• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM

A. Sejarah Kuno Kota Sibolga

Kota Sibolga adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Utara. Wilayahnya seluas 10,77 Km2 atau 1.077 Ha yang terdiri dari daratan Sumatera 889,16 Ha daratan kepulauan 187,84 Ha. Secara geografis kawasan ini terletak di antara 10 44 - 1 46' LU dan 980 47' – 980 48 BT dengan batas-batas wilayah: Timur, Selatan, Utara pada Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Barat dengan Teluk Tapian Nauli. Letak kota membujur sepanjang pantai dari Utara ke Selatan menghadap Teluk Tapian Nauli. Sementara sungai-sungai yang dimiliki, yakni Aek Doras, Sihopo-hopo, Aek Muara Baiyon dan Aek Horsik dan Kota Sibolga terletak diatas permukaan Laut 0-5 m. (Badan Pusat Statistik Sibolga, 2002, vi).

Tentang nama atau sebutan Sibolga, diceritakan bahwa pada awal-nya Ompu Datu Hurinjom yang membuka perkampungan Simaninggir, mempu-nyai postur tubuh tinggi besar, di samping memiliki tenaga dalam yang kuat. Adalah tabu bagi orang Batak menyebut nama seseorang secara langsung apalagi orang tersebut lebih tua dan dihormati, maka untuk menyebut nama kampung yang dibuka Ompu Datu Hurinjom dipakai sebutan "Sibalga", yang artinya kampung atau huta untuk orang yang tinggi besar (Badan Pusat Statistik Sibolga, 2002, vi)

Asal kata Sibolga dengan pengertian tersebut lebih dapat diterima daripada untuk istilah "Bolga-Bolga", yaitu nama sejenis ikan yang hidup di pantai berawa-rawa; atau istilah "Balga Nai" yang berarti besar untuk menunjukkan ke arah

Erwin J.V Nababan : Tekong (Studi Deskriptif Terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Alam Pesisir Pada Masyarakat Sibolga), 2009.

luasnya lautan. Orang Batak biasanya menggunakan kata "bidang" untuk menggambarkan sesuatu yang luas, bukan kata balga yang berarti besar.

Tapi apa pun kisah awal kelahiran nama dan Kerajaan Sibolga, kota di Teluk Tapian Nauli ini telah menjalankan peran sejarah yang sangat berarti. Di masa lalu Sibolga berjaya sebagai pelabuhan dan gudang niaga untuk barang-barang hasil pertanian dan perkebunan seperti karet, cengkeh, kemenyan dan rotan. Inggris bahkan pernah menjadikan Sibolga sebagai pelabuhan gudang niaga lada terbesar di Teluk Tapian Nauli.

Lebih dari itu, berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 7 Desember 1842 tempat kedudukan Residen Tapanuli dipindahkan dari Air Bangis ke Sibolga, dan sejak itulah Sibolga resmi menjadi Ibukota Keresidenan. Meski statusnya sebagai Ibukota Keresidenan sempat dipindahkan ke Padang Sidempuan antara tahun 1885 - 1906, namun predikat itu akhirnya kembali lagi ke Sibolga berdasarkan Staadblad yang dikeluarkan pada 1906 itu.

Dalam perjalanannya, pada 1850, di masa Mohd Syarif menjadi Datuk Poncan, bersama -sama dengan Residen Kompeni Belanda bernama Conprus, mereka pindah dari Pulau Poncan ke Pasar Sibolga. Pada tahun ini pula rawa-rawa besar itu ditimbun untuk menyusunnya menjadi sebuah negeri pula.

“Sibolga jolong basusuk Banda digali urang rantau Jangan manyasa munak barisuk Kami sapeto dagang sansa”.

Maksudnya yakni bahwa pada mulanya Kota Sibolga ini dibangun dengan menggali parit-parit dan bendar-bendar untuk mengeringkan rawa-rawa besar itu, dengan menggerakkan para narapidana (rantai) serta ditambah dengan

tenaga-Erwin J.V Nababan : Tekong (Studi Deskriptif Terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Alam Pesisir Pada Masyarakat Sibolga), 2009.

tenaga rodi, ditim-bunlah sebagian rawa-rawa itu dan berdirilah negeri baru Pasar Sibolga.

Di masa Sibolga dibangun menjadi kota, istana raja yang berada di tepi Sungai Aek Doras dan pemukiman di sekelilingnya dipindahkan ke kampung baru, Sibolga Ilir. Di atas komplek tersebut dibangun pendopo Residen dan perkantoran Pemerintah Belanda. Walaupun pada tahun 1871 Belanda menghapuskan sistem pemerintahan raja-raja dan diganti dengan Kepala Kuria, namun Anak Negeri menganggapnya tetap sebagai Raja dan sebagai pemangku adat.

Sementara Datuk Poncan di Sibolga diberi jabatan sebagai Datuk Pasar dan tugasnya memungut pajak anak negeri yang tinggal di Kota Sibolga terhadap warga Cina perantauan, Di dalam melaksanakan tugasnya, Datuk Pasar dibantu oleh Panghulu Batak, Pangulu Malayu, Pangulu Pasisir, Pangulu Nias, Pangulu Mandailing dan pangulu derek.

Pada 1916 Datuk Stelsel dihapuskan serta diganti dengan Demang Stelsel, mengepalai satu-satu distrik menurut pembagian yang diadakan, dalam mana Pasar Sibolga masuk Distrik Sibolga, sebagaimana beberapa resort kekuriaan. Untuk memudahkan kontrol berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Keresidenan Tapanuli dibagi menjadi tujuh Afdeling yaitu Afdeling Singkil, Sibolga, Nias, Barus, Natal, Angkola dan Mandailing. Sedangkan Afdeling Sibolga terdiri dari beberapa distrik yakni Distrik Sibolga, Distrik Kolang, Tapian Nauli, Sarudik, Badari, dan Distri Sai Ni Huta.

Erwin J.V Nababan : Tekong (Studi Deskriptif Terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Alam Pesisir Pada Masyarakat Sibolga), 2009.

Pada masa Pemerintahan Militer Jepang, Kota Sibolga dipimpin oleh seorang Sityotyo (baca: Sicoco) di samping jabatannya selaku Bunshutyo (baca: Bunsyoco), tapi dalam kenyataanya adalah Gunyo yang memegang pimpinan kota sebagai kelanjutan dari Kepala Distrik yang masih dijabat oleh bekas demang, ZA Sutan Kumala Pontas.

Pada masa pendudukan Jepang, Mohammad Sahib gelar Sutan Manukkar ditunjuk sebagai Kepala Kuria dengan bawahan Mela, Bonan Dolok, Sibolga Julu, Sibolga Ilir, Huta Tonga-tonga, Huta Barangan dan Sarudi. Beliau inilah yang menjadi Kepala Kuria yang terakhir di Sibolga karena setelah zaman kemerdekaan, sekitar tahun 1945 istilah Kepala Kuria praktis sudah tidak ada lagi.

Kota Sibolga dahulunya merupakan Bandar Kecil di Teluk Tapian Nauli dan terletak di Poncan Ketek. Pulau kecil ini letaknya tidak jauh dari Kota Sibolga yang sekarang ini. Diperkirakan Bandar tersebut berdiri sekitar abad delapan belas dan sebagai penguasa adalah “ Datuk Bandar “. Kemudaian pada zaman pemerintahan kolonial Belanda, pada abad sembilan belas didirikan Bandar Baru yaitu Kota Sibolga yang sekarang, karena Bandar di pulau Poncan Ketek dianggapnya akan dapat berkembang, disamping pulaunya terlalu kecil juga tidak memungkinkan menjadi Kota Pelabuhan yang fungsinya bukan saja sebagai tempat bongkar muat barang tetapi juga akan berkembang sebagai Kota Perdagangan. Akhirnya Bandar Pulau Poncan Ketek mati bahkan bekas-bekasnyapun tidak terlihat lagi saat ini. Sebaliknya Bandar Baru yaitu: Kota Sibolga yang sekarang berkembang pesat menjadi Kota Pelabuhan dan Perdangangan.

Erwin J.V Nababan : Tekong (Studi Deskriptif Terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Alam Pesisir Pada Masyarakat Sibolga), 2009.

Pada Zaman awal Kemerdekaan Republik Indonesia Kota Sibolga menjadi Ibukota Keresidenan Tapanuli dibawah Pimpinan seorang Residen dan membawahi beberapa “Luka atau Bupati”. Pada Zaman Revolusi Fisik Sibolga juga menjadi tempat kedudukan Gubernur Sumatera Utara Nomor : 102 tanggal 17 Mei 1946, Sibolga menjadi Daerah Otonom Tingkat “D” yang luas Wilayahnya ditetapkan dengan Surat Keputusan Residen Tapanuli Nomor : 999 tanggal 19 Nopember 1946 yaitu Daerah Kota Sibolga yang sekarang ini. Sedangkan desa-desa sekitarnya yang sebelumnya masuk Wilayah Sibolga On Omme Landen menjadi masuk Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah.

Dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956 Sibolga ditetapkan menjadi Daerah Swatantra Tingkat II dengan nama Kotapraja Sibolga yang dipimpin oleh seorang Walikota dan Daerah Wilayahnya sama dengan Surat Keputusan Residen Tapanuli Nomor : 999 tanggal 19 Nopember 1946.

Selanjutnya dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 Daerah Swatantra Tingkat Kotapraja Sibolga diganti dengan sebutannya menjadi Daerah Tingkat II Kota Sibolga yang pengaturannya selanjutnya ditentukan oleh Undang-undang Nomor : 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok pemerintahan Daerah yang dipimpin oleh Walikota Kepala Daerah. Kemudian hingga sekarang Sibolga merupakan Daerah Otonom Tingkat II Kota Daerah Tingkat II yang dipimpin oleh Walikota Kepala Daerah.

Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor : 19 Tahun 1979 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Sibolga ditetapkan sebagai Pusat Pembangunan Wilayah I Pantai Barat Sumatera Utara.Perkembangan terakhir yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah

Erwin J.V Nababan : Tekong (Studi Deskriptif Terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Alam Pesisir Pada Masyarakat Sibolga), 2009.

Nomor : 35 Tahun 1981, Kota Daerah Tingkat II Sibolga dipecah menjadi 3 (tiga) Kecamatan yaitu: Kecamatan Sibolga Utara, Kecamatan Sibolga Kota dan Kecamatan Sibolga Selatan.

Pada Tahun 2002, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Walikota Sibolga, Kota Sibolga dibagi menjadi 4 (empat) wilayah kecamatan yaitu: Kecamatan Sibolga Utara, Kecamatan Sibolga Kota, Kecamatan Sibolga Selatan dan Kecamatan Sibolga Sambas.

A. 1. Letak Geografis

Pemerintah kota sibolga mempunyai wilayah seluas 1077,00 Ha yang terdiri dari 889,16 Ha (82,5 %) daratan Sumatera, 187,84 Ha (17,44 %) daratan Kepulauan dan 2.171,6 ha lautan. Pulau-pulau yang termasuk dalam kawasan kota sibolga adalah Pulau Poncan Gadang, Pulau Poncan Ketek, Pulau Sarudik dan Pulau Panjang.

Kota Sibolga secara geografis terletak antara 10 44 LU dan 980 47 BT. Batas wilayah Kota Sibolga sebelah Timur, Selatan, Utara pada Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Barat dengan Teluk Tapian Nauli. Letak kota membujur sepanjang pantai dari Utara ke Selatan menghadap Teluk Tapian Nauli.

Sementara wilayah administrasi pemerintahan terdiri dari 4 (empat) Kecamatan dan 16 (enam belas) Kelurahan. Keempat kecamatan itu yakni Kecamatan Sibolga Utara dengan empat kelurahan dengan luas area 3,333 Km2, Kecamatan Sibolga kota dengan empat kelurahan dengan luas area 2,732 Km2, Kecamatan Sibolga Selatan dengan empat kelurahan dengan luas area 3,138 Km2, dan Kecamatan Sibolga Sambas dengan empat kelurahan dengan luas area 1,566 Km2 (Badan Pertahanan Nasional Kota Sibolga).

Erwin J.V Nababan : Tekong (Studi Deskriptif Terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Alam Pesisir Pada Masyarakat Sibolga), 2009.

A. 2. Letak Demografis

Penduduk Kota Sibolga menurut data Perhitungan Badan Pusat Statistik kota Sibolga Pada tahun 2007, Kota Sibolga mempunyai jumlah penduduk 93.207 jiwa yang terdiri dari 46.690 jiwa laki-laki dan 46.517 jiwa perempuan serta 19.885 rumah tangga. Sedangkan hasil Sensus Penduduk 2000 berjumlah 82.310 Jiwa, dengan demikian rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk pertahun (2000-2007) sebesar 1,78 Persen (Pemko Sibolga, 2007, xvi).

A. 3. Topografi

Kota Sibolga dipengaruhi oleh letaknya yaitu bcrada pada daratan pantai, lereng, dan pegunungan. Terletak pada ketinggian di atas permukaan laut berkisar antara 0 - 150 meter, kemiringan (lereng) lahan bervariasi antara 0-2 persen sampai lebih dari 40 persen dengan rincian; kemiringan 0-2 persen mencapai kawasan seluas 3,12 kilometer persegi atau 29,10 persen meliputi daratan Sumatera seluas 2,17 kilometer persegi dan kepulauan 0,95 kilometer persegi; kemiringan 2-15 persen mencapai lahan seluas 0,91 kilometer persegi atau 8,49 persen yang meliputi daratan Sumatera seluas 0,73 kilometer persegi dan kepulauan seluas 0,18 kilometer persegi; kemiringan 15-40 persen meliputi lahan seluas 0,31 kilometer persegi atau 2,89 persen terdiri dari 0,10 kilometer persegi wilayah daratan Sumatera dan kepulauan 0,21 kilometer persegi; sementara kemiringan lebih dari 40 persen meliputi lahan seluas 6,31 kilometer persegi atau 59,51 persen terdiri dari lahan di daratan Sumatera seluas 5,90 kilometer persegi dan kepulauan seluas 0,53 Kilometer persegi (Pemko Sibolga,2008, xv) .

Erwin J.V Nababan : Tekong (Studi Deskriptif Terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Alam Pesisir Pada Masyarakat Sibolga), 2009.

Berdasarkan kemiringan lahan tersebut di atas, maka yang paling dominan adalah kemiringan lebih dari 40 persen.Pelabuhan laut Kota Sibolga cukup ramai disinggahi kapal kapal yang akan menuju pulau Nias.

A. 4. Iklim

Kota Sibolga berada antara 1-50 Meter diatas permukaan laut dan beriklim cukup panas dangan suhu maksimum mencapai 32,70 C di Febuari 2007.

Curah hujan di Kota Sibolga cenderung tidak teratur disepanjang tahunnya. Curah hujan tertinggi terjadi di bulan Oktober (947,8 mm), hari hujan terbanyak berada di bulan April (24 hari). Sedangkan kecepatan angina tertinggi mencapai 7,7 knot dan terendah 4,8 knot terjadi di sepanjang tahun 2007.(Sumber Stasiun Meteorologi Bandar Udara Pinang Sori).

A. 5. Pusat Pemerintahan

Administrasi Pemerintahan Kota Sibolga terdiri atas 4 Kecamatan dan 17 Kelurahan, yaitu Kecamatan Sibolga Utara terdiri dari 5 Kelurahan, Kecamatan Sibolga Kota 4 Kelurahan, Kecamatan Sibolga Selatan 4 Kelurahan, Kecamatan Sibolga Sambas terdiri dari 4 Kelurahan

Tabel 1. Banyak Lingkungan dan Klasifikasi Kelurahan

No Kecamatan Kelurahan Banyak

Lingkungan

1 Sibolga Utara Sibolga Ilir 4

Angin Nauli 5

Huta Tonga-tonga 4

Huta Barangan 3

Simare-mare 4

2 Sibolga Kota Kota Baringin 4

Pasar Baru 4

Pasar Belakang 4

Pancuran Gerobak 4

3 Sibolga Selatan Aek Habil 4

Aek Manis 4

Erwin J.V Nababan : Tekong (Studi Deskriptif Terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Alam Pesisir Pada Masyarakat Sibolga), 2009.

Aek Muara Minang 4

4 Sibolga Sambas Pancuran Kerambil 4

Pancuran Dewa 4

Pancuran Pinang 4

Pancuran Bambu 4

SIBOLGA 68

Sumber : Dinas PMK Sibolga.

Anggota DPRD Kota Sibolga hasil pemilu 2004 sebanyak 20 orang. Keanggotaan terbesar dari Partai Golkar yang berjumlah 5 orang, Partai Amanat Nasional, PDIP dan PDS masing-masing 2 orang, kemudian PPP, PKS, PBB, Partai Patriot, PPDI, Partai Merdeka, Partai Demokrat dan PPKB masing-masing berjumlah 1 orang anggota.

Dokumen terkait