kapan (waktu dilakukan), dan Dimana (tempat kegiatan dilakukan).

RENCANA PROGRAM

PEMBENTUKAN KTH KEPAYANG LESTARI DESA KEPAYANG

KECAMATAN BAYUNG LENCIR KABUPATEN MUSI BANYUASIN

No KEGIATAN TUJUAN HASIL YANG DI 1. Melaksanakan usaha

pertanian perkebunan tumpang sari (Durian, Rambutan, Duku, manggis, cempedak, mangga, karet, jambu dan sayuran

Untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota dan

kelompok

Ada penghasilan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang

Hutan desa kepayang tahun 2015 – 2016

Pengurus dan angota kelompok, BIOCLIME, Dinas Peternakan dan tenaga ahli

Pengurus dan anggota kelompok

2. Melaksanakan kerajinan dari bambu dan rotan agar menambah penghasilan ekonoi

Untuk meningkatkan perekonomian

Ada penghasilan tambahan masyarakat

Hutan desa kepayang tahun 2015 – 2016

Pengurus dan angota kelompok, BIOCLIME, Dinas Peternakan dan tenaga ahli

Pengurus dan anggota kelompok

3. Melaksanakan usaha simpan pinjam yang dapat mendukung usaha anggota

Untuk menambah modal dan memperlancar serta menambah penghasilan kelompok / masyarakat

Ada penghasilan tambahan masyarakat

Hutan desa kepayang tahun 2015 – 2016

Pengurus dan angota kelompok, BIOCLIME, Dinas Peternakan dan tenaga ahli

Pengurus dan anggota kelompok

4. Melaksanakan pelatihan untuk meningkatkan managemen organisasi dan kelompok

Untuk meningkatkan pengetahuan dan

keterampilan

Pengurus kelompok terampil Desa Kepayang Tahun 2015 -2016

Pengurus dan angota kelompok, BIOCLIME, LSM

Pengurus dan anggota kelompok

5. Melaksanakan pelatihan keterampilan anyaman bambu dan rotan

Untuk meningkatkan keterampilan dalam menganyam rotan dan bambu

 Adanya kerajinan untuk menganyam rotan dan bambu

 Adanya usaha kerajinan bambu dan rotan yang

Desa Kepayang Tahun 2015 -2016

Pengurus dan angota kelompok, BIOCLIME, LSM

Pengurus dan anggota kelompok

dilakkan oleh anggota 6. Melaksanakan study

banding tentang kerajinan rotan dan bambu

Untuk meningkatkan wawasan tentang kerajinan rotan dan bambu

 Wawasan anggota meningkat

 Terdorong untuk menjadikan kerajinan sebagai bentuk usaha

Desa Kepayang Tahun 2015 -2016

Pengurus dan angota kelompok, BIOCLIME, LSM

Pengurus dan anggota kelompok

7. Adanya pendampingan yang intensif dari pihak luar

Untuk meningkatkan pengetahuan dan

keterampilan dalam mengeolah kelompok

 Wawasan anggota kelompok dan anggota meningkat

Desa Kepayang Tahun 2015 -2016

Pengurus dan angota kelompok, BIOCLIME, LSM

Pengurus dan anggota kelompok

PHOTO – PHOTO KEGIATAN

Proses pembentukan kelompok dan penyusunan rencana program di KTH Kepayang Lestari Desa Kepayang Kecamatan Bayung Lencir Kabupaten Musi Banyuasin

PHOTO – PHOTO KEGIATAN

Sumberdaya pendukung rencana program KTH Kepayang Lestari hutan desa, lahan rumput, rotan bambu dan areal pembibitan tanaman di Desa Kepayang Kecamatan Bayung Lencir

Kabupaten Musi Banyuasin

Kelompok Tani Hutan (KTH) Citra Lestari Desa Napalicin Kec. Ulu Rawas

Kab. Musi Rawas Utara

6. Pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH)

di Desa Napalicin

REKAMAN PROSES DAN HASIL KEGIATAN

6.1. PEMBUKAAN

Terima kasih atas kedatangan dan kehadiran Bapak serta Ibu dapat menghadiri undangan yang telah disampaikan pada beberapa hari sebelumnya. Kegiatan yang dilakukan diantaranya.

Sambutan Kepala Desa oleh Pak Suhardani

Ucapan terima kasih atas kehadiran bapak ibu baik dari warga desa maupun dari pihak pihak Bioclime. Penyampaian maaf bila terjadi kesalahan dalam proses kerjasama ini.

Kepala Desa Napalicin adalah Penjabat Sementara. Desa Napalicin merupakan salah satu desa yang terletak di Kawasan Hutan Lindung. Besar harapan kiranya program kerjasama bisa berlangusng dengan upaya untuk bisa mengurangi ketergantungan terhadap hutan.

Kepala Desa memperkenalkan peserta yang mengikuti kegiatan ini. Harapan Kepala Desa agar seluruh masyarakat yang ada didesa Napalicin untuk bisa meberikan ketermpialan di bidang anyaman. Permasalahan yang dihadapi adalah bidang managemen dan pemsaran dari produk yang dihasilkan. Kepala membuka kegiatan secara resmi dengan ucapan Basmalah.

Sambutan dari Ketua KPH Rawas oleh Pak Harahap

Ucapan terima kasih baik kepada seluruh pesesrta, pihak Bioclime dan tim fasilitator atas kesediaan hadir dan telah meluangkan waktunya guna bersama-sama belajar dan membahas tentang potensi yang ada dan apa yang akan kita lakukan kedepan.

Penjelasan Bioclime Oleh Pak Siddiq

6.2. PERKENALAN

Seluruh peserta dan tim memperkenalkan diri

NO NAMA JENIS

KELAMIN` JABATAN KET

1. M. Damiri Rozak L Ketua BPD

2. M. Zainal L Tokokh Adat

3. Taifik. S.Ag L Guru

4. Imron Yahya L Tokoh Masyarakat

5. Tasman L Kadus IV

6. Marwan sori L Kadus V

7. Haznaini L Tokoh Masyarakat

8. Aqimusola L Tokoh Pemuda

9. Adi Sumarno L Kadus III

10. Syahrial L Kadus I

11. Hina Farya Hidayat L Anggota BPD

12. Asnawi Dahri L Tokoh Masyarakat

13. A. Rifai Cekyan L Tokoh Masyarakat

14 Suhardani L Kepala Desa

15. Siti Aisah P IRT

16. Ilham Maulana L Sekretaris

17. Ijazi L Tokoh Masyarakat

18. Riadhus Shoihin L Masyarakat

19. Amir Syarifudin L Tokoh Agama

20. Maryatul Qibtiyah P IRT

21. Yusnadewi P IRT

22. Hardiansyah L Masyarakat

23. Sakmiyah P IRT

24. Waldussalamm L Masyarakat

25. Andi Yanta L Masyarakat

26. Muhammaf Siddiq L BIOCLIME

27. Adis L BIOCLIME

28. Jum Keliana P BIOCLIME

29. Harahap L KPH Rawas

30 Nurnajati P KEMASDA

31 Silahuddin L KEMASDA

32. Herwan L KEMASDA

33. Nyimas Wardah P BIOCLIME

Alasan Berkelompok

 Fasilitator menjelaskan bahwa kelompok yang disyaratkan keberadaanny oleh proyek merupakan wadah bagi masyarakat untuk melakukan aktivtas secara bersama, selanjutnya fasilitator meminta sumbang saran peserta tentang mengapa harus berkelompok:

 Agar mudah mengorganisir

 Mudah berinteraksi

 Mudah mengontrol kegiatan

 Mudah berkomunikasi antar satu dengan yang lain

 Memudahkan konfirmasi

 Berat sama dipikul ringan sama dijinjing (kegotong royongan)

 Kerjasama

Pengertian Kelompok/Kelompok Tani Hutan (KTH)

 Setelah mengetahui manfaat dari berkelompok kembali fasilitator kembali meminta sumbang saran kepada peserta tentang pengertian kelompok :

 Kumpulan orang – orang yang mempunyai tujuan yang sama

 Kumpulan orang yang mempunyai pengurus dan anggota Fasilitator menyimpulkan hasil sumbang saran Kelompok adalah

“Kumpulan orang – orang yang bersatu dalam suatu organisasi yang tumbuh dan berkembang dari, oleh dan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara adil dan berkelanjutan menuju kelestarian hutan”.

 Fasilitator menjelaskan ada 5 Bidang Hasil Pokok yang harus dimiliki dalam berkelompok agar kelompok lebih bersamangat dalam mengeolah kelompok mereka : 1. Bidang organisasi, adalah segala bentuk keanggotaan, struktur organisasi dan

kepengurusan yang harus ada dalam kegiatan berkelompok karena bidang organisasi merupakan ruh dari keberadaan kelompok itu sendiri.

2. Bidang Admnistrasi organisasi dan keuangan, administrasi merupakan kegiatan pencatatan dari sebuah kegiatan baik itu pencatatan yang berhubungan dengan organisasi maupun pencatatan kegiatan transaksi keuangan yang terjadi dalam sebuah organisasi. Kegiatan pencatatan ini haruslah memenuhi stnadar yang berlaku dan mudah dipahamai leh semua pihak (pengurus, anggota dan pihak luar yang berkompeten)

3. Usaha Produktif, kelompok yang mandiri mempunyai usaha produktif yang bisa menunjang semua kegiatan kelompok. Usaha yang dikelolah kelompok memberikan manfaat baik kepada semua anggota maupun kelompok itu sendiri.

4. Permodalan, kelompok yang baik adalah kelompok yang mampu menggali modal baik dari pihak luar (pinjaman, hibah dan lainnya) maupun penggalian modal dari dalam kelompok itu sendiri (Tabungan, iuran dan lain-lain)

5. Jaringan kerja, pihak ketiga dan pertemanan akan membuat kegiatan kelompok lebih berkembang baik dari segi perluasan wilayah pasar maupun kerjasama lainnya yang mendukung kegitan kelompok.

6.3. PENETAPAN VISI DAN MISI KTH (MEMANDANG KE MASA DEPAN) Visi dan Misi Kelompok CITRA LESTARI

Visi Kelompok Masyarakat dan Keanekaragaman Hayati CITRA LESTARI adalah :

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara adil, mandiri dan berkelanjutan

Misi Kelompok Masyarakat dan Keanekaragaman Hayati CITRA LESTARI adalah :

1. Meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat melalui usaha – usaha alternatif

2. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelolah usahanya dan kelompok

3. Meningkatkan jaringan kerjasama dengan pihak luar yang dapat mendukung program kelompok

6.4. PEMBENTUKAN KELOMPOK TANI HUTAN (KTH)

SUSUNAN PENGURUS DAN ANGGOTA KELOMPOK TANI HUTAN CITRA LESTARI DESA NAPALLICIN KECAMATAN ULU RAWAS

KABUPATEN MUSI RAWAS UTARA Dewan Pembina : Kepala Desa Napallicin

Badan Permusyawaratan Desa Napllicin Badan Pengawas : Asnawi Dahri

Imran Yahya Izazi

Ketua : Bastari

Wakil Ketua : Amir Syarifuddin

Sekretaris : Ilham Maulana

Bendahara : Siti Aisah

Anggota 1. Adi Sumarno

2. Andi Yanta 3. Hakim Mussolah 4. A. Rifa’i Cek Yan 5. Hardiansyah 6. Hina Faria Hidayat 7. Hazuani

8. Marwansori 9. Maryatul Kibtiyah 10. M. Damiri Rozak

11. M. Zainal A.Ma.Pd 12. Roadhus Sholihin 13. Salemiyah

14. Suhardani 15. Syahrial 16. Tasman 17. Taufik, S.Ag 18. Waladussalam 19. Yusnadewi

 Fasilitator meminta sumbangsaran peserta tentang kriteria apa yang harus dipenuhi untuk menjadi pengurus kelompok

 Jujur

 Komunikasi lancar

 Ketersediaan waktu

 Dedikasi tinggi

 Loyalitas

6.5. KAJIAN FAKTOR PENDORONG DAN PENGHAMBAT USAHA KELOMPOK

Faslitator meminta peserta untuk melakukan permainan penyusunan bujursangkar dengan masing – masing kelompok terdiri dari 6 orang, dan setiap peserta memperoleh 1 amplop dan 1 peserta berperan menjadi pengamat.

Fasilitator meminta sumbang saran peserta apa yang dirasakan bagi kelompok yang berhasil menyusun bujur sangkar (Faktor Pendorong Dalam Berkelompok)

1. Anggota sudah pintar /faham dengan tugas 2. Jeli melihat situasi

3. Fokus dalam tugas

4. Bersungguh-sungguh, hati – hati dan teliti 5. Kerjasama yang baik

6. Punya pengalaman 7. Percaya diri

8. Menghargai anggota kelompok 9. Bersatu

10. Teliti dalam bertindak

Fasilitator meminta sumbang saran peserta apa yang dirasakan bagi kelompok yang tidak berhasil menyusun bujur sangkar (Faktor Penghambat Dalam Berorganisasi)

1. Salah pengertian dengan tugas 2. Kurang informasi

3. Tidak mengerti instruksi

6.6. PENETAPAN MANFAAT UNTUK KELOMPOK

Fasilitator meminta sumbang saran peserta tentang manfaat kerjasama dalam berkelompok 1. Cepat berinstruksi

2. Infromasi cepat didapat

3. Saling memahami satu sama lain 4. Dapat berbagi pengalaman

5. Cermat dalam mengambil keputusan

6. Dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat 7. Dari tidak tahu menjadi tahu

8. Menambah pengalaman

9. Mempererat hubungan kerjasama sesama anggota 10. Berat sama dipikul riangan sama dijinjing

dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Litbanghut, 2010)

 Fasilitator menyampaikan kepada peserta tentang Permasalahan dalam Mengembangkan HHBK diantaranya : Jaringan Pasar Belum Maksimal, Kebijakan Pemerintah yang belum jelas, Data HHBK Belum Terdata Dan Terverifikasi, Sumber Daya Manusia serta Teknologi Pendukung Belum Optimum.

 Fasilitator kembali menyampaikan kepada peserta bahwa PENDEKATAN PENGHIDUPAN LESTARI adalah Perpaduan: Kapabilitas/Kemampuan, Aset dan Kegiatan yang dilakukan untuk menopang hidup

 Fasilitator menjelaskan kepada peserta dalam melakukan pendekatan penghidupam lesatari yang hasrus diperhatiakn adalah 5 aset penghidupan yaitu :

 ASET MANUSIA yang terdiri dari Kesehatan, Nutrisi, Pendidikan, Pengetahuan dan Keahlian, Kapasitas Kerja serta Kapasitas Adaptasi

 ASET SUMBERDAYA ALAM yaitu Tanah dan Lahan, Air dan Sumberdaya Air, Pohon dan Hasil Hutan, Keragaman Hayati dan Kehiduapn Liar serta juga Makanan Hutan dan Serat, Jasa Lingkungan

 ASET SOSIAL adalah Jaringan dan Koneksi, Relasi kepercayaan dan dukungan saling menguntungkan, Kelompok formal dan informal, Aturan bersama dan Sanksi, Mekanisme partisipasi dalam pengambilan keputusan, Kepeminpinan

 ASET FISIK berupa Infrastruktur, Transportasi-jalan, kenderaan, dll, Bangunan umum pasar, RS, sekolah, rumah ibadah), Supali Air dan sanitasi, Energi (Listrik, dll), Komunikasi, Alat dan Teknologi, Peralatan untuk produksi, Benih, pupuk, pestisida, Teknologi Tradisional

 ASET FINANSIAL berupa Tabungan, Simpan Pinjam, CU, Koperasi, dll, Upah, Pensiun, Bantuan anak/saudara (remittance)

 ASET MANUSIA diantaranya , Kesehatan, Nutrisi, Pendidikan, Pengetahuan dan Keahlian, Kapasitas Kerja,Kapasitas Adaptasi

Penghidupan dianggap berkelanjutan jika dapat mengatasi dan memulihkan dari tekanan dan guncangan dan memelihara atau meningkatkan kemampuan, aset, dan kegiatan, baik sekarang dan di masa depan, tanpa merusak sumber daya alam.

6.7. ANALISA SUMBER PENGHIDUPAN DENGAN METODE CLAPS

 Faslitator menyampaikan kepada peserta tentang mengapa harus HHBK bahwa Hasil hutan kayu dari ekosistem hutan hanya sebesar 10 % sedangkan sekitar 90% hasil lain berupa hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang sejauh ini belum dikelola dan

 Fasilitator menyampaikan bahwa Kerentanan adalah ketidak mampuan individu rumah tangga dan masyarakat dalam menghadapi perubhan ingkungan eksternal yang berdampak pada penghidupan.

 Fasailitator juga menyampaikan bahwa kerentanan dibagi menjadi dua yaitu faktor ekternal berupa guncangan dan sres dan internal berupa kurangnya kemampuan serta kurangnya sarana dan prasarana.

 Fasilitator membagi peserta kedalam dua kelompok diskusi dengan cara menghitung dan bergabung berdasarkan angka yang didapat.

Kelompok 2 mendiskusikan 5 Aset Kehidupan yang ada di Desa Napallicin, hasil diskusi : ASET

PENGHIDUPAN Sub Aset Capaian / Bidang Keterangan

MANUSIA

Kesehatan Sedang

Belum tersedianya WC di masyarakat masih menggunakan sungai Petugas kesehatan tidak selalu di tempat

Nutrisi Sedang

Masyarakat belum mengerti tentang gizi yang baik atau yang dibutuhkan dan keahlian

Pertanian Masih tradisional Karet

pengolah masih standart

Keahlian masih tradisional cara membuat bibit yang unggul

Kerajinan Belum maksmal

Sudah ada yang

melakukan di

masyarakat Kapasitas kerja Tinggi

Aktif dan tidak malas tetapi keahlian belum memadai

Kapasitas

adaptasi Kurang Kurang menyerap

sosialisasi dari pihak luar

SDA

Tanah dan

lahan Perbukitan dan dataran

kesuburan tinggi sangat baik untuk penanaman bahan pertanian

Air dan SDA air Melimpah

Melimpah tapi belum dimanfaatkan secara maksimal seperti PDAM dan irigasi

Pohon dan hasil

hutan Melimpah

Belum dimanfaatkan secara maksimal.

Banyak pencari kayu illegal loging oleh orang yang tidak beratnggung jawab

Keragaman hayati dan kehidupan liar

Masih banyak tersedia

Keragaman hayati untuk meningkatkan

pendapatan masyarakat sperti hasil hutan bukan kayu

Makanan hutan

dan serat Banyak Durian, cempedak dan

buah – buah hutan Jasa dan

lingkungan Ada

Gua batu napalicin, air terjun kerali dan batu ampar

FISIK

Infrastruktur Trasnpoertasi, jalan , kendraan

dll

Ada

Ketek, sepeda, jembatan gantung, perahu dan rakit

Bangunan umum

Tidak ada Pasar Tidak ada Rumah sakit

Ada Pustu

Ada Posyandu

Suplai air dan sanitasi Peralatan untuk

produksi Ada Mesin penggilingan padi,

hand tractor.

Benih, pupuk

dan pestisida Ada Benih

Tidak ada Pupuk dan pestisida Tehnologi

tradisional Ada

Kincir air, perontok padi, penyulingan nilam, lau dan antan, gisara padi

FINANCIAL

Tabungan Tidak ada

Simpan pinjam Tidak ada

Upah Ada

Pembershan lahan, buruh panen dan buruh tani

Pensiun Ada pensiunan PNS Bantuan anak Tidak ada

SOSIAL

Jaringan

koneksi Ada Hubungan dengan KPH

dan Bioclime Relasi

kepercayaan dan saling dukungan saling

menguntngkan

Sudah ada

Kelompok formal dan

informal

Ada Kelompok Tani, BPD,

LPA dan Karang Taruna

Aturan Bersama Ada

Sangsi bagi yang mengambil bambu secara berlebihan

Arak-arakan penganten Mekanisme

partisipasi dan pengambilan

keputusan

Ada

Rapat musyawarah untuk mufakat dan rapat pengurus mesjid, rapat kepengurusan

kepemudaan Kepemimpinan

Tidak otoriter, mengayomi berwibawa dan enerjik.

Hasil Diskusi Kelompok I yang membuat peta desa dan menentukan titik Hasil Hutan Buak Kayu yang ada di Desa Napallicin

PETA DESA NAPALLICIN DAN SEBARAN HHBK

Pada peta desa Napallicin tergambar bahwa ada banyak HHBK yang tersebar di wilayah desa Napallicin baik HHBK yang berasal dari hutan dan non hutansebanyak 27 jenis yaitu ; bambu, rotan, manau, karet, nilam, buah jengkol, buah pinang, buah kelapa, sarang walet, enau, madu sialang, buah petai, buah durian, buah kabau, buanh nangka, duku, air

pegunungan, daun gambir, gaharu, pisang, jahe, kopi, nanas, gadung, singkong, sawit dan jagung.

Dari 27 jenis HHBK hasil hutan dan non hutan yang di identifikasi yang potensial dikembang terdiri dari :

1. Karet, yang sudah diusahakan masyarakat sejak lama, karet merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakat desa Napallicin. Hal ini karena karet pernah menjadi tanaman primadona pada tahun 2010 dengan harga yang cukup baik dan pernah mencapai pada harga Rp.20.000,-/Kilogram. Setelah harga karet turun sebagian masyarakat masih tetap mengandalkan karet sebagai mata pencaharian mereka.

2. Bambu, tersedia cukup melimpah dan telah diusahakan dijadikan kerajinan oleh ibu-ibu, akan tetapi belum bisa menembus pasar karena saat masih banyak dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga saat ini belum dipasarkan secara komersil.

3. Rotam, salah satu hasil hutan yang banyak terdapat di sebaran HHBK desa Napallicin aan tetapi belum mempunyai keterampilan yang cukup untuk mengolahnya, akan tetapi semangat masyarakt untuk bisa mengolah rotan menjadi produk bernilai ekonomi cukup tinggi

4. Nilam, merupakan tanaman yang baru dikenalkan oleh salah satu masyarakat desa (Pak Amir) akan tetapi memiliki prospek pasar yang cukup menjanjikan karena tidak memerlukan perawatan yang ekstra dan juga bisa di tumpang sari dengan tanaman lainnya.

5. Air pegunungan, mempunyai kelimpahan yang tinggi dan bisa diolah untuk menjadi sumber air mineral yang saat ini cukup mempunyai pasar.

Penjelasan tentang aset kehidupan dibagi kedalam 5 point dan telah dianalisis dengan melihat potret situasi desa yang ada saat ini. Dari kegiatan identifikasi HHBK hutan dan Non Hutan dilakukan pemetaan dengan menempatkan titik HHBK yang mendapat skor tertinggi.

Daftar HHBK Desa Napallicin Kec. Ulu Rawas Kab. MURATARA

NO Nama HHBK

Pemanfaatan Makanan dan

minuman

Ritual adat Konstruksi Lain-lain

1. Bambu Rebung - Anyaman (bakul,

cakik, kiding cindera mata)

- - - Atap rumah,

dinding, kandang

ternak dan pagar

keranjangkunju dll

Biji jernang - - Tali pengikat

6. Buah jengkol Kerupuk, lauk pauk

- - - Kayu bakar

7. Buah pinang Nginang,

mayang pinang, jus

Obat cacing Sapu lidi - Getah buah Pelengkap pelimanan

- -

8. Buah kelapa Dogan, santan Obat campak (air)

Sapu lidi,

tempurung

- - - - Tempurung

penampung lateks 9. Sarang walet Bubur

kesehatan

Obat sesak napas

- - Lilin - - -

10. Enau Gula aren,

umbut, beluluk, sagu

Sapu lidi, sapu ijuk - Air kabung - - Janur

11. Madu sialang Pemanis campuran ketan

Obat stamina, obat

luka bakar

- - - -

12 Buah petai Lalap, sambal Obat cacing - - - -

13. Buah durian Tempoyak, lempok dan bua segar

- - - -

14. Buah kabau Lalap, sayur, keripik

- - - -

15 Buah nangka Buah segar, sayur

- - - Getah pulut - - -

16. Duku Buah segar Obat malaria, obat penurun panas (kuit batang)

- - Obat-obatan - - -

17. Air pegunungan Air kemasan - - - Kolam ikan

-irigasi 18. Daun gambir Nginang Obat luka,

obat sengatan

- Campuran

pewarna alami

Getah Pelengkap pelimanan (tepak)

- -

19. Gaharu - - - - Gubal gaharu - - -

20 Pisang Buah segar,

keripik, umbut bahan makanan

- - - - Ritual

membangun rumah

- Pembungus makanan 21. Jahe Bumbu dapur Obat masuk

angin

- - - -

22. Kopi Bubuk kopi Obat

persalinan

- - - -

23. Nanas Buah segar,

bubu masakan

Obat dalam Untuk benang jahit - - - - -

24. Gadung Keripik - - - Asam getah

karet 25. Singkong Keripik, tape

dan pempek

- - - -

26. Sawit Umbi, minyak

sayur

- Sapu lidi - - - - -

27 Jagung Bubur, pakan

ayam

- Atap pondok - - - - -

Panduan Penilaian Daftar HHBK Prioritas Hutan

Kriteria Uraian Tingkat Tinggi Nilai Uraian Tingkat Sedang

(Menegah) Nilai Uraian Tingkat Rendah Nilai

Kelimpahan dan Distribusi (penyebaran)

Sangat berlimpah

(banyak) 3 Cukup 2 Tersedia dalam jumlah rendah 1

Tingkat Kesulitan saat

Panen Mudah di panen 3 Sulit tapi memungkinkan

untuk dilakukan 2 Terlalu sulit untuk dilakukan 1

Jarak dari Masyarakat

(kampung) Sangat dekat 3 Jauh tapi dapat

dijangkau (dituju) 2 Terlalu jauh, tidak dapat

dikunjungi secara teratur 1

Kemudahan Untuk Berkembang Biak

Jumlah semai banyak dan tingkat kemampuan

bertahan hidup semai tinggi

3

Jumlah semai dan kemampuan bertahan

hidup semai menengah/sedang

2

Sumber bibit jarang ditemukan dan kemampuan hidup semai

rendah

1

Hubungan dengan

Pengelolaan Hutan Tidak berdampak 3 Cukup berdampak 2 Sangat berdampak 1

Sumber Daya HHBK Prioritas (Hutan) Desa Napallicin Kec. Ulu Rawas Kab. MURATARA

NO HHBK

Kelimpahan dan Distribusi (penyebaran)

Tingkat Kesulitan saat Panen

Jarak dari Masyarakat

(kampung)

Kemudahan Untuk Berkembang

Biak

Hubungan dengan Pengelolaan Hutan

SKOR

1. Bambu 3 3 3 3 3 15

2. Rotan 2 2 2 1 1 8

3. Manau 2 2 2 1 1 8

4. Sarang Walet 1 1 3 1 1 7

5. Madu Sialang 1 1 1 2 3 8

6. Air pegunungan 3 1 1 3 3 11

7. Daun gambir 1 1 1 1 3 7

8. Gaharu 1 1 1 1 1 5

9. Gadung 1 1 2 1 2 7

 Peserta yang ditunjuk untuk menjelaskan kepada peserta menceritakan bahwa telah dilakukan perumusan dan identifikasi baik terhadap hasil hutan bukan kayu yang berasal dari hutan dan juga telah dilakukan hasil hutan bukan kayu yang telah dibudidayakan oleh masayarakat. Dari kegiatan identifikasi tersebut didapat skor tertinggi dengan ketentuan beberapa ketentuan yang telah dirumuskan.

 Hasil penskoran HHBK hutan bambu, air pegunungan dan rotan dengan skor tertinggi. Hal ini dikarenakan bahan tersedia banyak dan mudah didapat serta dibudidayakan.

Sumber Daya HHBK Prioritas (Non Hutan)

KRITERIA SKOR

1 3 5

1. Kelimpahan (Luas area tertanam) Rendah Sedang Tinggi

2. Kesesuaian lahan & biofisik (tanah, kemiringan, ketinggian tempat, suhu, curah hujan, kelembaban dll)

Tidak sesuai Cukup sesuai (sedang) Sesuai

3. Tingkat Ketahanan hhbk terhadap kekeringan Tidak tahan Cukup tahan Tahan

4. Pengetahuan budidaya dan pemeliharaan Tidak tahu Cukup mengerti Mengerti

5. Ketersediaan & akses terhadap input/saprodi (pupuk, obat-obatan dan lain-lain)

Sulit Cukup Mudah Mudah

6. Sumber benih tanaman Sulit Cukup mudah Mudah

7. Cara Panen Sulit Cukup mudah Mudah

8. Biaya Murah Cukup mahal Mahal

Sumber Daya HHBK Prioritas (Non Hutan) Desa Napallicin Kec. Ulu Rawas Kab. MURATARA

No HHBK Kelimpahan

Kesesuaian tanah &

biofisik

Tingkat ketahanan

HHBK terhadap kekeringan

Pengetahuan budidaya dan pemeliharaan

Ketersediaan/

akses input

Sumber Benih Tanaman

Cara

panen Biaya Skor

1 Karet 5 5 5 5 5 5 5 5 40

2 Nilam 3 5 5 5 5 5 5 3 36

3 Jengkol 1 5 5 5 3 5 5 5 34

4 Pinang 1 5 5 3 1 3 3 3 23

5 Kelapa 1 5 5 5 1 5 5 5 32

6 Enau (Aren) 1 5 5 5 1 3 5 5 30

7 Petai 1 5 3 5 1 5 5 5 30

8 Kabau 1 5 3 5 1 5 1 1 26

9 Durian 1 5 5 5 1 5 1 1 28

10 Nangka 1 5 3 5 1 3 3 3 34

11 Duku 1 5 3 5 1 5 3 3 28

12 Pisang 1 5 1 5 1 5 1 1 20

13 Jahe 1 5 5 5 1 5 3 3 30

14 Kopi 1 5 1 1 1 5 1 1 16

15 Nanas 1 5 1 1 1 5 1 1 16

16 Singkong 1 5 1 1 1 5 1 1 16

17 Sawit 1 5 3 1 1 1 1 1 14

18 Jagung 1 5 1 1 1 5 1 1 16

 Hasil penskoran HHBK Non Hutan karet karena karet merupakan mata pencaharian utama masyarakat desa napallicin sehingga dengan sendirinya kelimphan karet banyak dan telah diolah secara turun temurun oleh masyarakat, nilam adalah jenis tanam yang baru diperkenalkan kepada masyarakt dan mempunyai prosfe pasar yang baik sehingga kemungkinan untk mengembangkan nilam sangat baik

 Hasil penskoran HHBK Non Hutan karet karena karet merupakan mata pencaharian utama masyarakat desa napallicin sehingga dengan sendirinya kelimphan karet banyak dan telah diolah secara turun temurun oleh masyarakat, nilam adalah jenis tanam yang baru diperkenalkan kepada masyarakt dan mempunyai prosfe pasar yang baik sehingga kemungkinan untk mengembangkan nilam sangat baik