“
Karena ia bisa menciptakan hujan. Dan mereka menyukainya. Mereka terjebak di dalamnya.”Begitulah hujan turun. Tercipta tiba-tiba dan sering tanpa aba-aba. Tanpa persiapan, dikejut-kannya orang-orang. Dibasuhnya yang kering dan disapunya yang basah. Menyejukkan juga mengha-nyutkan. Menghangatkan serta menjebak. Hanya cinta yang bisa menandingi kemisteriusannya.
Bukankah tiada yang pernah tahu kapan dan di mana cinta akan datang? Siapa pula yang bisa mene-bak siapa yang hendak singgah? Demikian akhirnya aku mengenal mereka. Menyanjung hujan dan cinta. Setiap hari dan seperti hari ini ....
Hujan datang dengan derasnya. Seakan-akan tang-gul di langit sana bocor. Bersama angin, ia menguasai sore ini. Menerjang apa pun yang tersentuh lengan-lengannya yang deras. Di luar, pohon-pohon, tiang-tiang, dan semua yang tak terpayungi kewalahan menghadapi amarahnya. Satu pohon, dahannya tum-bang. Pohon-pohon lain terlihat resah, meliuk-liuk diciumi air dan angin yang meliuk-liuk pula. Kemu-dian suara petir menakuti. Bergemuruh seperti gamel-an ygamel-ang dipukul tak beraturgamel-an. Di lgamel-angit, kilat me-narikan ancaman. Semua yang ada di permukaan bumi bagai diawasi.
“Banjir,” ia berkata selepas gemuruh besar. Mata-nya menatap ke luar jendela. Tak ada aktivitas manu-sia di luar sana. Hanya air yang meluap deras di jalan.
Mobil-mobil tak bergerak. Motor-motor dan sepeda diparkir di pinggir jalan. Orang-orang berteduh.
“Kamu akan tetap menjemput istrimu?” dia me-nanggapi kemudian menyeruput teh panas. Matanya ikut menatap ke jendela. Namun hanya hujan yang diperhatikannya.
“Entahlah. Dia minta dijemput. Tapi hujan deras begini. Mobil pun tak berguna.”
“Naik ojek!”
“Naik ojek?” Ia balik bertanya dengan sarkastik. Mereka bertatapan beberapa detik, seiring dengan datangnya kilat yang membuat warna wajah mereka menjadi pucat sesaat.
Ia menghela napas panjang lalu memainkan tele-pon genggam.
Dia masih terdiam di kursinya. Hatinya berbunga-bunga. Jika kau mencintainya, mestinya apa pun akan
kau lakukan demi menyenangkan hatinya. Kau memi-lihku akhirnya, dia berucap dalam hati. Dia
merahasia-kan perasaan senangnya dalam tegumerahasia-kan teh berikutnya berupa sungging senyum yang disembunyikan dalam bibir cangkir.
“Kalau tidak hujan, kita bisa melihat senja dari sini,” dia memecah kebisuan.
Ia tersenyum menanggapi.
“Aku suka senja. Senja mengantarai terang dan gelap. Seperti ibu yang menemani anaknya hingga tidur. Hangat dan nyaman,” dia melanjutkan kalimatnya.
“Makanya sore ini kuajak kau bertemu di sini,” dia tak menggubris tanggapan ia. “Seharusnya tidak hujan. Kita bisa melihat matahari berganti warna. Kemerah-merahan, lalu berubah keemasan, kemudian menghilang.”
Ia menarik dirinya lebih dalam ke sofa. Bersandar. Masih menatap keluar. Ia mainkan lagi telepon geng-gamnya. Kali ini sebuah pesan masuk.
“Kalau begitu, tidak usah menjemputku. Tapi usahakan makan di rumah, Mas. Aku akan masakan tumis kangkung kesukaanmu :)”
Ia tarik lagi badannya dari kursi. Menarik napas. Menatap mata dia sambil tersenyum memberi celah. “Aku akan di sini, tapi tidak bisa terlalu malam. Istri-ku membuatkan makanan kesukaanIstri-ku.”
Dia menyambut senyuman itu dingin. Matanya beralih ke jendela. Hujan mulai reda. Mobil-mobil nampak mulai bergerak. Motor-motor yang parkir di pinggir jalan, satu persatu melaju. Beberapa orang pergi dari tempatnya berteduh dengan payung. Masih gerimis. Rintik-rintik hujan kini hanya sebesar jarum jahit. Kecepatan tetesnya perlahan berkurang. Di kaca jendela, sisa air hujan masih menempel. Mereka me-meluk kaca jendela bagai cicak, menggumpal seperti embun.
“Kita mirip tetes-tetes air yang menempel di jen-dela itu, ya?” dia memecah keheningan lagi. “Kita bersama-sama, tapi tidak menyatu.”
“Memang! Aku sentimentil!” dia berkata agak ber-teriak.
Para pelayan kafe berbarengan menoleh ke arah meja mereka.
Ia dan dia terdiam. Berdua menatap ke luar jen-dela.
“Yah, kamu sentimentil,” ia mengucap pelan. Ham-pir tak terdengar. Ia tatap lagi dia yang ada di depan-nya. Lalu berpindah duduk di sampingdepan-nya.
“Setidaknya aku setia,” kata dia pelan.
“Maafkan aku ...” ia memohon. “Seandainya aku bisa memelukmu sekarang ....”
“Kita sudah terlatih dengan ini bukan?” “Terlatih apa?”
“Bersembunyi, setidaknya aku ....”
Ia menarik tangan dia dan menggenggamnya. “Aku senang bisa bersamamu sore ini,” ditatapnya wajah itu lekat-lekat, mencoba melihat kekhawatiran yang dia rasakan, “juga sore-sore kemarin.”
Dia balik menatapnya, membalas bincang mata itu dengan senyuman. “Aku sudah terbiasa, Mas ....”
Hujan reda. Lebih tiga puluh menit sudah dari pukul lima. Senja hari ini terhalang oleh mendung, tak tampak keemasan. Dan ini bukan pertama kali aku melihat mereka. Pertemuan-pertemuan yang tere-kam oleh langit Jakarta. Kalau memungkinkan untuk pulang kerja lebih awal. Sore hari, ia dan dia bersua. Sekadar duduk di kafe sebuah mall yang dekat
de-ngan kantor. Atau nonton. Atau kalau sedang jenuh di rumah susun milik dia, berlanjut ke penginapan.
Setiap pertemuan biasanya membawa cinta yang berkobar. Cinta yang mereka simpan rapat-rapat. Cinta yang dipertemukan oleh sore hari. Cinta yang hanya ia dan dia yang tahu cara menikmatinya. Cinta senja pada siang yang akan meninggalkannya. Sesekali ada keraguan yang datang membuat pertemuan penuh kekhawatiran. Menggoyang tiang cinta yang menancap di hati mereka. Seperti hari ini. Bukan pertama kali kulihat.
Suara telepon genggam berbunyi.
“Istriku,” Ia beranjak dari samping dia, menjauh. Di luar kafe mereka duduk, ia menjawab panggilan itu.
Dia memperhatikan ia dari tempat duduknya. Menyeruput teh yang sudah dingin. Mengunyah ken-tang goreng yang sudah melempem. Kisah cintanya sama seperti teh dan kentang goreng itu. Dingin dan melempem, dan dia tak punya pilihan selain menik-matinya. Ia hafal benar gerak-gerik canggung laki-laki yang diperhatikannya dalam keadaan seperti sekarang ini.
“Iya ... aku mencintaimu ....” ucap ia menanggapi telepon.
Ia balik tubuhnya menghadap ke dia. Melihat dia dari kejauhan sambil mendengarkan telepon.
“Iya ... aku mencintaimu ....” ulangnya. Ia melirik lagi ke arah dia duduk.
“Benar. Aku akan mencintaimu. Selalu ... Sampai Tuhan menghendakinya.”
Beberapa orang melintas di depan ia. Ia mengecil-kan suaranya dan berpindah posisi membelamengecil-kangi dia. Bergerak sedikit hingga tak terlihat dari pandangan dia.
“Kalau aku gombal, aku sudah meninggalkanmu. Lihat, sampai sekarang aku masih bersamamu.”
Wajah ia mulai terlihat serius. Suaranya dimain-kan, ditekan namun sedikit ditahan untuk meyakinkan si penelepon. Kemudian dia bergerak, kembali ke posisi di mana dia dapat melihatnya.
“Buat apa aku bohong. Toh selama ini aku selalu bercerita tentang mereka yang dekat denganku, kan? Percayalah, aku lebih mencintaimu.”
Beberapa orang keluar dari lift. Berjalan ke arah ia yang sedang serius berbicara dengan si penelepon. Ia segera bergerak ke pinggir namun satu orang tertabrak.
“Maaf ....” pinta ia pada orang yang ditabraknya. Lalu melanjutkan pembicaraannya di telepon.
“Sayang, nanti kita bicarakan lagi soal ini. Tele-ponannya udahan dulu ya ... Minggu depan kita bertemu. Kamu masih mau kan ketemu aku?”
Ia berbalik badan menghadap kursi yang diduduki dia. Mata mereka saling bertatapan. Dia mengedipkan matanya dan menghela napas bosan.
“Aku nggak bisa kalau hari ini. Minggu ini pun banyak sekali pekerjaan. Kamu bisa mengerti aku, kan? Istriku pun bisa curiga kalau aku jarang di ru-mah kan ....”
Ia melihat jam tangannya.
“Aku tinggal bersama istriku. Tidak ada pilihan.” Ia bergerak lagi menghindari tatapan dia yang duduk di dalam kafe.
“Aku telah menikahinya, yah aku harus men-cintainya!”
Wajah ia mulai nampak marah namun suaranya tetap ditahan agar tidak terlalu keras.
“Terserah kamu!”
Suara ia terdengar sedikit bergetar.
“Sejak awal kamu sudah tahu kan aku beristri. Aku mencintai istriku. Aku mencintai kamu juga.”
Ia sedikit gusar. Beberapa kata yang hendak ia lontarkan tertelan lagi karena tak mendapat kesempat-an berbicara. Digosok kedua matkesempat-anya dengkesempat-an jempol dan telunjuk kanannya. Tangan kirinya masih me-nyangga telepon di telinga.
“Pertanyaanmu banyak sekali. Aku bingung! Nanti saja kalau bertemu kita balas. Aku sedang bersama teman, tidak enak kutinggalkan dari tadi.”
Telepon ditutup. Ia menatap layar telepon geng-gamnya. End Call. Ia tarik napas dan dikeluarkan
dengan menggembungkan pipinya. Diulangi beberapa kali. Setelah merasa tenang ia kembali ke tempat dia duduk.
“Aku harus pulang,” ucap ia ke dia.
Ia masukan beberapa kertas yang sempat ia ke-luarkan dari tasnya. Memanggil pelayan untuk mem-buatkan bill.
“Aku yang bayar ya .... Maaf, aku nggak bisa lama sore ini. Anakku sakit. Jangan marah ya.”
Dia menghela napas. Berusaha senyum walau ter-paksa, “Aku di sini dulu. Kamu keluar mall sendiri aja ya.”
“Gak mau bareng aja? Aku bisa mengantarmu pulang.”
Dia menggeleng.
“Oke. Besok sore, kita ketemu lagi. Aku akan mengabarimu.” Ia memainkan matanya memberi tanda hendak pergi. Ia beranjak dari kursi, lalu keluar dari kafe sambil menulis sebuah pesan.
“Aku menuju rumahmu. Sekitar jam 8 sampai. Tunggu aku yah, sayang.”
Pesan itu dikirim tepat saat pintu lift terbuka. Ia masuk dan menekan sebuah nomor telepon.
“Ma, Papa pulang agak larut. Ada pekerjaan dadakan yang harus Papa selesaikan di kantor. Tumis kangkung-nya simpan saja, nanti Papa sampai rumah, langsung Papa makan.”
Selama di dalam lift, ia mendengarkan pesan-pesan sang istri di telepon. Ketika lift berhenti, ia mematikan telepon. Sebuah pesan terkirim di telepon genggam-nya. Dua buah.
Langit mulai gelap. Dia masih duduk menatap jendela. Lampu-lampu jalan dan gedung mulai me-nyala. Cantik sekali Jakarta kala malam. Seandainya kisah cintanya bisa secantik lampu-lampu ini.
“Maaf, mau menambah pesanan?” sapa pelayan tiba-tiba.
Setengah kaget, dia mengelap matanya dan ber-usaha senyum. “Enggak, Mas. Saya udah mau balik kok.”
Dia mematikan laptop yang sedari tadi menyala tak tersentuh. Memasukkannya ke dalam tas selempang abu-abu. Menghela napas. Merapikan perasaannya yang sesemrawut jalanan Jakarta. Hujan dan senja, meski indah dan romantis seringkali melukai, keluhnya.
Kemudian aku melihatnya beranjak dari kursi. Suara John Legend menyanyikan lagu Where Did My Baby Go diputar mengiringi kepergian dia dari kafe
itu. Perlahan ia langkahkan kakinya dengan hati me-langut, mulutnya pelan ikut bernyanyi:
Where did my baby go? I wonder where he ran off to... I miss my baby so
I’m calling but I can’t get through
Mata dia basah. Sebasah jalanan Jakarta yang akan dilaluinya. Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, disapunya air mata itu. Masuk dan turun, melepaskan semua yang berkecamuk dalam lift itu.
Sekali lagi ingin kuberitahukan bahwa ini bukan pertama kali aku melihat tetes mata keluar untuk se-orang ia. Cinta melimpah untuk ia seperti deras hujan hari ini. Sialnya, aku selalu melihat siapa yang terpe-rangkap di deras arusnya. Dan kalau pada satu hari aku bisa berbicara pada ia, akan kubilang:
“Aku adalah potongan senja yang kau ambil un-tuk pacarmu. Tinggal seperempat. Tiga perempatnya telah hancur oleh hujan yang kau ciptakan.”