FISHING VALLEY
6.1. Gambaran Umum Konsumen
6.2.2. Sosial, Budaya, Demografi dan Lingkungan
Faktor sosial, budaya, demografi dan lingkungan yang mempengaruhi kelangsungan usaha Wisata Mancing Fishing Valley diantaranya adalah tren wisata saat ini, frekuensi memancing yang cukup sering bagi hobiis memancing, peningkatan jumlah penduduk Jabodetabek, curah hujan di Bogor, dan penyebaran wabah Koi Herpes Virus (KHV) pada ikan mas di wilayah Jawa Barat.
6.2.2.1. Tren Wisata
Perubahan pola konsumsi wisatawan merupakan aspek sosial budaya yang perlu mendapatkan perhatian. Pola konsumsi wisatawan saat ini cenderung bergeser untuk menikmati obyek wisata yang berbasis alam dan lingkungan atau lebih dikenal dengan istilah back to nature. Selain tren wisata back to nature, salah satu kebiasaan wisata yang sering ditemui adalah kebiasaan untuk melakukan wisata bersama-sama keluarga maupun rombongan. Keluarga yang cenderung ingin memanfaatkan waktu luang dan melepas kejenuhan umumnya melakukan rekreasi pada hari-hari libur. Konsumen keluarga dari pemancing merupakan pangsa pasar yang dibidik oleh Fishing Valley sebagai obyek wisata mancing keluarga. Selain itu, tren rekreasi rombongan juga menjadi fenomena wisata saat ini. Perusahaan, kantor maupun instansi umumnya memiliki agenda tahunan untuk melakukan wisata rombongan. Tren ini merupakan peluang yang dapat diambil oleh pengusaha wisata di Indonesia termasuk Wisata Mancing Fishing Valley.
6.2.2.2. Hobi Memancing Terkait dengan Frekuensi Memancing yang Sering
Faktor hobi dan kesenangan merupakan salah satu alasan wisatawan untuk menikmati obyek wisata yang spesifik sebagai tempat untuk menyalurkan hobi dan memanfaatkan waktu luang. Gaya hidup masyarakat saat ini yang lebih modern, cenderung memiliki tingkat konsumsi yang tinggi termasuk dalam menggunakan uangnya untuk memenuhi kepuasan dan mencari kesenangan. Hobi memancing identik menjadi kesenangan bagi hobiis memancing dengan frekuensi memancing yang cukup sering. Sebagian besar mereka yang mengunjungi kolam pemancingan memiliki tingkat hobi yang tinggi dalam memanfaatkan waktu luang. Hobi yang tinggi pada kegiatan memancing dan frekuensi memancing yang cukup sering dalam memanfaatkan waktu luang menjadi peluang yang besar bagi keberadaan usaha pemancingan termasuk Wisata Mancing Fishing Valley.
6.2.2.3. Perkembangan Jumlah Penduduk DKI Jakarta dan Jawa Barat Penduduk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya serta penduduk Jawa Barat khususnya Bogor, Depok dan Bekasi merupakan pangsa pasar bagi Fishing Valley sebagai salah satu obyek wisata mancing di Kabupaten Bogor. Penduduk DKI Jakarta dan Jawa Barat dari tahun 2004 hingga 2007 cenderung mengalami peningkatan (Tabel 13).
Tabel 13. Jumlah Penduduk DKI Jakarta dan Jawa Barat Tahun 2004-2007
Wilayah Tahun (Orang)
2004 2005 2006 2007 DKI Jakarta* - 8.603.776 8.839.247 9.064.600 Jawa Barat** 39.140.812 39.960.869 40.737.594 41.483.729 - Kab. Bogor 3.945.411 4.100.934 4.216.186 4.316.236 - Kab. Bekasi 1.917.248 1.953.380 1.991.230 2.032.008 - Kota Bogor 833.523 844.778 855.846 866.034 - Kota Bekasi 1.931.976 1.994.850 2.040.258 2.084.831 - Kota Depok 1.353.249 1.373.860 1.393.568 1.412.772
Sumber : * ) BPS DKI Jakarta (2009)
Jumlah penduduk DKI Jakarta dan Jawa Barat khususnya wilayah Kabupaten Bogor dan Bekasi serta Kota Bogor, Bekasi dan Depok yang cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun menjadi peluang yang harus dimanfaatkan oleh Fishing Valley untuk meningkatkan jumlah pengunjung demi kelangsungan aktifitas usaha secara berkelanjutan.
6.2.2.4. Curah Hujan di Bogor
Bagi Wisata Mancing Fishing Valley yang menyajikan wisata alam, faktor lingkungan alam seperti hujan juga berpengaruh pada jumlah kunjungan konsumen. Bogor dikenal dengan sebutan kota hujan. Menurut informasi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor hal itu dikarenakan hujan di Bogor tetap turun saat musim kemarau terjadi di wilayah Indonesia pada periode bulan Maret hingga Oktober. Bogor memiliki curah hujan 70 persen hari dalam setahun yang diguyur hujan.
Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor, perkiraan curah hujan pada tahun 2009 di wilayah Bogor adalah 300-400 mm/bulan dengan sifat hujan pada umumnya normal. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember hingga Januari. Curah hujan normal, diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah Bogor. Sifat hujan bawah normal, terjadi di Cigudeg tengah bagian Timur. Untuk curah hujan di atas 400 mm, diperkirakan terjadi di Nanggung Selatan, Leuwiliang Selatan, Cibungbulang Selatan, Ciampea Selatan, Ciomas Selatan, Cijeruk, Ciawi, Caringin, Kedung Halang Tengah, dan Selatan, Citeureup tengah dan selatan, Jonggol tengah dan selatan, serta Cariu tengah dan selatan9.
Faktor turun hujan dalam setahun di Bogor yang tergolong sering sangat mempengaruhi kedatangan konsumen untuk berwisata. Selain itu, lokasi Fishing Valley yang berada di sekitar wilayah Kedung Halang dipengaruhi oleh curah hujan daerah tersebut yang berada di atas normal. Pengaruh faktor hujan secara signifikan menyebabkan penurunan jumlah kunjungan konsumen ke Fishing Valley. Hal ini dikarenakan faktor turun hujan dapat mengurangi minat dan kenyamanan dalam melakukan aktifitas rekreasi khususnya memancing.
9Anonim. Waspadai Bencana di Musim Hujan. http://newspaper.pikiranrakyat.com. [23 April 2009]
6.2.2.5. Penyebaran Wabah Koi Herpes Virus (KHV) pada Ikan Mas
Faktor lingkungan lainnya yang mempengaruhi usaha pemancingan termasuk Fishing Valley adalah terdapat penyebaran wabah KHV pada ikan mas. Sejak terjadinya wabah ikan mas yang disebabkan oleh KHV pada tahun 2002, produksi ikan mas di Indonesia mengalami kelesuan hingga saat ini. Koi Herpes Virus (KHV) merupakan penyakit virus yang menyerang ikan mas dan koi. Infeksi KHV ditandai oleh terdapat bercak merah atau kerusakan insang serta kematian masal pada ikan yang terserang. Selain itu biasanya diikuti oleh terjadi infeksi sekunder berupa luka atau bercak putih di permukaan tubuh yang diinfeksi oleh bakteri seperti Aeromonas hydrophila ataupun Flexibacter columnaris. Hingga kini penyakit virus sulit untuk diberikan perlakuan pengobatan karena virus berada di dalam inti sel10.
Hasil monitoring Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi (2002-2005), menunjukkan bahwa virus KHV menyerang semua stadia ikan mas/koi. Berdasarkan data penyebaran virus KHV di Indonesia, hampir semua wilayah dimana terdapat berbagai strain ikan mas terserang virus KHV. Virus KHV telah menyerang ikan mas yang berada di daerah Blitar, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Sumatera dan Kalimantan11.
Penyakit KHV dapat menyebabkan kematian massal 80–100 persen dari populasi ikan mas. Akibat dari serangan ini, banyak pembudidaya yang beralih pada komoditas lain. Hal ini karena sudah tidak ada lagi induk yang akan digunakan dalam produksi atau usahanya sering mengalami kerugian akibat serangan penyakit. Keadaan ini tentu saja dapat berakibat pada plasma nutfah strain ikan mas yang umumnya berasal dari beberapa daerah di Jawa semakin berkurang. Tindakan karantina merupakan metode yang paling sering digunakan untuk menghindari masuknya KHV ke dalam populasi ikan mas yang sudah lama dipelihara12.
10Mudjiutami E et al. Pemanfaatan Immunostimulan untuk Pengendalian Penyakit pada Ikan Mas.
Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 1 Mei 2007 (1-9). http://www.dkp.go.id. [15 April 2009].
11Mudjiutami E et al. Uji Toleransi Berbagai Strain Ikan Mas Terhadap KHV. Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 2 Nopember 2007 (37-41). http://www.dkp.go.id. [15 April 2009].
Wabah virus KHV pada ikan mas yang menyebar di pulau Jawa khususnya di Jawa Barat, memberikan ancaman bagi petani-petani budidaya ikan mas. Hal ini juga memberikan ancaman bagi ketersediaan dan kondisi ikan mas dari pemasok Fishing Valley yang menampung ikan-ikan dari petani. Penyebaran wabah KHV pada ikan mas di Jawa Barat menyebabkan pasokan ikan di Fishing Valley juga pernah terjangkit oleh virus ini.