• Tidak ada hasil yang ditemukan

Solidaritas Sosial

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

2.3. Solidaritas Sosial

Dalam penelitian ini, digunakan teori solidaritas sosial untuk mendeskripsikan tentang jenis-jenis solidaritas sosial yang ada dalam perkumpulan sosial semisal perkumpulan Pusat Pembangunan Sumber Daya Manusia Saroha (PPSDM Saroha) dan Ikatan Keluarga Batahan dan Sekitarnya dan lainnya di kota Medan. Solidaritas sosial terbentuk karena adanya realitas sosial dan interaksi sosial antara satu dengan yang lain. Di dalam kehidupan masyarakat membutuhkan solidaritas, memiliki sikap saling tolong menolong untuk kepentingan bersama, dan rasa tanggung jawab (Offer, 2019).

Solidaritas sosial merupakan elemen pergaulan manusia yang menekankan pada ikatan sosial kohesif yang menyatukan kelompok, yang dihargai dan dipahami oleh semua anggota kelompok (Douwes et al., 2018). Menurut Douwes solidaritas sosial menekankan kepada suatu keyakinan, memiliki sikap altruisme (peduli terhadap orang lain) dan adanya hubungan timbal balik. Lindenberg et al dalam Igwe (2020) menyebutkan ada lima pola yang menentukan tingkat solidaritas sosial yang dapat diamati dalam kelompok sosial yaitu:

1. Kerjasama 2. Keadilan 3. Dukungan

4. Menghindari pelanggaran norma dan, 5. Situasi

Dalam lima tahun terakhir, terdapat beberapa penelitian yang mengkaji tentang solidaritas sosial. Misalnya, Igwe et al (2020) yang meneliti tentang solidaritas dan perilaku sosial dalam membantu komunitas untuk mengelola pandemi COVID-19 di Nigeria. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sangat besar peranan solidaritas dan perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi COVID-19 dimotivasi oleh nilai moral, agama, dan norma budaya. Masyarakat dan berbagai komunitas mereka saling mendukung, mendidik, dan meningkatkan kesadaran tentang penyakit dan mendukung kelompok rentan. Penelitian lain yang dilakukan oleh Keles, Markova, & Fatah (2018) tentang peran jaringan solidaritas etnis dalam menentukan status migran asal Irak untuk mendapatkan akses pekerjaan di Inggris. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa solidaritas yang dibentuk antar migran asal Irak di Inggris untuk mendapatkan pekerjaan yaitu tidak didasarkan pada sikap altruisme, melainkan terkait dengan trauma kolektif, ingatan dan pengalaman serta mobilisasi politik anggota kelompok secara langsung yang diwujudkan melalui empati, simpati dan solidaritas dengan mereka yang membutuhkan, dan didukung oleh rasa tanggung jawab.

Merujuk pada beberapa hasil penelitian tersebut di atas, bahwasanya riset mengenai solidaritas sosial telah dikemukakan sebelumnya oleh Emile Durkheim.

Beliau merupakan tokoh sosiolog asal Prancis. Di dalam karyanya yang berjudul The Division of Labor in Society (1893) Durkheim mengamati kehidupan masyarakat yaitu dari masyarakat yang solidaritas mekanik di mana komunitas yang homogen hidup bersama tumbuh menuju solidaritas organis yang semakin heterogen, dan hubungan sosial yang terjalin berdasarkan kebutuhan dasar setiap individu. Pemikiran Durkheim diawali dengan munculnya fenomena sosial bagi

kehidupan manusia. Seperti gejala sosial yang terjadi pada masa revolusi industri di Inggris.

Menurut pandangan Durkheim masyarakat memerlukan solidaritas.

Solidaritas sosial dimaknai rasa persaudaraan atas dasar keyakinan, pekerjaan, seperjuangan, senasib dan kekerabatan (keluarga). Solidaritas menunjukkan pada suatu keadaan hubungan antara individu atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosi bersama (Wijaya, dkk, 2018). Solidaritas menggambarkan hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan bersama dalam kehidupan dengan didukung nilai-nilai moral dan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat sehingga memperkuat hubungan antar mereka.

Selanjutnya, Durkheim membedakan antara dua tipe utama solidaritas sebagai berikut:

1. Solidaritas sosial mekanik. Di dalam solidaritas mekanik ini merupakan suatu tipe solidaritas yang didasarkan atas persamaan bahwasanya solidaritas mekanik dijumpai pada masyarakat yang masih sederhana yang dinamakan

“segmental”. Di dalam kategori ini terdapat ciri-cirinya yaitu masyarakat ditandai oleh adanya kesadaran kolektif yang masih tinggi, masyarakat yang masih sederhana, tinggal tersebar, dapat menjalankan peran yang diperankan orang lain, pembagian kerja yang rendah, hukuman bersifat represif (memaksa) sehingga memperkuat hubungan di antara mereka. Pembagian kerja yang masih rendah maksudnya apa yang dilakukan oleh seorang anggota masyarakat biasanya dapat dilakukan pula oleh orang lain. Dengan demikian tidak terdapat saling ketergantungan antara kelompok berbeda karena

masing-masing kelompok dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan terpisah satu dengan lain serta masih terikat satu sama lain yang didasarkan pada emosional dan kepercayaan dan komitmen. (Nopianti, 2016).

2. Solidaritas sosial organik. Pada solidaritas ini terdapat pembagian kerja yang tinggi sangat memungkinkan terjadi perbedaan, masing-masing anggotanya tidak lagi dapat memenuhi semua kebutuhannya sendiri melainkan ditandai oleh saling ketergantungan yang besar dengan orang lain atau kelompok lain.

Di solidaritas organik Dilihat dari segi hukum lebih bersifat restitutif maksudnya dari hukum ini disesuaikan dengan penyimpangan yang terjadi.

Maka hukuman yang diberikan yaitu bersifat memperbaiki dan memberikan kesempatan bagi pelakunya untuk memperbaiki atas apa yang telah dilakukan (Sunarto, 2004).

Dari kalangan muslim, muncullah sosiolog terkenal yaitu “Ibnu Khaldun lahir di Tunisia, Afrika Utara, 27 Mei 1332,” (Ritzer, 2004: 8). Karyanya cukup dikenal secara luas yaitu Al-Muqaddimah. Pemikiran Khaldun memiliki persamaan terhadap pemikiran dari sosiolog Barat seperti Emile Durkheim.

Khaldun juga melakukan riset tentang masyarakat Badui, sifat sifat manusia, fenomena-fenomena sosial masyarakat desa, perkotaan dan peradaban umat manusia.

Khaldun memandang masyarakat Badui masyarakat yang tinggal di pedesaan atau pedalaman, mereka hidup di daerah Padang Pasir dan berwatak keras. Mereka hidup dengan cara bertani, menanam sayur, buah-buahan dan juga beternak seperti kambing, sapi, domba (Sujati, 2018). Kehidupan pada masyarakat ini saling membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup dan masyarakat ini

memiliki ikatan solidaritas sosial (asabiyah) yang kuat. Masyarakat kota dimaknai masyarakat yang hidup di perkotaan dengan hidup serba kemewahan. Dalam masyarakat kota ikatan solidaritasnya (asabiyah) lemah. Pemikiran Ibn Khaldun tentang bermasyarakat bahwa manusia senantiasa hidup berkelompok, saling ketergantungan dan tidak mampu hidup sendiri dan membutuhkan orang lain.

untuk mencapai tujuan yang sama dari setiap individu. Maka betapa pentingnya asabiyah diwujudkan di antara mereka. Dari pemikiran Khaldun mengenai perubahan sosial, tidak hanya terhadap masyarakat tetapi mengenai persoalan politik dan negara.

Menurut Ibn Khaldun pentingnya asabiyah di dalam struktur negara dan politik karena, berdirinya suatu negara berkenaan dengan realitas penduduk (masyarakat) Keadaan sebuah penduduk tersebut dilihat dari faktor psikologis bahwa masyarakat tidak mungkin mendirikan negara tanpa didukung perasaan persatuan dan solidaritas yang kuat. Selanjutnya bahwa proses pembentukan negara itu harus melalui perjuangan yang keras dan berat. Apabila pemimpin tidak mampu menaklukkan lawan (musuh) maka dirinya sendiri yang akan kalah dan negara tersebut akan hancur. Oleh sebab itu, dibutuhkan kekuatan yang besar untuk mewujudkannya. Dan peran agama juga dapat membentuk memperkuat asabiyah dalam menghadapi suatu permasalahan (Alam, dkk, 2019). Dari fokus penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih luas tentang solidaritas sosial perantau Ranah Batahan Pasaman Barat dala menjaga harmoni keluarga di kota Medan.