A
kan kuceritakan kisah misteri paling pen-dek.Seseorang mengetuk pintu rumah manu-sia terakhir di dunia.
Dia membuka mata dan terkejut ketika mende-ngar ketukan itu.
“Ini tidak mungkin terjadi. Bukankah seharusnya aku berada di puncak gunung Everest, memakan su-permi mentah yang kutemukan dalam perahu hanyut, ketika dunia banjir saat aku membuka amplop berisi senja yang dikirimkan Sukab melalui pos?”
Namun ternyata, di sinilah dia berada: dalam se-buah rumah petak beratap bocor yang temboknya saja tidak dicat. Suara ketukan di pintunya itu masih saja menuntut perhatian, memperdengarkan suara ritmis ke telinganya. Dengan langkah digantungi jutaan ran-tai dan bola besi berbahan keraguan dan rasa takut, Alina mendekati pintu; satu-satunya bagian rumah yang dicat. Dia mengulurkan tangannya yang gemetar, memutar gagangnya, lalu membukanya.
Seorang pria mengenakan jaket bertudung berdiri di hadapannya. Jantung Alina berlomba. Belum ram-pung keheranannya akan kenyataan bahwa kini dia berada di sebuah tempat yang sama sekali tidak di-kenalnya, ditambah lagi kondisi bumi yang masih penuh dengan dataran kering, kini harus ditimpa oleh kehadiran seorang lelaki misterius. Sang laki-laki mengangkat kedua tangannya, menjangkau tepian ke-rudung jaketnya. Jantung Alina hampir memenangkan
lomba seraya dia melakukan itu, sebentar lagi akan loncat dari jeruji rerusuknya. Lelaki itu menyingkap kerudungnya.
Ekspresi kaget bercampur ngeri mewarnai wajah Alina yang mulai digerogoti usia. Kini tampak jelas muka yang barusan ditutupi kerudung itu. Jelas wajah itu dikenalnya. Alina memagari mulut dengan jari-jari-nya dan memekik.
“Ka-kamu ... tidak mungkin!” seru Alina. Butuh usaha yang besar baginya untuk menyelesaikan kali-mat itu. Beberapa patah kata barusan saja sudah membuatnya terengah-engah.
Setelah menjauhkan tangan kiri dari dagunya, Alina melanjutkan kalimatnya, “Kamu ... Sarman?”
Muka pria itu memang aneh. Sepotong trotoar tercekat di dahinya. Tapi justru itu yang membuat Alina mengenalinya. Ketika dia merespons pertanyaan Alina dengan anggukan, kepingan aspal kering yang telah mengelupas tergelincir dari permukaannya.
“Tapi ... bagaimana mungkin?”
Perlahan matanya menggerayangi penampilan laki-laki itu. Tangan kanannya adalah sebuah paving
kon-blok yang dipenuhi gelandangan dan pedagang kaki
lima, tak menyisakan ruang untuk pejalan kaki. Ta-ngan kirinya petak bidang beton lebar dan luas yang dijaga sepasang satpam, dengan hiasan tegel marmer dan pembatas jalanan dari besi berpelitur yang diling-kari dua garis kuning di dekat ujungnya. Badannya
jalan raya penuh lubang akibat erosi, sisa banjir besar lima tahun lalu.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya, meminta Alina memegangnya. “Ikut denganku.”
Alina melakukan apa yang akan dilakukan perem-puan manapun yang didatangi orang asing yang tak dikenalnya. Sebab, meskipun dia tahu nama laki-laki itu, Alina hanya mengenalinya dari ciri-ciri yang di-jabarkan sang juru cerita. Alina tidak mengenal Sarman secara langsung. Perempuan itu menepis tangannya.
“Apa-apaan ini? Aku tidak mengerti mengapa se-mua ini bisa terjadi. Seharusnya aku tidak berada di rumah ini, dan seharusnya, aku adalah manusia ter-akhir di muka bumi.” Alina berhenti sejenak untuk melihat pemandangan di belakang Sarman. Rumah-rumah di kejauhan, lapangan tanah dengan tiang ga-wang tempat beberapa anak bermain bola. Burung-burung gereja beterbangan. Belum lagi gembel dan pengemis yang berserakan di tangan kanan Sarman.
“Dan kamu! Kamu seharusnya ... kejadian di kantor itu .... Kamu melompat dari jendela, lalu ... lalu ....”
Sarman menghirup segala rasa di sekelilingnya dalam-dalam, termasuk semua emosi yang ditumpah-kan Alina kepadanya, lalu bicara.
“Juru cerita menceritakan segalanya kembali dari awal.”
Alina tertegun. Tentu saja dia tidak menerima jawaban itu bulat-bulat.
“Jawaban macam apa itu? Kalaupun sejarah ditulis ulang, semua peristiwa itu telah terjadi. Menceritakan kembali dari awal tidak mengembalikan segalanya seperti sediakala. Suamiku tetap tiada! Anakku tetap tiada!” Air mata terbit dari sudut mata Alina. “Semua telah terjadi!” isaknya lirih.
Lagi-lagi lelaki itu mengulurkan tangannya, me-minta Alina memegangnya. “Ikut denganku,” ulang-nya.
Sambil megap-megap mengisi paru-parunya de-ngan udara untuk menenangkan diri, Alina mengusap air mata yang telah berlinang dengan punggung ta-ngannya. Kini dia sudah tidak tersedan. Setelah pikir-annya sedikit lebih jernih dari kabut ketidaktahuan, Alina menyerap kembali segala informasi dan berusaha menganalisa situasi. Dirinya masih sendiri, hanya ber-pindah tempat, artinya suami dan anaknya yang tewas ditelan banjir tetap tidak kembali. Sarman pun masih menyisakan sepotong trotoar di dahinya, dia memang
telah melompat. Memang semua peristiwa telah terjadi, namun lingkungan di sekelilingnya menyuratkan bahwa dunia belum berakhir, bahwa dia bukanlah manusia terakhir di bumi. Hal itu masih menjadi pertanyaan besar di benaknya. Laki-laki yang berdiri di hadapan-nya ini merupakan satu-satuhadapan-nya harapan untuk men-dapatkan jawaban.
Alina memutuskan untuk ikut dengan Sarman, walau dia ragu apakah dia ingin memegang tangan kanannya atau tangan kirinya. Apakah dia ingin me-lewati trotoar yang penuh sesak dengan jiwa-jiwa pengadu nasib, atau trotoar megah yang dijaga satpam agar tak seorang pun boleh lewat? Yang pasti, tanpa kendaraan dia tidak boleh lewat jalan raya.
Perlahan Alina melepaskan diri dan keluar dari balik ambang pintu, tapi tetap tidak memegang tangan Sarman. “Mau kau bawa kemana aku?” tanya Alina defensif.
“Menemui juru cerita,” jawab sang lelaki.
Sebuah ledakan kecil terasa di dalam dada Alina, tepatnya di rongga antara rusuk dan jantungnya. Se-pertinya benar, Sarman adalah jalan menuju jawaban yang dicarinya. Ikut dengannya merupakan keputusan yang tepat.
“Apakah itu alasan mengapa kau datang kemari?” Laki-laki itu diam saja. Jidat Alina berkerut. Mereka berdua keluar dari halaman rumah petak sangat sederhana itu dan mulai menapaki jalan di
depannya. Jalan itu becek, penuh dengan genangan air. Sepertinya banjir besar memang benar-benar terjadi.
Mereka berdua melewati sebuah gedung besar, gedung yang dikenali Alina sebagai kantor pos. Di depannya duduk seorang pria separuh baya. Alina mengenalinya sebagai pak pos yang mengantarkan amplop berisi senja dari Sukab. Dia sedang duduk di tangga menuju pintu masuk, memegang topi pak pos-nya di tangan kiri dan menggaruk-garuk bagian bela-kang kepalanya dengan tangan kanan, sesekali meng-geleng-gelengkan kepalanya masygul. Wajahnya tampak sendu, seperti habis kehilangan pekerjaan. Mungkin juga memang itu yang terjadi, karena adalah kesalah-annya untuk tidak memeriksa isinya terlebih dahulu. Tapi itu juga tidak penting sekarang, karena kalaupun dia memeriksa isinya, apa yang terjadi kemudian tetap tak terhindarkan. Tidak mungkin tidak jika amplop itu dibuka maka kehancuran tetap melanda.
Alina dan Sarman mendaki bukit kecil. Merasakan beceknya rerumputan yang mereka pijak, daki-daki endapan dengki dan keangkuhan manusia yang terha-pus ketika banjir melanda kini terserap kembali oleh telapak kaki Alina melalui celah di sela sandalnya. Basah nan pekat, dingin dan licin. Banjir itu mungkin adalah satu-satunya yang dapat mencuci bersih penya-kit manusia. Iri dan kecemburuan yang tergambar jelas di tangan kanan Sukab, atau kesombongan dan apatisme yang terlukis gamblang di tangan kirinya. Dari punggung bukit itu mereka dapat melihat
pe-mandangan gunung-gunung kapur yang telah banyak keropos akibat erosi dari air bah yang meluap dari dalam amlop berisi senja. Lagi-lagi Alina teringat akan si bodoh Sukab yang mengiriminya senja.
“Masih jauh?” tanya Alina.
Sarman terlalu sibuk menyeimbangkan antara trotoar kumuh yang sempit dan penuh sesak di ta-ngan kanannya, deta-ngan trotoar lowong dan leta-ngang yang megah di tangan kirinya. Setiap sesekali air di genangan dalam lubang di badannya tumpah keluar. Alina menelan kembali pertanyaannya.
Bukit yang dijajaki kedua insan itu membawa mereka semakin tinggi. Kini mereka bisa melihat sebuah kota kecil di sisi yang berlawanan dengan pegunungan kapur. Kota kecil itu terlihat ramai dan begitu hidup, seolah kiamat berupa tum-pah ruahnya air bah yang me-nenggelamkan dunia hingga seba-tas puncak gunung Himalaya itu tidak pernah terjadi. Jika benar peristiwa yang terjadi di alam se-mesta ini disebabkan oleh juru cerita yang menceritakan segalanya kembali dari awal, berarti penga-ruhnya hanya parsial. Tidak se-galanya kembali seperti sediakala.
Di ujung jalan setapak yang mereka lalui, terdapat sebuah danau besar. Di tengahnya, sebuah pulau yang hijau nan indah. Sebuah perahu kecil tertambat di tiang pancang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sarman menarik talinya agar perahu tersebut mende-kat, lalu membantu Alina menaikinya. Rasa jijik jelas tergambar di wajahnya ketika melihat banyaknya bung-kus supermi kosong di lantai perahu tersebut. Bebe-rapa bahkan menjadi tenda tempat tinggal kecoa.
“Kita akan ke sana?” tanya Alina sembari menun-juk ke pulau tersebut.
Sarman hanya mengangguk. Dia melanjutkan mem-buka ikatan talinya ketika mereka berdua telah berada di atas perahu, kemudian mulai mengayuh dengan dayung kayu yang tergeletak di
dalam-nya.
Mereka melalui bagian danau yang airnya berwarna beda; cokelat kental dan berbuih, persis seperti capuccino. Anehnya lagi, permukaannya memantulkan ba-yangan rembulan, padahal langit terang benderang dan cerah, sama sekali tak menampak-kan rembulan.
Keisengan mulai merayapi tengkuk Alina. “Perja-lanannya masih jauh juga,” pikirnya. Dia mencelupkan tangannya di air coklat itu lalu mengecapnya.
“Rasanya ....” Betapa terkejutnya Alina ketika me-nyadari kalau air itu rasa capuccino.
Belum hilang isengnya dengan melakukan itu, Alina mengambil pasangan dayung yang tergeletak di lantai perahu. Sedari tadi, Sarman hanya mengayuh menggunakan satu dayung. Alina mengaduk danau rasa rasa capuccino yang terdapat bayangan rembulan-nya. Alih-alih mengaduknya, Alina malah menyodok-nya, dan menemukan kalau itu ternyata bukanlah bayangan, tetapi benar-benar rembulan yang meng-apung di permukaan danau.
Sontak Alina kaget. Dengan suara “Ah!” Alina melepaskan dayung itu seketika. Terempaslah ke air, mengambang begitu saja di permukaan danau. Jeritan kecilnya mengundang perhatian Sarman, yang kemu-dian hanya menggeleng pelan melihat ulahnya. Alina tersenyum kecut.
Menjelang senja, keduanya tiba di sebuah dermaga kecil di salah satu sisi pulau hijau itu. Sarman me-nambatkan perahu dan mengikat talinya ke salah satu tiang pancang sebelum membantu Alina turun.
“Awas kepalamu,” Sarman memperingatkan seraya mereka memasuki lorong tanaman berdinding bambu beratap ilalang dan randu.
Lorong tersebut seolah sebuah gerbang menuju dunia lain, karena di ujung lainnya, hari begitu gelap seperti sudah malam. Sama sekali tak tampak sisa keberadaan senja barusan, sedangkan mereka hanya berjalan beberapa menit melewati lorong tanaman itu. Mereka kini berada di sebuah padang rumput yang dinaungi langit berbintang. Sebuah bukit kecil
berben-tuk kubah berdiri tak jauh dari tempat mereka berada. Di tengah bukit tersebut terdapat sebuah gua, cahaya kuning kemerahan menari-nari di dalamnya.
“Juru cerita ada di dalam,” jelas Sarman.
Alina berhenti melangkah. Tangannya menarik sebelah tangan Sarman hingga dia terpaksa berhenti berjalan.
“Kenapa kamu membawaku ke sini?”
Kedua alis Sarman tampak merata. Potongan tro-toar di dahinya merosot turun seolah akan jatuh ke-tika dia melakukan ini.
“Aku bukan membawamu. Aku memang bertuju-an kemari, hbertuju-anya kupikir kau juga ingin ikut.”
“Oh ya? Memangnya mau apa kau menemui sang juru cerita?” Alina mengangkat sebelah alisnya.
“Aku mau mengajukan pertanyaan,” jawab Sarman sambil berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Butuh beberapa saat bagi Alina untuk menyerap dan mencerna jawaban barusan, sebelum mengejar Sarman yang sudah beberapa langkah di depannya.
Mereka akhirnya tiba di mulut gua. Sarman ber-henti berjalan dan menepi, memberikan ruang bagi Alina untuk lewat. “Dia ada di dalam.”
“Kamu ... tidak masuk?” tanya Alina curiga. “Nanti, waktuku belum tiba.”
Dengan langkah ragu, Alina melewati ambang gua. Tungkainya gemetar, merambat ke tulang kering, tertahan oleh tulang rawan di dengkulnya. Kakinya terasa seperti terbuat dari tanah liat. Sebuah tirai dari
temali yang menjalin serangkaian kerang berwarna merah dan jingga mengadang Alina, memaksa untuk disibakkan. Cahaya menari itu berasal dari balik tirai.
Sesosok laki-laki berdiri dalam keremangan gua, menghalangi cahaya dari beberapa lilin besar yang menyala di belakangnya, menciptakan sebuah siluet dengan bayangan yang lebih panjang dari sosok itu sendiri.
“Juru cerita?”
Siluet itu tidak bergerak. Alina melangkah lebih dekat. Sosok itu seperti hendak mundur untuk men-cegah Alina melihat wajahnya dari dekat, namun menyadari tidak ada ruangan di belakangnya, dia mengurungkan niat. Malah, dia melipir sedikit ke sisi kanan Alina. Tampaklah muka itu. Muka yang lekat tersalin dalam benak Alina, tak mungkin dilupa.
“Sukab?”
Sepasang mata—yang berusaha memberontak dari kegelapan yang menyelimuti wajah itu—mendelik, mengatakan jawaban yang jelas tak terucap kepada wanita cantik yang kini berdiri di hadapannya.
“Kamu ... si juru cerita?”
Sukab mengangguk dengan gerakan mikroskopis yang hanya tertangkap oleh mata Alina yang telah mengenal betul gestur dan gerak-geriknya. Begitu lambat.
“Apa artinya ini?”
Sukab menghentikan kata-kata Alina dengan meng-angkat telapak tangan kanannya. Dia mengerti betul perempuan itu hanya menginginkan jawaban, sebagai-mana yang diinginkan oleh semua perempuan. Otak laki-laki dan perempuan dirancang berbeda. Laki-laki dapat mengosongkan pikirannya selama 1 menit, tanpa ada satu hal pun yang dipikirkan. Perempuan tidak bisa seperti itu, mereka selalu memikirkan se-suatu. Oleh karena itulah terjadi friksi antara perem-puan—yang menganggap bahwa dalam benak sang pria ada sesuatu—dengan sang pria yang memang pikirannya kosong. Bagi pria, terkadang pertanyaan yang tak terjawab itu lebih baik dibiarkan sebuah misteri. Bagi perempuan, segalanya harus ada
jawab-annya. Tapi memang itulah yang akan diberikan Sukab kepada perempuan itu. Jawaban.
Jawaban atas segalanya, itu yang dicari oleh Alina. Mengapa Sukab mengiriminya sepotong senja, meng-apa Sarman melompat dari jendela kantornya, mengmeng-apa perempuan itu memesan rembulan dalam capuccino dan tak diminumnya, mengapa Sukab selalu berharap Alina akan menerima cintanya. Semua itu memang sudah merupakan rencananya sebagai sang juru cerita. Dia bercerita untuk memancing munculnya tanda tanya di akhir paragraf. Sukab pun menarik napas dan bersiap membuka mulutnya.
“Akan kuceritakan kisah misteri paling pendek di dunia.
Manusia terakhir di dunia ... mendapat ketukan di pintunya.” []