Perkara Mengirim Senja - first draft

200 

Teks penuh

(1)

PERKARA MENGIRIM SENJA

Sebuah Persembahan untuk Seno Gumira

(2)

© 2012 by Jia Effendie & Friends

Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit.

Penyelaras:

Pewajah Isi: Aniza Pujiati Ilustrasi: Lala Bohang

Penerbit PT Serambi Ilmu Semesta

Jln. Kemang Timur Raya No. 16, Jakarta 12730 www.serambi.co.id

Telp. 021-7199621 Cetakan I: April 2012 ISBN:

(3)
(4)
(5)

978-979-024-Gadis Kembang Valiant Budi Yogi

Perkara Mengirim Senja Jia Effendie

Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan

untuk Cinta, Alina Menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya

M Aan Mansyur Kuman Lala Bohang Ulang Putra Perdana Akulah Pendukungmu Sundea Empat Manusia Faizal Reza Saputangan Merah Utami Diah Kusumawati

Senja Dalam Pertemuan Hujan Mudin Em

Kirana Ketinggalan Kereta Maradilla Syahridar

Gadis Tidak Bernama Theoresia Rumthe Guru Omong Kosong Arnellis

Surat Ke-93 Feby Indirani Bahasa Sunyi Rita Achdris

Satu Sepatu, Dua Kecoak... Sundea 1 11 23 41 49 63 73 84

Daftar Isi

(6)
(7)

Gadis Kembang

Valiant Budi Yogi

(8)

T

aya mendongakkan wajahnya menghadap la-ngit. Sudah lama dia tidak menikmati pagi. Perempuan itu menggoyangkan kepala hingga rambut panjangnya berkilauan laksana gadis bintang iklan sampo. Taya lalu menghirup udara yang tidak lagi sepenuhnya segar akibat tercampur timbal motor ojek yang siap berkelana ke kota dan kumpulan kentut pagi para warga kampung.

Kenikmatan kadang menghilangkan kewaspadaan. Kebahagiaannya terpaksa sirna kala kakinya tersan-dung batu kerikil hingga dia jatuh tersungkur. Enam butir telur berhamburan hingga pecah, bertumbukan bersama beberapa buah buncis.

Seorang perempuan gemuk dengan rambut ber-hias rol lari keluar dari warung yang terletak tidak jauh dari Tempat Kejadian Perkara. Dia segera me-nolong Taya yang kini pasrah tiarap di atas tanah yang penuh kotoran ayam.

“Bu Taya, nggak pingsan kan?” Tanya si wanita penuh rol itu sambil menggoyang-goyangkan pundak Taya.

“Bu? Bu Taya?” Setelah gagal di daerah pundak, tangannya kini menepuk-nepuk kepala Taya bagai gendang. Belasan pasang kaki berhamburan mengeli-lingi Taya yang terbujur.

Sinar matahari meredup, seolah menyadari sang pengagumnya telah cedera. Gadis bintang iklan sampo itu resign secara tak terduga.

(9)

***

Sebuah kamar berukuran lima kali tiga meter, cukup luas untuk sekadar tempat tidur pribadi. Namun, itu ruangan yang sungguh sesak jika diisi belasan tubuh yang mengelilingi orang baru pura-pura pingsan. Iya. Ternyata pura-pura.

Taya menunduk sambil menggenggam gelas besar berisi teh manis hangat.

“Jadi tadi pingsannya bo’ongan?” sentak si perem-puan penuh rol.

“Udah kita gotong sampai capek-capek ke sini sambil nahan bau tai, ternyata pura-pura tiduran?” hardik yang lain.

“Maaf, saya malu. Kalo tadi tidak ada yang lihat, pasti saya langsung berdiri dan pulang.” Taya menatap beberapa pasang mata yang mendakwanya, lalu kem-bali menunduk.

“Buang-buang waktu saja. Mentang-mentang di-tinggalin suami, bukan berarti mesti cari perhatian kayak gini.” Tiba-tiba salah satu pendakwa bersuara lantang.

“Maaf, apa? Siapa yang ditinggal suami?” Mata Taya terbelalak. Sorotnya kini menghadang si penga-rang.

“Halah, Bu Taya, maaf ya, kita semua juga sudah tau, kalo suami situ lagi main gila ama si gadis kem-bang kampung sebelah.”

(10)

Taya tersentak. Tehnya sampai terhambur keluar gelas.

“Gadis kembang? Gadis bertato kembang kali maksudnya! Tato jelek gitu dipamer-pamerin. Kita ama dia cuma kalah susunya aja!”

“Pacarannya juga edan, gak liat tempat! Dari wisma sampai warung ditongkrongin! Warungnya Minah lagi! Iya kan, Minah?”

Sang tertunjuk, Minah, yang rambutnya dipenuhi rol itu mengangguk-angguk sambil melotot.

“Kamu harus segera bertindak, sebelum kampung kita ini kena bencana akibat ulah suami kamu!” Salah satu dari mereka menunjuk Taya bagai terpidana yang akan diberikan hukuman mati.

Taya merasa sekeliling kamar berputar-putar. Pe-rutnya mual. Gelas terempas dari tangannya hingga pecah di lantai. Dia kemudian tergolek pingsan. Kali ini tanpa kepura-puraan. Kali ini, tidak ada satu pun yang menggotong.

***

Setelah siuman dalam kesendirian, Taya melangkah terseok-seok di antara pepohonan pepaya. Setiap lang-kahnya terhiasi pandangan-pandangan setajam kaktus dan bisik-bisik ketus.

Atau mungkin ini cuma perasaan Taya saja. Memang ada beberapa hal yang sebaiknya tidak diketahui. Begitu tahu satu, semua tampak bau.

(11)

“Mang, ke gang Senggol  ya.” Taya menyerah, dia memutuskan bersembunyi dengan naik becak.

Setelah gulungan plastik penutup kursi penum-pang becak diturunkan, hati Taya mulai merasa te-nang. Dia mengunci bagian ujung rambutnya di bela-kang pundak seakan ingin mengikat, tapi kemudian kembali membiarkannya terurai.

Taya merebahkan tubuhnya ke sandaran, lalu memejamkan mata. Dia mengatur napasnya hingga merasa lebih santai.

Sayang, kenyamanannya tidak berlangsung lama. “Neng, kenapa gak pernah ngelabrak suaminya, sih?” Ketenangan Taya terkoyak. Tak pernah terduga si abang becak rumpi juga.

“Saya kemarin nganter suami si Neng sama sim-penannya itu. Saya gemes, pengen ngejuntrungin becak, tapi nanti kalo rusak, saya juga kan yang gak bisa kerja!” Racau si tukang becak penuh emosi.

Taya mendengus kesal. “Ya udah saya turun di sini aja, sebelum becaknya saya jungkir-balikin.” Taya menyimpan uang dua ribu rupiah di kursi, lalu me-nyelonong pergi.

“Lah, si Eneng kenapa marah? Kan saya mah cuma kasihan aja ...,” gumam si Abang Becak.

Kasihan memang seringkali menyakitkan.

(12)

Sungguh berat perjuangan Taya hari ini. Kakinya melangkah gontai di tepi lapangan sepi. Rumah ber-atap biru dan berpagar hijau mulai tampak di antara pepohonan bambu. Angin kencang menyibak rambut-nya. Awan mulai gelap.

Segerombolan anak kecil yang saling bergandeng-an tbergandeng-angbergandeng-an berputar-putar di tengah lapbergandeng-angbergandeng-an sambil menyanyikan irama bernada acak, “Istri banting tu-lang, suami kelayapan.”

Taya memegangi dadanya. Napasnya sempat ter-tahan beberapa detik. Lagu anak macam apa bisa

laknat begitu?

Taya mempercepat langkahnya. Bulir air dari la-ngit mulai membasahi tubuhnya. Tepat saat Taya membuka pagar, terdengar suara geledek yang sontak membuat bumi sunyi.

***

Rumah memiliki kekuatan magis bagi penghuninya. Penat Taya hilang sekejap saat aroma teh menyeruak ke seluruh ruangan.

Sambil menggenggam secangkir besar, Taya me-naiki tangga sempit melingkar menuju loteng yang penampakannya lebih menyerupai gudang. Di ujung ruangan, seorang pria meringkuk di balik selimut. Saat langkah Taya mendekat, si pria menurunkan se-limut hingga tersembul wajah kuyunya. Si Pria Berse-limut menekuk bibir bawahnya, mencoba tersenyum.

(13)

Taya menyimpan segelas teh di meja sebelah tempat tidur.

“Muka kamu kok kayak lagi nahan ngamuk?” “Udah ngamuk duluan malah,” ujar Taya sambil memegang kening Si Pria Berselimut. “Orang-orang udah makin usil. Dari tukang becak sampai anak kecil.”

Si Pria Berselimut mengambil handuk putih ku-sam lembap di sebelah kasur, menyimpannya di atas pelipis. “Aku sih terserah kesiapan kamu aja buat bi-lang ke semua orang.”

Taya mendengus. “Kita bisa saja siap. Tapi kalau mereka?”

***

Inilah pertama kalinya Taya berjalan di atas jembatan goyang tanpa berdendang. Kaosnya kusut. Pikirannya kalut.

Sungai di bawah kering kerontang, tapi tetap ada yang nekat mencuci pakaian.

Langkah Taya terhenti di depan sebuah rumah mungil bercat hijau.

Kala telunjuk Taya akan menuju tombol bel, pintu keburu dibukakan seorang wanita berkaos singlet putih.

“Taya ...” ia tersenyum sambil menyapa perlahan. “Kebetulan sekali, ada kabar baik yang ingin saya sampaikan,” sambung wanita itu sambil menyalami Taya penuh kehangatan.

(14)

Dia membalikkan badan, berjalan ke dalam ru-angan. Sebuah tato bunga mawar tampak terselinap di antara tali belakang singlet.

Setelah Taya membuka sepuluh halaman sebuah majalah lusuh yang terbit tahun lalu, Si Wanita Bertato Kembang kembali ke ruangan membawa secangkir minum dan sebuah amplop.

“Foto USG bayi kita ...”

Kita .... Taya menyambut amplop, berusaha

an-tusias.

Matanya memandang foto klise itu tanpa fokus. Pikirannya berusaha menyusun kata-kata yang tadi telah tersusun namun kini mendadak buyar.

Taya berdeham, mencoba menguatkan hati dan pita suara.

“Aku ingin pernikahan kalian diumumkan.” Rentetan kata panjang yang sebelumnya lebih

deskriptif kini terucap langsung pada intinya. Bibir Si Wanita Bertato Kembang sedikit

me-nganga. Dia mencoba mencerna ucapan Taya dan meyakinkan indra

pende-ngarannya.

“Euh, buat apa diumum-kan? Kan setelah anak

(15)

ini lahir, kita telah sepakat bila perkawinan bakal berakhir?”

“Tak perlu berakhir. Teruskan saja.”

Si Wanita Bertato Kembang terkesiap. Tangannya perlahan menekan-nekan perut.

***

Bisik-bisik ketus makin berembus, dari utara hingga barat daya.

“Sekarang suami Taya yang hidung belang itu udah kawin sama Si Wanita Bertato Kembang!”

“Iya yaa? Jadi poligami gitu? Kasihan Taya ya?” “Udah dicerai, kok?”

“Kejam sekali!”

“Loh, lebih kejam mana buat Taya? Dipoligami atau diceraikan?”

***

Taya menaiki tangga sempit melingkar dengan dada berdebar. Tangannya

ber-usaha keras memegang mangkuk berisi sup ayam.

Pintu terbuka, ada pemandang-an luar biasa. Si pria ypemandang-ang

(16)

selimut, kini berdiri tegak, merapikan rambutnya sam-bil bercermin.

“Aku tak perlu lagi menunggu tengah malam dan keluar lewat pintu belakang, kan?

Taya menggeleng sambil tersenyum. “Tapi aku senang mengendap-endap.”

“Yah kalo masih mau begitu sih, terserah.” Taya terbahak. Tawa lepas nan bebas pertamanya dalam beberapa bulan terakhir.

“Oh ya,” intonasi suara si pria berubah. Pasti akan ada pertanyaan atau pernyataan serius setelah ini. “Seandainya ... Seandainya saja, suatu saat, suamimu ... maaf, mantan suamimu tahu bahwa sebenarnya kau bisa mengandung. Bagaimana?”

Taya terdiam sejenak. “Aku tidak tahu. Yang aku tahu saat ini, aku cuma ingin sama kamu.”

Jemari mereka saling bergenggaman. Beradu pan-dang penuh harapan.

***

Bisik-bisik membuas luas.

Ada yang teperdaya, sebagian terlena, sisanya ha-nya bisa menerka.

(17)

Perkara

Mengirim

Senja

(18)

K

etika aku tiba di pesisir ini, senja baru saja melangkah. Aku dan senja saling menatap, saling menyapa. Betapa ayu senja kala itu. Ribuan keluang betebangan keluar dari gua-gua mereka di balik pohon-pohon yang rapat di Hutan Sancang di sebelah kiriku. Bena menampar-nampar karang. Mata-hari memantai dan hanya menyisakan semburat indigo. Ada ungu keemasan beraduk garis-garis horizontal merah bercampur hitam dan biru. Tak ada nyiur melambai dalam rangkaian tarian laut. Semata sunyi. Tetapi jika kau memasang telingamu dengan waspada, tentu kau bisa menangkap debur ombak pasang.

Tapi detik ini, hanya mata yang hirau akan senja itu. Jika kalong-kalong pada senja itu bercericau, atau peri-peri yang berupa kirana-kirana putih cerlang di lautan yang hitam itu menggumamkan senandung, aku abai. Karena kini, hanya lanskap senja saja yang menarik perhatianku.

Tentunya, ini bukanlah

(19)

dimasukkan ke dalam amplop untuk seorang pacar bernama Alina. Memang, ada angin dan debur ombak di senja yang kulihat kini. Tapi seperti su-dah kubilang tadi, tak ada lagi mentari, karena ia telah tergelincir jatuh dalam lekapan malam. Langit pun tak sepenuhnya berwarna keemasan seperti senja milik Sukab, tapi nila. Tak ada burung atau perahu seperti senja yang dikirimkan Sukab pada Alina.

Ah, menatap senja seistimewa ini tiba-tiba saja aku ingin mengerat senja itu jadi seukuran kartu pos dan mengirimkannya buat pacarku. Aku ingin ia memiliki lempengan senja yang ini, sebelum la-ngit sepenuhnya hitam dan satu-satunya petunjuk bahwa kau tengah berada di tubir pantai hanyalah dari suara air memukul-mukul daratan dan menye-ret serta pasir-pasir basah.

Sayang sekali aku tak siap. Aku kan tidak tahu kalau aku akan bertemu dengan senja seperti ini.

Sepotong Senja Buat Pacarku, Seno Gumira Ajidarma, 1991. Dari kumpulan

(20)

Mana aku ingat untuk menyiapkan pisau serta am-plop dan prangko untuk selempeng senja yang la-ngitnya penuh codot, yang di hutan-hutan yang menjadi kawan setianya tinggal harimau jadi-jadian yang jika pagi tiba kau dapat melihat jejak-jejaknya di pasir putih. Aku tak siap dengan amplop dan prangko, sementara kantor pos pun tak kutemui ada dekat sini.

Aku harus segera mengambil keputusan. Lima menit lagi, belum tentu langitnya tetap seperti ini. Aku tak mau mengirimkan senja yang hitam karena nantinya dia takkan bisa menatap semburat warna marun itu di antara dominasi violet dan biru. Dia juga takkan dapat melihat buih bergulung kembali ke pelukan samudra. Dia takkan mendapatkan se-mua visual itu jika langit telah gelap. Dia harus mendapatkannya utuh. Dia harus melihatnya sama seperti apa yang sedang kulihat saat ini; begitu memukauku.

Namun, ketika aku akhirnya menemukan se-suatu untuk memotong senja itu, aku teringat hal yang paling penting: tidak ada pacar untuk dikirimi senja.

Pertanyaan paling menganggu berdengung-de-ngung di kepalaku, menyengat-nyengat sel-sel kelabu otakku. Jika aku berhasil memotong senja ini, ke-pada siapa aku akan mengirimkannya?

Senja begini tak boleh dinikmati sendirian. Me-natapnya seorang diri akan membuatmu depresi.

(21)

Seperti ada jaring sepi yang dilempar dari langit dan merungkupimu dalam perangkapnya. Kau jadi seperti tersayat-sayat sendiri. Dipenjara kesunyian, digantung keheningan. Jadi, senja ini harus kukirim-kan secepatnya, agar efek dari senja ini tak mem-bunuhku.

***

Bibirnya adalah bibir paling manis yang pernah saya kecup. Yang paling menawan yang pernah saya sentuh. Saya hendak menyesapnya lagi, sedikit, sedikit, sedikit lagi ... hingga telepon genggam di atas meja kaca itu bergetar memekakkan sebuah ringtone polyphonic. Telingaku pengang. Bibir saya kering dan dahaga.

Saya ingin melempar benda itu jauh-jauh, tapi siapa tahu ini panggilan penting. Perempuan saya terduduk kaku, menyentuh bibirnya canggung. Mata-nya galak, menatap saya tajam bergantian dengan bergantian dengan ponsel yang merajuk-rajuk ingin dicemplungkan ke dalam bak mandi.

“Halo?” Saya menyapa setelah menekan tombol berlampu hijau itu.

“Selamat petang, Pak. Apakah Anda tinggal di kota tempat tumbuhnya pohon-pohon beton yang menjulang lebih tinggi dari pohon sesungguhnya? Apakah Anda sudah penat merasakan kemacetan dan menginginkan ketenangan? Apakah ruangan kerja Anda mencuri senja dari keseharian Bapak? Apakah Anda rindu menatap

(22)

senja yang tidak dihalangi pucuk-pucuk gedung? Saya di sini menawarkan solusinya untuk Anda!”

“Tunggu!” selaku, tetapi suara perempuan dari dalam telepon genggamku terus menyanyah tak ter-hentikan.

“Ini adalah produk baru yang tak akan Anda temu-kan di mana pun! Jika Anda mengingintemu-kan sesuatu yang lain dalam keseharian Anda, menambah produk-tivitas kerja maupun vitalitas, ini adalah produk yang tepat untuk Anda.”

“Maaf, tapi saya tidak ....”

“Benar, pilihan tepat jika Anda membeli produk yang saya tawarkan ini. Saya menjual sepotong senja dalam amplop. Anda tidak pernah dengar? Saya akan menceritakan sebuah kisah inspiratif. Saya yakin Anda akan tergugah dan tak sabar ingin memilikinya juga.”

“Saya tidak tertar—”

“Produk ini muncul setelah dipandang penting bagi manusia-manusia perkotaan seperti kita untuk berlibur tanpa perlu beranjak dari meja kerja! Ini adalah produk unggulan.”

Saya menutup telepon karena perempuan berbibir mengerucut seksi di hadapan saya sudah mulai tidak seksi lagi karena manyunnya semakin galak. Saya menatapnya, ingin mencubit-cubit bibir itu dengan bibirku. Saya mendekatkan wajah saya ke wajahnya. Tetapi telepon saya kembali meraung-raung. Saya ingin sekali mengabaikannya, tetapi tangan saya malah meraihnya dan lagi-lagi menekan tombol terima.

(23)

“Anda belum mendapatkan penjelasan sejelas-jelasnya tentang produk yang kami tawarkan. Sebaik-nya Anda tidak menutup telepon sebelum paham mengenai produk kami,” ancam suara perempuan itu. “Ini tidak akan memakan banyak waktu Anda, Anda tak perlu mengatakan apa pun, cukup dengarkan suara saya. Produk ini berawal dari sepotong senja yang dicuri seorang pemuda untuk pacarnya. Karena kebodohan, dia menjadi buronan polisi. Karena dia mengerat senja itu untuk urusan-urusan romantis. Anda tahu, cinta dan romantisme itu omong kosong. Seorang genius dari laboratorium kami terinspirasi dari kisah pemuda bodoh itu dan mengembangkan sebuah produk unggulan, yang lain daripada yang lain. Kecerdasan, dan bukan romantisme, yang mem-buat senja yang kami tawarkan. Jika Anda tertarik, kami bisa mengirimkan contoh gratis dan Anda dapat menikmatinya selama seminggu.

“Senja ini terdiri dari semburat langit ungu, suara debur ombak serta sayap kelelawar, wangi garam, pasir pantai, semua bisa Anda dapatkan tanpa perlu mendatangi tempatnya. Semua sensasi itu, mengikuti gambaran senja paling indah yang ada dalam pikiran Anda.”

Saya mulai tertarik, tetapi saya juga tahu kalau perempuan ini gila.

“Hebatnya lagi, Anda bisa menikmati senja ini kapan pun. KAPAN PUN!” ujarnya menekankan kata-kata terakhirnya. “Anda tak perlu menunggu senja

(24)

untuk menikmati senja. Anda tinggal membuka am-plopnya dan semua sensasi senja di tepi pantai akan terbaca oleh semua indra tubuh Anda.”

“Maaf, saya tidak tertarik.”

Pacar saya menatap saya, matanya bertanya, ingin tahu apa yang kami bicarakan di telepon. Saya menu-tup telepon genggam saya dengan tangan dan berkata pada pacar saya, “dia orang gila yang menawarkan sepotong senja.” Mata perempuan saya berbinar.

“Seperti senja Sukab untuk Alina?” tanyanya. Saya mengangkat bahu. Dia merebut telepon dari tangan saya dan mulai mencerocos menanyakan harga, garansi, pemasangan, juga ongkos kirim. Ketika selesai men-dapatkan semua informasi yang dibutuhkannya, pacar saya memberikan teleponnya kembali untuk saya.

“Ayang, kamu beliin yah ....” ujarnya manja. Saya menerima telepon itu enggan dan meletakkannya di telingaku.

“Apakah saya bisa membayar dengan kartu kredit?” tanya saya.

“Saya akan segera mengirimkannya kepada Anda, saya sendiri yang akan mengirimkannya. Itu garansi dari saya. Segera setelah Anda menyatakan kalau Anda mencintai saya,” ujarnya.

Baiklah, saya memutuskan. Sales girl, perempuan ini, siapa pun dia, jelas-jelas sinting.

Saya menutup telepon.

(25)

Aku menutup telepon.

Ada cengiran selebar seringai kucing Chesire di wajahku, terentang dari telinga ke telinga. Senang rasanya menemukan seseorang yang bisa kukirimi senja. Aku memilih dari rak-rak yang sudah dilabeli di hadapanku: Pantai Sancang, Pantai Kuta, Pantai Sawarna, Pantai Kiluan, Dream Land .... Rak-rak yang berkilauan gelimang senja. Aku mengambil senja yang bersemburat ungu. Senja pertama yang membuatku terpesona. Aku mendekatkan senja seukuran kartu pos itu ke mataku dan melihat beberapa ekor kelelawar keluar dari hutan lebat di sebelah kiri. Dominasi warna ungu itu dihiasi titik-titik cahaya; para peri senja yang baru terjaga.

Aku masih belum berhenti tersenyum. Sambil bersenandung, kumasukkan senja itu ke dalam am-plop, berhati-hati agar tidak tumpah.

Aku siap mengirimkannya.

***

Telepon dari sales promotion girl sinting itu meng-ganggu pikiran saya, juga membuat kekasih saya tidak waras. Setiap hari, dia terus menerus menanyakan apakah senja Sukab untuk Alina itu sudah sampai atau belum. Padahal, sales promotion girl di telepon kemarin dulu mengatakan kalau senja itu baru akan dikirim dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam. Seperti ketentuan wajib lapor RT. Lagi pula, bagaimana

(26)

caranya membayar dengan cinta? Dengan apa cinta diukur?

Sejak hari itu saya menjadi lebih sering memper-hatikan senja. Setiap pukul lima sore, saya menyenga-jakan diri berdiri di depan jendela kantor saya di lantai , menghadap barat, hanya untuk menatap senja sambil bertanya-tanya, bagaimana cara mengerat senja menjadi seukuran kartu pos, lalu memperbanyak dan menjualnya? Diam-diam, saya juga menanti-nan-tikan saat contoh sepotong senja itu datang.

“Aku akan memajang senja itu di ruang tamu. Biar semua orang yang datang ke rumahku iri,” ujar kekasih saya berkhayal.

***

Aku berdiri di depan pintu rumah-nya, merapikan rambutku, memeriksa pantulan wajahku di depan kaca jendela-nya. Dengan gugup, aku kembali melihat paket

senja yang kupegang. Begitu dia menerimanya, dia akan membayarku dengan cintanya. Lalu, penantianku selama sepuluh tahun

ini tidak lagi sia-sia.

Aku sudah mengenalnya sejak belia. Sejak kami masih

me-ngenakan seragam putih biru.

(27)

Sejak pertama menatap cokelat madu bola matanya, sudah ada alien bersarang di dada-ku. Awalnya hanya sebesar telur kecoak. Se-kecil itu. Kemudian seperti telur kecoak,

perasaanku menetas dan beranak pinak ber-bau kecoak di dadaku. Sudah ada jutaan ke-coak di dadaku. Menginginkannya. Men-cintainya dengan gila. MenMen-cintainya

dengan giat.

Dia tidak pernah balik meli-rikku. Dia tak pernah tahu warna mataku seperti halnya aku tahu di bagian tubuhnya yang terbuka di mana saja yang terdapat tahi lalat. Aku menyaksi-kannya berganti kekasih tetapi tak pernah aku. Aku yang paling tahu bagaimana

mencin-tainya, tetapi dia tak pernah cukup tahu aku untuk memilihku.

Kutatap senja di hadapanku de-ngan senyum masih lebar. Kuhirup aromanya. Aroma angin yang agak amis. Ombak yang mencolek-colek pantai seperti sedang mengajak bermain. Hanya untuk mempermain-kan, karena ombak tak pernah berencana menetap di pantai, ia selalu kembali bergulung ke lautan.

Aku mencelupkan jariku ke ombak mini dalam kartu pos itu.

(28)

Saya menemukan paket berisi senja di atas keset sela-mat datang di pintu rumah saya petang itu.

Awalnya, tentu saja saya tidak tahu bahwa paket tersebut berisi senja. Sebentuk senja paling indah dengan semburat ungu menyeruak menyilaukan netra. Saya berlama-lama menatapnya tanpa berkedip. Ada yang menarik perhatian saya selain keanehan senja yang ternyata bisa diperangkap menjadi seukuran kartu pos. Seperti ada yang berguncang-guncang di atas pasir. Seperti manusia. Seperti ada suara isak lirih. Saya mendekatkan senja itu ke mata. Saya seperti mengenalinya. Dua orang gadis. Suara tangisnya sayup di antara debur ombak.

Di senja yang manis dan memancang mataku itu, saya melihat sales girl penjual senja itu menangis. Saya juga melihat kekasih saya. Keduanya sedang berpeluk-pelukan sambil menangis.

(29)

Selepas

Membaca

Sebuah Pertanyaan

untuk Cinta,

Alina

Menulis

Dua Cerita Pendek

Sambil

Membayangkan

Lelaki

Bajingan

yang

Baru

Meninggalkannya

M Aan Mansyur

(30)

1

Celana Dalam Rahasia

Terbuat dari Besi

H

IDUP adalah sembunyi. Jika kau miskin,

kau harus tahu bagaimana menyembunyi-kan papa. Jika kau kaya, kau harus tahu bagaimana menyembunyikan harta. Jelek atau cantik, kau harus tahu bagaimana menyembunyikan rupa. Belajarlah seni menyembunyikan!

Ia masih ingat, kalimat-kalimat itu selalu diulang-ulang ayahnya di meja makan, setiap malam. Barang-kali itulah sebabnya ia bernama Rahasia. Ada lebih banyak kata-kata dalam diam.

Diam dan diamlah di depan suamimu! Sehari

sebelum ia dibawa suaminya ke kota ini, ayahnya sekali lagi mengulang kalimat itu padanya, seperti mantra-mantra. Rahasia ingat betul semua kata-kata ayahnya dan ia tak mau durhaka dengan melanggar-nya.

Suaminya seorang cerdas—tetapi kolot, wartawan sebuah majalah wanita. Suaminya, namanya Tiran, memberlakukan sesuatu yang sangat aneh dan kolot di rumahnya. Rahasia harus memakai celana besi se-tiap hari. Ia tidak pernah betul-betul mengerti kenapa harus mengenakan celana besi. Barangkali karena Tiran takut ia main serong dengan lelaki lain. Tetapi ini

(31)

dunia modern bukan zaman batu, pikirnya—hanya dalam pikiran, sebab ia harus diam. Kenapa celana harus terbuat dari besi? Barangkali karena majalah tempat Tiran bekerja terlalu sering memuat berita perselingkuhan.

Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor, Tiran selalu bertanya: Apakah kau sudah buang air? Perta-nyaan itu sudah dia hapal luar kepala. Kalau Rahasia mengangguk, Tiran akan menyuruhnya memasang celana besi itu lalu menguncinya. Kunci celana besi itu dibawa Tiran ke kantor dan tak ada kunci cadang-an. Celana besi—tentu saja celana dalam—yang ia kenakan setiap hari—pagi sampai sore—di kunci de-ngan gembok paling kuat. Gembok nomor satu, yang paling jempolan. Gembok itu dibeli dengan harga mahal. Kalau Rahasia menggeleng, Tiran akan menyu-ruhnya ke toilet dan menunggu sampai Rahasia sele-sai. Itulah ritual pagi di keluarganya. Ritual aneh.

Setiap hari Rahasia setia melakoni hal itu. Tak pernah ada kata penolakan pernah mengendarai lidah-nya. Rahasia diam dan melakukannya, ia selalu ingat pesan ayah—ada lebih banyak kata-kata dalam diam.

Untuk menghindari buang air besar saat Tiran berada di kantor, Rahasia tak boleh makan banyak makanan berserat sebab ia hanya boleh buang air besar setiap pagi dan malam. Ia juga tak boleh minum banyak air agar tidak buang air kecil di siang hari. Saat Tiran di kantor, ia sama sekali tak bisa ke toilet untuk urusan membuang air kecil apalagi buang air

(32)

besar. Ia harus menunggu Tiran pulang.

Sudah bertahun-tahun Raha-sia menjalani hal aneh itu. Tetapi

ia tak pernah boleh memban-tah, Rahasia adalah istri yang

memilih berkata-kata dalam diam. Setiap pulang kerja, Tiran akan membuka

gem-bok itu dan membiarkan ‘barang’ istrinya

menghi-rup udara segar. Itulah kesempatan bagi Rahasia untuk ke wc dan mem-buang ‘air-air’ yang dita-hannya seharian. Rahasia memang tak pernah bisa mengerti kenapa Tiran jadi begitu tidak percaya kepada-nya. Ia tak pernah mau berta-nya kepada Tiran tentang hal itu. Ia pernah berniat mengirim surat kepada ayah dan mertuanya, untuk mengadukan Tiran, tetapi setiap keinginan itu ada, ia selalu ingat kalimat-kalimat ayah. Diamlah!

Rahasia sebenarnya kesal diperla-kukan seperti itu, tetapi ia hanyalah se-orang istri. Ia harus menyembunyikan

(33)

perasaan itu. Setelah sekian lama hidup berdua, ia sudah tahu bagaimana menyem-bunyikan kesal: tersenyum. Setiap malam, di meja makan ia tersenyum menemani Tiran makan. Ia tersenyum menjawab ajakan Tiran bercinta. Ia tersenyum mencuci dan menyetrika baju dan celana Tiran. Ia tersenyum dan tersenyum—dan tentunya diam.

Bagi para tetangga, keluarga mereka adalah keluarga yang amat bahagia. Tak pernah ter-dengar suara orang bertengkar dari rumahnya. Tak pernah ada suara-suara piring atau kaca pecah karena perkelahian suami-istri, damai sekali. Kadang ibu-ibu di lingkungan tempat ting-galnya datang minta saran pada Rahasia: bagaimana membina ru-mah tangga agar bisa tetap rukun? Rahasia tersenyum dan tentu saja merahasiakan celana besi di balik roknya. Ia hanya mengulang kata-kata ayahnya: Ada lebih banyak kata-kata

dalam diam. Sekiranya di lingkungan

tempatnya tinggal pernah atau akan diada-kan lomba keluarga damai pasti

(34)

keluarga-nyalah yang menang. Ia dan Tiran akan mendapatkan piala.

Tiran yang selalu tiba di rumah sore hari, tak juga pernah bertanya apakah istrinya senang atau ti-dak diperlakukan seperti itu. Barangkali diam dan senyum Rahasia telah berkata cukup jelas bahwa istri-nya tidak keberatan dan senang-senang saja, no

pro-blem, tak perlu ada cross-check.

Rahasia betul-betul telah menguasai seni hidup, seni menyembunyikan. Ia sungguh tahu arti hidup, bahwa hidup adalah sembunyi. Sebelum tidur, seusai bercinta seperlunya, Tiran selalu memuja istrinya yang baik hati itu. Rahasia tersenyum dan memeluk Tiran. Lalu mereka tidur menyembunyikan segala apa-apa dalam dada masing-masing sampai pagi tiba dan cela-na besi harus dipasang lalu dikunci kembali.

***

RAHASIA tahu Tiran selingkuh dengan wanita lain, rekannya sesama wartawan. Tetapi ia menyembunyi-kan cemburu dengan senyum dan diam. Belajarlah menyembunyikan sesuatu! Setiap Rahasia ingin ber-tanya atau protes kepada Tiran, ia selalu ingat kata-kata ayah. Sekiranya ayah adalah guru dan apa yang Rahasia lakukan itu adalah latihan maka ia pantas mendapatkan nilai paling tinggi. Ia adalah murid yang mendapatkan juara satu di kelas. Rahasia tak lagi perlu belajar, ia sudah pintar.

(35)

Tak pernah ada satu keluhan berbunyi dari pita suara di lehernya. Tentang celana besi atau tentang perselingkuhan suami. Rahasia diam, sebab ada lebih banyak kata-kata dalam diam. Rahasia membersihkan rumah. Rahasia mencuci dan menyetrika pakaian. Rahasia memasak. Rahasia harus teratur buang air setiap pagi dan malam saja. Rahasia menghidangkan makan malam. Rahasia memijat dan melayani birahi suami. Semuanya ia lakukan dalam senyum. Sementara Tiran selingkuh di kantor dan kunci gembok di saku celananya.

Suatu hari, Rahasia melihat Tiran di mall bersama wanita lain. Tangan suaminya melilit serupa ular di pinggang wanita itu. Tetapi seperti biasa, saat suami tiba di rumah dan menyerahkan kunci. Rahasia masuk ke toilet. Membuat kopi untuk suami dan mengajak-nya duduk di beranda menikmati bunga-bunga dan udara sore, berbincang-bincang. Rahasia sama sekali tidak bertanya tentang siapa perempuan yang Tiran peluk tadi siang. Ia malah bertanya tentang berita apa yang akan diangkat majalahnya bulan ini atau apakah sebentar malam suaminya mau dipijat untuk menghi-langkan penat.

Saat berbincang di beranda, Tiran selalu bersema-ngat bercerita tentang berita-berita terbaru di majalah-nya atau tentang salah satu rekanmajalah-nya yang kedapatan main serong. Rahasia tahu Tiran selalu bohong, tetapi ia terlalu pintar menyembunyikan perasaannya. Rahasia manggut-manggut dan terus mendengar. Tiran terus

(36)

berbicara sampai pada perihal macet atau peminta-peminta yang menyebalkan di lampu merah. Tiran tidak terlalu lihai menyembunyikan rahasia. Rahasia selalu menemukan kebohongan itu menari-nari di mata Tiran. Tetapi Rahasia hanya diam dan terse-nyum.

***

SUATU malam di tempat tidur, Tiran bercerita kepada-nya tentang seorang artis cantik yang tertangkap basah selingkuh dengan suami orang. Selalu saja tentang selingkuh. Begitulah. Tiran berpikir dengan selalu bercerita tentang perselingkuhan orang lain, istrinya akan berpikir ia tidak suka selingkuh, setia.

Tiran mengatakan rencana tentang menulis sebuah artikel panjang tentang celana besi. Bahwa celana besi adalah cara paling ampuh untuk menjaga keabadian rumah tangga. Celana besi adalah metode paling baik agar angka perselingkuhan bisa ditekan.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Tiran. Rahasia menjawab dengan senyum.

“Bagus sekali. Kau bisa mengatakan bahwa kelu-arga kita telah mempraktekkan metode itu dan berha-sil. Hal itu bisa meyakinkan pembaca. Iya, kan?”

Beberapa minggu kemudian, seusai makan malam, Tiran melemparkan sebuah majalah ke pangkuan Ra-hasia. “Buka halaman !” Rahasia menuruti perintah

(37)

Tiran. Ia membaca sehalaman tulisan dan nama Tiran tertulis di bawah judulnya.

Rahasia membaca tulisan tentang celana besi. Ia tersenyum dan perasaan-perasaannya bersembunyi dengan aman di dadanya. Betul, Tiran menulis bahwa celana besi telah berhasil mereka terapkan dalam rumah tangganya seperti yang ia sarankan. Hasilnya, keluarga bahagia, rukun dan damai. Bebas selingkuh. Tiran menyarankan agar orang-orang yang sudah ber-keluarga meniru cara yang diterapkan ber-keluarganya. Bahkan Tiran menyarankan agar orang tua yang me-miliki anak gadis juga menerapkan hal tersebut untuk menjaga anak agar tidak melakukan seks bebas.

“Tunggu beberapa hari lagi aku pasti akan di-wawancarai beberapa stasiun televisi karena metode baru itu. Karena aku telah berhasil mengurangi angka perselingkuhan di kota ini, di negara ini. Karena aku telah memperbaiki moral bangsa.”

Rahasia tersenyum.

”Penerbit-penerbit juga akan berlomba meminta aku menulis buku tentang itu. Buku itu tentu akan laris, aku akan jadi orang terkenal!”

Tiran tertawa seperti penjahat di film-film. Rahasia cuma tersenyum.

Di tempat tidur, Rahasia kembali mengingat ka-limat-kalimat ayahnya. Hidup adalah sembunyi.

Bela-jarlah seni menyembunyikan! Sembunyikan rupamu! Sembunyikan hatimu! Ada lebih banyak kata-kata dalam diam.

(38)

Seusai birahinya rampung, Tiran bertanya tentang bagaimana tulisannya di majalah itu. Rahasia terse-nyum dan diam. Diam itu berkata: Alangkah

bodoh-nya suamiku tidak pernah memikirkan satu hal! Sudah lama aku selingkuh dengan tukang duplikat kunci.

(39)

2

Sehari Setelah

Istrinya Dimakamkan

D

ENGAN kedua tangan menutupi wajah, ia meraung-raung serupa anak kecil mengingin-kan sesuatu dari ibunya. Tas berwarna merah milik istrinya tergeletak di depannya, di atas meja bertaplak abu-abu. Itulah barang terakhir yang dipe-gang istrinya sebelum meninggal, tas itu, yang terlem-par sejauh lebih lima meter saat sebuah taksi yang melaju tinggi menghantam pinggangnya. Ia sedih me-mikirkan bukan tangan atau wajahnya yang dipegang perempuan itu terakhir kali.

Ia membuka tas itu untuk melihat barang apa saja yang ada di dalamnya. Ia menemukan sebatang cokelat dengan banyak gambar kacang mete di bungkusnya bersama barang-barang lain di sana. Ia membuka co-kelat itu dan memakannya di sela tangis yang sesekali masih meraung.

Alangkah sedih ia. Sebagai seorang lelaki yang tak mungkin mendapatkan anak, karena mandul, ia betul-betul kehilangan satu-satunya orang yang ia harapkan akan menemani sisa hidupnya. Ia tak mungkin bisa menemukan lagi wanita seperti istrinya itu, dan

(40)

me-mang ia tak menginginkan ada yang menggantikan-nya.

Istrinya adalah wanita yang sangat baik. Para te-tangga menyukai istrinya yang tak pernah lupa mena-ruh sebaris senyum di sela bibirnya. Teman kantor memanggil istrinya dengan Lady Diana.

Kemarin di acara pemakaman istrinya banyak benar orang yang datang. Bahkan banyak dari mereka yang sama sekali tidak ia kenal datang mengenakan pakaian serba hitam sekadar mengucap belasungkawa atau menepuk bahunya. Bergantian orang menaburkan bunga berwarna-warni di atas peti mayat istrinya. Liang tempat berbaring peti itu seperti tak bisa menampung banyaknya bunga-bunga yang dijatuhkan orang yang membawa kesedihan dan rasa kehilangan di wajahnya masing-masing. Itulah bukti baginya bahwa memang istrinya disayangi oleh orang-orang. Ia jadi ingat ta-yangan TV beberapa waktu lalu tentang acara pema-kaman Lady Diana yang penuh dengan bunga. Istrinya adalah Lady Diana, betul.

Hari ini ia tidak masuk kantor. Oleh pimpinan-nya, ia diberi izin untuk tidak masuk kerja selama tiga hari terhitung mulai hari ini. Tetapi justru itulah yang malah membuat hari ini sangat berat untuk ia lalui.

Ia semakin didera rasa kehilangan dan kenangan tentang hari-hari bersama istrinya. Dan tak ada yang bisa menghiburnya, tidak oleh berita kemenangan Tim

(41)
(42)

Sepakbola Indonesia di koran harian yang datang terlalu pagi, tidak oleh kicau burung tetangga, tidak oleh suara tergesa-gesa kendaraan di depan rumah, tidak juga oleh kopi yang untuk pertama kalinya ia buat sendiri. Tidak ada yang bisa membawanya pergi dari sedih. Tidak ada.

Ia mencoba menghibur diri dengan mengingat kata seorang temannya kemarin.

“Sebab Tuhan mencintai orang yang baik hati makanya ia dipanggil pulang lebih lekas.”

Tetapi beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa kalimat itu tak punya kuasa untuk meluruhkan sedihnya.

Rasa cokelat samar-samar masih lekat di lidahnya seperti air mata yang masih juga jatuh satu-satu.

Ia melanjutkan membuka tas istrinya untuk meli-hat barang-barang terakhir yang dibawa istrinya. Ada lipstik berwarna sama dengan warna tas itu. Sebenar-nya ia lebih suka melihat istriSebenar-nya tidak memakai pe-warna bibir. Tetapi orang lain selalu mengatakan pada-nya bahwa istripada-nya selalu bisa memakai warna di bibirnya yang serasi dengan pakaian dan suasana hati-nya sehingga setiap senyumhati-nya selalu saja membuat hati yang melihatnya segar seperti rasa permen mint di mulut. Tetapi kadang-kadang ia bersyukur atas komentar dari orang-orang itu sebab dengan begitu ia tidak merasa telah menjadi seorang suami yang suka mengatur-ngatur istrinya.

(43)

Kembali ia menemukan sebatang cokelat yang sama. Dan dengan alasan yang belum juga ia mengerti, ia kembali membuka bungkusnya lalu memakannya.

Rasa cokelat di lidahnya kembali membuat ben-dungan di matanya jebol. Ia memang sedikit heran, sejak kapan istrinya suka makan cokelat. Ia ingat suatu hari, waktu itu beberapa minggu setelah meni-kah, ia pulang dari kantor membawa sebatang cokelat untuk istrinya tetapi istrinya hanya menyimpannya di lemari es dan tidak memakannya sampai berminggu-minggu. Waktu ia tanya, istrinya dengan jujur menga-takan bahwa selain karena takut sakit giginya kambuh dan takut gemuk ia memang pada dasarnya tidak suka makan cokelat. Cokelat itu kemudian ujung-ujungnya menjadi hadiah untuk dirinya sendiri sebab suatu hari ia sendirilah yang memakannya.

Memang agak mengherankan kalau tiba-tiba di tas istrinya ia menemukan dua batang cokelat. Tetapi rasa ganjil itu tak berdaya di tengah kesedihan dan kehi-langan yang ruah serupa bah.

Ia menjilati sisa cokelat yang lekat di telunjuknya lalu melanjutkan membuka tas. Di sana ia juga mene-mukan alat-alat kosmetik selain lipstik. Ia tidak tahu apa saja namanya. Ia berhenti sejenak lalu tersenyum. Ia berpikir bahwa alangkah cantik hati istrinya sebab di usia yang sudah tidak muda lagi ia masih ingin selalu tampil cantik di depan suaminya. Istrinya tetap merawat diri, tentu saja karena ingin tetap tampil

(44)

cantik di hadapan suaminya. Ah, sekiranya ia bisa kembali sesaat saja. Ia akan mengatakan sebuah kali-mat yang selalu ia lupa ucapkan setiap pulang dari kantor.

“Kamu cantik sekali hari ini, Sayang!”

Benda berikutnya yang ia temukan di tas itu adalah ponsel yang menyisakan setengah baterai dan sebuah gambar amplop di sudut kiri atas menandakan ada pesan yang belum terbaca. Ia menekan tombol pembuka pesan lalu membaca kalimat yang tertulis di layarnya: Papa tunggu pukul !

Kembali ia menangis melihat pesan itu. Pesan yang ia kirim ternyata belum sempat dibaca istrinya. Barangkali saat ia mau membuka tas karena mende-ngar nada tanda ada pesan masuk, saat itulah taksi berwarna biru itu menabraknya. Ia menduga-duga. Ia kembali menangis. Ia merasa bersalah, kenapa tidak ia jemput saja istrinya di rumah lalu mereka bersama-sama makan malam di sana, sekalian ia bisa mandi sore dan ganti baju.

Ia letakkan ponsel itu lalu kembali mencari benda-benda lain. Ada kacamata. Ada sebotol kecil pil obat sakit kepala. Istrinya memang pengidap migraine akut, ia tahu itu. Ada pulpen dan buku catatan kecil.

Ia berhenti mencari. Ia membuka buku kecil itu dan menemukan di halaman pertama Things to do today! Belanja (jangan lupa beli anggrek)—BL—ke-temu teman lama—makan malam dengan suami, leng-kap dengan jamnya masing-masing. Istrinya memang

(45)

seorang perfeksionis dan pintar mengatur waktu. Itu membuatnya semakin merasa kehilangan seseorang yang nyaris sempurna sebagai manusia, atau sempurna sebagai istri.

Ia meletakkan notebook dan beralih pada sebuah sapu tangan berwarna peach dengan sulaman nama istrinya di salah satu sudutnya. Dan itulah yang mem-buat tangisnya yang sudah reda itu kembali meledak. Ia kembali terlempar jauh ke belakang mengenang masa-masa indah di waktu remaja dulu, saat mereka belum menikah. Sapu tangan itu adalah hadiah yang ia berikan pada saat Valentine Day bersama sebuah kaset bergambar hati warna merah. Istrinya masih menyimpan sapu tangan itu, bahkan membawanya ke mana-mana. Begitu juga cintanya padaku, begitu pi-kirnya.

Ia telungkup di atas meja tak tahan dengan dera sedih dan kopi tumpah mengotori taplak meja pula lantai yang berwarna putih. Alangkah sedihnya ia.

Setelah yakin badai kesedihan mulai reda, meski masih ada isak yang sesekali terdengar, ia kembali mencari apa-apa dalam tas istrinya. Benda terakhir yang ia temukan di tas itu adalah sebuah kotak yang membuatnya tiba-tiba berhenti menangis. Sekotak benda yang tidak ia percaya ada di sana. Sekotak benda yang sungguh tidak ia harap berada dalam tas istrinya. Sekotak kondom. Ya, sekotak kondom de-ngan isi yang tak lagi lengkap. Ia bertanya-tanya

(46)

da-lam hati, apakah istrinya memiliki kehidupan lain di luar yang tidak ia ketahui. Apakah istrinya ...?

Rasa cokelat di lidahnya masih terasa dan itu yang membuatnya kembali menutup wajah dengan tangan dan kembali meraung-raung.

(47)
(48)

Apa kurangnya dia?” “Tidak ada.”

“Lalu kenapa sekarang kamu ada di sini?” “Karena aku juga cinta sama kamu.”

***

BAHWA cinta memiliki kemampuan menggandakan diri untuk dua orang berbeda dalam kadar yang sama, baru saja terkuak. Aku sempat mengira jatuh cinta itu semata-mata aksi menyelamatkan diri dari hal-hal yang tidak perlu. One night stand yang diikuti sesal di pagi hari, atau flirting sia-sia setiap Sabtu malam. Jika ternyata kesakralan cinta pun sekusut ini, lebih baik aku menghabiskan malam bersama lelaki berbeda untuk menikmati rentetan nafsu yang tidak mengenal rasa.

Pertemuan dengan seorang bartender kurang ajar mengawali semuanya.

Setiap malam, dia mencampur cinta pada minum-an yminum-ang diraciknya untukku. Meludahinya, mengen-cinginya, dan memberakinya dengan cinta. Bukannya aku tak tahu itu, hanya saja tubuh ini sudah terlalu lelah dan dikuasai dahaga untuk peduli. Tiga puluh tahun mencicipi hidup, belum pernah sekalipun aku dijenguk cinta. Jadi, tidak salah bukan jika aku merasa hati kedaluarsa ini tidak perlu takut teracuni? Perasa-an intim hPerasa-anya muncul saat mendengar lenguhPerasa-an panjang para lelaki. Ada rasa hangat aneh yang

(49)

men-jadi candu, ingin lagi dan lagi. Terkadang aku mem-balas dengan rintihan singkat, atas nama sopan san-tun. Ibu pernah bilang kalau cinta seorang pria dapat diukur dari kadar lenguhannya, semakin panjang se-buah lenguhan maka akan semakin banyak cinta yang dikucurkan malam itu. Ya, satu malam saja.

Bartender kurang ajar itu bahkan tidak mendekati sedikit pun kriteria lelaki yang sering kuhadiahi le-nguhan. Setengah wajahnya dihiasi bekas luka bakar dan kakinya pendek sebelah, Aku tidak pernah peduli apa yang menyebabkannya. Setiap malam, aku dibuat risih dengan tatapannya yang siap menelan saat aku bernyanyi dan bergoyang di atas panggung. Dia akan berdiri mematung di belakang meja bar, di balik kabut kepulan asap rokok, memandang diam-diam tanpa terselip secuil pun hasrat. Dan aku selalu berhasil mengabaikannya tanpa usaha berarti.

Pada satu sore yang biasa saat bersiap untuk be-kerja, bongkahan di balik dadaku berdetak cepat da-lam irama yang tidak dapat kuikuti. Begitu kencang-nya, seolah-olah ia siap meloncat keluar. Aku begitu gentar karena tidak siap mati. Dengan bibir yang ter-oles gincu merah menyala, dalam becak aku meng-ubah haluanku menuju rumah sakit terdekat.

”Kamu bukan sakit jantung, ini jatuh cinta.” “Tapi aku tidak sedang jatuh cinta, Dok.” “Jadi kamu lebih pilih sakit jantung?” “Pilih yang tidak mahal, Dok.”

(50)

Aku pulang masih de-ngan jantung yang berdetak lincah. Keringat dingin mem-basahi seluruh tubuhku dalam gigil yang menyiksa. Ternyata jatuh cinta hanyalah semacam penyakit demam kurang ajar yang melonjak-lonjakkan jantungku seperti ingin melarikan diri dari rongga dada. Tak ada kupu-kupu cantik beterbangan dalam perut. Aku tak mengerti orang-orang berbahagia karena jatuh cinta.

***

Dia mendekap tanpa jarak, seakan tubuh ini terbuat dari porselen yang mudah pecah. Malam itu dia berbaring tenang di sebelahku. Matanya sesekali menatap langit yang sedang dibanjiri bintang.

Ka-sar wajahnya aki-bat bekas luka

yang bau apak

me-nempel rapat

(51)

pada pipiku yang merah muda. Aku merasa jijik se-kaligus menikmatinya. Sebelah kakinya yang lebih pendek mendekap erat betisku yang mulus. Kepalaku pening karena mual, tapi tidak ingin lepas

Seharusnya aku cukup kuat untuk membunuh kuman cinta yang tidak berguna ini. Aku mencium-nya. Aku tidak mau tahu, kuman cinta ini harus mampu menghidupi dan memberiku makan setiap hari. Oh, dan tentu saja membelikan gincu merah. Aku menciumnya sekali lagi dengan penuh hasrat.

Oh, kumanmu ini sungguh tidak berguna! Kami

ber-gumul hingga mentari mengintip malu-malu.

***

“Kamu cinta sama dia?” “Cinta setengah mati.”

“Katanya kamu jijik sama wajah cacat dia?” “Iya jijik, tapi cinta setengah mati.”

***

Setiap malam, si bartender kurang ajar setia melayang-kan tatapan yang sama ketika aku bernyanyi dan bergoyang di atas panggung. Hanya saja sekarang aku juga bernyanyi dan bergoyang untuknya. Beberapa waktu sekelompok lelaki pelenguh yang patah hati menatap nanar pada getaran tubuhku, memohon un-tuk dikasihani. Aku hanya menginginkan malam

(52)

ber-sama bartender kurang ajar. Selalu terbayang lenguhan pendeknya dan jeritan panjangku yang tidak pernah gagal memecah malam. Kala siang dan malam, hujan dan kemarau, aku menghabiskan hidup dengannya tanpa keluh dan tuntutan.

“Kalau kamu ingin menghabiskan malam dengan yang lain aku tak mengapa.”

Hatiku hancur seperti sedang dirajam. “Kenapa kamu bilang begitu?”

Dia mengusap bekas lukanya yang berminyak karena peluh. Titik-titik keringat sebesar kacang tanah bermunculan di tengkuknya.

“Kamu cantik seperti bidadari, dan itu tidak ber-langsung selamanya. Sudah semestinya bidadari me-nikmati waktunya dengan dewa yang gagah.”

Dia diam.

“Ketika waktumu menjadi bidadari telah usai, kamu akan terus bersamaku sampai kita berdua habis dimakan usia.”

***

Bartender kurang ajar itu sudah tahu sejak awal. Sang dewa gagah menampakkan sosoknya pada hari ber-ikutnya, ketika senja tengah bersiap mencumbu ma-lam. Tubuhnya memendarkan cahaya oranye mema-bukkan. Aku mengejang dalam diam sampai

melupakan kalimat yang kusenandungkan setiap hari, berharap mata tajam itu singgah

(53)

dan menelanjangi tubuhku. Seisi bar dibuat terpesona olehnya hingga menciptakan hening yang menggelitik. Lelaki dan perempuan menatap tanpa kedip. Konon, dewa gagah adalah putra seorang raja di negeri yang tidak mengenal istilah waktu dan kematian. Dia da-tang untuk membawa pulang seorang mempelai yang akan menyempurnakan keabadiannya.

Bartender kurang ajar menatap dari balik meja bar dan kepulan asap rokok. Matanya tetap sama, dengan setitik rasa kehilangan di sana.

Dadaku berdegup kencang, jauh lebih kencang dan tidak berirama daripada yang pertama kali. Aku menggelengkan kepala. Bukankah cinta hanya terjadi satu kali? Setidaknya itulah yang diajarkan dongeng picisan dengan akhir cerita bahagia. Aku sudah baha-gia dengan si bartender kurang ajar, kenapa mesti berdetak tanpa aku suruh? Dasar organ bodoh!

“Kamu jatuh cinta lagi.”

”Tapi aku sudah jatuh cinta, Dok ... waktu itu.” “Iya, tapi sekarang kamu jatuh cinta lagi.” “Tapi kenapa cinta yang sebelumnya tetap ada?” “Begitulah cinta.”

Marah sekali dengan cinta. Aku meninggalkan

rumah sakit yang sumpek beraroma orang mati de-ngan rasa penat yang tidak dapat kutahan. Barangkali

 Dari cerpen Seno Gumira Ajidarma: Hujan, Senja, dan Cinta

(001). Karakter bartender dan penyanyinya terinspirasi dari karakter di cerita pendek Seno Gumira Ajidarma: Lipstick, Atas Nama Malam (1)

(54)

mereka semua tewas karena kelelahan harus jatuh cinta berkali-kali dalam kehidupan yang begitu sing-kat. Hanya dua kali, dan aku sudah seperti mayat hidup. Aku ingin sekali kembali ke rentetan malam yang cuma dipenuhi lenguhan.

***

“Kamu lebih cinta aku atau dia?” ”Kalian berdua.”

”Tidak boleh harus memilih.” ”Aku mau dua-duanya.”

***

Bartender kurang ajar berdiri diam di balik jendela berembun, sabar menunggu sang waktu merenggut so-sok bidadari yang menyelimutiku. Aku menatap wajah buruknya penuh cinta dan kasih, lalu merangkul dewa gagah yang telah menghadiahiku keabadian.

(55)

Ulang

Putra Perdana

(56)

A

kan kuceritakan kisah misteri paling pen-dek.

Seseorang mengetuk pintu rumah manu-sia terakhir di dunia.

Dia membuka mata dan terkejut ketika mende-ngar ketukan itu.

“Ini tidak mungkin terjadi. Bukankah seharusnya aku berada di puncak gunung Everest, memakan su-permi mentah yang kutemukan dalam perahu hanyut, ketika dunia banjir saat aku membuka amplop berisi senja yang dikirimkan Sukab melalui pos?”

Namun ternyata, di sinilah dia berada: dalam se-buah rumah petak beratap bocor yang temboknya saja tidak dicat. Suara ketukan di pintunya itu masih saja menuntut perhatian, memperdengarkan suara ritmis ke telinganya. Dengan langkah digantungi jutaan ran-tai dan bola besi berbahan keraguan dan rasa takut, Alina mendekati pintu; satu-satunya bagian rumah yang dicat. Dia mengulurkan tangannya yang gemetar, memutar gagangnya, lalu membukanya.

Seorang pria mengenakan jaket bertudung berdiri di hadapannya. Jantung Alina berlomba. Belum ram-pung keheranannya akan kenyataan bahwa kini dia berada di sebuah tempat yang sama sekali tidak di-kenalnya, ditambah lagi kondisi bumi yang masih penuh dengan dataran kering, kini harus ditimpa oleh kehadiran seorang lelaki misterius. Sang laki-laki mengangkat kedua tangannya, menjangkau tepian ke-rudung jaketnya. Jantung Alina hampir memenangkan

(57)

lomba seraya dia melakukan itu, sebentar lagi akan loncat dari jeruji rerusuknya. Lelaki itu menyingkap kerudungnya.

Ekspresi kaget bercampur ngeri mewarnai wajah Alina yang mulai digerogoti usia. Kini tampak jelas muka yang barusan ditutupi kerudung itu. Jelas wajah itu dikenalnya. Alina memagari mulut dengan jari-jari-nya dan memekik.

“Ka-kamu ... tidak mungkin!” seru Alina. Butuh usaha yang besar baginya untuk menyelesaikan kali-mat itu. Beberapa patah kata barusan saja sudah membuatnya terengah-engah.

Setelah menjauhkan tangan kiri dari dagunya, Alina melanjutkan kalimatnya, “Kamu ... Sarman?”

Muka pria itu memang aneh. Sepotong trotoar tercekat di dahinya. Tapi justru itu yang membuat Alina mengenalinya. Ketika dia merespons pertanyaan Alina dengan anggukan, kepingan aspal kering yang telah mengelupas tergelincir dari permukaannya.

“Tapi ... bagaimana mungkin?”

Perlahan matanya menggerayangi penampilan laki-laki itu. Tangan kanannya adalah sebuah paving

kon-blok yang dipenuhi gelandangan dan pedagang kaki

lima, tak menyisakan ruang untuk pejalan kaki. Ta-ngan kirinya petak bidang beton lebar dan luas yang dijaga sepasang satpam, dengan hiasan tegel marmer dan pembatas jalanan dari besi berpelitur yang diling-kari dua garis kuning di dekat ujungnya. Badannya

(58)

jalan raya penuh lubang akibat erosi, sisa banjir besar lima tahun lalu.

Laki-laki itu mengulurkan tangannya, meminta Alina memegangnya. “Ikut denganku.”

Alina melakukan apa yang akan dilakukan perem-puan manapun yang didatangi orang asing yang tak dikenalnya. Sebab, meskipun dia tahu nama laki-laki itu, Alina hanya mengenalinya dari ciri-ciri yang di-jabarkan sang juru cerita. Alina tidak mengenal Sarman secara langsung. Perempuan itu menepis tangannya.

“Apa-apaan ini? Aku tidak mengerti mengapa se-mua ini bisa terjadi. Seharusnya aku tidak berada di rumah ini, dan seharusnya, aku adalah manusia ter-akhir di muka bumi.” Alina berhenti sejenak untuk melihat pemandangan di belakang Sarman. Rumah-rumah di kejauhan, lapangan tanah dengan tiang ga-wang tempat beberapa anak bermain bola. Burung-burung gereja beterbangan. Belum lagi gembel dan pengemis yang berserakan di tangan kanan Sarman.

“Dan kamu! Kamu seharusnya ... kejadian di kantor itu .... Kamu melompat dari jendela, lalu ... lalu ....”

(59)

Sarman menghirup segala rasa di sekelilingnya dalam-dalam, termasuk semua emosi yang ditumpah-kan Alina kepadanya, lalu bicara.

“Juru cerita menceritakan segalanya kembali dari awal.”

Alina tertegun. Tentu saja dia tidak menerima jawaban itu bulat-bulat.

“Jawaban macam apa itu? Kalaupun sejarah ditulis ulang, semua peristiwa itu telah terjadi. Menceritakan kembali dari awal tidak mengembalikan segalanya seperti sediakala. Suamiku tetap tiada! Anakku tetap tiada!” Air mata terbit dari sudut mata Alina. “Semua telah terjadi!” isaknya lirih.

Lagi-lagi lelaki itu mengulurkan tangannya, me-minta Alina memegangnya. “Ikut denganku,” ulang-nya.

Sambil megap-megap mengisi paru-parunya de-ngan udara untuk menenangkan diri, Alina mengusap air mata yang telah berlinang dengan punggung ta-ngannya. Kini dia sudah tidak tersedan. Setelah pikir-annya sedikit lebih jernih dari kabut ketidaktahuan, Alina menyerap kembali segala informasi dan berusaha menganalisa situasi. Dirinya masih sendiri, hanya ber-pindah tempat, artinya suami dan anaknya yang tewas ditelan banjir tetap tidak kembali. Sarman pun masih menyisakan sepotong trotoar di dahinya, dia memang

(60)

telah melompat. Memang semua peristiwa telah terjadi, namun lingkungan di sekelilingnya menyuratkan bahwa dunia belum berakhir, bahwa dia bukanlah manusia terakhir di bumi. Hal itu masih menjadi pertanyaan besar di benaknya. Laki-laki yang berdiri di hadapan-nya ini merupakan satu-satuhadapan-nya harapan untuk men-dapatkan jawaban.

Alina memutuskan untuk ikut dengan Sarman, walau dia ragu apakah dia ingin memegang tangan kanannya atau tangan kirinya. Apakah dia ingin me-lewati trotoar yang penuh sesak dengan jiwa-jiwa pengadu nasib, atau trotoar megah yang dijaga satpam agar tak seorang pun boleh lewat? Yang pasti, tanpa kendaraan dia tidak boleh lewat jalan raya.

Perlahan Alina melepaskan diri dan keluar dari balik ambang pintu, tapi tetap tidak memegang tangan Sarman. “Mau kau bawa kemana aku?” tanya Alina defensif.

“Menemui juru cerita,” jawab sang lelaki.

Sebuah ledakan kecil terasa di dalam dada Alina, tepatnya di rongga antara rusuk dan jantungnya. Se-pertinya benar, Sarman adalah jalan menuju jawaban yang dicarinya. Ikut dengannya merupakan keputusan yang tepat.

“Apakah itu alasan mengapa kau datang kemari?” Laki-laki itu diam saja. Jidat Alina berkerut. Mereka berdua keluar dari halaman rumah petak sangat sederhana itu dan mulai menapaki jalan di

(61)

depannya. Jalan itu becek, penuh dengan genangan air. Sepertinya banjir besar memang benar-benar terjadi.

Mereka berdua melewati sebuah gedung besar, gedung yang dikenali Alina sebagai kantor pos. Di depannya duduk seorang pria separuh baya. Alina mengenalinya sebagai pak pos yang mengantarkan amplop berisi senja dari Sukab. Dia sedang duduk di tangga menuju pintu masuk, memegang topi pak pos-nya di tangan kiri dan menggaruk-garuk bagian bela-kang kepalanya dengan tangan kanan, sesekali meng-geleng-gelengkan kepalanya masygul. Wajahnya tampak sendu, seperti habis kehilangan pekerjaan. Mungkin juga memang itu yang terjadi, karena adalah kesalah-annya untuk tidak memeriksa isinya terlebih dahulu. Tapi itu juga tidak penting sekarang, karena kalaupun dia memeriksa isinya, apa yang terjadi kemudian tetap tak terhindarkan. Tidak mungkin tidak jika amplop itu dibuka maka kehancuran tetap melanda.

Alina dan Sarman mendaki bukit kecil. Merasakan beceknya rerumputan yang mereka pijak, daki-daki endapan dengki dan keangkuhan manusia yang terha-pus ketika banjir melanda kini terserap kembali oleh telapak kaki Alina melalui celah di sela sandalnya. Basah nan pekat, dingin dan licin. Banjir itu mungkin adalah satu-satunya yang dapat mencuci bersih penya-kit manusia. Iri dan kecemburuan yang tergambar jelas di tangan kanan Sukab, atau kesombongan dan apatisme yang terlukis gamblang di tangan kirinya. Dari punggung bukit itu mereka dapat melihat

(62)

pe-mandangan gunung-gunung kapur yang telah banyak keropos akibat erosi dari air bah yang meluap dari dalam amlop berisi senja. Lagi-lagi Alina teringat akan si bodoh Sukab yang mengiriminya senja.

“Masih jauh?” tanya Alina.

Sarman terlalu sibuk menyeimbangkan antara trotoar kumuh yang sempit dan penuh sesak di ta-ngan kanannya, deta-ngan trotoar lowong dan leta-ngang yang megah di tangan kirinya. Setiap sesekali air di genangan dalam lubang di badannya tumpah keluar. Alina menelan kembali pertanyaannya.

Bukit yang dijajaki kedua insan itu membawa mereka semakin tinggi. Kini mereka bisa melihat sebuah kota kecil di sisi yang berlawanan dengan pegunungan kapur. Kota kecil itu terlihat ramai dan begitu hidup, seolah kiamat berupa tum-pah ruahnya air bah yang me-nenggelamkan dunia hingga seba-tas puncak gunung Himalaya itu tidak pernah terjadi. Jika benar peristiwa yang terjadi di alam se-mesta ini disebabkan oleh juru cerita yang menceritakan segalanya kembali dari awal, berarti penga-ruhnya hanya parsial. Tidak se-galanya kembali seperti sediakala.

(63)

Di ujung jalan setapak yang mereka lalui, terdapat sebuah danau besar. Di tengahnya, sebuah pulau yang hijau nan indah. Sebuah perahu kecil tertambat di tiang pancang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sarman menarik talinya agar perahu tersebut mende-kat, lalu membantu Alina menaikinya. Rasa jijik jelas tergambar di wajahnya ketika melihat banyaknya bung-kus supermi kosong di lantai perahu tersebut. Bebe-rapa bahkan menjadi tenda tempat tinggal kecoa.

“Kita akan ke sana?” tanya Alina sembari menun-juk ke pulau tersebut.

Sarman hanya mengangguk. Dia melanjutkan mem-buka ikatan talinya ketika mereka berdua telah berada di atas perahu, kemudian mulai mengayuh dengan dayung kayu yang tergeletak di

dalam-nya.

Mereka melalui bagian danau yang airnya berwarna beda; cokelat kental dan berbuih, persis seperti capuccino. Anehnya lagi, permukaannya memantulkan ba-yangan rembulan, padahal langit terang benderang dan cerah, sama sekali tak menampak-kan rembulan.

Keisengan mulai merayapi tengkuk Alina. “Perja-lanannya masih jauh juga,” pikirnya. Dia mencelupkan tangannya di air coklat itu lalu mengecapnya.

“Rasanya ....” Betapa terkejutnya Alina ketika me-nyadari kalau air itu rasa capuccino.

(64)

Belum hilang isengnya dengan melakukan itu, Alina mengambil pasangan dayung yang tergeletak di lantai perahu. Sedari tadi, Sarman hanya mengayuh menggunakan satu dayung. Alina mengaduk danau rasa rasa capuccino yang terdapat bayangan rembulan-nya. Alih-alih mengaduknya, Alina malah menyodok-nya, dan menemukan kalau itu ternyata bukanlah bayangan, tetapi benar-benar rembulan yang meng-apung di permukaan danau.

Sontak Alina kaget. Dengan suara “Ah!” Alina melepaskan dayung itu seketika. Terempaslah ke air, mengambang begitu saja di permukaan danau. Jeritan kecilnya mengundang perhatian Sarman, yang kemu-dian hanya menggeleng pelan melihat ulahnya. Alina tersenyum kecut.

Menjelang senja, keduanya tiba di sebuah dermaga kecil di salah satu sisi pulau hijau itu. Sarman me-nambatkan perahu dan mengikat talinya ke salah satu tiang pancang sebelum membantu Alina turun.

“Awas kepalamu,” Sarman memperingatkan seraya mereka memasuki lorong tanaman berdinding bambu beratap ilalang dan randu.

Lorong tersebut seolah sebuah gerbang menuju dunia lain, karena di ujung lainnya, hari begitu gelap seperti sudah malam. Sama sekali tak tampak sisa keberadaan senja barusan, sedangkan mereka hanya berjalan beberapa menit melewati lorong tanaman itu. Mereka kini berada di sebuah padang rumput yang dinaungi langit berbintang. Sebuah bukit kecil

(65)

berben-tuk kubah berdiri tak jauh dari tempat mereka berada. Di tengah bukit tersebut terdapat sebuah gua, cahaya kuning kemerahan menari-nari di dalamnya.

“Juru cerita ada di dalam,” jelas Sarman.

Alina berhenti melangkah. Tangannya menarik sebelah tangan Sarman hingga dia terpaksa berhenti berjalan.

“Kenapa kamu membawaku ke sini?”

Kedua alis Sarman tampak merata. Potongan tro-toar di dahinya merosot turun seolah akan jatuh ke-tika dia melakukan ini.

“Aku bukan membawamu. Aku memang bertuju-an kemari, hbertuju-anya kupikir kau juga ingin ikut.”

“Oh ya? Memangnya mau apa kau menemui sang juru cerita?” Alina mengangkat sebelah alisnya.

“Aku mau mengajukan pertanyaan,” jawab Sarman sambil berbalik dan melanjutkan langkahnya.

Butuh beberapa saat bagi Alina untuk menyerap dan mencerna jawaban barusan, sebelum mengejar Sarman yang sudah beberapa langkah di depannya.

Mereka akhirnya tiba di mulut gua. Sarman ber-henti berjalan dan menepi, memberikan ruang bagi Alina untuk lewat. “Dia ada di dalam.”

“Kamu ... tidak masuk?” tanya Alina curiga. “Nanti, waktuku belum tiba.”

Dengan langkah ragu, Alina melewati ambang gua. Tungkainya gemetar, merambat ke tulang kering, tertahan oleh tulang rawan di dengkulnya. Kakinya terasa seperti terbuat dari tanah liat. Sebuah tirai dari

(66)

temali yang menjalin serangkaian kerang berwarna merah dan jingga mengadang Alina, memaksa untuk disibakkan. Cahaya menari itu berasal dari balik tirai.

Sesosok laki-laki berdiri dalam keremangan gua, menghalangi cahaya dari beberapa lilin besar yang menyala di belakangnya, menciptakan sebuah siluet dengan bayangan yang lebih panjang dari sosok itu sendiri.

“Juru cerita?”

Siluet itu tidak bergerak. Alina melangkah lebih dekat. Sosok itu seperti hendak mundur untuk men-cegah Alina melihat wajahnya dari dekat, namun menyadari tidak ada ruangan di belakangnya, dia mengurungkan niat. Malah, dia melipir sedikit ke sisi kanan Alina. Tampaklah muka itu. Muka yang lekat tersalin dalam benak Alina, tak mungkin dilupa.

“Sukab?”

Sepasang mata—yang berusaha memberontak dari kegelapan yang menyelimuti wajah itu—mendelik, mengatakan jawaban yang jelas tak terucap kepada wanita cantik yang kini berdiri di hadapannya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :