• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. GAMBARAN UMUM KOMPAS

B. ANALISIS WACANA BERITA KOMPAS

3. Tema: Kondisi Pendidikan, Kesehatan, dan Kesejahteraan

Masyarakat di Daerah Tapal Batas Indonesia

a. Analisis Struktur Makro

Kompas berusaha intens dalam pemberitaan terkait tema ketiga rubrik “Nasionalisme di Tapal Batas” ini dengan menyajikan delapan berita.

commit to user

120

Ketiadaan sekolah formal membuat sekolah hutan yang didirikan lembaga swadaya masyarakat Yayasan Citra Mandiri sejak setahun lalu itu langsung disambut gembira warga Sangong. Begitu haus akan pendidikan, kini ada dua kelompok masyarakat tetangga Sangong yang berebut agar sekolah hutan diadakan di dekat daerah mereka.

(Korpus 89: Kompas, 20 Agustus 2009) Keterbatasan fasilitas pendidikan bukanlah satu-satunya persoalan di pelosok Siberut itu. Pelayanan kesehatan juga tidak ada di Sangong. Sejak tahun 2007 memang telah ada sebuah puskesmas di Siberut Selatan dengan 2 dokter, 21 perawat, dan 5 bidan. Namun, sampai sekarang tidak satu pun tenaga medis itu yang ada di Sangong. Akibatnya, pengetahuan dan kualitas kesehatan warga dusun tersebut sangat minim.

(Korpus 90: Kompas, 20 Agustus 2009)

Kondisi pendidikan di pedalaman Siberut masih jauh dari layak. Hal ini disebabkan karena minimnya sarana penunjang belajar seperti sekolah, sehingga ada beberapa warga yang berinisiatif mendirikan sekolah hutan. Selain pendidikan, pengetahuan dan kualitas kesehatan masyarakat pedalaman Siberut juga masih sangat minim. Tugas pemerintah untuk memberikan jaminan dan pelayanan kesehatan juga belum maksimal, malah cenderung menurun dengan tidak adanya tenaga dan ahli medis yang bertugas di Sangong, Siberut.

Sebagai veteran, Nayau rupanya tak lagi mendapat pensiun – sebagaimana nasib panglima Abio di Dusun Punti Tapou, Desa Nekan, Kecamatan Entikong.

(Korpus 91: Kompas, 20 Agustus 2009) Abio dan Nayau, karena ketidakmapuan ekonomi mereka, hingga kini masih tinggal di tanah dusun kelahiran mereka. Uang pensiun dan jatah beras tak lagi mereka terima, kecuali pangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda) tituler karena jasanya.

(Korpus 92: Kompas, 20 Agustus 2009)

Kondisi kesejahteraan bagi masyarakat di perbatasan Kalbar- Serawak juga belum membaik. Hal itu dipertegas dengan korpus 30 dan 31 Kompas yang memberitakan panglima-panglima di perbatasan yang berjuang untuk menjaga keutuhan NKRI namun balas jasa yang diberikan negara tak setimpal dengan jasa yang mereka berikan. Mereka yang di

commit to user

121

masalalu ikut berjuang menjaga kestabilan keamanan, sehingga kesejahteraan masyarakat bisa terwujud, namun timbal balik yang diberikan negara belum bisa memberi kesejahteraan bagi mereka.

Untuk di wilayah utara Kaltim, kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nunukan Jabbar, pertanian di Sebatik paling maju. Kemajuan ini terjadi selain karena para petaninya rajin dan tanahnya subur, mereka juga bergairah lantaran memiliki pasar yang jelas, yakni ke Tawau.

(Korpus 93: Kompas, 20 Agustus 2009) Yang mesti dilakukan pemerintah sekarang, kata Syafaruddin, adalah memacu pembangunan di wilayah perbatasan kaltim ini dengan fokus memajukan kesejahteraan masyarakatnya. Bukan sebaliknya, mereka terus dibiarkan mencari hidup sendiri terus bergantung dari negeri jiran.

(Korpus 94: Kompas, 20 Agustus 2009)

Untuk daerah perbatasan Kaltim-Malaysia, kesejahteraan disana jauh lebih baik. Hal ini karena mereka bisa mengembangkan pertanian di kawasan perbatasan dengan baik. Namun ketergantungan dengan negeri tetangga masih kuat. Para petani Sebatik lebih memilih menjual hasil-hasil buminya ke Tawau Malaysia dengan alasan pasar yang jelas, sehingga hasil bumi mereka habis terjual. Melihat hal ini, seharusnya pemerintah lebih memberikan perhatian dan kontribusi nyata melalui pembangunan- pembangunan fasilitas yang bisa mendukung terpenuhinya kesejahteraan masyarakat dengan lebih baik, bukannya membiarkan penduduk perbatasan tersebut memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menggantungkan diri kepada negara Malaysia.

Akan tetapi, postulat bahwa pembangunan untuk kesejahteraan rakyat nyaris terabaikan. Ketersediaan listrik dan bahan bakar minyak serta ekonomi yang hidup menjadi persoalan krusial. “Rasanya kami mau mati saja. Apa gunanya ada beras kalau tidak bisa masuk,” kata Nico Tindi, Camat Karatung. Untuk mengambil kayu di hutan dilarang oleh pemerintah karena khawatir daerah itu tandus.

commit to user

122

Masyarakat Miangas dan Marore juga sangat merasakan beban hidup menyusul merosotnya pendapatan perikanan yang menjadi sumber hidup sebagian masyarakat. Itu karena harga BBM sangat tinggi.

(Korpus 96: Kompas, 20 Agustus 2009) Pernyataan Dalope boleh jadi merupakan kompensasi rakyat yang sudah lama menderita dan merasakan ketimpangan ekonomi. “Tak semata soal uang, tetapi rakyat sudah lama hidup susah,” kata Camat Miangas Sepno Lantaa menambahkan.

(Korpus 97: Kompas, 20 Agustus 2009)

Keadaan masyarakat Pulau Miangas dan Marore, yang merupakan perbatasan Indonesia-Filipina, lebih memprihatinkan. Sarana penunjang kesejahteraan begitu mahal untuk bisa mereka dapatkan. Ketersediaan kebutuhan-kebutuhan pokok yang masih terbatas dan juga harganya tinggi membuat mereka tak bisa berbuat banyak. Karakter Miangas dan Marore yang merupakan pulau dengan perairan terbuka karena berada di bibir Samudra Pasifik, membuat penyediaan bahan-bahan kebutuhan pokok seperti BBM banyak terganggu aktivitas cuaca. Namun bukan berarti mereka dibiarkan sendiri, pemerintah harus bisa memecahkan permasalahan tersebut sehingga masyarakat Miangas dan Marore tidak terlantarkan lantaran faktor kondisi alam yang kurang mendukung.

Daerah-daerah perbatasan di NTT pada umumnya gersang. Pada musim kemarau ini tanah mengeras seperti batu. Karena itu, saat mengolah lahan atau ladang, umumnya warga menggunakan linggis, bukan cangkul seperti di Pulau Jawa. Itu sebabnya, mulai dari anak-anak hingga kaum ibu, mereka semua setiap hari disibukkan pekerjaan mencari air bersih sekadar untuk masak dan minum.

(Korpus 98: Kompas, 20 Agustus 2009) Air bersih dan pengetahuan kesehatan yang minim, juga kondisi ekonomi yang pas-pasan bahkan kurang, membuat sebagian besar penduduk perbatasan hanya bisa mengenakan pakaian berwarna kumal dan lusuh.

(Korpus 99: Kompas, 20 Agustus 2009)

Daerah perbatasan NTT-Timor Leste pada umumnya merupakan daerah gersang, sehingga sulit bagi masyarakat yang mendiami perbatasan

commit to user

123

tersebut untuk mengembangkan pertanian demi memenuhi kepentingan ekonominya. Kondisi alam yang seperti itu membuat anak-anak dan kaum ibu sibuk mencari air bersih sekedar untuk masak dan minum. Selain itu pengetahuan dan kesadaran kesehatan masyarakat juga masih minim. Realitas kehidupan seperti itulah yang di alami para penduduk eks Timor Timur yang sekarang mendiami NTT.

Terletak di ujung timur wilayah republik ini, pelaku pendidikan di Merauke selalau ketinggalan menerima perkembangan informasi terbaru mengenai kebijakan pendidikan yang sentralistik.

(Korpus 100: Kompas, 20 Agustus 2009) Hendrikus, yang akrap disapa Romo Hengky, memandang pembelajaran kontekstual adalah formula jitu bagi anak Merauke. Karakteristik tumbuh kembang anak-anak itu lekat dengan alam raya.

(Korpus 101: Kompas, 20 Agustus 2009) Lenda tahapari, guru SD di Erambu, dekat pos perbatasan RI-Papua Niugini, menjadikan pembelajaran kontekstual sekaligus sebagai kiat untuk merangsang anak giat bersekolah.

(Korpus 102: Kompas, 20 Agustus 2009)

Selalu ketinggalan dalam mendapatkan informasi terbaru tentang pendidikan, itulah yang dialami sekolah-sekolah yang ada di Merauke. Kebijakan dunia pendidikan yang sentralistik justru membuat pendidikan di Merauke sulit berkembang, karena keterlambatan dalam segala hal, baik itu informasi pendidikan atau pun sarana dan fasilitas belajar. Oleh karena itu, para guru pengajar di Merauke juga memanfaatkan cara-cara belajar kontekstual, seperti memanfaat alam sebagai sarana pendidikan.

Thomas Wamang, warga suku Amungme, meratapi kaummnya yang kini justru mendewakan uang. Uang yang selayaknya jadi sarana lantas berubah menjadi tujuan dan bahayanya telah mengubah cara hidup masyarakatnya. Uang tidak lagi menjadi sarana membangun, tetapi menjadi energi yang menjerumuskan.

(Korpus 103: Kompas, 20 Agustus 2009) Alhamid mengatakan, kebijakan pembangunan dan investasi di Papua justru kerap memarjinalkan masyarakat pribumi.

commit to user

124

Di Mimika, transformasi sosial yang bertujuan untuk kesejahteraan justru malah menjadi hal sebaliknya. Perubahan menuju modern terkesan gagap karena masih minimnya pengetahuan penduduk pribumi. Pembangunan dan investasi yang berkembang di Mimika justru mengasingkan masyarakat pribumi, sehingga kehidupan modern tersebut menjadi permasalahan baru, bukan mengurangi keterbelakangan yang dialami oleh masyarakat pribumi tersebut.

b. Analisis Superstruktur

Berikut skematik berita-berita yang terdapat dalam tema ketiga rubrik “Nasionalime di Tapal Batas”:

Tabel III.4 Skematik Tema Ketiga

No. Edisi Judul Berita Skematik

1. Kompas, 11 Agustus 2009 Satu Nusa Satu Bangsa Di Pedalaman Siberut

Jenis berita features.Lead berisi kutipan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”. Bagian awal dijelaskan kondisi pendidikan di Daerah Pedalaman Siberut. Dilanjutkan penjelasan kondisi kesehatan dan kesejahteraan

masyarakat yang masih minim. Bagian ending berisi sengatan dengan pertanyaan dimana kehadiran negara untuk memperbaiki kesejateraan rakyatnya? 2. Kompas, 13 Agustus 2009 Sanggau Perbatasan Burung- Burung Enggang Yang Terpanggang

Jenis berita features. Jenis lead yang digunakan adalah lead yang bercerita,

menceritakan kondisi kampung Panglima Abio dan Nayau. Bagian awal menceritakan

pengalaman kedua Panglima yang berjuang untuk menjaga keutuhan NKRI. Namun jasa yang diberikan kedua panglima itu tak setimpal dengan imbalan kesejahteraan yang diberikan negara. Di bagian akhir berisi tempat tinggal kedua panglima tersebut yang nasibnya sama, belum memiliki taraf hidup yang layak. 3. Kompas,

14 Agustus

Perbatasan Kaltim

Jenis berita features. Lead bercerita tentang penduduk Sebatik yang sering melintas portal

commit to user 125 2009 Menembus Malam Ke Negeri Seberang

perbatasan. Kemudian dipaparkan penduduk Sebatik yang memanfaatkan tanah perbatasan sebagai lahan pertanian, namun para petani masih menggantungkan penjualan hasil bumi tersebut dengan negara Malaysia. Di bagian akhir ditulis potongan balik bahwa pemerintah hendaknya fokus memajukan kesejahteraan masyarakat, sehingga masyarakat tidak terus bergantung ke negara tetangga.

4. Kompas, 15 Agustus 2009 Miangas- Marore Nasionaslisme Itu Mahal

Jenis berita features. Lead bercerita perjalanan menuju Miangas. Dilanjutkan pemaparan karakter Miangas dengan keadaan perairan cukup terbuka dan cukup memiriskan. Kemudian penjelasan keadaan kesejahteraan masyarakat Miangas yang haus akan taraf hidup layak. Di bagian akhir berisi

kekecewaan masyarakat Miangas akan sikap pemerintah yang tidak kunjung memberi perhatian serius. 5. Kompas, 18 Agustus 2009 Perbatasan RI- Timor Leste Hidup Kami Ini Keras, Mama…

Jenis berita features. Diawali lead yang menceritakan suasana anak-anak pulang sekolah. Dilanjutkan penjelasan keadaan perbatasan NTT-Timor Leste yang gersang dan minim air bersih. Kehidupan masyarakat juga masih jauh dari sejahtera, ditambah lagi kondisi pendidikan yang juga belum optimal. Di bagian akhir ditutup ringkasan mengenai kehidupan masyarakat perbatasan NTT-Timor Leste yang belum bisa berfikir maju dan hanya tahu bagaimana mengisi waktu untuk bertahan hidup. 6. Kompas, 19 Agustus 2009 Lilin Selalu Menyala Di Ufuk Timur

Jenis berita features. Keberadaan lead untuk menggoda pembaca. Dilanjutkan penjelasan kegiatan belajar-mengajar yang menggunakan cara-cara kontekstual untuk merangsang anak- anak giat bersekolah. Ketinggalan menerima perkembangan informasi kebijakan pendidikan dari pusat, keterbatasan tenaga pengajar dan fasilitas belajar menjadi protret kondisi pendidikan di daerah ini. Di bagian akhir berisi pemaparan ketekunan tenaga pengajar di Merauke meski fasilitas yang ada masih terbatas. 7. Kompas, 21 Agustus 2009 Kumparan Fatamorgana Transformasi

Jenis berita features. Lead berisi ringkasan dari features. Bagian awal berisi pemaparan perubahan pola masyarakat pribumi menjadi

commit to user

126 Sosial Tak Beararah

mendewakan uang karena mereka tidak bisa menggunakannya dengan baik. Kemudian penjelasan proses transformasi masyarakat pribumi ke kehidupan modern yang tidak berjalan baik. Bagian akhir berisi pemaparan agar harmonisasi pemerintah dan masyarakat pribumi lebih serius sehingga kedua pihak sama-sama diuntungkan. 8. Kompas, 21 Agustus 2009 Perbatasan NTT-Timor Leste Daftar Masalah Di Tapal Batas

Jenis berita features. Keberadaan lead

menggoda keingintahuan pembaca. Di bagian awal dipaparkan keadaan kesejahteraan masyarakat eks Timor Timor yang tinggal di NTT, yang masih hidup di barak-barak

pengungsian. Kemudian dijelaskan kehidupan mereka yang masih jauh dari layak karena miskinnya lapangan pekerjaan. Persoalan lain adalah persoalan batas kedua negara yang masih menjadi perdebatan sehingga menyusahkan warga yang tinggal di

perbatasan. Di bagian akhir berisi pemaparan yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di

perbatasan NTT-timor Leste.

c. Analisis Struktur Mikro

c. 1. Semantik

Berikut analisis semantik yang terbagi dalam 3 elemen yaitu: latar, detil, dan maksud.

c. 1.1. Latar

Penggunaan strategi latar dalam tema ketiga rubrik “Nasionalisme di Tapal Batas” adalah sebagai berikut:

Sementara pendidikan formal, meski hanya setingkat SD, menjadi hal mahal. SD terdekat dari Sangong ada di Dusun Saliguma yang berjarak sekitar 12 kilometer atau tiga jam perjalanan kaki dengan menembus hutan dan bukit.

commit to user

127

Keterbatasan sekolah formal di pedalaman Siberut menjadi latar pemberitaan Kompas untuk menggambarkan keadaan pendidikan di daerah itu yang masih jauh dari layak. Anak-anak pedalaman Siberut baru bisa menikmati sekolah hutan yang digagas maka lembaga swadaya Yayasan Citra Mandiri, untuk sekedar mengerti pendidikan.

Perikehidupan dan kondisi kampung halaman Panglima Abio (68) dan Panglima Nayau (82) boleh jadi mirip situasi dua patung “Sandung” yang kami temukan di pedalaman Kecamatan Melenggang. Patung di dusun Melenggang dan Miru tersebut kepanasan di bawah sengatan matahari.

(Korpus 106: Kompas, 13 Agustus 2009)

Kompas secara eksplisit menggambarkan keadaan kesejahteraan masyarakat kampung halaman Panglima Abio dan Panglima Nayau seperti dua patung “Sandung” yaitu patung burung rangkok yang terpanggang kepanasan. Masyarakat di kampung kedua panglima itu masih haus akan kehidupan yang layak. Kedua panglima tersebut adalah dua pahlawan yang ikut berjuang untuk menyelesaikan konfrontasi RI-Malaysia tahun 1965-1972 dan saat Indonesia menghadapi Parako (Partai Komunis China di perbatasan Sewarak). Namun sampai saat ini, 65 tahun Indonesia merdeka, keadaan dua kampung halaman dari dua panglima yang pernah berjasa untuk menjaga keutuhan NKRI masih sama, belum ada perkembangan yang signifikan. Dua patung “Sanggau” yang kepanasan itulah yang diambil sebagai latar pemberitaan Kompas

commit to user

128

untuk menggambarkan keadaan kesejahteraan dua kampung di perbatasan Kalbar-Malaysia ini.

“Tujuan mereka cuma menjual hasil pertanian ke Tawau. Semua terjual karena sudah pesanan para pedagang di sana,” kata Khumson, Koordinator Penyuluh Pertanian Sebatik.

(Korpus 107: Kompas, 14 Agustus 2009) Selama ini, perdagangan lintas batas tidak bermasalah. Sebab, para petani tidak pernah merusak atau menggeser patok batas kedua negara.

(Korpus 108: Kompas, 14 Agustus 2009) Para petani di sana justru memanfaatkan lahan perbatasan untuk bertani. Kepentingannya hanya satu, hasil usaha tani ini terus terserap pasar di Tawau. Dengan begitu, kehidupan mereka juga bisa terpenuhi.

(Korpus 109: Kompas, 14 Agustus 2009)

Perbatasan Sebatik-Malaysia merupakan daerah yang subur, yang dimanfaatkan masyarakat perbatasan untuk bertani. Hasil pertanian itu yang nantinya akan dijual ke Pasar Tawau, Malaysia. Masyarakat memilih perdagangan lintas batas dengan alasan harga jual yang lebih tinggi dan kejelasan pembeli, sehingga hasil-hasil pertanian tersebut laku terjual semuanya. Ketiga korpus di atas menjadi latar pemberitaan Kompas, dimana masyarakat Sebatik memanfaatkan lahan pertanian di daerah perbatasan dan menjual hasil bumi tersebut ke Tawau, untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kekecewaan masyarakat Miangas dan Marore akan hadirnya “Indonesia” di sana agak emosional, sebab sampai Indonesia merayakan kemerdekaan ke-64 rahun ini, belum ada seorang pun presiden yang berkunjung ke sana. “Kami rindu kunjungan presiden. Biar lihat rakyat perbatasan,” kata Betoel Dalope, warga Miangas.

(Korpus 110: Kompas, 15 Agustus 2009)

Kompas menggambarkan latar pemberitaan secara eksplisit, bahwa kehidupan masyarakat Miangas-Marore benar-benar masih jauh dari layak. Kekecewaan akan minimnya perhatian negara

commit to user

129

masih begitu kental. Meski kemerdekaan Indonesia telah berumur 64 tahun, namun kehidupan masyarakat Miangas-Marore masih terbelakang. Mereka merasakan begitu mahalnya untuk bisa sejahtera, padahal mereka juga bagian dari negara Indonesia yang berhak memperoleh perhatian pemerintah.

Terletak di ujung timur wilayah republik ini, pelaku pendidikan di Merauke selalau ketinggalan menerima perkembangan informasi terbaru mengenai kebijakan pendidikan yang sentralistik. Contohnya, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diterapkan secara nasional, tetapi di Merauke baru gencar disosialisasikan, terutama di sekolah swasta.

(Korpus 111: Kompas, 19 Agustus 2009) Bagi Hendrikus Kariwop, Ketua Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Merauke, yang menaungi 163 SD-perguruan tinggi di Merauke dan sekitarnya, kisah di atas membuatnya gundah dan optimistis.

(Korpus 112: Kompas, 19 Agustus 2009) Gundah karena pada era otonomi sekoah, substansi dan proses pendidikan masih saja harus berformat sentralistik, termasuk kurikulum. Optimis karena di tengah keterbatasan fasilitas, guru tetap bersemangat untuk menjalankan tugas pembelajaran dengan segala daya upayanya.

(Korpus 113: Kompas, 19 Agustus 2009)

Selalu tertinggal, itulah yang dialami dunia pendidikan di daerah perbatasan. Terletak di ujung timur Indonesia membuat pendidikan di Merauke masih sulit untuk berkembang. Hal itu dikarenakan oleh sifat kurikulum yang masih sentralistik dan terlambatnya informasi dari pusat yang diterima oleh daerah tersebut. Untuk membantu proses pembelajaran maka kreativitas- kreativitas guru sangat diperlukan di tengah keterbatasan fasilitas, sehingga cara-cara kontekstual sering dipakai para guru dalam menyampaikan pengetahuan kepada muridnya. Hal ini menunjukkan bagaimana negara belum begitu serius untuk

commit to user

130

memajukan pendidikan sebagai salah satu hak seluruh bangsa Indonesia, tak terkecuali daerah perbatasan.

Mungkin, saat ini, emas boleh jadi adalah nadi kehidupan di Timika. Nyaris semua kumparan dinamika kehidupan masyarakat Timika berpusat padanya. Namun, emas pula yang telah membuat wajah tua Pius Nimaipouw, Kepala Suku Komoro yang tinggal di Ayuka, Mimika, mengeras.

(Korpus 114: Kompas, 21 Agustus 2009) Memang sebagai kompensasi atas persoalan itu, PT Freeport memberikan dana perwalian yang besarnya masing-masing 1 juta dolar AS per tahun kepada delapan kampung yang langsung terdampak, Ayuka adalah salah satunya. Namun, sayang, dana itu justru mengubah cara hidup warga Ayuka.

(Korpus 115: Kompas, 21 Agustus 2009) Kegagapan masyarakat pribumi (istilah Dewan Adat Papua untuk mengartikan indigenous people) Papua memasuki kehidupan modern yang kompetitif dan materialistis menurut Kepala Pemerintahan Adat Papua (DAP) Fadel Alhamid terjadi secara menyeluruh di Papua. Alasannya, tidak pernah ada rekayasa sosial yang dilakukan untuk menyiapkan masyarakat pribumi masuk dalam sistem kehidupan modern.

(Korpus 116: Kompas, 21 Agustus 2009)

Kegagapan akan cara hidup yang modern dengan tercukupinya kebutuhan materi dialami oleh sebagian besar masyarakat Timika. Uang sebagai kompensasi dana perwalian dari PTFI, yang selayaknya menjadi alat pemehuan kebutuhan, namun karena belum siap menuju cara hidup modern yang lebih baik, justru memunculkan permasalahan baru. Hal itu merupakan kegagalan transformasi sosial, dimana pemerintah tidak optimal sebagai mediator antara masyarakat pribumi dengan dunia modern.

Awal Agustus lalu, Konsul Jenderal Republik Demokratik Timor Leste di Kupang, Caetamo Gutteres, dalam suatu pertemuan dengan Menteri Sekretaris Negara Bidang Keamanan Timor Leste Fransisco Gutteres di Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengungkapkan, sejak tahun 2002 hingga saat ini sudah ribuan warga eks Timor Timur yang minta dipulangkan ke Timor Leste.

“Ekonomi keluarga jauh dari memadai. Menyekolahkan anak pun tak mampu,” demikian alasan pemohon.

commit to user

131

Warga eks Timor Timur yang kini mendiami perbatasan NTT-Timor Leste, merasakan beban hidup yang kian berat. Jauh dari kehidupan yang layak, kualitas pendidikan dan kesehatan yang minim, membuat mereka putus asa. Sehingga mereka memohon kepada Pemerintah untuk dipulangkan ke Timor Leste, dengan harapan memiliki kehidupan yang lebih baik. Padahal secara keadaulatan mereka menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi tanggung jawab negara Indonesia. Oleh karena itu sudah menjadi sebuah keharusan bagi pemerintah Indonesia untuk lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat eks warga Timor Timur, sehingga mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dan tidak putus asa.

c. 1.2. Detil

Penggunaan detil dalam tema ketiga rubrik “Nasionalisme di Tapal Batas” adalah sebagai berikut:

Suendi memakai lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” sebagai salah satu media mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah hutan. Semua murid di sekolah yang menempati salah satu ruangan rumah panggung Mentawai milik Aman Sabba itu dikumpulkan di satu ruangan meski umur mereka amat beragam, dari tujuh hingga belasan tahun.

Meski dari sisi umur sebagian siswa sekolah itu sudah layak lulus sekolah dasar (SD), mereka umumnya masih sulit berbahasa Indonesia, juga menulis dan berhitung. Dengan demikian, materi harus diajarkan dalam bahasa Mentawai. Kesulitan memahami bahasa Indonesia membuat anak-anak tidak mudah bercakap dengan pendatang atau membaca buku sehingga pengetahuan dari luar sedikit sekali terserap.

(Korpus 118: Kompas, 11 Agustus 2009)

Detil dalam korpus di atas menjelaskan terkait kondisi pendidikan yang masih terbelakang di pedalaman Siberut terjadi karena ketidakmampuan para siswa untuk berbahasa Indonesia

commit to user

132

dengan baik dan benar. Sementara literatur-literatur dan sarana pembelajaran yang ada, meski masih minim, sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia. Hal inilah mengakibatkan ilmu pengetahuan yang bisa diserap oleh mereka sangat minim.

“Ini kehamilan saya ke-11. Sebenarnya saya sudah capek hamil. Tapi, bagaimana caranya agar tidak hamil?” tanya Bai Seggeilolo, warga Sangong, yang tengah mengandung delapan bulan. Anak nomor 10 Bai Seggeilolo berusia sekitar 1 tahun, seusia dengan cucu dari putra pertama Bai Seggeilolo.

Sementara Bai Jetti, tetangga Bai Seggeilolo, hamil ke-10 kalinya lantaran sang suami masih mengharapkan tambahan anak laki-laki yang akan menjadi pewaris harta keluarga Mentawai. Dari sembilan kehamilannya terdahulu, bai Jetti mendapatkan dua anak laki-laki, tiga perempuan, dua meninggal semasa balita, dan dua kali keguguran.

(Korpus 119: Kompas, 11 Agustus 2009)

Keterbelakangan pendidikan tidak hanya dialami oleh masyarakat di pedalaman Siberut, Mentawai, Sumatera Barat. Pemahaman yang masih minim ditambah kurangnya tenaga medis dan fasilitas kesehatan yang ada membuat kualitas kesehatan