• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.2. Saran

Pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit harus dilakukan dengan memperhatikan karakteristik sumberdaya lokal untuk mendukung keberlanjutan produktivitas dan kelestarian fungsi ekosistem rawa gambut.

1. Peningkatan keberlanjutan pengelolaan lahan gambut dilakukan dengan perbaikan atribut kunci yang mempengaruhi dimensi ekonomi, ekologi, sosial budaya, infrastruktur dan teknologi serta hukum dan kelembagaan yang terdapat pada agroekologi perkebunan kelapa sawit rakyat. Atribut kunci yang dimaksud adalah pengaturan tata air dan lahan, penambahan amelioran/pemupukan, pencegahan kebakaran lahan, manajemen produksi tanaman, pemasaran hasil TBS, pemberian kredit usaha tani, kepemilikan lahan, harga TBS, peluang kemitraan, pencegahan konflik lahan, pemberdayaan masyarakat, tingkat pendidikan, standarisasi mutu produk sawit, sarana dan prasarana, industri pengolahan, interaksi antar lembaga, keberadaan lembaga keuangan dan keberadaan kelompok tani.

2. Model pengelolaan lahan gambut berbasis sumber daya lokal pada agroekologi perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Bengkalis menggunakan pendekatan integratif dengan melakukan perbaikan dan peningkatan pada faktor dominan antara lain : (a) pengelolaan tata air mikro dengan pembuatan saluran dan pengaturan pintu air (tabat); (b) pemberdayaan masyarakat dengan membentuk kelembagaan kerjasama jangka panjang antara pemerintah, investor, perbankan dengan pekebun yang terhimpun dalam koperasi; (c) pembentukan kelembagaan lintas sektoral (pokja) untuk mendukung kerjasama antar stakeholders; (d) menerapkan manajemen produksi tanaman kelapa sawit dengan persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan dan konservasi tanah serta perawatan prasarana; (e) integrasi struktur pabrik dan pekebun dalam usaha perkebunan kelapa sawit rakyat melalui kemitraan usaha pola agroindustri kelapa sawit skala kecil (5 ton TBS jam-1); (f) memperkuat akses petani terhadap permodalan pada lembaga keuangan.

DAFTAR PUSTAKA

Adnyana MO. 2006. Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Berkelanjutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

Agus F dan IGM Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor

[Bapeda] Badan Perencanaan Daerah. 2007. Kajian Pola Pengembangan Pertanian Pada Areal Gambut di Kabupaten Bengkalis. Pemerintah Kabupaten Bengkalis.

[Balitbang Pertanian] Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kelapa Sawit. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Jakarta.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2009. Bengkalis Dalam Angka. Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis.

[BKP] Badan Ketahanan Pangan. 2009. Kebijakan Umum Ketahanan Pangan 2010-2014. Draft ke 3 Oktober 2009.

Barchia MF. 2002. Emisi Karbon dan Produktifitas Tanah pada Lahan Gambut yang Diperkaya Bahan Mineral Berkadar Besi Tinggi pada Sistem Olah Tanah yang Berbeda. [Disertasi] Institut Pertanian Bogor, Bogor

Barchia MF. 2009. Agroekosistem Tanah Mineral Masam. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Bourgeois R. 2007. Analisis Prospektif. Bahan Lokakarya Traning of Trainer. ICASEPS. Bogor.

Bourgeois R and F Jesus. 2004. Participatory Prospective Analysis, Exploring and Anticipating Challenges with Stakeholders. Center for Alleviation of Poverly throught Secondary Crops Development in Asia and The Pasific and French Agricultural Research Centre for International Development.

Brady MA. 1997. Effects of Vegetation Changes on Organic Matter Dynamics in Three Coastal Peat Deposits in Sumatra, Indonesia. In: J.O. Rieley & S.E. Page, Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands. Proceedings of the International Symposium on Biodiversity, Environmental Importance and Sustainability of Tropical Peat and Peatlands. Samara Publishing Limited, Cardigan UK.

Brown, S., A.J. R. Gillespie & A.E. Lugo. 1989. Biomass Estimation Methods for Tropical Forest with Application to Forest Inventory Data. J. Forest Science 35(4) : 881-902

Cassel DK .1997. Aquic Conditions and Hydric Soils: The Problems Soils Foreword. Dalam: M. J. Veppraskas & S. W. Sprecher (eds). SSSA Special Publication Number 50.

Casson A. 2005. The Hesistant Boom: Indonesia’s Oil Palm Sub-Sector in an Era of Economic Crisis and Political Change. CIFOR Occasional Paper No. 29. CIFOR, Bogor.

Cooke IR et al. 2009. Integrating Socio-Economic and Ecology : Taxonomy of Quantitatif Methods and a Review of their Use in Agroecology. J. Appleid Ecology. 46 (2) : 269 – 277.

Dirjen Pemberdayaan Sosial. 2007. Tanggung Jawab Sosial Dunia Usaha. Departemen Sosial Republik Indonesia. Jakarta.

Dinas Perkebunan Provinsi Riau. 2007. Potensi Perkebunan di Provinsi Riau. Dinas Perkebunan Provinsi Riau. Pekanbaru.

Dinas Perkebunan Provinsi Riau. 2009. Profil Perkebunan Provinsi Riau. Dinas Perkebunan Provinsi Riau.Pekanbaru.

[Disbunhut] Dinas Perkebunan dan Kehutanan. 2008. Laporan Tahunan Bidang Produksi. Kabupaten Bengkalis.

Egoh B et al. 2007. Integrating Ecosystem Services in to Conservation Assesment: A Review. J. Ecological Economics. 63 : 714-721.

Erningpraja L dan Z Poelongan. 2000. Rancang Bangun Model Produksi Bersih Kelapa Sawit. J. Penelitian Kelapa Sawit. 8(3): 200-219

Eriyatno. 1999. Ilmu Sistem: Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. IPB Press. Bogor

Fauzi A dan S Anna. 2002. Evaluasi Status Keberlanjutan Pembangunan Perikanan, Aplikasi RAPFISH, Studi Kasus Perairan Pesisir DKI Jakarta. J. Pesisir dan Lautan. 4(3) : 7-15.

Fauzi A dan S Anna. 2005. Pemodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan untuk Analisis Kebijakan. Gramedia Pustaka, Jakarta.

Firdaus, M. LM Baga dan P Pratiwi. 2008. Swasembada Beras dari Masa Ke Masa. Telaah Efektivitas Kebijakan dan Perumusan Strategi Nasional. IPB Press. Bogor.

Fisher BA .1986. Teori-teori Komunikasi. Penerjemah Soejono T, Terjemahan dari Perspectives on Human Communication. Remadja Karya. Bandung

Galbraith H, P Amerasinghe, HA Lee. 2005. The effects of agricultural irrigation on wetland ecosystems in developing countries: a Literature Review. CA Discussion Paper 1 Colombo, Sri Lanka.

Goa F, M Li and Y Nakamori. 2003. Critical System Thinkings Away to Manage Knowledge. J.Syst. Res. 20 : 3 – 19

Gliesman SR. 1998. Agroecology and Sustainability. Center for Agroecology. Departement of Environmental Studies.University of California.Santa Cruz,California.

Handayani EP. 2009. Emisi Karbon Dioksida (CO2) dan Metan (CH4) Pada Perkebunan Kelapa Sawit Di Lahan Gambut Yang Memiliki Keragaman Dalam Ketebalan Gambut Dan Umur Tanaman. [Disertasi]. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor

Hardjowigeno S dan Widiatmaka. 2007. Evaluasi Keseuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna Lahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hasibuan A. 2005. Prospek Pengembangan PIR Kelapa Sawit dan Peranan Koperasi dalam Ekonomi Kerakyatan Di Masa Mendatang. Proseding Seminar Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat: Pemberdayaan Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat Sebagai Upaya Penguatan Ekonomi Kerakyatan. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.

Hasbi. 2001. Rekayasa Sistem Kemitraan Usaha Pola Mini Agroindustri Kelapa Sawit. [Disertasi]. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hardjomidjojo H. 2004. Panduan Lokakarya Analisis Prospektif. Jurusan Teknologi Industri Pertanian.Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hartatik W dan DA Suriadikarta. 2003. Teknologi Pengelolaan Hara Lahan Gambut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Departemen Pertanian. Bogor.

Herman, F Agus dan I Las. 2009. Analisis Finansial dan Keuntungan yang Hilang dari Pengurangan Emisi Karbon Dioksida Pada Perkebunan Kelapa Sawit. J. Litbang Pertanian. 28(4): 127-133.

Hermanto R. 2007. Rancangan Kelembagaan Tani dalam Implementasi Prima Tani di Sumatera Selatan. J.Analisis Kebijakan Pertanian. 5(2) : 110-125.

Hirano T et al. 2007. Carbon Dioxide Balance of a Tropical Peat Swamp Forest in Kalimantan, Indonesia. J. Global Change Biology. 13:1-14

Hooijer A, Silvius M, Wosten H, Page S. 2006. Peat-CO2. Assessment of CO2 emissions from drained peatlands in SE Asia. Delft Hydraulics Report Q3943

Istomo. 2002. Kandungan Fosfor dan Kalsium serta Penyebarannya Pada Tanah dan Tumbuhan Hutan Rawa Gambut. [Disertasi]. Program Pascasarjana IPB. Bogor

Iswati A. 2004. Desain Pengelolaan Kebun Plasma Kelapa Sawit Berkelanjutan (Studi kasus pada PIR-Trans Kelapa Sawit PTP Mitra Ogan di Kabupaten OKU, Sumatera Selatan). [Disertasi]. Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor.

Jatmika A. 2007. Rancang Bangun Sistem Pengembangan Agroindustri Kelapa Sawit dengan Strategi Pemberdayaan. [Disertasi]. Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor.

Kamarudin N, MB Wahid dan R.Moslim. 2005. Environmental Factors Affecting The Population Density of Oryctes rhinoceros In a Zero-Burn Oil Palm Replant. J. of Oil Palm Research. 17:53-63.

Kartasasmita S. 2005. Otonomi Daerah Dalam Pengembangan Perkebunan di Indonesia. Proseding Seminar Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat: Pemberdayaan Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat Sebagai Upaya Penguatan Ekonomi Kerakyatan. Pusat Penelitian Kelapa Sawit.Medan.

Kasryno F dan A Suryana.1996. Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Pedesaan : Memahami dan Menanggulangi Kemiskinan di Indonesia (Prof.Dr Sajogyo 70 tahun). Grasindo. Jakarta.

Kavanagh and Pithcher. 2001. Rapid Appraisal of Fisheries (RAPFISH) Project. University of British Columbia. Fisheries Centre.

Kay R and J Alder. 1999. Coastal Planning and Management. London : E & FN Spon an Imprint of Rutledge.

Las I. K. Nugroho, dan A. Hidayat.2009. Strategi Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Pengembangan Pertanian Berkelanjutan. J. Pengembangan Inovasi Pertanian 2(4): 295-298.

MacKinnon K, Hatta G, Halim H, Mangalik A. 2000. Ekologi Kalimantan. Seri Ekologi Indonesia, Buku III. Prenhallindo. Jakarta.

Maltby E and CP Immirzi . 1996. Introduction: The Sustainable Utilization of Tropical Peatlands. Dalam: Maltby, E., C. P. Immirzi and R. J. Safoord (eds), Tropical Lowland Peatlands of Southeast Asia. IUCN. Gland, Switzerland.

Manurung EGT. 2001. Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia. Environmental Policy and Institutional Strengthening IQC dan Bapenas. Jakarta

Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Grassindo, Jakarta.

Melling L and KJ Goh. 2008. Sustainable Oil Palm Cultivation on Tropical Peatland. Trofical Peat Research Laboratory & Appleid Agricultural Resources. Kualalumpur.

Melling L, Hatano R, Goh KJ. 2005. Soil CO2 flux from three Ecosystems in Tropical Peatland of Sarawak, Malaysia. Tellus 57B: 1-11

Mironga JM. 2005. Effect Farming Paractices on Wetlands of Kisii District , Kenya. J.Appleid Ecology and Environmental Research. 3 (2) : 81 – 89.

Monde A.2008. Dinamika Kualitas Tanah, Erosi dan Pendapatan Petani Akibat Alih Guna Lahan Hutan Menjadi Lahan Pertanian dan Agroforestry Kakao di DAS Nompu, Sulawesi Tengah. [Disertasi] Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Nainggolan, K. 2008. Melawan Kelaparan dan Kemiskinan Abad ke-21.Kekal Press. Bogor

Nasrul B dan A Syahza. 2009. Daya Dukung Wilayah dan Potensi Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit Di Kabupaten Bengkalis. J. Bionatura 2(1) 26-31.

Noor M. 2001. Pertanian Lahan Gambut; Potensi dan Kendala. Kanisius. Yogyakarta.

Noor M. 2011. Pengelolaan Air di Tingkat Petani Pada Lahan Gambut Berbasis Masyarakat Kasus : UPT Lamunti, Kawasan PLG Kalimantan Tengah. Makalah disampaikanpada Lokakarya “Sistem Pengelolaan Air Lahan Rawa Gambut Berbasis Masyarakat” 4-6 Januari 2011, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Noorginayuwati, A Rapieq, M Noor dan Achmadi. 2008. Kearifan Budaya Lokal Dalam Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Pertanian Di Kalimantan. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa.

Price JS, AL Heathwaite and AJ Baird. 2003. Hydrological Processes in Abandoned and Restored Peatlands: an Overview of Management Approaches. J. Wetlands Ecology and Management. 11: 65–83

[PPKS] Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2008. Penyakit Pada Kelapa Sawit: Siap Pakai dan Ramah Lingkungan. Medan

[Puslittanak] Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 1999. Panduan Karakerisasi dan Analisis Zone Agroekologi. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor.

Pramudya B. 2006. Analisis Sistem. Bahan Kuliah Analisis Perencanaan Sistem. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor

Rao N. H. and P. P. Rogers.2006. Assessment of Agricultural Sustainability. J.Current Science. 91: 439 - 448

Reed MS et al. 2009. Who’s in and why? A Typology of Stakeholder Analysis Methods for Natural Resource Management. J. Environmental Management. 90 : 1933–1949

Reijntjes C, B Haverkort and AW Bayer. 1992. Pertanian Masa Depan, Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah. Penerjemah; Fleirt.E. B.Hidayat, editor Netherlands ; 1999. Terjemahan dari Farming For The Future, An Introduction to Low-External-Input and Sustainable Agriculture.

Ritzema HP. A M Hassan and RP Moens. 1998. A New Approach to Water Management of Tropical Peatlands: A Case Study from Malaysia. J. Irrigation and Drainage Systems. 12: 123–139.

Riwandi. 2001. Kajian Stabilitas Gambut Tropika Indonesia Berdasarkan Analisis Kehilangan Karbon Organik, Sifat Fisikokimia dan Komposisi Bahan Gambut. [Disertasi]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Riwandi. 2003. Indikator Stabilitas Gambut Berdasarkan Analisis Kehilangan Karbon Organik, Sifat Fisikokimia dan Komposisi Bahan Gambut. Jurnal Penelitian UNIB. Bengkulu.

Rina Y, M Noor dan A Jumberi. 1996. Konservasi Lahan Dalam Usahatani Tanaman Pangan di Lahan Gambut Kalimantan Selatan dan Tengah. Makalah Disajikan pada Kongres III dan Seminar Nasional MKTI Universitas Brawijaya. Malang 4- 5 Desember 1999.

Rina Y, Noorginayuwati dan M Noor. 2008. Persepsi Petani Tentang Lahan Gambut dan Pengelolaannya. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarmasin.

[RSPO] Roundtable on Sustainability Oil Palm. 2005. The RSPO’S Principles and Criteria for Sustainable Palm Oil Production. Public Release Version. Singapura.

Rist L. L Feintrenie and P Levang. 2010. The Livelihood Impacts of Oil Palm: Smallholders in Indonesia. J.Biodiversity Conservation. 10:1007-1015

Sa’id EG. 2001. Kemitraan di Bidang Agribisnis dan Agroindustri. Di dalam Haeruman dan Eriyanto. Editor. Kemitraan Dalam Pengembangan Ekonomi Lokal. Yayasan Mitra Pembangunan Desa. Busines Inovation Centre of Indonesia. Jakarta.

Sabiham S. 2011. An Adaptive Socio-Entropy System: Balancing Economic Endeavors and Socio-Ecological Dynamics at a Palm Oil Plantation in Indonesia. Progress Report. The Toyota Foudation.

Sabiham S and U Sudadi. 2010. Indonesian Peatlands and their Ecosystem Unique: a Science Case for Conservation and Sound Management. Conference Soil Properties for Soil Fertility and for Use of Soil Services. Department of Soil Science and Land Resource, Bogor Agricultural University. Bogor.

Sabiham S. 2007. Pengembangan Lahan Secara Berkelanjutan Sebagai Dasar Dalam Pengelolaan Gambut di Indonesia. Makalah Utama Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa. Kapuas 3-4 Juli 2007.

Sabiham, S. 2000. The Critical Water Content of Center-Kalimantan’s Peats in Relation to Irreversible Drying of Peat Materials (in Indonesian). J. Tanah Tropika. 11:21-30.

Sabiham, S. 1988. Studies on Peat in the Coastal Plain of Sumatra and Borneo. I.Physiografi and Geomorphology of the Coastal Plains. Southeast Asian Studies, Kyoto Univ. 26 (3): 308-335.

Sabiham S. dan M Ismangun. 1997. Potensi dan Kendala Pengembangan Lahan Gambut untuk Pertanian. Proseding Simposium Nasional dan Konggres V PERAGI. Jakarta, 25 - 27 Januari 1996.

Sajogjo.1977. Garis Miskin dan Kebutuhan Minimum Pangan. Lembaga Penelitian Sosiologi Pedesan (LPSP). Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Setyarso A, Wulandari. 2002. Criteria and Indicator for Best Practices Oil Palm Industry and Plantation Management. Proceding of Chemestry and Technology Conference: Enhancing Oil Palm Industry throght Enviromentally Friendly Technology. Indonesia Oil Palm Research Institute (IOPRI). Medan. p:361-368.

Sinukaban. 2007. Conservation Farming System For Sustainable Development in Java, Indonesia. Di dalam : Soil and Water Conservation in Sustainable Development. Ed ke-1. Bogor : Direktorat Jendral RPLS.Departemen Kehutanan.

Soil Survey Staff. 1998. Key to Soil Taxonomy. Eight Edition. USDA-Natural Resources Conservation Service.

Soil Survey Staff. 1999. Kunci Taksonomi Tanah, Edisi Kedua Bahasa Indonesia. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Spangenber JH. 2007. The Institusional Dimension of Sustainable Development. In : Hak T; B McIdan and AL Dahl (Editor) Sustainability Indicators, A Scientific Assesment. Island Press. Washington.

Steel RG and JH Torrie. 1980. Prinsip dan Prosedur Statistik. Gramedia Pustaka, Jakarta.

Subejo dan Supriyanto.2004. Metodologi Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat. Paper pada Kuliah Intensif Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan. Study on Rural Empowerment (SORem). Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta.

Soekartawi, 2006. Analisis Usaha Tani. Universitas Indonesia. Jakarta

Susanto RH. 2008. Masalah Kebakaran dan Solusi Berkaitan Dengan Pengembangan Pertanian di Areal Rawa Gambut. Pusat Penelitian dan Manajemen Air dan Lahan. Lemlit Universitas Sriwijaya. Palembang.

Susan N. 2009. Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer. Kencana Prenada Media Group. Jakarta

Subagyo H, Marsoedi dan AS Karama. 1996. Prospek pengembangan lahan gambut untuk pertanian; Seminar Pengembangan Tehnologi Berwawasan Lingkungan Untuk Pertanian Pada Lahan Gambut. Dalam Rangka Peringatan Dies Natalis ke 33 IPB. Bogor, 26 Sept. 1996.

Sumawijaya N, H Bakti, Soetanto dan M Ruslan. 2006. Lahan Gambut (Hidrologi Lahan Gambut Palangkaraya). Pusat Penelitian Geoteknologi – LIPI. Bandung.

Sumardjo. 2010. Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pengelolaan Konflik Sosial Pada Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Riau. Seminar dan Lokakarya Pengelolaan Terpadu Lingkungan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan di Propinsi Riau, Pekanbaru, 28 Juli 2010.

Sumardjo. 2010. Penyuluhan Menuju Pengembangan Kapital Manusia dan Kapital Sosial dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Fakultas Ekologi Manusia. IPB Bogor.

Sunarko. 2009. Budi Daya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit dengan Sistem Kemitraan. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Suprihatno B, Alihamsyah dan EE Ananto. 1999. Teknologi Pemanfaatan Lahan Pasang Surut dan Lebak untuk Pertanian Tanaman Pangan. Dalam

Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV. Bogor 22-24 November 1999.

Suriadikarta DA dan MT Sutriadi. 2007. Jenis-Jenis Lahan Berpotensi untuk Pengembangan Pertanian di Lahan Rawa. J. Litbang Pertanian. 26 (3) 115 – 122.

Suroso AI. 2008. Analisis Daya Saing dan Dampak Ekonomi Regional Pengembangan Kelapa Sawit Di Kabupaten Siak. [Disertasi]. IPB. Bogor

Suryanto S. 1991. Prospek Gambut Sebagai Sumberdaya Alam Dalam Pengembangan Bioteknologi Di Indonesia. Makalah seminar bioteknologi PPI Perancis, 30 Juni s/d 1 Juli, 1990 di Institute Agronomique Meditererranee (IAM) Montpellier.

Syahza A. 2010. Model Kelembagaan Ekonomi Pada Perkebunan Kelapa Sawit Di Propinsi Riau. Seminar dan Lokakarya Pengelolaan Terpadu Lingkungan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan di Propinsi Riau, Pekanbaru, 28 Juli 2010.

Syahza A. 2009. Kelapa Sawit: Dampaknya Terhadap Percepatan Pembangunan Ekonomi Pedesaan Di Daerah Riau. DP2M Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta

Taryoto AH. 1995. Analisis Kelembagaan Dalam Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian Suatu Pengantar. Proseding Pengembangan Hasil Penelitian : Kelembagaan dan Prospek Pengembangan Beberapa Komoditas Pertanian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian.Bogor

Trupp LA. 1996. New Pathnerships for Sustainable Agricultur. World Institute New York.

[UU] Undang-Undang Republik Indonesia No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

[UU] Undang-Undang Republik Indonesia No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

[UU] Undang-Undang Republik Indonesia No.18 Tahun 2004 tentang Perkebunan.

Wahyono T. 2003. Konflik Penguasaan Lahan Pada Perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera. J.Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.11(1): 47-59.

Wahyono T dan M Dja’far. 2004. Pembangunan Ekonomi Melalui Perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera Utara. J. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan. 3(12): 176-184.

Walpole RE. 1995. Pengantar Statistik. Gramedia Pustaka, Jakarta

Walter CH and Stutzel. 2009. A New Method for Assessing the Sustainability of Land-Use System (I): Identifying the Relevant Issues. J.Ecological Economics. 68 : 1275-1287

Widjaya A et al. 1992. Sumberdaya Lahan Pasang Surut, Rawa dan Pantai : Potensi, keterbatasan dan pemanfaatan. Dalam S. Partohardjono dan M. Syam (Eds). Pengembangan Terpadu Pertanian Lahan Pasang Surut dan Lebak. Risalah Pertemuan Nasional Pengembangan Pertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa. Cisarua, 3 – 4 Maret 1992. Puslitbangtan. Bogor.

Wigena IGP. 2009. Model Pengelolaan Kebun Kelapa sawit Plasma Berkelanjutan (Studi Kasus di Perkebunan PIR-Trans PTPN V Sei Pagar Kabupaten Kampar Provinsi Riau). [Disertasi]. Sekolah Pascasarjana-IPB. Bogor.

Wiranto T. 2001. Pemberdayaan Masyarakat dan Pembangunan Perdesaan. Di dalam Eriyatno dan H.Haeruman, editor. Bunga Rampai : Kemitraan dalam Pengembangan Ekonomi Lokal. Yayasan Mitra Pembangunan Desa-Kota dan BIC Indonesia.Jakarta

Wosten JHM and HP Ritzema. 2002. Challenges in Land and Water Management for Peatland Development in Sarawak. In: JO. Rieley, and SE. Page, with B. Setiadi,(Eds.), Peatlands for People: Natural Resource Functions and Sustainable Management, Proceedings of the International Symposium on Tropical Peatland, 22-23 August 2001, Jakarta, Indonesia. BPPT and Indonesian Peat Association.

WostenH et al. 2006. Tropical Peatland Water Management Modelling of the Air Hitam Laut Catchment in Indonesia. J.of River Basin Management. 4: 233-244.

Wrighta AL. KR Reddyb and R Corstanjec. 2009. Patterns of Heterotrophic Microbial Activity in Eutrophic and Oligotrophic Peatlands. J. of Soil Biology. 45: 131 – 137.

Zazali A. 2010. Tantangan dan Solusi terhadap Permasalahan Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan. Seminar dan Lokakarya “Pengelolaan terpadu Lingkungan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan di Provinsi Riau’. Pekanbaru. 28 Juli 2010.

Zylicz T. 2007. Sustainability Indicators : An Economic’View. In : Hak T, B Mc Idan and AL Dahl (Editor) Sustainability Indicators, A Scientific Assesment. Island Press. Washington.

Lampiran 1. Deskripsi profil gambut pada hutan rawa gambut sekunder

Jenis Tanah : Typic Tropofibrist

Penggunaan Lahan : Hutan Rawa Gambut Sekunder

Fisiografi : Dataran

Relief makro : Dataran Gambut Relief mikro : Kubah gambut

Lereng : Datar Drainase : Buruk Batuan Permukaan :- Pola Drainase :- Vegetasi :- Kedalaman Gambur : > 480 cm Kedalaman air tanah : 20 cm

Lokasi : 00o 58’ 42” LU, 101 o 57’ 16.7” BT Horizon Uraian

Simbol Kedalaman (cm)

Oe 0 - 20 Hitam kemerahan (10 R 2.5/1), humik Oe 20 - 50 Merah sangat kusam (10 R 2.5/2); hemik Oei 50 - 75 Merah sangat kusam (10 R 2.5/2); hemik-fibrik

Oi 75 - 120 Hitam kemerahan – merah sangat kusam (2.5 YR 2.5/1-2); fibrik

Lampiran 2. Deskripsi profil gambut pantai pada perkebunan kelapa sawit

Jenis Tanah : Typic Tropohemist

Penggunaan Lahan : Perkebunan kelapa sawit < 3 tahun

Fisiografi : Dataran

Relief makro : Dataran Gambut Relief mikro : Kubah gambut

Drainase : Buruk

Lereng : Datar

Kedalaman Gambut : 700 cm Kedalaman air tanah : 72 cm

Lokasi : 01o 34’ 22.7” LU, 101 o 50’ 55.0” BT Horizon

Uraian Simbol Kedalaman (cm)

Oe 0 - 20 Merah sangat kusam (10 R 2.5/2); hemik Oi 20 - 60 Hitam kemerahan (10 R 2.5/1); hemik Oi 60 - 110 Hitam kemerahan (10 R 2.5/1); hemik Oi 110 - 200 Merah sangat kusam (2.5 R 2.5/2); fibrik

Jenis Tanah : Typic Tropofibrist

Penggunaan Lahan : Perkebunan kelapa sawit < 3 tahun

Fisiografi : Dataran

Relief makro : Dataran Gambut Relief mikro : Kubah gambut

Lereng : Datar Drainase : Buruk Batuan Permukaan :- Pola Drainase :- Vegetasi :- Kedalaman Gambut : 700 cm Kedalaman air tanah : 72 cm

Lokasi : 01o 34’ 22.7” LU, 101 o 50’ 55.0” BT Horizon Uraian

Simbol Kedalaman (cm)

Oe 0 - 20 Merah sangat kusam (10 R 2.5/2), hemik Oi 20 - 60 Hitam kemerahan (10 R 2.5/1); fibrik Oi 60 - 110 Hitam kemerahan (10 R 2.5/1); fibrik Oi 110 - 700 Merah sangat kusam (2.5 R 2.5/2), fibrik

Jenis Tanah : Teric Tropohemist

Penggunaan Lahan : Perkebunan kelapa sawit umur 3 - 9 tahun

Fisiografi : Dataran

Relief makro : Dataran Gambut

Lereng : Datar

Drainase : Buruk

Kedalaman Gambut : 40 cm Kedalaman air tanah : 60 cm

Lokasi : 01o 39’ 47.5” LU, 101 o 43’ 32.9” BT

Horizon

Uraian Simbol Kedalaman (cm)

Oe 0 - 20 Hitam kemerahan (10 R 2.5/1); hemik Oi 20 - 40 Hitam kemerahan (2.5 YR 2.5/1); hemik

Ao 40 - 80 Kelabu kemerahan gelap (2.5YR 3/1); liat berdebu, A1 80 - 120 Coklat (7.5 YR 2.5/1); liat, matang

Jenis Tanah : Terik Tropohemist

Penggunaan Lahan : Perkebunan kelapa sawit umur 3 - 9 tahun

Fisiografi : Dataran

Relief makro : Dataran Gambut Relief mikro : - Lereng : Datar Drainase : Buruk Batuan Permukaan :- Pola Drainase :- Vegetasi :- Kedalaman Gambut : 44cm Kedalaman air tanah : 40 cm

Lokasi : 01o 07’ 52.6” LU, 102 o 03’ 53.2” BT Horizon Uraian

Simbol Kedalaman (cm)

Oa 0 - 14 Hitam kemerahan (2.5 YR 2.5/1), saprik Oe 14 - 44 Hitam kemerahan (10 R 2.5/1); hemik

Ao 44 - 55 Coklat kemerahan gelap (5YR 2.5/2); liat berdebu, masif

A1 > 55 Kelabu kemerahan gelap (5 YR 4/2), liat berdebu, agak matang

Jenis Tanah : Histik Tropaquent

Penggunaan Lahan : Perkebunan kelapa sawit umur > 10 tahun

Fisiografi : Dataran

Relief makro : Dataran Gambut

Lereng : Datar

Drainase : Buruk

Kedalaman Gambut : 33 cm Kedalaman air tanah : 30 cm

Lokasi : 01o 46’ 44.2” LU, 101 o 18’ 23.6” BT Horizon

Uraian Simbol Kedalaman (cm)

Oa 0 - 20 Hitam (5 YR 2.5/1); hemik

Oi 20 - 33 Kelabu sangat gelap (5 YR 3/1); hemik

Ao 33 - 60 Coklat kemerahan gelap (5YR 3/2); liat berdebu,